Kejahatan Alexander Louise

Kejahatan Alexander Louise
Nahla


__ADS_3

Mami Ajeng dan Helen refleks memandang kearah Sania


"Kamu serius secepat ini?"


"Iya mi, biaya operasi Junior tidaklah murah terlebih aku harus menemukan orang yang bersedia mendonorkan korneanya itu tentulah sangat sulit, jikapun ada, tentulah mereka meminta bayaran mahal"


Mami Ajeng dan Helen mengangguk-anggukkan kepala mereka


"Mama kerja cari uang untuk kamu ya nak, biar Junior cepat melihat"


Junior hanya bergumam tak jelas sambil menendang-nendang kan kakinya


Sementara mobil yang membawa mereka telah masuk ke halaman rumah mami


Seperti biasa, seluruh penghuni rumah mami Ajeng akan sangat antusias jika melihat mereka pulang dari rumah sakit


"Bagaimana?"


Sania tersenyum penuh ketegaran


"Kemungkinan Junior bisa sembuh, asal ada yang bisa mendonorkan kornea untuknya"


Mereka semua menarik nafas panjang, karena mereka juga berpikir, siapa yang akan sukarela mendonorkan kornea mereka?


"Sekarang yang paling penting untukku adalah mencari pendonor dan juga biayanya"


Kembali mereka menarik nafas panjang dan menganggukkan kepala mereka


"Ya sudah, kita semua istirahat dulu, dan kamu Sania, kamu keruangan mami, kita melanjutkan pembicaraan kita tadi"


Sania mengangguk dan masuk kedalam, sedangkan Junior langsung diambil gadis-gadis lain dan langsung membawanya bermain


Begitu sampai di ruang kerjanya, Mami Ajeng langsung duduk di kursi kebesarannya


Sania menatap berkeliling keseluruhan ruangan yang baru kali ini dimasukinya


Lebih setahun berada di rumah bordil ini, sekalipun tak pernah dia berani masuk kedalam ruangan ini, karena ini adalah ruang kerja mami dan hanya orang tertentu yang bisa masuk kesini, itupun jika berurusan dengan pekerjaan


"Duduk San!"


Sania menoleh cepat kearah mami Ajeng lalu menganggukkan kepalanya


"Itu foto orang tua mami dan saudara-saudara mami"


Mata Sania kembali menoleh kearah tembok dimana ada sebuah pigura besar berbingkai kan warna kuning emas yang di dalamnya berisi foto keluarga


"Mereka dimana mi?"


"Di kota P, kota asal mami"


Sania menganggukkan kepalanya


"Mami tak pernah pulang sejak kedua orang tua mami meninggal, dan sampai mereka meninggal, mereka tidak pernah tahu apa pekerjaan mami"


Mulut Sania membulat


"Mami menjadi pekerja **** karena mami dicampakkan oleh pacar mami, ya kisahnya mirip-mirip lah dengan kisah kamu"


Sania langsung menunduk


"Cuma bedanya mami dengan pacar mami, dia anak orang kaya, sedangkan mami orang biasa saja, jadi orang tuanya tidak setuju walau saat itu sebenarnya mami telah mengandung"


Mata Sania langsung berkaca-kaca mendengar cerita menyentuh mami


"Sejak itulah mami akhirnya terjun ke dunia malam"


"Dan anak mami?" tanya Sania takut-takut


Mami langsung menengadahkan kepalanya menatap langit-langit ruangan

__ADS_1


"Terpaksa mami gugurkan"


Air mata Sania langsung mengalir, betapa dia merasakan getirnya perasaan mami


"Mami terpaksa melakukan itu, karena mami tak ingin kedua orang tua mami malu jika sampai orang-orang mengetahui jika mami hamil diluar nikah"


"Hingga akhirnya mami tidak pernah percaya lagi dengan lelaki, mami trauma, dan hingga sekarang mami sendiri"


Mami Ajeng tersenyum getir dan Sania hanya bisa menatapnya dengan pilu


"Itulah karenanya, setiap anak yang ada di rumah ini sudah mami anggap seperti anak mami sendiri, mami menyayangi kalian semua"


Sania bangkit dari kursinya lalu memeluk mami dari samping dan langsung terisak


Mami Ajeng mengusap lengan tangan Sania sambil tersenyum tegar


"Sudah ah, mami sudah terbiasa sendiri, jangan sedih"


Sania menghapus air matanya lalu kembali duduk di depan mami


"Kita langsung bicara masalah pekerjaan, ya?"


Degup jantung Sania langsung berdebar kencang


"Kamu tahu kan kerja wanita malam itu seperti apa?"


Sania diam karena sejujurnya dia tidak mengerti sepenuhnya bagaimana kerja gadis-gadis selain menemani tidur para lelaki hidung belang


"Biasanya para lelaki yang menyewa gadis disini tidak hanya untuk dibawa tidur, tapi terkadang dibawa untuk menemani mereka jalan, menemani mereka minum, mendengarkan curhatan mereka, bahkan terkadang disewa untuk menjadi pasangan pura-pura mereka"


Sania menganggukkan kepalanya


"Dan biasanya mereka akan membayar setiap jasa yang mereka pakai, dan jumlahnya pun bervariasi"


"Semakin mereka puas dengan pelayanan yang mereka dapat, mereka akan membayar berapapun yang mami minta"


Mata Sania berbinar cerah


"Serius mi?"


Mami Ajeng mengangguk


"Ya sudah, kamu berdandan lah dengan cantik, dan kemari lagi kesini jika sudah cantik, mami akan mengambil foto kamu dan akan memajangnya di situs resmi mami"


Sania mengangguk lalu berdiri dari kursinya. Dan mengambil baju yang diberikan mami padanya


Langkah Sania yang turun mengundang perhatian beberapa gadis yang duduk santai di ruang tamu, termasuk Helen


"Ngadep mami?"


Sania mengangguk kearah Helen yang bertanya


"Jadi?"


Kembali Sania mengangguk


"Siap?"


Sania menarik nafas panjang


"Siap nggak siap kak, harus siap, semuanya buat Junior" jawab Sania sambil mengusap kepala Junior yang saat itu dipangku Helen


Gadis-gadis itu secara bergantian mengusap lengan dan pundak Sania


"Kita ada kok dek, nanti kita pasti bantu kok walau nggak banyak"


Sania memandang haru pada mereka, dan Fina langsung merangkul bahunya


"Disuruh mami apa?"

__ADS_1


"Dandan...." jawab Sania malu


Helen berdiri dan menyerahkan Junior ke tangan Fina, lalu dia menarik tangan Sania


"Ikut kakak kalau gitu"


Sania menurut dan gadis yang lain tersenyum dan mengepalkan tangan mereka memberi semangat


Helen langsung mendudukkan Sania di kursi hias yang ada di kamarnya, lalu dia mengeluarkan berbagai macam make up miliknya dan mulai menatap wajah Sania


"Kamu nggak pernah dandan, ya?"


Sania menggeleng


"Paling pakai bedak sama lipstik seadanya kak"


Helen mengangguk dan mulai membersihkan wajah Sania menggunakan toner lalu mulai memasangkan foundation


Dengan lincah dan terampil disulapnya lah wajah polos Sania menjadi cantik dengan dandanan flawless dan elegan


"Kakak yakin orang yang melihat wajah kamu pasti tertarik"


Sania tersenyum tapi dalam hati degup jantungnya berdebar kencang


Lalu Helen membantunya memakai dress berwarna hijau mint yang ngepas di body dengan model tali menyilang di leher


Rambut panjang Sania di tatanya sedemikian rupa sehingga orang tidak akan menyangka jika dia sudah menjadi seorang ibu


Wajah mudanya dan bodynya yang indah siapapun tak akan menyangka jika dia sudah punya anak


Selesai semua dengan mendandani Sania, Helen segera membawanya berjalan kearah ruangan pribadi mami


Helen mengetuk pintu dan setelah mendapat jawaban dari mami, barulah dia mendorong pintu tersebut


Mami memandang takjub pada perubahan wajah dan penampilan Sania


"Kamu memang bisa diandalkan, Helen" puji mami Ajeng sambil memutari tubuh Sania


Helen tersenyum bangga mendapat pujian dari mami


"Arahkan Sania untuk berpose, mami akan mengambil gambarnya"


Helen mengangguk dan membawa Sania kesebuah kursi yang berada disudut ruangan


Berbagai gaya dan pose telah diperagakan Sania, sehingga dia sudah mirip model saja


Dan mami memandangi tiap hasil jepretannya lalu menganggukkan kepalanya tiap mendapatkan angel yang pas menurutnya


"Silahkan kamu istirahat San, mami akan segera memilih gambar kamu dan menguploadnya ke aplikasi, baru setelah ada yang mengajakmu berkencan dan harganya cocok mami akan memberi tahu kamu"


"Baik mi" Sania mengangguk dan menoleh kearah Helen yang terus berada di dekatnya


"Oh iya, kamu mau pakai nama siapa?"


Sania tampak berfikir dan kembali menoleh kearah Helen


"Biar tidak ada yang mengenali kamu, makanya kamu harus pakai nama samaran"


Mulut Sania tampak ber O panjang dan manggut-manggut


"Nahla saja Mi. Buat nama saya menjadi Nahla"


Mami Ajeng tampak berfikir sejenak kemudian mengangguk


"Nahla..., bagus juga"


Sania tersenyum kaku sedangkan mami segera duduk di kursinya dan fokus menatap tablet yang ada di tangannya


Segera Helen mengapit lengan Sania dan membawanya keluar dari ruangan mami

__ADS_1


__ADS_2