
Sania berjalan cepat kepinggir jalan raya, berharap ada ojek atau andong yang lewat
Setelah sekitar lima menit tak ada kendaraan yang lewat, dengan perasaan campur aduk, Sania berjalan
Berharap jika nanti akan ada kendaraan yang lewat. Lebih dari satu kilometer berjalan, barulah dilihatnya ada sebuah andong di kejauhan
Dengan semangat Sania melambaikan tangannya berharap jika kusir melihat lambaiannya
Benar saja, kusir andong melihat lambaian tangan Sania dan dengan cepat memecut kuda agar berlari kearah Sania
"Ke terminal pak" ucap Sania ketika telah duduk di bangku andong
Kembali seperti seminggu yang lalu, Sania naik andong. Jika seminggu yang lalu dia naik andong karena pulang, dan hari ini dia naik andong karena dia pergi dari kampung halamannya
Kembali tangisnya pecah ketika andong kian berjalan jauh, ditolehnya desa kelahirannya yang kian jauh ditinggalkannya dibelakang
"Mamaaa...." lirihnya pilu
Dua puluh menit kemudian andong mulai masuk terminal. Sania segera turun dan membayar ongkos. Setelah itu dia masuk menuju loket
Duduk dibangku loket dengan perasaan bingung
"Aku mau kemana?" batinnya bingung
Ditariknya nafas panjang, melihat sekeliling terminal dimana banyak terparkir bis dan orang-orang yang berlalu lalang membawa tas dan koper
"Apa aku kembali lagi ke kota?, jika aku ke kota, aku mau kemana?"
"Tidak mungkin aku ke mess, aku sudah tidak dibutuhkan pak Doni, apa aku kembali ketempat mami Ajeng?, ah tidak, aku tidak mau menjadi pelacur, lagian mami Ajeng pasti sangat marah karena aku telah lari dari tempatnya"
Kembali di dengarnya kondektur memanggil penumpang, dan berisiknya suasana terminal
Dibukanya handphone, membuka aplikasi pesan instan. Dilihatnya beberapa chatingan, dan berhenti pada chatingan dari Dhea
"Ah iya Dhea, siapa tahu Dhea bisa membantuku" harapnya
Dengan cepat dia mengirimi Dhea pesan
Dhe, lagi kerja ya?, bisa minta bantuan nggak?
Terkirim dan langsung berwarna biru
*Ada apa San?
Aku diusir mama, mama tahu jika aku hamil
Oh my god, terus gimana kamu sekarang San?
Nggak tahu Dhe, ini aku lagi di terminal, bingung mau kemana
Ya udah, kamu balik lagi ke kota, nanti jika sudah sampai chat aku, ya?
Iya Dhe, makasih sebelumnya ya Dhe
Iya San, sama-sama, hati-hati di jalan ya...
Oke*..
Sania menarik nafas panjang lalu segera berjalan kearah loket, memesan satu tiket menuju kota
__ADS_1
Dua jam selanjutnya bis yang akan membawa Sania kembali ke kota mulai bergerak meninggalkan terminal
Sania sekali lagi menatap keluar jendela, melihat keramaian terminal untuk terakhir kalinya, kembali dirasakannya matanya memanas, dan butiran bening langsung mengalir di pipi mulusnya
"Selamat tinggal ma..." lirihnya pilu
Sania menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi dan berusaha menutup matanya menahan kesedihan yang mendera dadanya
Empat jam selanjutnya, hari sudah sore ketika Sania kembali menginjakkan kakinya di kota yang seminggu lalu ditinggalkannya itu. Kembali dia menarik nafas panjang sebelum akhirnya dia kembali masuk kedalam loket, duduk dibangku yang kemarin juga sempat didudukinya saat diantar Rangga
Kembali dia mengeluarkan handphonenya
Dhe, aku sudah sampai di terminal, kamu dimana?
Centang satu, Sania mulai merasa panik ketika sepuluh menit berikutnya pesan yang dia kirim pada Dhea belum juga terkirim
Segera didialnya nomor Dhea, berharap jika nomor sahabatnya itu akan aktif. Tapi sama saja, nomornya masih tak aktif
Dengan perasaan khawatir dan takut, Sania terus berdoa dalam hati jika handphone sahabatnya hanya lowbat dan akan segera aktif dan tak lama lagi akan menjemputnya
.
Karena jam sudah menunjukkan jika jam pulang kerja telah lama lewat, tapi tak menutup kemungkinan jika sahabatnya itu lembur, apalagi jika membawa turis ke daerah yang jauh dari pusat kota bisa dipastikan akan malam baru pulang
Dengan menggigit bibir untuk menutupi kekhawatiran, Sania terus menunggu di kursi tunggu yang ada di sekitar loket
Sania tidak menyadari jika sejak tadi ada beberapa pasang mata yang terus menatapnya tajam sejak dia datang
...----------------...
Sementara Mark yang telah mengembalikan handphone milik Alexander yang tertinggal di mobilnya bersikap biasa saja seakan tidak mengetahui isi handphone anak bosnya itu
Mark tersenyum segaris
"Untuk apa?"
Alexander menarik nafas lega. Dia lega karena dengan begitu Mark tidak akan bisa melihat apa saja isi handphonenya
"Memangnya ada yang penting di handphone itu sampai saya harus melihatnya?" pancing Mark
Alexander cepat menggeleng.
"Tidak ada apa-apa dalam handphone saya"
Mark mengangguk. Memang benar apa yang dikatakan Alexander, isi handphonenya memang tidak ada apa-apa.
Bahkan video aneh-aneh, atau juga gambar tak senonoh yang selama ini disangkanya memang benar tak ada. Yang ada di dalam handphonenya hanya gambar Sania. Bahkan gambar gadis itu dijadikannya sebagai kunci layar
Untunglah saat Mark memberikan handphonenya, saat itu handphone tersebut dalam keadaan mati. Jadi Alexander berfikir jika Mark sama sekali tidak melihat jika ada wajah Sania di handphonenya
"Jam kantor sudah habis, mau pulang?" tawar Mark karena sejak tadi Alexander terus saja di dalam ruangannya menatap serius layar laptop yang masih menyala
"Kalau kamu mau pulang, silahkan. Saya mau menyelesaikan pekerjaan ini dulu"
Mark tersenyum, dia senang karena sejak berhasil menggaet investor luar, semangat kerja Alexander sangat besar dan dia semakin semangat bekerja. Terlebih karena tuan Anton mengatakan rasa bangganya atas keberhasilan awal Alexander
Karena Alexander memilih untuk lembur, Mark meninggalkannya. Sebelum sampai pintu, kembali Mark menoleh
"Anda beneran ingin lembur kan, bukan karena ingin bermain dengan sekretaris genit itu?"
__ADS_1
Alexander yang masih fokus menatap layar laptop langsung menatap tajam kearah Mark, dan mendecak kesal kearah Mark
"Come on, trust me. Kali ini aku benar-benar ingin lembur, aku ingin investor makin percaya dan yakin dengan kemampuanku, terutama papa"
Mark menarik bibirnya kesamping dan segera mendorong pintu, keluar dari dalam ruangan kantor meninggalkan Alexander yang kembali fokus menatap layar laptop
Sampai di luar, dia berpapasan dengan Sandra yang juga keluar dari ruangannya
Melihat Mark, Sandra langsung memasang senyum manis menggodanya, tapi Mark seakan tak melihat dan terus berjalan dengan angkuh meninggalkan Sandra yang menelan kecewa karena selalu diabaikan oleh Mark
"Awas kamu tuan Mark, suatu hari aku yakin kamu akan bertekuk lutut di hadapanku" geram Sandra
...----------------...
Hingga malam menjelang, Sania masih saja terduduk di kursinya. Tak terhitung sudah berapa kali dia menelpon nomor Dhea yang masih saja tak aktif
Matanya telah panas dan sudah beberapa kali dia menyusut matanya.
"Kamu dimana Dhe...?" lirihnya takut
Berkali-kali Sania menghembus nafas dalam, sementara suasana terminal yang tak kunjung sepi membuatnya sedikit berani, jika ada apa-apa banyak yang akan menolongnya
Jam telah menunjukkan pukul sembilan malam, dengan rasa khawatir dan bingung, akhirnya Sania memutuskan meninggalkan terminal, tujuannya ingin kembali ke mess, walaupun dia tak tahu bagaimana nanti reaksi teman-temannya, tapi dia tak punya pilihan lain, dia harus kesana. Jika tak kesana, dia tak tahu lagi dimana dia akan bermalam malam ini
Dengan pelan Sania berjalan meninggalkan terminal dan berjalan kearah selatan. Berkali-kali dia menoleh kebelakang berharap ada ojek ataupun angkot yang bisa mengantarkannya ke mess
Karena dirasa tak ada kendaraan yang bisa membawanya ke mess, Sania berjalan pelan
Dari arah belakang dilihatnya ada dua orang lelaki yang berjalan cepat di belakangnya, hati Sania mulai diliputi rasa khawatir dan takut karena kedua orang tersebut seperti sengaja mengikutinya
Sania makin mempercepat langkahnya hingga setengah berlari. Melihat Sania kian mempercepat langkahnya, dua lelaki yang ada di belakang Sania juga mempercepat langkah mereka
Sania berkali-kali menoleh kebelakang dengan ketakutan karena dua pria di belakangnya kian dekat kearahnya
"Kamu yang kuat nak ya..., kita sama-sama bertahan" bisik Sania sambil mengelus perutnya sebelum akhirnya dia berlari kencang
Melihat Sania berlari, dua orang pria yang sejak tadi terus mengikutinya beralih mengejarnya
"Hei, jangan lari kamu!!!"
Sania makin ketakutan dan makin mempercepat laju larinya.
"Bertahan ya nak..." bisik Sania karena dirasanya perutnya seperti kram
Sania terus berharap ada kendaraan yang lewat ataupun orang yang akan menolongnya.
Tapi harapannya sepertinya sia-sia, karena sampai nafasnya terengah-engah belum ada juga kendaraan yang lewat
Sania berlari dengan mendekapkan tas ke perutnya dengan harapan kram yang dia rasakan akan sedikit berkurang
Dua pia dibelakangnya kian dekat dan makin membuat Sania ketakutan dan rasanya dia ingin pasrah dan menyerah, apalagi ketika perutnya terasa makin sakit
Saat Sania berhenti dari berlari dan terengah-engah, kedua pria tadi sampai di dekatnya
Keduanya tersenyum menyeringai dan mulai memegang-megang pundak Sania yang terbungkuk-bungkuk kelelahan
"Mami pasti senang karena akhirnya kita berhasil mendapatkan gadis yang selama ini dicarinya" ucap salah satu pria
Sania kian hilang harapan ketika dia mendengar sendiri jika kedua pria yang saat ini mengepungnya adalah suruhan Mami Ajeng
__ADS_1