
"Ya Tuhan, jadi Sania itu perempuan yang pernah aku ajak tinggal di kontrakan aku dulu?" gumam Sandra ketika dia di dalam taksi, pulang menuju apartemennya
"Aku ingat sekarang, perempuan itu saat itu memang sedang hamil. Dan dia sendiri mengakui padaku jika yang ada di dalam perutnya adalah anaknya tuan Alexander"
Supir taksi yang ada di depan melihat kearah Sandra yang bergumam di belakang melalui kaca spion yang ada di depannya
Dan Sandra yang tidak sadar, terus saja bergumam tak jelas
"Dulu aku juga sempat membawa perempuan itu ke apartemennya tuan Alexander, bahkan dia melihat sendiri bagaimana bad boy nya tuan Alexander dengan meniduri dua perempuan sekaligus"
"Dan aku juga yakin, saat itu perempuan itu juga melihat bagaimana aku dan tuan Alexander bercinta"
Sandra yang terus bergumam tidak sadar jika taksi yang membawanya telah berhenti
Sampai akhirnya supir taksi mengatakan jika sudah sampai yang membuat Sandra tergagap.
Dengan cepat Sandra turun, lalu segera membayar ongkos taksi, kemudian dia langsung masuk ke dalam apartemennya.
Begitu sampai di kamarnya, Sandra langsung membuka HP kemudian mencari nama Sania di seluruh sosial media.
Tapi tak satupun dia menemukan wajah Sania yang berasal dari daerah pariwisata.
"Tidak mungkin perempuan itu tidak mempunyai sosial media" desis Sandra lagi.
Karena masih juga tidak menemukan akun media sosial Sania, akhirnya Sandra segera log out dari akun media sosialnya, dan langsung membuat strategi lain.
"Aku harus bisa membalaskan sakit hatiku kepada Tuan Alexander yang telah memecat ku" gumam Sandra lagi.
Tiba-tiba terlintas di kepala Sandra wajah Milena, kemudian dia tersenyum menyeringai.
Sedangkan di lain tempat anak buah yang kemarin memberitahu Milena jika Alexander dirawat di rumah sakit, sekarang sedang mengetik pesan memberitahu pada Milena jika Alexander sudah berada di kantor beberapa hari ini dan telah memecat Sandra.
"Kamu yakin berita kali ini akurat?" balas Milena.
"Sumpah nona, sekretaris pribadi Tuan Alexander sudah beberapa hari ini tidak masuk kantor. Dan kami semua di kantor mendengar jika gadis tersebut dipecat oleh Tuan Alexander".
Senyum langsung terkembang di wajah Milena ketika dia mengetahui bahwa Sandra, sekretaris genit yang sangat dibencinya itu sudah dipecat oleh Alexander.
"Terima kasih untuk informasi dari kamu, kamu akan dapat hadiah dari saya nanti" begitu tulis Milena membalas pesan dari karyawan tersebut.
Dan karyawan tersebut langsung mengepalkan tangannya dengan senang ketika membaca balasan dari Milena.
"Yess, hadiah lagi" ucap karyawan tersebut yang memantik teman di sebelahnya langsung menoleh ke arahnya dan menatapnya dengan curiga.
__ADS_1
"Kenapa lu ceria banget?, hadiah apaan?" tanya temannya yang jawabnya dengan menggelengkan kepala.
Dan Milena yang mengetahui kabar jika Sandra sudah dipecat, dan Alexander sudah berada di kantornya, terburu-buru keluar dari kantornya.
"Milena, Kamu mau ke mana?" tanya Tuan Jeremy ketika dilihatnya Milena mengambil tasnya lalu hendak berjalan keluar dari ruangan kerja.
"Mil ada janji sebentar Pi sama klien. Sebentar aja. Satu jam nanti Mil akan kembali lagi ke sini" jawab Milena cepat dan terburu-buru meninggalkan Papinya yang menatap curiga padanya .
Milena yang turun dari lantai atas menuju lantai bawah segera menuju mobil mewahnya, dan langsung melesat meninggalkan kantor tempat dia bekerja.
"Alexander pasti suka jika aku bawakan kue" gumamnya ketika dia berhenti di sebuah toko kue besar.
Segera Milena menunjuk beberapa jenis kue yang tampak lezat kepada pelayan yang langsung membungkus pesanannya.
Setelah mendapatkan pesanan kue yang dikehendakinya, Milena segera keluar dari toko kue tersebut. Lalu berjalan kembali menuju mobilnya dan langsung bergegas menuju kantor Alexander.
Pegawai kantor yang memang sudah mengenal Milena karena saking seringnya gadis tersebut datang ke kantor ini, ketika Milena melenggang masuk ke kantor Gio Grup, mereka tampak cuek .
Tapi berbeda halnya dengan pegawai yang tadi memberikan informasi kepada Milena. Ketika melihat Milena berjalan masuk, Dia sedikit membungkukkan kepalanya.
Dan Milena langsung mengeluarkan hp-nya, mengetik sejumlah uang yang tak lama langsung masuk ke rekening pegawai tersebut.
Setelah itu, Milena kembali melenggang masuk seolah tidak pernah mengenal pegawai tersebut.
Dan pegawai tersebut yang mendengar notifikasi tanda transferan masuk melalui hp-nya, dengan cepat membuka HP, lalu tersenyum senang.
"Bagus deh, setidak tidak ada lagi perempuan ganjen yang mendekati Alexander" gumam Milena sambil menutup kembali pintu ruangan tersebut.
Dengan cepat Milena berjalan ke arah ruangan Alexander. Dan tanpa mengetuk pintu, dia langsung mendorong pintu ruangan tersebut yang membuat Alexander yang sedang fokus bekerja, sekita menoleh tak senang ke arah Milena.
"Sayaaaaanggg....." sapa Mirna dengan langsung merentangkan kedua tangannya ke arah Alexander yang memundurkan tubuhnya ke arah sandaran kursi kerja.
Dengan cepat Milena mendekap erat Alexander sambil melabuhkan sebuah kecupan mesra di pipi Alexander.
Alexander yang memang sejak kedatangan Sania beberapa hari lalu, sudah tidak punya perasaan lain terhadap seluruh wanita di dunia ini menjadi jengah dengan kelakuan Milena.
Dan Alexander terus berusaha menghindari tangan Milena yang terus melingkar di bahunya.
Dan Milena yang merasa jika Alexander berusaha untuk melepaskan tangannya, semakin kuat mendekap Alexander sambil menempelkan wajahnya ke pipinya Alexander.
"Kamu kenapa tidak bilang sih sayang, kalau kamu sudah keluar dari rumah sakit?, kan kalau kamu bilang, kalau kamu sudah sembuh aku langsung menemui kamu".
Alexander tidak menjawab. Melainkan dengan kuat mencengkram tangan Milena, melepaskan tangan tersebut dengan kasar.
__ADS_1
Tapi kembali Milena tidak ambil hati dengan perlakuan kasar dan dingin Alexander terhadapnya.
"Milena, ini di kantor dan seperti yang sudah saya katakan. Di kantor itu adalah urusan kantor, bukan urusan pribadi. Jika urusan pribadi, kita bisa bicara di luar" ucap Alexander masih dengan nada dingin.
Milena masih dengan senyum manisnya, segera menarik kursi yang berada di depan Alexander. kemudian memberikan kotak kue yang tadi dibawanya.
"Sayang, aku beli kue kesukaan kamu. Karena aku tahu kamu sudah sembuh, jadi aku beli kue kesukaan kamu. Dan aku yakin, kamu pasti suka makannya" ucap Milena dengan nada tetap sumringah sambil membuka kotak kue tersebut dan menyodorkannya ke arah Alexander.
Alexander sedikit tersenyum kaku melihat ke arah kotak kue tersebut.
Dan benar yang tadi dikatakan oleh Milena, isi kotak tersebut adalah semua kue kesukaannya. Dan memang itu benar-benar menggugah seleranya.
Sehingga, walaupun kesal terhadap Milena, tak urung tangannya terulur juga ke arah kotak kue tersebut. Dan mencomot satu dan langsung menggigitnya.
Kembali Milena mengembangkan senyum ketika melihat Alexander mulai mengunyah kue yang tadi di sodorkannya.
"Kamu Beneran sudah sembuh sayang?" tanya Milena ketika di antara mereka hanya diam sejak tadi.
Alexander segera meraih tisu lalu mengelap mulutnya. Kemudian dia mengangguk, menjawab pertanyaan Milena tadi.
"Yah, saya sudah sembuh sekarang. Dan kamu? kenapa kamu sini?".
Milena hanya tersenyum kaku mendengar pertanyaan dingin dari Alexander.
"Tentulah aku mengkhawatirkan mu Alex. Selama kamu di rumah sakit, Aku hanya sekali menjenguk mu. Dan itu pun hanya sebentar, karena papi mu sepertinya tidak welcome ketika melihat aku datang".
Alexander hanya diam mendengar ucapan Milena. Tanpa Milena mengatakan pun dia tahu, jika Papinya tidak suka jika dia dekat dengan Milena. Alasan yang paling kuat adalah karena antara Papinya dan Papinya Milena itu terlibat perseteruan panjang selama ini.
"Terima kasih Milena karena kamu sudah datang, dan terima kasih juga untuk kuenya" ucap Alexander yang dijawab Milena dengan tersenyum manis.
"Dan jika memang tidak ada urusan penting, Mungkin kita bisa bertemu malam nanti" ucap Alexander yang buat mata Milena bersinar.
"Serius Lex kamu mau ngajak aku ngedate malam nanti?" tanya Milena dengan mata yang terus memancarkan kebahagiaan.
"Lebih tepatnya ada sesuatu hal yang penting yang ingin saya sampaikan" jawab Alexander masih dengan wajah datar dan ekspresi dingin.
Milena mengangguk cepat dan dengan segera meraih tangan Alexander. Menggenggamnya dengan erat
"Aku pasti datang Lex, aku tidak akan terlambat semenit pun" janji Milena antusias.
Alexander masih tidak menunjukkan ekspresi apapun, ketika Milena menunjukkan betapa bahagia dirinya.
"Nanti malam di tempat biasa jam 07.00" ucap Alexander lagi sambil mengulurkan tangannya ke arah pintu meminta Milena segera keluar dari ruangannya.
__ADS_1
Milena segera bangkit dari kursinya lalu kembali mendaratkan sebuah ciuman hangat di wajah Alexander.
Lalu setelah itu dia melenggang berjalan ke arah pintu. Sebelum dia membuka pintu, kembali dia menoleh ke arah Alexander. Melambaikan sedikit tangannya, lalu tersenyum. Baru setelah itu, Milena keluar dari ruangan tersebut.