
Tuan Anton menarik nafas panjang mendengar ucapan lantang Sania, dengan dalam ditatapnya mata wanita yang sangat sarat dengan penderitaan oleh perbuatan anaknya itu.
"Berikan kesempatan untuk saya menebus kesalahan anak saya padamu Sania......" lirih tuan Anton
Sania menggeleng cepat
"Satu-satunya cara adalah anda berhenti berniat mengambil Junior dari tangan saya itulah cara satu-satunya Tuan Anton" jawab Sania .
Tuan Anton menggeleng
"Saya tidak berniat untuk mengambil Junior dari tangan kamu Sania, saya hanya akan membawa Junior ke luar negeri. Setelah Junior dapat melihat, saya pasti akan mengembalikan Junior ke tangan kamu".
"Tuan tidak perlu bersusah payah karena saya sendiri yang akan membawa Junior ke luar negeri jangan tuan pikir jika saya tidak punya uang".
Tuan Anton tersenyum getir mendengar jawaban berani Sania dan kembali Dia melihat ke arah Junior yang kedua bola matanya tampak bergerak cepat.
"Junior.... kamu ingin melihat tidak nak?" tanya tuan Anton.
Junior menggerakkan kepalanya
"Tidak, aku tidak ingin melihat. Untuk apa aku melihat jika nanti aku akan melihat kesedihan di mata Mamaku?, Lebih baik aku tidak melihat selamanya agar aku tidak melihat bagaimana sedihnya hidup mamaku" .
Sania langsung membekap mulutnya mendengar jawaban lugu anak tersebut, itu dilakukannya agar suara tangisnya tidak didengar oleh Junior.
Dan Tuan Anton hanya bisa menarik nafas panjang lalu mendongakkan kepalanya menatap langit-langit markas.
"Mama aku haus....." lirih Junior kembali
Tuan Anton langsung menoleh ke arah para Bodyguard yang berdiri di dalam ruangan ini. Dipandangnya para Bodyguard dengan wajah marah
"Jadi kalian semalaman mengurung cucuku di sini tanpa kalian beri dia minum??!"
Mereka hanya menelan ludahnya mendengar Tuan Anton membentak dengan nada marah
"Cepat kalian cari minum untuk cucuku!!" bentak Tuan Anton lagi.
Secepat kilat dua orang Bodyguard langsung berlari keluar dan tak lama telah datang kembali dengan membawa dua botol air mineral dan langsung diberikannya pada Junior.
Junior langsung mengambil botol yang diberikan oleh Bodyguard ke tangannya dan langsung menenggak minuman tersebut.
"Ayo, kita tinggalkan markas ini, dan kalian bawa Mark ke rumah sakit!!!" kembali tuan Anton membentak
Dengan cepat para bodyguard itu bergerak, dan Sania kembali dengan cepat menarik Junior kedalam dekapannya
Tuan Anton menghentikan langkahnya saat disadarinya jika Sania masih terpaku di tempatnya
Tuan Anton membalikkan badannya lalu berjalan kembali kearah Sania
"Saya akan mengantarkan kamu ketempat dimana anak buah saya menculik mu semalam" bujuk tuan Anton
Sania menggeleng tak percaya
"Percayalah pada saya Sania, pegang omongan saya. Sudah saya bilang tadi, bahwa tidak ada satu orangpun yang akan mengambil Junior dari tangan kamu, begitupun dengan saya"
Sania diam dan berusaha mempercayai perkataan pria tinggi besar di hadapannya saat ini
__ADS_1
"Tapi saya mohon, ijinkan saya menemui Junior kapanpun saya mau" lirih Tuan Anton dengan suara tercekat
Junior melepaskan diri dari dekapan mamanya, lalu dia menggerakkan kepalanya
"Tuan.....?" lirihnya
Tuan Anton menunduk ketika didengarnya Junior memanggilnya. Tuan Anton segera berjongkok dan memegang kedua tangan Junior
"Ada apa anak hebat?" lirih tuan Anton, ada rasa pedih di dadanya saat dilihatnya mata terang Junior, persis mata Alexander, putranya
"Jangan buat mama saya menangis lagi".
Tuan Anton menganggukkan kepalanya
"Iya, saya berjanji, Saya berjanji tidak akan pernah membuat Mama kamu menangis lagi" .
Junior tersenyum kemudian mendekap erat Tuan Anton, dan tuan Anton yang di dekap oleh Junior langsung meneteskan air matanya.
Bahu Tuan Anton berguncang menahan tangisnya, saat untuk pertama kalinya Dia merasakan dekapan seorang cucu.
"Bolehkah saya menggendong kamu?" lirih Tuan Anton.
Junior diam, dia menggerakkan kepalanya mendongak ke arah Sania.
Dan Tuan Anton yang tahu jika Junior meminta pendapat Sania ikut menatap kearah Sania.
"Kamu berjalan di sebelah saya jika kamu khawatir bahwa saya akan membawa kabur Junior" ucap tuan Anton memastikan Sania.
Karena tak ada pilihan lain akhirnya Sania mengangguk menyetujui.
Lalu Sania mengusap lembut kepala Junior sambil berkata
Reflek Junior mengangkat kedua tangannya dan tuan Anton langsung menangkap tubuh besar Junior dan langsung menggendong Junior ke dadanya.
Dua orang Bodyguard yang masuk kembali ke dalam, melihat ada air mata yang mengalir di wajah Tuan Anton ketika dia menggendong Junior.
"Apa anda butuh bantuan kami Tuan?" tanya salah satu Bodyguard pada Tuan Anton
"Tidak!!" jawab tuan Anton tegas.
2 bodyguard itu hanya bisa menelan ludahnya dan segera berjalan di belakang mengiringi Sania yang berjalan bersebelahan dengan tuan Anton.
Ketika sampai di depan kembali seorang Bodyguard membukakan pintu mobil untuk Tuan Anton.
Dengan segera mobil langsung dilajukan menuju tempat di mana mereka semalam menculik Sania dan juga Junior .
Jika mobil yang membawa Tuan Anton dan Sania berjalan menuju rumah bordil, maka berbeda halnya dengan satu mobil lagi yang membawa Mark, mobil tersebut langsung berjalan cepat menuju Rumah Sakit sesuai dengan perintah tuan Anton.
Sepanjang jalan menuju rumah bordil, Junior terus berada di pangkuan Tuan Anton.
Dan Sania yang melihat ada sinar bahagia di mata Tuan Anton merasakan ada getaran aneh di dalam hatinya.
Terlebih ketika dilihatnya secara seksama ada kesamaan antara Junior dan Tuan Anton.
Perlahan namun pasti mobil yang membawa mereka akhirnya sampai juga di rumah bordil.
__ADS_1
Mata tuan Anton langsung terbelalak kaget ketika dilihatnya bagaimana keadaan rumah bordil ini
Lalu tuan Anton menoleh ke arah para bodyguard-nya.
Melihat ada sebuah mobil yang masuk kembali ke dalam rumah bordil, para pengawal yang semalam sempat babak belur berusaha untuk berjalan mendekat kearah mobil hitam tersebut.
Dan para pengawal tersebut memundurkan langkah mereka ketika mereka lihat jika Junior berada di dalam gendongan seorang lelaki tinggi besar
"Jangan ada yang berani mendekati bos kami!!" bentak seorang Bodyguard yang membuat kembali ciut nyali para pengawal mami Ajeng
Dua pengawal itu segera mundur dan membiarkan Tuan Anton berjalan bersama Sania masuk ke arah rumah bordil.
Sania langsung mendorong pintu dan didapatinya semua temannya saat ini sedang berkumpul semua di ruang tamu.
Semua gadis yang ada di ruang tamu itu segera menoleh dan langsung berlari ke arah Sania ketika dilihatnya jika yang masuk itu adalah Sania.
Mereka langsung berpelukan dan bertangisan haru.
Begitu juga dengan Mami Ajeng beliau tampak mendekap Sania dan juga terlihat menangis.
Suara deheman berat dari tuan Anton menyadarkan semua perempuan yang ada di ruang tamu ini.
Kembali mereka semua menelan ludah mereka dan tampak melihat takut-takut ke arah Tuan Anton yang masuk bersama beberapa bodyguard.
"Siapa pemilik Rumah ini?" tanya Tuan Anton dingin.
Mami Ajeng menelan ludahnya dengan susah payah, lalu melihat ke arah anak semangnya dan menatap ke arah Junior yang saat ini masih berada di dalam gendongan Tuan Anton.
"Saya, saya pemilik Rumah ini" jawab mami Ajeng dengan suara bergetar.
"Oma?!" Ucap Junior yang berusaha melorotkan tubuhnya dari dekapan tuan Anton.
Dan tuan Anton yang tidak sadar jika Junior Ingin turun segera mendekap kembali Junior dengan erat.
"Oma?, itu Oma kan, saya yakin itu Oma. Saya sangat mengenali suara Oma. Tuan tolong turunkan saya, ini adalah rumah kami Dan itu adalah suara Oma saya. Saya sangat mengenali suara oma saya" ucap Junior lagi.
Tuan Anton tidak menjawab melainkan segera menurunkan tubuh Junior dari gendongannya.
Secepat kilat mami Ajeng langsung mendekap tubuh Junior dan langsung menangis tertahan.
"Kamu tidak apa-apa kan sayang?, kamu tidak terluka kan?" tanya Mami Ajeng.
Dan Tuan Anton hanya bisa bergeming melihat bagaimana khawatirnya mami Ajeng pada Junior.
Junior Menggeleng,
"Tidak oma, aku tidak apa-apa".
Mami Ajeng lalu menatap ke arah tuan Anton lalu mengusap kepala Junior
"Sayang, kamu masuk dulu ya ke kamar kamu, Oma ada yang mau dibicarakan sama orang yang tadi menggendong kamu, ya?"
Junior mengangguk, lalu segera berjalan ke arah kamarnya dan Tuan Anton yang melihat bagaimana Junior berjalan dengan lancar menuju kamarnya hanya menatap dengan bengong.
Melihat Junior sudah masuk, gadis-gadis yang tadi berada di dalam ruang tamu tersebut segera menyusul Junior.
__ADS_1
"Apa tujuan anda ke sini?" tanya Mami Ajeng pada Tuan Anton dengan nada takut.
Tuan Anton tidak segera menjawab melainkan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan rumah bordil ini.