
Dua jam berikutnya Sania telah menginjakkan kakinya di kota wisata tempat kelahirannya.
Segera dia berjalan kearah arrived
dan duduk di sana, membuka ponsel dan memesan ojol. Setengah jam berikutnya handphonenya berdering dari ojol yang telah menunggu di luar bandara.
Segera Sania keluar bandara dan naik ojol yang telah menunggunya. Sania menyebutkan alamat mess, dan dengan segera ojol tersebut melaju ke tujuan.
Sania sampai di mess, dengan segera dia masuk, naik ke kamarnya. Wajahnya kembali mendung kala diingatnya semua kelakuan buruk Alexander
Handphonenya berdering. Mama
Dengan menarik nafas dalam Sania mengangkat panggilan mamanya
"Gimana kabar kamu nak?, sudah dua hari loh nggak ngabarin mama"
Sania mencoba tersenyum mendengar suara mamanya, walau sebenarnya ingin sekali dia saat ini berteriak dan menangis sejadi-jadinya di pelukan sang mama
"Maafin Nia ma, Nia sibuk. Ada pelancong dari luar negeri yang memakai jasa Nia" jawabnya berbohong
"Wah bagus dong, makin terasah bahasa asing kamu"
"Iya ma"
"Kok suara kamu lain nak?, kamu sakit?"
"Ah, nggak kok ma, mungkin karena Nia capek aja"
"Ini kamu lagi kerja?"
"Iya Ma, lagi kerja. Membawa pelancong ke museum"
"Oh, kalau gitu maafin mama ya, ganggu kerja kamu"
"Nggak papa kok ma"
"Ya sudah, selamat bekerja sayang, hati-hati yaa..."
"Iya ma, terima kasih ya.."
Panggilan berakhir. Sania menatap sedih handphone di tangannya yang layarnya kembali gelap
"Mama, Nia butuh mama, butuh tempat berbagi masalah. Nia nggak kuat ngadepin ini ma..." lirihnya yang langsung terisak
Tiba-tiba perutnya bergejolak dan mual hebat, dengan cepat Sania berlari keluar kamar, masuk kedalam kamar mandi
Kembali seluruh isi perutnya keluar hingga nafas Sania jadi terengah-engah
"Kenapa?, kenapa kamu harus ada di dalam perutku hah?, mengapa kamu harus tumbuh disini, tempatmu bukan disini, tempatmu di sana, diperut wanita-wanita penggoda ayahmu itu" rutuk Sania sambil memukul-mukul perutnya
"Harusnya kamu jangan disini, bukan di rahimku..." ucapnya sambil menangis pilu
Kembali perutnya bergejolak dan Sania kembali muntah.
"Jahat kamu Alexander, kamu bersenang-senang dengan seluruh perempuan di sana, sementara saya disini harus menanggung beban mengandung anak kamu!"
"Kamu jahaaatttt..."
Sania terduduk di lantai kamar mandi, tangannya meraih shower, dan mengucurkan air ke atas kepalanya
Sania menangis dalam diam, menangisi kemalangan hidupnya.
"Mengapa tidak kau buang saja anak ini jika kau tak mengharapkannya?" bagai tersadar, kalimat yang diucapkan Sandra menggema di telinganya
"Jangan menambah dosa dengan berniat menggugurkan janin ini, karena janin ini berhak hidup, dia tak bersalah" kalimat bidan juga terdengar di telinganya
"Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan?, aku tak mungkin mempunyai anak tanpa suami?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Di ibukota
Mark dan Alexander sedang berada dalam satu mobil menuju ke suatu tempat
"Anda serius mau menemui tuan Jeremy?"
"Maksud kamu Mark?"
"Come on, dia saingan berat perusahaan kita. Bagaimana anda mau mengajaknya bekerja sama?, sedangkan tuan Anton saja tidak pernah berhasil mendekati beliau"
"Kamu lihat saja nanti Mark, Milena itu tergila-gila sama saya, bisa saya pastikan jika nanti tuan Jeremy sendiri yang akan meminta kerja sama pada kita"
Mark menyeringai, dia paling tidak suka jika urusan bisnis dicampuri urusan pribadi
"Kemarin apa hasil kamu dari luar?"
"Pihak asing bersedia bekerja sama dengan kita dan mereka akan datang kekantor kita minggu depan untuk memulai kontrak kerja sama"
Alexander menepuk pundak Mark
"Kamu memang bisa diandalkan, wajarlah jika papa sangat menyayangi kamu"
Mark tersenyum segaris mendengar pujian anak bos nya itu
Karena mobil terus melaju membelah kemacetan, iseng Alexander membuka aplikasi pesan singkat di handphonenya.
Melihat status yang dibagikan kontaknya. Hatinya sedikit berdesir saat dilihatnya Sania juga membuat sebuah status, kemarin malam
Hanya berupa sebuah tulisan sederhana "Ingin kembali ke masa kecil, dimana hanya PR matematika lah yang membuat kepala pusing"
Alexander tersenyum sekilas lalu dia membuka galeri, melihat foto-foto Sania yang dulu diambilnya
"Apa kabarmu Sania, apakah kau baik-baik saja?" batinnya
Tiba-tiba Alexander teringat dengan kejadian kelam malam itu, tangisan Sania, jeritan memohonnya dan darahnya
Alexander segera membuang nafas kasar dan menutup wajahnya.
"Are you okay?"
Alexander segera menoleh kearah Mark yang sejak tadi memperhatikan perubahan mimik wajahnya
Alexander mengangguk cepat dan segera memasukkan handphone kedalam saku jasnya
Hingga tak lama mobil yang dikendarai supir pribadinya berhenti disebuah gedung pencakar langit
Segera Mark dan Alexander turun, masuk kedalam gedung itu
"Tuan Jeremy telah menunggu bapak berdua"
Mark dan Alexander hanya menganggukkan kepala mereka dan segera masuk kedalam lift mengikuti gadis cantik yang akan membawa mereka keruangan tuan Jeremy
Didepan ruangan besar bertuliskan CEO ROOM, sekretaris cantik itu mengetuk pintu, tak lama terdengar sahutan dari dalam, segera gadis itu mendorong pintu, bertiga mereka masuk
Tuan Jeremy segera bangkit dari kursinya begitu melihat Mark dan Alexander masuk
Dua pemuda tampan, bertubuh tinggi dan berwajah indo. Terlebih Mark karena dia asli Prancis
"Welcome Mr. Mark and Mr. Alex, silahkan duduk"
Mark dan Alexander segera berjabat tangan dengan tuan Jeremy, seorang lelaki paruh baya yang masih sangat gagah dan sangat berpengaruh dikalangan pebisnis elit
"Bagaimana tuan Jeremy, apakah anda sudah membaca proposal yang saya kirimkan?"
Tuan Jeremy tersenyum sekilas menanggapi pertanyaan Alexander
"Oh itu, maaf sekali tuan Alex, saya lupa membacanya, maafkanlah. Saya terlalu sibuk, jadi saya lupa"
"Oh, saya pikir sudah anda baca, saya pikir anda akan bersedia menerima tawaran kerja sama yang pihak kami tawarkan, lumayan loh tuan keuntungannya 40:60"
__ADS_1
Kembali tuan Jeremy tersenyum
"Itu masih saya pertimbangkan tuan Alex, come on santai dululah, jangan terlalu tegang"
Alexander mencoba tersenyum dan mengendurkan dasinya lalu merebahkan punggungnya ke sandaran kursi
Mark tetap diam tanpa bereaksi sedikitpun, karena dia tahu betapa liciknya orang yang mereka hadapi sekarang
Alexander saja yang susah diomongin, tetap nekad ingin bekerja sama dengan saingan perusahaannya
"Bagaimana kabar tuan Anton?, benar dia mundur dari perusahaan dan menunjuk tuan Alex sebagai penggantinya?
"Papa bukan mundur, tapi papa percaya dengan kemampuan saya, oleh karena itulah papa ingin perusahaannya dikelola sama saya" jawab Alexander percaya diri sambil tersenyum
"Tuan Anton tetap mengontrol perusahaan dari jauh" jawab Mark dingin
Kembali Tuan Jeremy tersenyum mendengar jawaban Mark
"Baiklah tuan Alex, saya pikir kembali ya tawaran kerja samanya"
Alexander tersenyum lalu diikuti Mark dia berdiri dan menjabat tangan tuan Jeremy, lalu mereka keluar dari ruangan itu
Sepanjang jalan menuju lift keduanya saling diam, begitupun ketika di dalam lift
Tampak sekali kekesalan di wajah Mark, begitupun dengan Alexander, dia merasa seperti diremehkan.
Sedikitpun tuan Jeremy tidak menunjukkan niatnya untuk bekerja sama bahkan proposal yang minggu kemarin ditawarkannya hingga hari ini belum dibacanya
Mereka keluar dari dalam perusahaan dan segera masuk kedalam mobil
"Rileks, saya sudah tahu bagaimana tuan Jeremy" hibur Mark pada Alexander yang wajahnya menyiratkan kemarahan
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sania keluar dari dalam kamar mandi dalam keadaan basah kuyup, dia mencari handuk untuk mengeringkan tubuhnya yang basah
Setelah dapat, dia segera memeras bajunya yang basah, memasukkannya kedalam mesin cuci lalu naik kembali ke kamar
Saat dibukanya lemari, kembali dia menemukan toples susu, dengan senyum sekilas, diambilnya susu tersebut lalu meletakkannya di atas meja dan berganti baju
"Sudah dua hari nak ya kamu nggak minum susu, pengen susu ya?" ucapnya pelan sambil mengelus perutnya
Tapi hanya sebentar wajah bahagia itu, karena setelahnya dia kembali memasang wajah marah
"Kehadiranmu tidak pernah aku harapkan, jadi untuk apa aku memikirkan kamu?"
Diraihnya lagi toples tersebut, dimasukkannya lagi dalam lemari. Dengan cepat dia berganti baju dan keluar kamar, berniat pergi ke depan karena tiba-tiba dia ingin makan rujak
Terbayang sudah di lidahnya bagaimana nikmatnya rujak buah yang pedas, sampai mulutnya berair saking inginnya
"Gila, apa ini ya yang namanya ngidam?" batinnya yang terus berjalan mencari penjual rujak yang biasa mangkal di pinggir jalan
Sania makin mempercepat langkahnya ketika dilihatnya penjual rujak. Begitu sampai, aroma kuah rujak dan segarnya buah membuatnya tak sadar mencomot mangga begitu penjual itu membuka gerobaknya
"Sebungkus lengkap ya pak"
Penjual itu mengangguk dan segera membuatkan pesanan Sania. Setelah selesai Sania kembali lagi ke mess, naik ke kamarnya, tapi langkahnya seketika terhenti ketika di depan kamar dilihatnya Dhea memegang testpack miliknya.
"Dhe?"
Dhea tergagap dan mengangkat kepalanya menoleh kearah pintu, dimana Sania telah berdiri dengan memegang plastik rujak
Degup jantung Sania berpacu cepat tak tahu harus berbuat apa ketika Dhea terus memandangnya
"San?, ini punya kamu?, serius San?"
Sania diam, tak bergerak sedikitpun. Dhea mendekat dan memegang bahu Sania, mengguncangnya
"San?, Sania?, serius ini milik kamu?"
__ADS_1
Plastik rujak yang sejak tadi dipegangnya jatuh, refleks Dhea memungutnya, melihatnya lalu kembali menatap Sania dengan bingung
Air mata Sania mengalir tanpa diminta, Dhea dengan cepat memeluknya, mendekapnya dengan erat sambil mengusap-usap pundaknya