
Sania menelan ludahnya dengan susah payah ketika membaca pesan dari Dhea
Segera dia mendekap Junior yang sedang memainkan piano mainan dengan menekan-nekan kan jarinya keatas keyboard
Nafas Sania terdengar tak teratur dan itu memancing keingintahuan Junior
"Mama kenapa gugup begini?, detak jantung mama juga terdengar sangat cepat" ucap Junior sambil memegang erat lengan Sania
"Nggak sayang, nggak ada apa-apa" jawab Sania masih dengan nada khawatir
"Tuh kan ma, cepat sekali detak jantung mama" kembali Junior mengulangi ucapannya tapi kali ini dia sambil meletakkan tangannya di dada Sania
Sania kian mendekap erat Junior
"Mau apa dia datang dan sekarang sok-sok an mencari ku" geram Sania dalam hati
"Tidak akan sekalipun aku mempertemukan bajingan itu dengan Junior, tidak akan"
Dan Junior yang berada di dekapan Sania, mengeratkan pelukannya dan mengusap-usap punggung Sania
"Jangan takut mama, ada aku disini"
Tesssss
Air mata Sania langsung mengalir mendengar ucapan polos Junior
"Berjanjilah bahwa kamu tidak akan meninggalkan mama apapun yang terjadi" ucap Junior dengan suara bergetar
"Iya mama, aku janji, Aku akan selalu sama-sama mama, mama jangan takut lagi, ya?"
Air mata Sania kian deras mengalir
Sementara Alexander dan Mark yang masih berada di kantor pak Doni hanya duduk tercenung dengan wajah yang kian kusut
"Sania bilang dia pernah menemui ku Mark, tapi aku tidak pernah merasa jika kami bertemu"
Mark menepuk pundak Alexander berusaha menenangkan pria tampan tersebut
Alexander berusaha keras berpikir kira-kira apa yang terjadi dua bulan setelah itu, tapi tidak sekalipun yang diingatnya kecuali kesibukannya sebagai pimpinan baru, selebihnya tidak ada yang diingatnya, dan juga sifat bad boy nya yang belum hilang, hanya itu
Apa Sania pernah melihatku dengan perempuan-perempuan? batinnya
Alexander menarik nafas panjang, beban di dadanya terasa sangat menyesakkan nafasnya
"Kita harus mencari Sania, bila perlu sampai ke ujung dunia kita mencarinya, aku harus dapat bertemu dengan Sania, dan aku harus memastikan jika anak yang dikandungnya saat itu adalah anakku" sambil berkata begitu Alexander segera bangkit tanpa berpamitan dengan pak Doni yang menatap serius ke arahnya
"Alexander tunggu!" teriak Mark mengejarnya
"Ini nomor hp mamanya Sania tuan, saya yakin ini bisa membantu"
Mark berhenti lalu mengeluarkan hpnya dan segera mencatat nomor yang disebutkan pak Doni di hpnya
"Lex....!" teriak Mark lagi setelah mengucapkan terima kasih pada pak Doni
Sambil berlari mengejar Alexander, Mark telah menempelkan hpnya ke telinganya
Dan mama Liza yang saat itu sibuk di dapur dengan usaha rumah tangganya segera mengambil hpnya yang berdering
Dan wajah beliau tampak tertegun ketika dilihatnya nomor baru yang tertera di layar hp
"Halo, ini siapa ya?"
Mark menarik nafas lega ketika panggilannya diangkat
"Halo bu, ini saya Mark, saya dari ibukota, bisa kami datang ke rumah ibu?"
__ADS_1
"Wah, tamu dari jauh ini, maaf pak dapat nomor saya dari mana?"
"Dari pak Doni"
Kening bu Liza langsung berkerut, dan degup jantungnya langsung berdetak kencang
"Tolong ya bu, ini urgent, bisa kan kami bertamu untuk silaturahmi ke rumah ibu?"
Wajah bu Liza masih menyiratkan kekhawatiran
"Tapi pak?"
"Tolong bu..."
"Baiklah pak, alamat saya disini...." lalu bu Liza menyebutkan alamatnya dan Mark langsung merekam ucapan beliau agar memudahkannya mengingat alamat yang tadi diberikan bu Liza
Setelah mengucapkan terima kasih, Mark kembali berlari mengejar Alexander yang telah berjalan jauh meninggalkannya.
"Alex, saya telah mendapatkan alamat ibunya Sania" ucap Mark dengan nafas tersengal ketika dirinya sudah sampai di dekat Alexander
Dengan cepat Alexander menghentikan langkahnya
"Cepat cari travel!"
Mark mengangguk lalu membuka aplikasi yang bisa digunakannya untuk menyewa mobil
Sambil menunggu taksi yang dipesan sampai, keduanya duduk di kursi yang tersedia di dekat trotoar
Dan wajah Alexander masih menyiratkan kekacauan
"Bagaimana jika di sana Sania tidak ada Mark?"
Mark menarik nafas panjang.
"Seperti yang anda bilang, kita harus mencari di seluruh dunia bila perlu"
Berselang sepuluh menit berikutnya mobil taksi yang dipesan Mark sampai, lalu Mark menyebutkan alamat yang dikatakan mama Sania dalam ucapan yang direkamnya
"Butuh berapa jam untuk sampai di sana?" tanya Alexander
"Sekitar tiga sampai empat jam tuan"
"Kalau begitu tunggu apalagi, cepatlah kau jalankan mobilmu!" ucap Alexander
Dan supir taksi tersebut segera melajukan mobilnya begitu mendapatkan instruksi dari Alexander
Sepanjang jalan pikiran Alexander masih kacau dan terlihat jelas jika dia gelisah
Dan Mark yang duduk di tempatnya berusaha tenang dengan mengajak supir mengobrol
Hingga akhirnya tiga jam selanjutnya mobil travel mulai masuk ke daerah yang disebutkan ibu Liza, dan kembali Mark menghubungi bu Liza meminta pada beliau untuk share lokasi rumahnya
Walau masih diliputi dengan tanda tanya besar bu Liza menurut saja mengirim lokasi terkini beliau, yaitu rumah nya
Dan sepuluh menit kemudian, sampailah sebuah mobil travel di sebuah rumah sederhana bercat hijau, ciri khas rumah sederhana daerah yang jauh dari kemewahan
Jantung Alexander langsung berdegup kencang ketika Mark mengatakan jika mereka telah sampai ditujuan
Dengan ragu diikutinya Mark yang telah turun terlebih dahulu
"Kamu tunggu disini, nanti antar kami ke kota lagi" ucap Mark pada supir taksi yang menganggukkan kepalanya
Dengan ragu Alexander berjalan di belakang Mark yang sekarang telah masuk ke halaman yang banyak ditumbuhi oleh berbagai macam bunga dan tanaman obat keluarga
Juga di kanan kirinya ada terdapat cukup banyak jemuran yang terbuat dari anyaman bambu berisikan pisang dan singkong
__ADS_1
Dengan sedikit berdehem Mark mengetuk pintu, hingga akhirnya terdengar suara sahutan dari dalam
Bu Liza yang yakin jika yang mengetuk di luar adalah Mark yang barusan meneleponnya berjalan kearah pintu
Mark tersenyum kaku ketika pintu terbuka dan muncul wajah seorang perempuan paruh baya
Alexander menelan ludahnya, tentulah dia langsung mengenali wajah wanita paruh baya yang juga tersenyum kearah mereka
"Wanita ini benar mamanya Sania" batin Alexander, karena dia di dalam hpnya ada foto Sania yang sedang memeluk mamanya
"Pak Mark?"
Mark mengangguk, dengan ramah bu Liza mempersilahkan dua tamunya masuk
"Tidak usah repot-repot bu, kami tidak bisa lama" cegah Mark ketika bu Liza akan bangkit dari kursinya
Wajah Alexander menegang, sejak tadi dia hanya diam, hanya Mark yang berbasa basi pada ibunya Sania
"Kami kesini mencari Sania"
Wajah Bu Liza langsung terlihat kaget dan tegang, cukup lama beliau diam dan memandang wajah Mark dan Alexander bergantian
"Tolong bu...." akhirnya Alexander buka suara
"Siapa kalian?, ada perlu apa mencari Sania?"
Alexander diam dan berusaha menelan ludahnya mendengar pertanyaan bu Liza, wajahnya yang putih terlihat pucat kemerahan
"Saya....." jawab Alexander ragu
"Sania ada kan bu?" potong Mark karena melihat kegugupan Alexander
Bu Liza menggeleng, dan wajahnya berubah mendung
"Sania telah pergi dari rumah ini hampir enam tahun yang lalu"
Mark menoleh kearah Alexander
"Ibu tahu dia pergi kemana?" tanya Alexander dengan suara bergetar karena apa yang dikatakan Dhea bahwa Sania diusir ibunya benar
Bu Liza menggeleng, dan tampak wajahnya berkaca-kaca
"Sania pergi karena saya usir....." jawab ibu Liza dengan suara bergetar menahan air mata
Dan kembali Alexander menarik nafas panjang
"Kenapa bu?, kenapa Sania ibu usir?"
Bu Liza menghapus air matanya yang mengalir di pipi mendengar pertanyaan Alexander
Lalu tanpa diminta lebih lanjut beliau menceritakan semuanya apa yang diketahui tentang kehamilan Sania dan tentang kekecewaannya karena Sania menghancurkan semua harapan dan mimpinya
Suara isak tangis yang keluar dari bibir bu Liza cukup menggambarkan betapa kecewa dan sedihnya beliau dengan Sania
"Apa ibu tahu siapa yang menghamili Sania?" tanya Alexander lagi
Kembali bu Liza menggeleng
"Sania bilang, laki-laki itu tidak mau bertanggung jawab dan kata Sania dia melihat dengan mata kepalanya sendiri jika lelaki itu ternyata bukanlah lelaki baik karena sering gonta ganti perempuan"
Alexander terhenyak, disandarkannya tubuhnya ke sandaran kursi dengan menarik nafas dalam dan wajah yang sedih
"Sejak saat itu Sania pergi, hingga hari ini tidak pernah kembali, dan saya juga tidak tahu bagaimana nasibnya apa dia masih hidup apa sudah mati"
Alexander kian terhenyak, berkali-kali dia mengusap kasar wajahnya mendengar ucapan bu Liza, dia kian khawatir dengan nasib Sania dan anaknya
__ADS_1
"Apa pacar Sania pernah kesini?" tanya Alexander tiba-tiba, karena dia ingat jika dulu waktu dia membuka hp Sania, ada pesan yang dikirim oleh pacarnya Sania
Bu Liza menganggukkan kepalanya dan wajah Alexander jadi sedikit lega