
Sania hanya bisa menunduk sambil meremas ujung bajunya. Dia tidak berani mengangkat kepalanya, terlebih ketika didengarnya nada marah dan kecewa dari suara Alexander
Kemudian Alexander masih dengan tatapan dingin beralih pada mami Ajeng.
“Saya rasa cukup uangnya untuk melepaskan Sania. Jika anda merasa kurang, anda tinggal bilang sama saya. Dan iya nyonya, untuk masalah budi yang telah nyonya lakukan untuk Sania dan anak saya, sampai mati itu akan terus menjadi hutang budi saya. Seberapa banyakpun uang yang saya berikan pada nyonya, itu tidak akan bisa menebus kebaikan dan keikhlasan nyonya dalam menolong mereka berdua selama ini”
“Terlebih dengan kasih sayang yang telah nyonya berikan buat anak saya. Sehingga anak saya merasakan kasih sayang dari seorang oma dari anda, bisa merasakan manja dari dari anda yang saya sendiri tidak bisa memberikannya”
“Tapi yakinlah nyonya, saya membayar anda tadi bukan karena saya marah atau saya arogan. Tapi saya melakukan ini demi anak saya. Saya tidak ingin setiap malam anak saya tidur sendirian. Dan juga saya tidak ingin ada lelaki lagi yang mencicipi tubuh ibu anak saya”
Teeesss……
Air mata Sania turun tanpa bisa dia hentikan. Isak tangisnya terdengar nyata di telinga Alexander, dan itu membuat pria tampan itu makin trenyuh
“Andai waktu bisa saya putar San. Saya tidak akan menyakiti dan menghancurkan hidupmu…..” lirih Alexander tercekat
Mami Ajeng menarik nafas panjang mendengar ucapan lirih Alexander, dan matanya menatap sedih kearah Sania yang masih terus terisak
“Uang anda akan saya kembalikan, saya tidak meminta bayaran dari orang secara gratis. Saya menerima uang karena ada timbal jasa. Saya menjual jasa, bukan menjual janji”
Alexander dan Sania cepat menoleh kearah mami Ajeng yang menatap kearah mereka dengan wajah santai.
“Maksud anda apa?, tadi sudah saya bilang, jika kurang anda bisa bilang berapapun yang anda butuhkan”
Mami Ajeng tersenyum menyeringai kearah Alexander, kemudian beliau menggeleng
“Tanya Sania, apa ada sepeser uang dia saya ambil?. Tidak ada Lex. Seluruhnya saya simpan dan depositonya atas nama Sania. Jadi jika Sania memang ingin berhenti, silahkan. Saya tidak akan menghalangi, dan masalah Junior, kalian berdua jangan salah sangka. Saya menyayangi Junior seperti saya menyayangi anak-anak semang saya yang lainnya. Dan harus kamu tahu Alexander, uang saya banyak walau saya tidak bekerja. Jadi uang yang kamu beri tidak ada artinya untuk saya”
Rahang Alexander mengeras mendengar ucapan sombong mami Ajeng, tapi dia menahan amarahnya jangan sampai meledak, karena dia tidak ingin mami Ajeng berubah pikiran dan terus menahan Sania untuk berada di rumah bordil ini
“Jika memang begitu, semuanya ada ditangan kamu sekarang Sania. Karena yang punya kendali atas diri kamu adalah kamu sendiri. Kamu dengar sendiri jika nyonya Ajeng membolehkan kamu untuk keluar dari pekerjaan ini. Jadi apalagi alasan kamu?”
Sania diam dan masih tampak bingung
“Atau Junior saya bawa pulang?” ancam Alexander
Sania menggeleng cepat
“Nggak Lex, kamu jangan bawa pergi Junior dari saya, saya akan berhenti dari pekerjaan saya. Dan saya akan menjaga Junior. Itu kan yang kamu mau?”
Alexander diam dan menatap serius kearah Sania, dia ingin melihat kejujuran di mata wanita itu
__ADS_1
“Saya janji Lex. Saya nggak akan membohongi kamu. Jika kamu bilang kamu adalah penjahat tapi kamu bukan penghianat, begitu juga dengan aku, aku memang matrelialistis, tapi aku tidak menjual anakku”
Alexander menarik nafas panjang dan kembali menoleh kearah mami Ajeng
“Jadi fix ya nyonya. Mulai detik ini Sania tidak bekerja lagi pada anda. Dan saya harap anda menghapus wajah dan profil Sania di aplikasi anda. Saya tidak ingin, masih ada pria yang menawar dan memakai jasanya”
Mami Ajeng mengangguk, kemudian terlihat dia menatap layar tabletnya. Dan tak lama dia kembali menatap kearah Alexander yang sejak mami Ajeng menatap layar tabletnya tampak serius menatap kearah beliau
“Daftar tunggu nya sudah sangat banyak Alexander”
“Saya tidak perduli. Persetan dengan mereka semua. Cancel!” bentak Alexander marah
Kemudian dia kembali menoleh kearah Sania
“Kamu ikut aku pulang. Aku tidak yakin jika kamu terus disini. Bisa jadi nyonya Ajeng akan kembali menjual kamu”
Wajah mami Ajeng langsung masam ketika mendengar tuduhan Alexander. Sedangkan Sania kembali bergeming
“Cepat nyonya cancel, dan hapus permanen wajah Sania dari aplikasi tersebut!” kembali nada suara Alexander meninggi
Mami Ajeng tidak menjawab melainkan segera tangannya bergerak di atas layar tablet, dan setelah selesai barulah dia menampilkan layar tabletnya kearah Alexander
“Sudah kosong” ucapnya
“Pastikan jika omongan kamu bisa saya pegang”
Sania mengangguk
“Aku janji Lex, aku janji sama kamu. Jika mulai malam ini saya akan berhenti menjadi wanit malam. Dan saya akan fokus menjaga anak kita”
Alexander tersenyum sedih mendengar kalimat terakhir Sania, kemudian dia menanggukkan kepalanya
“Jaga anak saya Sania. Pikirkan matang-matang tentang tawaran saya, segera hubungi saya begitu kamu siap saya bawa Junior ke luar negeri”
Sania mengangguk
“Nyonya, saya pamit pulang. Maafkan kelancangan saya tadi. Saya hanya terbawa suasana saja”
Mami Ajeng mengangguk dan ikut berdiri, lalu bersama Sania dia mengantarkan Alexander sampai ke depan teras
Sania hanya bisa menatap punggung Alexander yang kian menjauh ketika dia menuruni anak tangga teras, berjalan cepat menuju mobil. Sebelum membuka pintu mobil, kembali Alexander menoleh dan tersenyum kearah Sania.
__ADS_1
“Hati-hati Alexander……” gumam Sania pelan
Mami Ajeng yang berdiri di sebelahnya tersenyum segaris mendengar gumaman Sania. Kemudian Alexander masuk kedalam mobil dan Arya langsung memundurkan mobil dan keluar dari halaman rumah bordil mami Ajeng yang tampak megah itu
“Suatu hari nanti, kamu sendiri yang akan meminta aku membawa mu pergi dari sini Sania…..” batin Alexander sambil mengusap wajah Sania yang masih saja dijadikannya wallpaper kunci handphone nya
Setelah mobil yang membawa Alexander tidak terlihat lagi, Sania menarik nafas panjang, lalu menoleh kearah mami Ajeng sambil tersenyum kaku
“Kita harus bicara” ucap mami Ajeng dengan nada dingin yang membuat jantung Sania langsung berdegup kencang
Kepalanya sudah menebak-nebak kira-kira apa yang akan dibicarakan mami Ajeng padanya, apakah ada hubungannya dengan keputusannya ingin berhenti, ataukah dengan perkataan kasar Alexander tadi?
Dengan degup jantung yang kian berdetak kencang, membuatnya ragu untuk masuk ke dalam rumah. walau ragu dan takut, tak urung Sania masuk mengikuti mami Ajeng yang masuk lebih dulu. Dengan pelan Sania ikut menaiki tangga, dimana Mami Ajeng sudah berjalan lebih dulu di depannya
Sebelum masuk kedalam kamar pribadi mami Ajeng, Sania manarik nafas panjang lebih dulu, lalu dengan agak takut-takut akhirnya dia masuk juga kedalam kamar pribadi tersebut
Terlihat mami Ajeng membelakangi Sania, beliau tengah membuka lemari dan sepertinya mengambil sesuatu dari dalam sana
“Duduk!” ucap mami Ajeng yang telah lebih dulu duduk mendahului Sania yang masih berdiri dengan wajah tegang
Sania menarik kursi, lalu duduk di depan mami Ajeng
“Ini” ucap mami Ajeng memberikan sebuah buku tabungan berwarna biru gelap kearah Sania
“Semua uang kamu selama bekerja sama mami, mami masukkan kesana. Bahkan yang tadi ditransfer oleh Alexander itu masuk ke rekening kamu”
Mulut Sania ternganga mendengar ucapan mami Ajeng. Dan dengan tangan gemetar di terimanya buku tabungan yang masih diulurkan mami Ajeng padanya
“Kamu lihat ini!” kembali mami Ajeng memberikan tablet yang selama ini tak seorangpun bisa menyentuhnya selain mami Ajeng sendiri
“Bukti transferan masuk yang tadi dikirim oleh Alexander ke rekening kamu. Dan juga total isi tabungan kamu sekarang”
Tangis Sania sontak pecah ketika dia melihat nominal yang tertera di tablet mami Ajeng. Tangannya gemetar memegang tablet tersebut. Dan mami Ajeng langsung berdiri dari duduknya dan segera merengkuh pundak Sania
Tangis Sania kian pecah di dalam dekapan mami Ajeng, dan mami Ajeng dengan sayang mengusap lengannya
“Kamu sudah seperti anak mami sendiri Sania. Nasib kita sama, kita sama-sama di tinggalkan oleh orang yang menghamili kita sehingga kita menjadi wanita malam. Tapi mami bukanlah induk semang yang serakah, mami masih punya hati. Terlebih karena melihat Junior yang malang”
“Karena itulah semua uang kamu selama ini tidak pernah mami ambil seperti yang lain. Bukan karena mami sayang sama kamu. Tapi karena mami juga sayang sama Junior”
Isak tangis Sania kian mendominasi ruangan kamar besar ini. Sehingga membuat mami Ajeng ikut haru dan menitikkan air mata
__ADS_1
“Jika kamu juga ingin pergi dari rumah ini mami ikhlas San….”