
Nyonya Emma langsung menoleh ke arah Alexander begitu melihat Milena berdiri di depan pintu.
Begitu juga dengan Tuan Anton, dia langsung menatap tajam ke arah Alexander.
Tanpa permisi Milena langsung masuk dan langsung berjalan ke arah Alexander yang duduk di atas brankar.
Begitu sampai di depan Alexander, Milena langsung memeluk Alexander dari samping. Dan Alexander berusaha untuk melepaskan tangan gadis cantik tersebut.
"Kenapa kamu tidak memberitahuku jika kamu sakit?" tanya Milena dengan wajah sedih.
Alexander tidak menjawab, wajahnya masih datar. Sedangkan Nyonya Emma dan Tuan Anton yang tidak disapa oleh Milena segera berdiri dan mendekat.
"Kamu siapa?, kenapa masuk ke dalam ruangan ini tanpa permisi?" tanya nyonya Emma dengan nada sinis .
Milena yang sejak tadi memegang pundak Alexander segera memutar badannya dan tersenyum.
"Maafkan saya tante. Bukan maksud saya untuk tidak berlaku sopan, tapi saya terlalu khawatir sehingga saya tidak sempat menyapa Om dan Tante"
Milena lalu mengulurkan tangannya ke arah Nyonya Emma yang segera dibalas oleh Nyonya Emma.
Kemudian Milena langsung menyebutkan namanya.
Tuan Anton yang sejak tadi hanya bergeming hanya menatap ke arah Milena dari atas sampai bawah.
"Saya tidak mengenal kamu, kamu temannya Alexander?" kembali Nyonya Emma bertanya.
Milena langsung memasang senyum malu dan menoleh ke arah Alexander.
"Apa sekali saja Alexander tidak pernah menyebut nama saya di depan tante?" tanya Milena percaya diri.
Bibir Nyonya Emma langsung menyunggingkan sebuah senyuman mendengar ucapan Milena. Kemudian beliau menggeleng yang membuat wajah Milena terkesiap.
"Anak saya tidak pernah menyebutkan nama teman perempuan di depan kami, dan setahu kami, Alexander tidak punya teman dekat"
Milena langsung memasang senyum kaku mendengar jawaban dari Nyonya Emma.
"Mami, ini Milena. Anaknya Tuan Jeremy"
Wajah tuan Anton yang semula tampak datar semakin menunjukkan ketidaksukaannya begitu mendengar jawaban Alexander.
"Jeremy pemilik Thomas Corporation?" tanya tuan Anton. Milena langsung mengangguk cepat mendengar pertanyaan dari Tuan Anton.
"Oh...." hanya itu jawaban singkat dari tuan Anton melihat anggukan kepala Milena.
Sedangkan Nyonya Emma langsung menoleh ke arah suaminya mendengar jawaban singkat suaminya tersebut.
"Kenapa kamu tidak memberitahu aku jika kamu sakit?" ulang Milena sambil kembali memegang pundak Alexander.
"Kami memang sengaja tidak memberitahu siapapun tentang anak kami yang sakit, karena memang itu pilihan kami. Agar anak kami tidak ada yang mengganggu" jawab Tuan Anton yang kembali membuat wajah Milena terkesiap.
"Tapi saya tidak tahu kamu mendapat informasi dari siapa tentang keberadaan anak saya. Tapi kami mengucapkan terima kasih karena kamu telah bersedia datang, mau membesuk anak kami" lanjut tuan Anton.
Kembali Milena memasang senyum kaku mendengar ucapan Tuan Anton.
"Dan karena saya masih perlu banyak istirahat pasca pemulihan, Saya minta sama kamu untuk pulang Milena. Maaf karena kamu tidak bisa lama disini, saya butuh istirahat".
Kembali Milena harus menelan kekecewaan mendengar ucapan Alexander yang mengusirnya secara halus.
"Baiklah jika begitu Lex. Aku doakan semoga kamu cepat sembuh, ya?. Dan aku janji besok aku akan datang ke sini lagi" jawab Milena sambil berusaha untuk tersenyum.
Segera Milena memeluk Alexander kembali. Lalu setelah itu dia mengulurkan tangannya ke arah Tuan Anton dan nyonya Emma.
__ADS_1
Baru setelah itu Milena berjalan keluar dari ruang perawatan Alexander diiringi tatapan Alexander dan juga kedua orang tuanya.
"Sudah lama kamu kenal sama anaknya Jeremy?" tanya tuan Anton dingin.
Alexander menelan ludahnya mendengar pertanyaan dari papinya. Dia tahu dari nada suara Papinya, bahwa lelaki tinggi besar itu tidak suka.
Alexander tidak menjawab pertanyaan Papinya melainkan hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan.
"Sebelum kamu mengenal Sania atau setelah kamu mengenal Sania?" kembali Tuan Anton melemparkan pertanyaan yang lagi-lagi harus membuat Alexander menelan ludahnya.
"Jauh sebelum aku mengenal Sania aku lebih dulu mengenal Milena pi, Milena itu teman aku waktu aku kuliah di luar negeri".
"Papi cuma berharap bahwa kamu tidak pernah melakukan hal bodoh pada anak Jeremy itu. Karena kamu tahu sendiri, bahwa perusahaan Thomas Corporation itu adalah rival perusahaan kita".
Kali ini Alexander tidak menjawab dan merespon pertanyaan papinya. Dan Tuan Anton bukanlah orang bodoh, dia yakin anak bad boy nya itu telah jauh melangkah. Karena dia melihat dari gesture gugup dari anaknya tersebut.
"Sudahlah, kamu nggak usah banyak pikiran. Sekarang yang paling penting itu adalah kamu fokus dengan kesehatan kamu. Apa kamu tidak ingin pulang ke rumah dan bermain sama Junior?" tanya tuan Anton lagi yang membuat wajah Alexander kembali berubah cerah.
"Jika dokter mengizinkan, Aku ingin pulangnya hari ini juga Pi. Aku sudah sangat ingin bertemu dengan anakku, rasanya semalam sebentar sekali aku melihat Junior"
Tuan Anton mengangguk setuju mendengar ucapan Alexander.
"Jika itu memang mau kamu, papi juga setuju. Karena sewaktu Papi pergi ke sini tadi Junior terus bersikeras ingin ikut. Tapi mami sama papi sengaja tidak mengajaknya karena kamu tahu sendiri dia masih kecil, rentan dengan keadaan rumah sakit. Papi tidak ingin cucu papi tertular penyakit dari rumah sakit ini".
Wajah Alexander kian sumringah mendengar jawaban dari Papinya. Itu menandakan jika lelaki tersebut sudah menerima dan menyayangi Junior seperti cucunya sendiri.
"Terima kasih ya Pi karena sudah mau membawa Junior ke sini" lirih Alexander.
"Berterima kasihlah kepada Sania. Karena dialah yang telah berbesar hati mengizinkan papi membawa Junior ke sini"
Alexander menarik nafas panjang, kemudian mengusap kasar wajahnya
"Entah dengan cara apa aku harus meminta maaf dan mengucapkan terima kasih secara bersamaan pada wanita itu Pi. Aku sudah sangat bersalah dan terlalu banyak dosa yang telah aku perbuat pada wanita itu" lanjut Alexander sambil menundukkan wajahnya.
"Banyak yang harus kamu jelaskan sama mami Lex, terutama kenapa ada Junior"
Kali ini Alexander menggaruk kepalanya mendengar ucapan sang mami
"Papi keluar dulu ya, papi mau menemui dokter, meminta pihak rumah sakit untuk merawat jalan kamu"
Alexander mengangguk. Dan tuan Anton langsung berjalan menuju pintu. Baru saja tangannya memegang gerendel pintu, hp di dalam saku celananya berdering
"Sania....?" gumam tuan Anton begitu melihat layar hp
"Papi punya nomor Sania?" tanya Alexander cepat
Entah kenapa tiba-tiba hatinya marah mengetahui papinya memiliki nomor Sania sedangkan dia tidak
Tuan Anton tidak menjawab melainkan langsung menerima panggilan dari Sania
"Iya San?"
"Opaaaaa.....!!!"
Tuan Anton langsung menjauhkan hp dari telinganya ketika mendengar teriakan kencang Junior
Tuan Anton segera menloudspeaker hp nya kemudian kembali berjalan kearah brankar Alexander
"Kenapa sayang....?"
Alexander langsung memasang wajah tak suka ketika mendengar papinya menyebut kata sayang
__ADS_1
"Opa dimana?, kenapa tidak pulang-pulang?"
Wajah Alexander yang semula dingin berubah cerah begitu mendengar suara Junior
Dengan cepat diambilnya hp dari tangan tuan Anton
"Sayang, ini papa" ucap Alexander cepat
"Aku nggak mau papa, aku maunya Opa!"
Alexander langsung menelan ludahnya ketika mendengar penolakan dari Junior
Kembali dengan cepat Tuan Anton mengambil hp ditangan Alexander
"Opa di rumah sakit sayang, ini juga mau pulang. Junior tunggu di rumah ya?"
"Nggak mau, pokoknya sekarang Opa pulang!!!"
Bibir Nyonya Emma menyunggingkan sebuah senyuman ketika mendengar suara Junior yang membentak
"Iya, opa pulang sekarang, Junior tunggu opa ya?"
"Sekarang pokoknya!!!"
"Iya nak, iya. Sekarang" jawab tuan Anton cepat dengan nada khawatir
Panggilan terputus, Tuan Anton langsung menoleh kearah istrinya yang saat ini tengah terkekeh
"Seumur hidup mami, baru kali ini mami melihat papi ketakutan dan menuruti perintah orang"
Tuan Anton langsung ikut tertawa
"Entah apa yang dimiliki oleh Junior, sehingga papi merasa setiap perkataannya adalah perintah dan tidak bisa dibantah"
Seketika wajah Alexander langsung mendung mendengar ucapan papinya
"Kalau begitu kita pulang sekarang pi"
Sambil berkata demikian Alexander telah turun dari brankar. Jarum infus ditariknya dengan cepat, lalu dia menekan bekas nadinya yang tiba-tiba terasa perih akibat bekas jarum yang ditarik paksa tadi
"Kalian mau kemana?!" teriak seorang dokter ketika melihat tuan Anton dan keluarganya keluar dari ruang perawatan Alexander
"Pulang, anak saya mengamuk di rumah" jawab Alexander sambil berjalan mendahului orang tuanya yang masih tampak berbicara dengan dokter
Beberapa bodyguard langsung berjalan di samping dan belakang Alexander ketika lelaki tampan berjambang tipis itu berjalan keluar dari rumah sakit
"Bawanya mobilnya cepat!" ucap Alexander ketika dia sudah duduk di dalam mobil
Tak membutuhkan waktu yang lama, mobil suv mewah berwarna black yang dikemudikan seorang bodyguard telah memasuki istana tuan Anton
Alexander semakin mempercepat langkahnya ketika mendengar suara teriakan Junior bercampur dengan bujukan Sania
"Aku mau opa!!!!"
"Sayang......!!!" panggil Alexander
Sania langsung mundur ketika melihat Alexander masuk. Dan Junior yang semula mengamuk langsung berhenti dan menggerakkan kepalanya
Alexander dengan cepat mendekap dan menciumi seluruh wajah Junior, dan Junior tetap bergeming ketika Alexander secara emosional memeluk dan menciuminya
"Sania......" desis Alexander ketika melihat Sania berdiri cukup jauh di belakang Junior
__ADS_1
Sania membuang wajahnya dengan cepat ketika tak sengaja pandangannya beradu dengan Alexander