Kejahatan Alexander Louise

Kejahatan Alexander Louise
Pembelaan Mami Ajeng


__ADS_3

Alexander langsung membanting hp-nya ke atas meja begitu panggilan video call-nya dengan Sania terputus


Dia menggeram kesal, tujuannya bukanlah ingin mengambil Junior. Melainkan berharap agar Sania tidak lagi menjadi wanita malam


Dia berharap ancamannya bisa membuat Sania berfikir ulang dan melepaskan pekerjaan haramnya itu


Jika dia ingin mengambil Junior, sudah sejak awal melihat Junior di kota pariwisata hal tersebut sudah dilakukannya


Tapi hal itu tidak dilakukannya, karena dia tahu, di dunia ini yang Junior miliki adalah Sania, begitu juga sebaliknya


Dan Alexander juga menyadari, tidak mungkin baginya memisahkan mereka berdua. Sania dan Junior bak kuku dan daging, dan itu tidak mungkin terpisahkan


Kembali Alexander berteriak kesal karena dia lagi-lagi gagal membuat Sania yakin pada dirinya


Sebenarnya Alexander ingin Sania tahu, bahwa dirinya peduli pada hidup Sania, bukan sok peduli seperti yang selama ini dikatakan Sania


Alexander kembali terduduk di kursi kerjanya, meremas rambutnya dan berkali-kali menarik nafas panjang


"Tidak ada pilihan lain, aku harus menemui Sania. Aku harus meminta langsung padanya untuk berhenti menjadi wanita malam, atau kalau tidak aku akan benar-benar mengambil Junior dari tangannya"


"Apapun akan aku lakukan asal Sania berhenti menjadi wanita malam dan hanya mengurusi anakku"


"Dan aku harus berusaha mengambil hatinya, agar dia percaya bahwa aku adalah ayah yang baik untuk Junior"


Setelah bergumam seperti itu, Alexander meraih hp dan juga kunci mobil yang tergeletak di atas meja, lalu bergegas dia keluar dari dalam ruangannya


Tak butuh waktu lama bagi Alexander untuk tiba di istana keluarganya. Begitu mendengar suara klakson mobil Alexander, penjaga rumah langsung membuka pintu gerbang sehingga Alexander langsung memasukkan mobilnya ke halaman rumah


Dengan segera Alexander turun dari dalam mobil dan langsung masuk.


"Lembur?"


Alexander langsung menghentikan langkahnya dan menoleh kearah papinya, berusaha tersenyum walau hanya senyum samar


"Tumben?"


Alexander mendongakkan sebentar kepalanya, menarik nafas panjang kemudian berjalan kearah tuan Anton


Tuan Anton menatap serius wajah Alexander yang seketika berubah sendu ketika dia sudah duduk


"Ada masalah?"


Kembali Alexander menarik nafas panjang, mengusap sebentar wajahnya kemudian menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa

__ADS_1


"Aku bertengkar dengan Sania, pi"


"Bertengkar?, kok bisa?"


Alexander memijit keningnya dan pandangannya tetap lurus ke atas


"Aku marah karena Sania meninggalkan Junior sendirian sementara dia bekerja"


Sekarang giliran tuan Anton yang menarik nafas panjang


"Sania tetap dengan egonya pi, dia tidak mau berhenti menjadi perempuan malam, padahal aku sudah katakan padanya, bahwa aku akan membayar mahal dirinya, asalkan dia berhenti dari pekerjaannya dan fokus mengurus anakku"


"Papi tahu tujuan kamu bagus Lex, tapi tidak dengan begitu juga kamu berkata, Sania tentu akan tersinggung"


"Papi, papi tidak melihat bagaimana anak aku tertidur sendirian sementara mamanya entah ngelayap kemana. Sakit hati aku pi melihat anak aku tidur sendirian seperti itu"


"Hati kamu sakit?!" tanya Tuan Anton masih dengan tatapan serius


"Tentu pi, sangat sakit. Aku melihat dia tidur sendirian, tidak ada yang menemaninya, jika terjadi apa-apa sama Junior bagaimana?, siapa yang mau disalahkan?"


"Penghuni rumah bordil itu tidak akan 24 jam menjaga anakku pi. Mereka juga aktifitas lain. Begitu juga dengan mami Ajeng yang katanya selalu stand by di sana. Tapi, jika waktunya tidur, mereka juga akan tidur pi. Mereka tidak akan mungkin mau melek sampai Sania pulang"


Tuan Anton tersenyum kecut mendengar alasan mengapa Alexander marah dengan Sania


Wajah Alexander seketika terkesiap mendengar ucapan papinya.


"Sania harus berusaha kuat setiap saat ketika dia meninggalkan Junior. Papi yakin, dia akan berwajah manis di depan pelanggannya, tapi kita tidak tahu bagaimana hatinya"


Kali ini Alexander tidak mempunyai kalimat lagi untuk menjawab perkataan papinya


"Papi yakin, yang dikatakan sama Sania tadi tentulah menyinggung perasaan kamu, tapi kamu tidak sadar, bahwa perkataan yang keluar dari mulut Sania adalah kesakitan penderitaannya"


"Tidak ada perempuan yang bercita-cita menjadi wanita malam Lex. Semua itu terpaksa mereka lakukan"


"Terlebih Sania, kamu tahu sendiri bagaimana awal dia terjun ke dunia malam"


Alexander menundukkan wajahnya mendengar perkataan papinya.


"Istirahatlah, papi tahu kamu sangat lelah. Jangan pikirkan lagi tentang Junior, dia pasti baik-baik saja. Jika kamu masih ragu, kita kirim saja bodyguard kesana untuk menjaga Junior"


Alexander tersenyum kecut mendengar ide Papinya.


"Terima kasih Pi untuk usul Papi. Tapi aku rasa, aku akan menemui Sania secara langsung. Aku akan berbicara pada dia. Aku harap setelah kami berbicara face to face Dia akan paham dan menuruti permintaanku"

__ADS_1


Tuan Anton mengangguk mendengar ucapan Alexander. Setelah itu Alexander berdiri dari sofa, menarik nafas panjang kemudian meninggalkan Papinya sendirian dan dia naik ke atas menuju kamarnya


...----------------...


Sudah beberapa hari ini Milena tidak mendapatkan kabar dari orang suruhannya baik itu tentang Alexander maupun tentang Sandra


Dan Milena pun bersikap biasa saja di depan kedua orang tuanya, agar mereka tidak curiga jika dia sedang banyak masalah


Apa ada perkembangan ?


Isi pesan yang dikirimkan oleh Milena kepada salah satu orang suruhannya. Setelah mengirimkan pesan tersebut Milena kembali fokus bekerja dan satu jam kemudian barulah pesan yang dikirimnya mendapat balasan


Kami terus melakukan pengintaian baik kepada tuan Alexander maupun kepada Sandra. Dan sejauh ini semuanya tampak baik-baik saja, tidak ada kecurigaan dari keduanya


Milena menarik nafas lega membaca balasan dari orang suruhannya. Setidaknya dia masih memiliki banyak kesempatan untuk kembali meluluhkan hati Alexander.


"Tidak semudah itu Alexander kamu berpaling dariku. Jika kamu memang berniat mencampakkan ku, dan memilih perempuan yang kata kamu melahirkan anak kamu. Kamu harus membayar setimpal atas perlakuanmu padaku" batin Milena sambil tersenyum sinis


Sedangkan di tempat lain, tepatnya di rumah bordil, Sania yang pagi ini terbangun dengan mata sembab akibat dia menangis semalaman menjadi pusat perhatian seluruh penghuni rumah bordil. Terlebih Helen yang memang sangat dekat dengan dirinya


"Kenapa mata kamu sembab? Apa yang menyebabkan kamu menangis semalaman?"


Sania hanya bisa menarik nafas panjang dan wajahnya kembali murung mendengar pertanyaan dari Helen


"Papa sama Mama berantem. Mama berteriak marah-marah, setelah itu mama menangis"


Seluruh mata langsung tertuju ke arah Junior ketika anak kecil tersebut menjawab pertanyaan Helen


"Benar yang dikatakan Junior, Kamu berantem dengan Alexander?"


Sania kembali menarik nafas panjang kemudian mengangguk pelan.


"Bagaimana Aku tidak marah, Alexander tiba-tiba marah karena aku pulang malam, dan ujung-ujungnya Dia mengancam akan mengambil Junior dari tanganku karena dipikirnya bahwa aku tidak becus mengurus Junior"


Semua penghuni rumah bordil menarik nafas panjang mendengar jawaban Sania


"Orang cuma hanya bisa menilai tanpa bisa merasakan apa yang kita rasakan. Perbuatan baik yang kita lakukan pun belum tentu baik di mata orang. Terlebih karena pekerjaan kita ini. Pekerjaan kita adalah pekerjaan hina, walaupun kita beralibi kita melakukan ini karena terpaksa, sebagian orang tidak akan percaya. Karena mereka tidak berada di posisi kita, itulah mengapa mereka bisa mengatakan kalimat seperti itu".


Sekarang semua mata beralih tertuju ke arah mami Ajeng yang tadi menjawab ucapan Sania.


Semua perempuan malam yang mendengar ucapan mami Ajeng menarik nafas panjang, dan tiba-tiba wajah mereka semua tampak murung


"Kita lihat saja Sania apa yang akan dilakukan oleh Alexander untuk merebut Junior. Dan jika dia kembali berbuat arogan, Mami tidak akan tinggal diam. Mami akan melawan, bila perlu nyawa Mami akan Mami korbankan untuk mempertahankan Junior. Karena tidak ada satu orang pun yang mengetahui bagaimana penderitaan kamu selama ini, dari mengandung sampai merawat dan melahirkan Junior selain kami yang ada di rumah bordil ini"

__ADS_1


Wajah Sania yang semula murung kian mendung. Hingga tak terasa air mata mengalir di wajahnya mendengar ucapan Mami Ajeng


__ADS_2