Kejahatan Alexander Louise

Kejahatan Alexander Louise
Terpukulnya Milena


__ADS_3

Jam 07.00 kurang lima menit, Milena sudah berada di tempat biasa dia dan Alexander bertemu.


Karena begitu jam kantor usai tadi, Milena langsung secepatnya pulang ke rumahnya. Istirahat sebentar, lalu berdandan secantik mungkin karena sudah lama antara dia dan Alexander tidak ngedate .


Tuan Jeremy yang masih berada di kantor, tidak menaruh curiga sedikitpun ketika Milena berpamitan pulang lebih awal.


Tapi Nyonya Inne, begitu melihat Milena sudah tampil cantik, segera menggoda anak gadisnya tersebut.


"Mil mau ngedate malam ini Mi, Doakan ya Mi semoga sukses" ucap Milena ketika dia berpamitan kepada Maminya.


Tapi di lain tempat, Alexander yang masih berada di kantornya masih juga belum beranjak pergi. Padahal saat itu jam makin mendekati angka tujuh.


"Lembur?" tanya Mark ketika membuka pintu.


Alexander hanya menoleh sekilas ke arah Mark, lalu dia segera menutup laptopnya.


"Sebenarnya aku ada janji ketemu Milena malam ini" lirih Alexander sambil merebahkan tubuhnya ke sandaran kursi.


Mendengar jawaban Alexander, Mark yang semula berdiri di depan pintu lalu masuk dan menarik kursi. Lalu duduk di hadapan Alexander.


"Jadi Anda mau ngedate malam ini?".


Alexander mendecak mendengar pertanyaan Mark.


"Aku harus bicara serius sama Milena. Biar dia tidak terus berharap dan mengejar ku. Aku pusing selama bertahun-tahun dikejar sama perempuan itu" .


Mark tersenyum menyeringai mendengar jawaban Alexander.


"Ya bagaimana dia tidak mengejar mu selama bertahun-tahun, orang kamu selalu menggantungnya?. Coba kalau kamu dari dulu memberinya ketegasan. Saya yakin perempuan itu bakal mundur".


"Kamu tidak mengenal Milena dengan benar Mark, dia itu sangat keras kepala dan ambisius".


Mark hanya memiringkan sedikit bibirnya mendengar jawaban Alexander.


"Jika begitu, mengapa kamu masih di sini?".


Alexander menarik nafas panjang


"Aku bingung harus mengatakan yang sejujurnya kepada Milena. Jika aku tidak mengatakan hal ini secara jujur kepada dia, aku yakin dia akan terus berharap padaku. Padahal kau tahu sendiri Mark, aku tidak pernah mencintai perempuan itu.


"Ya katakan saja semuanya dengan jujur. Katakan jika kamu sudah mempunyai anak dan kamu mencintai Sania. Gampang kan?".

__ADS_1


Kembali Alexander mendecak mendengar jawaban Mark.


"Aku tahu aku harus jujur mengatakan dengan Milena, jika aku sudah mempunyai anak. Yang aku khawatirkan di sini adalah, bagaimana reaksi Milena ketika mendengar apa yang aku katakan.


"Hadapi. Cuma itu jalan satu-satunya. Terserah jika nanti bakal terjadi perang dunia ketiga, toh kamu tidak mencintai perempuan itu kan?, mau dia Mengamuk, mau dia marah, apa peduli kamu?".


Kembali Alexander menarik nafas panjang mendengar jawaban Mark. Tapi tak lama kemudian Alexander mengangguk-anggukkan kepalanya setuju dengan apa yang dikatakan oleh Mark barusan.


"Oke jika begitu mau kamu Mark, saya pergi sekarang. Dan jika kamu mau lembur, silakan. Tapi jika mau pulang, ayo kita bisa keluar bersama-sama".


Mark langsung berdiri dari kursinya setelah mengatakan jika dia akan pulang. Lalu mereka berdua bersama-sama berjalan keluar dari ruangan tersebut.


Di tengah jalan mereka berpisah karena Alexander harus berbelok menuju tempat yang sudah dia janjikan sebelumnya kepada Milena.


Dan Mark hanya tersenyum segaris melihat Alexander berhenti.


Sampai di tempat yang telah dijanjikan sebelumnya, Alexander segera turun dari mobil lalu berjalan masuk.


Milena yang sudah lama menunggu sejak tadi, begitu melihat Alexander masuk langsung menarik nafas lega.


"Sorry telat, pekerjaan kantor tadi belum selesai" ucap Alexander sambil menarik kursi lalu duduk berhadap-hadapan dengan Milena.


Milena hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum mendengar alasan yang diucapkan oleh Alexander.


Waiters tersebut langsung memberikan buku menu kepada Milena. Dan Milena langsung menyebutkan makanan dan minuman yang mau dipesannya. Kemudian dia melihat ke arah Alexander.


"Kamu mau pesan apa Sayang?"


Alexander hanya menggaruk sebentar alisnya sambil menjawab


"Pesan seperti biasanya saja".


Milena mengangguk, lalu dia menyebutkan makanan dan minuman yang biasa dipesan oleh Alexander. Kemudian waiters tersebut langsung mencatat makanan dan minuman yang disebutkan oleh Milena. Kemudian waiters tersebut langsung berbalik menuju ke belakang.


Alexander hanya menatap makanan dan minuman yang dihidangkan oleh waiters, tanpa sedikitpun menyentuhnya. Sedangkan Milena mulai memotong daging steak yang ada di hadapannya dan mulai mengunyahnya dengan pelan.


Cukup lama Alexander memperhatikan Milena yang sedang makan. Niatnya untuk mengatakan yang sejujurnya kepada gadis tersebut membuatnya sedikit ragu.


Dan Milena yang tahu jika sejak tadi Alexander tampak gelisah, segera mengembangkan senyum di bibirnya.


"Katanya ada yang mau kamu omongin. Kok sejak tadi hanya diam sih sayang?. Bahkan makanan dan minuman pun tidak kamu sentuh. Sebenarnya kamu mau apa sih sayang sama aku?" tanya Milena masih dengan nada sumringah.

__ADS_1


Alexander meraih gelas minuman. Lalu meminum minuman tersebut untuk mengurangi rasa gugup yang tiba-tiba menyerang dadanya.


Dan Milena yang melihat dengan jelas ada perasaan gugup pada diri Alexander, merasa percaya diri jika Alexander akan menyatakan cinta padanya.


"Ada hal penting yang ingin aku sampaikan sama kamu" ucap Alexander akhirnya sambil menatap dalam mata Milena.


Milena yang sejak tadi sudah meletakkan pisau dan garpu, balik menatap tajam ke arah Alexander sambil menganggukkan kepalanya seperti menantikan kalimat selanjutnya dari Alexander.


"Aku sudah mempunyai anak" ucap Alexander akhirnya.


Mulut Milena langsung ternganga dengan mata melotot tak percaya dengan apa yang barusan dikatakan oleh Alexander.


Cukup lama dia bengong, sampai akhirnya dia menggeleng kemudian tertawa.


"Prank apa ini Alexander?" tanya Milena sambil terus tertawa


"Nggak lucu, bener-bener nggak lucu" sambungnya .


"Aku serius Milena. Aku sudah mempunyai anak dan anakku itu hampir berumur tujuh tahun sekarang" jawab Alexander cepat dan wajahnya juga terlihat sangat serius.


Kembali mulut Milena ternganga, dan dia terlihat sangat syok.


"Dan yang paling harus kamu tahu, mengapa selama ini aku tidak pernah memberi harapan kepada kamu itu dikarenakan, aku mencintai ibu dari anakku" tambah Alexander lagi yang membuat air mata Milena jatuh secara tak sadar.


"Aku tahu ini berat buat kamu, tapi aku harus mengatakannya"


"Aku tidak ingin kamu terus-terusan berharap sama aku Milena. Sedangkan kamu tahu, mengapa aku selalu cuek dan dingin kepada kamu selama ini. Itu dikarenakan memang aku tidak pernah mempunyai perasaan apa-apa sama kamu. Maaf jika selama ini, aku telah banyak memanfaatkan kamu. Tapi jujur itu diluar kemauan ku, aku sudah berusaha untuk mencintai kamu, tapi selama aku mencoba, selama itu pula gagal".


Milena yang sudah berurai air mata hanya mampu terdiam mendengar segala ucapan yang keluar dari mulut Alexander.


"Aku tahu kamu sangat terluka dengan apa yang ku katakan. Tapi inilah kenyataannya Milena. Aku tidak bisa mencintaimu, karena di dalam hatiku, aku mencintai ibu dari anakku dan aku sangat menyayangi mereka berdua" .


Milena berusaha menarik nafas banyak-banyak untuk mengisi paru-parunya yang terasa kosong.


Alexander yang melihat betapa terlukanya gadis cantik yang duduk di hadapannya saat ini, Hanya bisa menarik nafas panjang.


Milena meraih gelas yang ada di hadapannya, kemudian mereguknya sedikit. Lalu kembali dia menoleh ke kanan ke kiri seperti berusaha mencari kekuatan.


"Kamu wanita kuat Milena. Aku yakin kamu akan baik-baik saja" ucap Alexander sambil meraih cepat tangan Milena dan menggenggamnya dengan erat.


Milena masih tidak bersuara karena dia masih sangat syok. Dan dengan cepat ditariknya tangannya yang digenggam erat oleh Alexander.

__ADS_1


Alexander yang melihat bagaimana terpukulnya Milena, kembali hanya bisa menarik nafas panjang.


"Ini pasti bohong, nggak benar ini" gumam Milena seolah pada dirinya sendiri


__ADS_2