
Setelah Sania tak sadarkan diri, dengan cepat tuan Handoyo mengangkat tubuh Sania dan membawanya ke kamar
Diletakkannya tubuh Sania di atas ranjang, lalu ditatapnya tubuh molek Sania dengan nafas memburu
Gejolak kelelakiannya seperti berontak ketika melihat dada Sania yang membusung
Dengan cepat ditariknya dress itu hingga bagian dada Sania terbuka dan tak menunggu lama segera tuan Handoyo menarik bra yang menutupi dada Sania, begitu gundukan kenyal yang sejak tadi tersembunyi tersembul keluar, tuan Handoyo makin kalap
Segera di tangkupnya dua gundukan kenyal tersebut dan melahapnya berulang kali
Merasa tak puas di sana, tangannya mulai bergerilya. Karena dress masih melekat di tubuh Sania yang menghalangi pergerakan tangannya maka dengan cepat tuan Handoyo melucuti semua pakaian yang ada di tubuh Sania, hingga gadis malang yang tidak sadarkan diri itu sekarang sudah benar-benar polos tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya
Mata tuan Handoyo kian kalap melihat pemandangan indah di depan matanya
Dengan cepat diapun melucuti semua pakaian yang ada di tubuhnya, segera dia merangkak di atas tubuh Sania lalu kembali menciumi leher jenjang gadis tersebut
Nafas tuan Handoyo kian memburu dan makin terdengar tak teratur, hingga akhirnya setiap inci tubuh Sania berhasil dikecapnya semua.
Hingga bagian inti yang paling menggodanya habis porak poranda olehnya
Sampai beberapa menit berikutnya tubuh Tuan Handoyo sudah bergerak bebas di atas tubuh Sania yang masih memejamkan matanya dengan rapat
Dada Sania yang ranum karena berisi asi berguncang hebat dan makin membuat tuan Handoyo bersemangat untuk kembali melahapnya
Hingga tuan Handoyo menghentikan gerakan liarnya ketika ada cairan putih keluar dari dada ranum tersebut
"Asi?" gumam tuan Handoyo ketika menyentuh air tersebut
Tuan Handoyo tersenyum menyeringai dan kian kalap melahap dada tersebut dan menghisap airnya layaknya bayi yang kehausan
Ranjang yang semula sprei nya rapi sekarang sudah tak karuan bentuknya dan tuan Handoyo semakin leluasa menikmati tubuh Sania tanpa adanya perlawanan dari gadis itu
Tuan Handoyo sudah membolak balikkan tubuh Sania kesana kemari tapi hasrat di dalam jiwanya nyaris seperti tak pernah padam
Lenguhan dan teriakan yang keluar dari tubuhnya yang mengejang akhirnya mengakhiri permainan panas malam ini
Tuan Handoyo segera melempar tubuhnya ke sebelah tubuh Sania yang masih tak bergerak
Lalu ditariknya selimut dan menutupi tubuh mereka berdua, lalu tuan Handoyo memejamkan matanya
...----------------...
Sania menggerakkan kepalanya yang terasa berat dan berusaha membuka matanya, tapi rasa pusing yang mendera kepalanya masih sangat terasa sehingga memaksanya untuk memejamkan kembali matanya dan mengatur nafas dengan pelan
Setelah dirasa pusingnya agak mereda, dicobanya lagi membuka matanya
Hal pertama yang dilihatnya adalah adanya sebuah tangan di atas perutnya yang membuatnya kaget dan refleks membuang tangan itu
__ADS_1
Dengan segera Sania terduduk dan tercekat ketika disadarinya jika tubuhnya dalam keadaan polos
Kembali di tolehnya lelaki yang masih terpejam di sebelahnya dan dia langsung menutup mulutnya ketika disadarinya jika lelaki tua yang terlelap itu adalah tuan Handoyo
Sania meraba kebagian intinya yang terasa agak perih, dan segera menutup matanya ketika disadarinya jika bagian itu juga tanpa penghalang lagi
Tak terasa ada butiran bening mengalir dari sudut matanya, dan dia segera menangis tersedu
Tuan Handoyo yang terlelap membuka matanya ketika mendengar suara isak tangis
Dan langsung terduduk ketika didapatinya Sania menangis dengan menundukkan kepalanya
"Nahla....?"
Sania mengangkat kepalanya lalu dengan cepat merapatkan selimut ke tubuhnya ketika dilihatnya tuan Handoyo duduk
Tangan tuan Handoyo membelai kepalanya
"Maaf jika saya melakukan ini tanpa persetujuan mu, saya hanya tak ingin kamu menolak lagi"
Sania kembali menunduk dalam dan terus saja terisak
"Maafkan saya Nahla...."
Sania mengangkat kepalanya dan segera mengusap kasar wajahnya
"Tuan tidak perlu minta maaf, karena memang sudah menjadi hak tuan untuk menikmati tubuh saya"
"Saya ingin lagi Nahla...."
Sania menggeleng karena dia melihat diluar hari yang gelap telah berubah temaram
"Saya harus pulang tuan, karena tugas saya melayani anda telah saya laksanakan"
Tuan Handoyo yang kembali tergoda karena melihat leher dan dada Sania yang terekspos menggeleng kuat dan segera menarik cepat tangan Sania yang telah siap turun dari ranjang
"Aku sudah membayar mu mahal Nahla, dan aku masih memiliki hak penuh atas tubuhmu"
Sania menelan ludahnya dengan cemas ketika tuan Handoyo yang menarik tangannya kini telah mencengkeram tangan itu dengan kuat
Sekali hentakan tubuh Sania langsung terlentang dan dengan mudahnya tuan Handoyo merangkak di atasnya
Sania memejamkan matanya dengan penuh ketakutan ketika tuan Handoyo mulai mendaratkan ciuman dibibir dan turun ke lehernya
Hingga selimut yang tadi dijadikannya sebagai pertahanannya kini telah ditarik dengan kasar oleh tuan Handoyo dan membuangnya kelantai
Sania berusaha melepaskan tubuh tuan Handoyo yang mendominasi tubuhnya, tapi usahanya sia-sia
__ADS_1
Karena lelaki tua itu telah menguncinya dan Sania hanya mampu memejamkan mata dan meremas sprei ketika dirasanya ciuman tuan Handoyo mulai menjalar kearah kedua paha dan bagian intinya
Tanpa sadar meluncurlah suara erangan dari bibir Sania yang membuat tuan Handoyo tersenyum menyeringai dan kembali bermain liar di area tersebut
Tiba-tiba Sania kembali teringat bagaimana dulu Alexander memporak porandakan pertahanannya hingga akhirnya berkali-kali menyiram benih di rahimnya hingga jadilah Junior
Sania kembali memejamkan matanya dan mulai merasa kesakitan seperti dulu dan menggerak-gerakkan kepalanya dengan histeris sambil berteriak
"Lepas, lepaskan aku... Aku mohon, jangan lakukan ini padaku, aku mohon...."
Tuan Handoyo yang masih bermain di bagian inti Sania menghentikan gerakannya dan memandang Sania yang terus berteriak seperti orang tak sadar
"Rupanya dia memiliki trauma, oleh karena itulah dia ketakutan" batin tuan Handoyo
Tuan Handoyo menghentikan aksinya dan merangkak duduk di sebelah Sania yang terus menggerakkan kepalanya dengan mata terpejam
"Nahla?, Nahla?, kamu kenapa?"
Sania masih seperti orang tak sadar hingga akhirnya tuan Handoyo mengangkat kepalanya dan mata Sania terbuka dengan pandangan nanar
"Jangan lakukan ini, aku mohon, aku mohon..."
Tuan Handoyo tercenung dan memandang wajah Sania yang penuh air mata
"Siapa yang telah membuatmu trauma?"
Sania terdiam dan berkali-kali mengusap wajahnya
"Maafkan aku tuan, maafkan aku..." ucapnya setelah cukup lama diam
Tuan Handoyo yang sudah siap tempur masih sabar menunggu Sania sadar sepenuhnya
"Maafkan aku tuan...." kembali Sania berkata lirih
Tuan Handoyo tidak menyiakan kesempatan tersebut, dengan segera dia kembali merangsang tubuh Sania dengan gerakan tangannya yang lihai dan benar saja Sania mulai mengerang dan mulai memejamkan matanya kembali
Maka dengan mudah kembali tuan Handoyo menidurkan Sania dengan posisi telentang, hingga akhirnya tuan Handoyo kembali menikmati tubuh Sania tapi kali ini dengan keadaan Sania yang sadar sepenuhnya
Sania dengan berlinang air mata membiarkan tubuhnya berguncang hebat oleh gerakan liar tuan Handoyo
Lenguhan dan suara gumaman tak jelas keluar dari mulut mereka masing-masing hingga akhirnya Sania merasakan ada sesuatu dalam dirinya yang akan keluar
Dengan mencengkeram kuat bahu Tuan Handoyo Sania menjerit kecil hingga akhirnya dia merasa sangat letih
Dan tuan Handoyo yang merasakan tubuh Sania menegang tersenyum senang karena berhasil membuat gadis itu sampai di puncak
Dan Sania yang telah dibolak balikkan tuan Handoyo kini hanya bisa menjerit kecil dengan tubuh yang makin terguncang keras
__ADS_1
Sedangkan tuan Handoyo semakin berpacu keras tanpa lelah karena diapun ingin segera sampai di tujuannya
Suara dering hp dari dalam tas Sania tak dipedulikan oleh keduanya. Mereka masih terus bergerak bebas dan melenguh