
Dengan terburu Sania segera bangkit dari atas kasur, berlari masuk kedalam toilet dan menyiramkan air sebanyak-banyaknya ke seluruh tubuhnya
Kembali ada air mata saat air mengucur dari atas kepalanya membasahi tubuhnya
Sania menggigit kuat bibirnya dengan memejamkan matanya ketika dia semakin merasa kotor dan jijik dengan dirinya sendiri
Buih sabun telah sangat tebal menutupi tubuhnya tapi hal itu tak mengurangi rasa kotornya pada dirinya sendiri
"Aaarggghhh...." teriak Sania keras di dalam air
Tangannya terkepal kuat dan kembali dia menyiramkan air sebanyak-banyaknya ke seluruh tubuhnya dengan cepat, begitu selesai segera disambarnya handuk dan segera keluar dari dalam kamar
Dilihatnya tuan Handoyo kembali pulas, lalu segera dipungutnya bajunya yang berserakan dilantai, memakainya dengan terburu lalu kembali dia menoleh kearah pak Handoyo yang masih tampak pulas
Sania langsung menyambar tasnya lalu berjalan tergesa keluar dari kamar tersebut dan setengah berlari menuruni tangga
Membuka cepat pintu lalu berlari menuruni tangga teras, dan celingukan ke kanan kiri
"Nona....?!" panggil sebuah suara
Sania dengan cepat menoleh kebelakang, tampak olehnya pemuda yang semalam menjemputnya berjalan kearahnya
"Tolong antar aku pulang, please...."
Pemuda itu mengangguk, segera membuka pintu mobil lalu Sania dengan cepat masuk
Kembali pemuda itu melirik kearah Sania melalui spion yang wajahnya menegang
Berkali-kali didengarnya Sania menarik nafas panjang
"Bisa cepat sedikit mas?"
Pria muda itu mengangguk, dan Sania kembali duduk dengan tak tenang. Terlebih ketika hpnya berdering
"Ya Tuhan..." gumamnya ketika dilihatnya begitu banyak panggilan terabaikan dari Helen dan gadis-gadis lain penghuni rumah bordil
"Ya Kak?" jawab Sania cepat menerima telepon dari Helen
"Kamu dimana San, kasihan Junior, dari tadi nangis terus"
"Iya kak, ini aku sudah di jalan"
Panggilan berakhir, lalu Sania kembali meminta pemuda yang mengantarnya melajukan mobil lebih kencang lagi
"Please mas lebih cepat lagi..."
Pemuda itu tidak menjawab, melainkan terus melajukan mobil dengan kencang, dan sepuluh menit kemudian mobil yang dikemudikannya telah masuk ke halaman rumah mami Ajeng
Sania segera turun begitu mobil berhenti, langsung berlari kencang kedalam rumah dengan menarik tinggi dress yang menghalangi larinya
Pemuda yang mengantarkan Sania hanya melihat Sania yang berlari ngebut dengan tanda tanya besar
Beberapa pengawal mami yang berjaga mendekati mobil tersebut, membungkuk dan menyapa pemuda tampan itu
"Apa masih ada kepentingan mas?"
Pemuda itu menggeleng, tersenyum kaku lalu kembali menghidupkan mesin mobil dan segera memutar kepala mobil langsung melajukan nya keluar
Sementara Sania yang masuk segera berlari menuju ruang tamu dimana suara tangisan Junior terdengar sangat lantang
"Cup sayang...."
Helen segera menoleh ketika didengarnya suara orang berlari dan menarik nafas lega ketika dilihatnya jika itu adalah Sania
__ADS_1
Dengan cepat Sania langsung menyambar tubuh Junior yang berada dalam dekapan Helen, memeluknya erat dengan berlinang air mata
"Maafkan mama nak, maafkan mama......" lirihnya dengan suara tercekat
Beberapa gadis yang melihat Sania menangis sambil memeluk anaknya ikut murung, bahkan Helen memeluknya dari samping dengan mengusap-usap punggung Sania dengan sedih
Ketika Junior telah berada dalam dekapan Sania, spontan tangisannya langsung berhenti dan kepalanya bergerak cepat seperti mencari sesuatu
Sania segera duduk dan langsung memberinya asi yang makin membuat bayi montok itu tenang
Hanya sedannya yang sesekali terdengar menandakan jika tadi Junior menangis cukup lama
"Maafin aku ya kak, merepotkan kalian...." tatap Sania sedih kearah teman-temannya yang ikut duduk
Mereka kompak menggeleng bahkan tersenyum
"Nanti konsultasi lagi sama mami, minta waktu jangan lama, kasihan jika Junior kamu tinggalkan semalaman"
Sania mengangguk lalu kembali mencium kening Junior dengan dalam
"Siapkan susu formula San, jadi ketika kamu nggak ada, dan Junior haus ada susu formula sebagai penggantinya" usul yang lain
"Benar itu San, nanti biar kakak yang belikan" ucap Helen
Sania tak menjawab melainkan semakin berurai air mata menatap kearah keluarga barunya yang sangat peduli pada nasibnya dan juga pada nasib Junior
"Entah akan jadi apa aku dan Junior tanpa kebaikan kakak semua" lirih Sania terisak
"Kita keluarga, dan kita satu penderitaan" jawab yang lainnya, lalu mereka saling toleh dan mengangguk
...----------------...
Setelah meletakkan Junior kedalam kamar, Sania memilih duduk di sebelah buah hatinya yang pulas tertidur
Sesekali sedan sisa tangisnya masih terdengar jelas oleh Sania dan itu makin membuat hancur hatinya
Sania yang semula berbaring segera duduk ketika pintu kamarnya diketuk dan muncul mami Ajeng, masuk dengan tersenyum
"Anak pinter...." ucap mami sambil membelai wajah Junior
Sania tersenyum kaku dan sedikit kikuk melihat mami masuk dan duduk di dekatnya
"Ada apa?, kamu merasa risih?"
Sania menundukkan kepalanya dengan dalam, matanya mulai terasa panas
Mami Ajeng segera mendekat dan menarik kepala Sania, mendekapnya dan mengusap-usap punggungnya
"Awalnya memang berat nak, tapi nanti kamu akan terbiasa"
Sania tak menjawab karena dia sudah terisak, dan mami Ajeng terus mengusap-usap punggungnya
"Jika bukan demi Junior aku tidak mau mi"
Mami Ajeng mengangguk
"Kamu harus kuat sayang, karena kita ditakdirkan harus menjadi wanita tangguh, dan mami yakin kamu lebih dari tangguh"
Sania mengangguk dan membenarkan posisi duduknya, menghapus kasar wajahnya dan menatap dalam kearah mami
"Mami, aku boleh minta keringanan sama mami?"
Mami Ajeng mengangguk
__ADS_1
"Katakan, jangan takut"
Sania menarik nafas panjang sebelum mengutarakan isi hatinya
"Jika boleh, aku tidak mau melayani pria berumur di atas lima puluh tahun"
Mami Ajeng diam, tertegun menatap mata Sania
"Kenapa?, apa pak Handoyo berlaku kasar padamu?"
Sania diam
"Jawab nak, biar mami punya alasan ketika dia ingin membooking mu lagi"
"Dia bukan hanya kasar mami, tapi dia membuatku tak sadar, alasannya agar aku tidak kabur lagi, tapi aku tidak suka dengan cara menipunya Mi"
Mami Ajeng mengangguk dan membenarkan anak rambut di pipi Sania
"Juga aku minta sama mami, kalau bisa aku kerjanya tiga malam saja, dan itu hanya dua jam, kasihan Junior mami"
Kali ini Sania berkata sambil menoleh kearah mami, dengan harapan agar mami tergerak hatinya
"Bagaimana jika yang akan membayar kamu mahal adalah pria di atas lima puluh tahun, apa kamu juga akan menolak?"
Sania mengangguk pasti
"Tolong mi, jika Junior sudah besar, aku janji aku akan menuruti semua perintah mami, tapi maaf untuk kali ini aku belum bisa karena Junior masih sangat kecil, kasihan jika harus aku tinggal lama"
Mami Ajeng mengangguk
"Ada lagi?"
"Sepertinya itu saja mi"
"Baiklah jika itu mau kamu, mami akan menjelaskan bagaimana cara kerja kamu sama calon klien, agar ketika mereka faham aturannya"
Wajah Sania yang semula mendung langsung cerah kembali dan segera dipeluknya kembali tubuh mami Ajeng
"Jangan nangis terus, ini pengalaman pertama kamu, nanti mami yang akan bimbing kamu"
Sania tak menjawab dia hanya mengangguk
...----------------...
Perusahaan Gio Group yang dipegang Alexander semakin berkembang pesat, anak perusahaannya telah ada dimana-mana. Bahkan hingga luar negeri
Dan Tuan Jeremy yang semula meragukan kecakapan pemuda itu kian hari kian merasa tersaingi dan makin terseok-seok untuk menyainginya
Karena telah kehabisan akal, akhirnya mau tak mau beliau meminta Milena untuk membujuk Alexander agar mau menanamkan saham di perusahaan mereka
"Kenapa baru sekarang papi ke pikiran untuk bekerja sama dengan perusahaan Alex?, dulu ketika Alex menawarkan kerja sama papi menolak dengan angkuhnya"
"Tolonglah papi Mil, jika tidak perusahaan kita akan kolaps, dan kita bisa bangkrut"
Milena diam, tampak berpikir
"Alexander sudah makin berubah sekarang, sudah kian tidak perduli dan menjauhiku, apa aku bisa membujuknya?" batinnya
"Bagaimana, bisa kan Mil?"
Milena mengangguk
"Serahkan sama Mil pi, Mil tahu apa kelemahan Alexander, dan bisa Mil pastikan jika Alexander akan setuju dengan tawaran Mil"
__ADS_1
Tuan Jeremy tersenyum mendengar jawaban Milena
"Anak ini memang bisa diandalkan" batinnya tersenyum licik