
Tubuh Sania jatuh lunglai di lantai, menangis sejadinya dengan terbungkuk-bungkuk
Alexander yang berdiri melihat bagaimana Sania menangis pilu kian remuk redam hatinya, air matanya kian deras mengalir
"Maafkan aku San..." ucapnya tercekat
Sania tak menggubris ucapan Alexander dia terus saja menangis sejadi-jadinya
"Kamu tidak tahu rasanya bagaimana jadi aku Alexander, demi bertahan hidup aku sampai menjual diriku, tidak mudah untuk aku sampai terjun jadi wanita malam, tapi aku tidak ada pilihan lain, wanita hamil yang terbuang ke jalanan yang akhirnya diterima dengan tangan terbuka oleh mami, kukira beban ku lepas ketika aku melahirkan Alexander, tapi ternyata Tuhan masih mengujiku dengan membuat buta anakku"
"Aku dan Junior tidak bersalah Alexander, justru yang bersalah adalah kamu, tapi Tuhan lebih memilih kami yang menanggung dosamu, sedangkan kamu terus hidup bergelimang harta tanpa tahu bagaimana keadaan kami berdua"
Suara isak tangis Alexander terdengar jelas memenuhi ruang kamar ini, begitupun dengan suara tangisan Sania
Hanya saja, sekarang dia jauh lebih tenang tidak lagi mengamuk seperti tadi
"Dan sekarang disaat aku telah menata hidupku yang hancur akibat perbuatanmu, mengapa kamu hadir kembali Alexander?"
"Aku hanya ingin menebus kesalahan padamu Sania, tujuanku kesini adalah mencari keberadaan kamu sampai akhirnya aku mengetahui jika kamu hamil, dan aku semakin yakin ketika melihat wajah Junior, wajahnya persis dengan wajahku, dan ketika aku memeluknya, aku merasakan debar jantungku berdebar aneh San, aku merasa jika jantungku dan jantung Junior memiliki satu detakan"
Sania mendengus mendengar ucapan Alexander
"Junior sudah terbiasa tanpa ayah, dia tidak mengetahui ayah itu seperti apa, selama ini yang dia ketahui adalah aku sebagai mamanya dan teman-teman kami satu rumah, jadi tolong Alexander jangan ganggu hidupku lagi, aku tidak ingin hidupku kembali hancur karena kamu, aku sudah bahagia dengan kehidupan aku yang sekarang walau dipandang sebelah mata oleh orang, setidaknya aku bisa menghidupi diriku dan juga anakku"
"Tolong beri aku kesempatan sekali saja San untuk menebus kesalahan aku pada Junior, setelah ini jika memang kamu menginginkan aku tidak boleh menemui Junior aku rela, tapi tolong beri aku hak untuk membawa Junior ke luar negeri, aku akan membawa Junior ke dokter mata terbaik yang ada di dunia ini, aku akan membuat Junior melihat"
Sania yang matanya meredup karena menahan kesedihan yang mendalam langsung menoleh tajam kearah Alexander
"Tidak perlu kamu memikirkan bagaimana Junior, karena aku telah mengumpulkan banyak uang demi kesembuhan anakku, aku tidak butuh uang kamu!" dengus Sania ketus
"Berapa lah uang kamu Sania, kamu tidak akan sanggup membawa Junior ke luar negeri, sedangkan aku detik ini juga aku bisa membawa Junior ke luar negeri, dan aku pastikan ketika dia kembali ke Indonesia matanya sudah bisa melihat"
"Lancang kamu Alexander, uangku memang tidak sebanyak uang yang kamu miliki, tapi asal kamu tahu, uang yang aku kumpulkan dari hasil aku jual diri telah jauh lebih dari cukup untuk membawa Junior keluar negeri"
"Bukan itu maksud aku San, aku hanya ingin meyakinkan kamu bahwa kesembuhan mata Junior akan semakin cepat jika aku kamu berikan kesempatan untuk membawa Junior"
"Tidak!!!, kamu langkahi dulu mayatku, baru kamu bisa membawa pergi Junior"
__ADS_1
Setelah berkata begitu, Sania bangkit, mengusap kasar wajahnya, memungut tas lalu bergegas meninggalkan Alexander yang masih tampak terpukul
Secepat kilat Sania berjalan kearah lift, lalu segera turun kelantai dasar. Supir yang masih berada di bawah tampak kaget ketika melihat Sania turun dengan mata sembab
"Nona?"
Sania cepat menoleh kearah lelaki tersebut
"Antarkan aku pulang!"
Lelaki tersebut mengangguk lalu segera berjalan kearah parkiran mobil, setelah itu dia segera menjalan mobil dan berhenti tepat di depan Sania
Dengan cepat Sania masuk, lalu mobil segera melaju. Di dalam mobil Sania menangis terisak, dan supir yang membawanya hanya berani melirik melalui kaca spion
Sambil terisak Sania segera mengeluarkan hpnya, tampak tangannya gemetar ketika membuka hp, dan masih dengan gugup diletakkannya benda tersebut ke telinganya
"Kamu bilang Alexander sudah pulang, tapi ternyata malam ini yang membooking ku dirinya"
Dhea mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Sania terlebih didengarnya suara Sania terisak
"Kamu membohongi aku Dhe, nggak mungkin kamu nggak tahu"
Baru juga Dhea mau menjawab, ternyata panggilan telah diputus sepihak oleh Sania
Dhea hanya bisa menarik nafas panjang mengetahui jika sahabatnya itu kecewa padanya
"Aku harus menghubungi Alexander" gumamnya sambil segera mencari nomor Alexander
Dan Alexander yang masih terpaku di lantai tak memperdulikan hpnya yang berdering sejak tadi, karena tidak mendapatkan jawaban dari Alexander, Dhea mengiriminya pesan. Menanyakan dimana posisinya saat ini
Dan Alexander masih seperti tadi, dia masih tak memperdulikan hpnya yang berdenting
Dan karena masih tak juga mendapat balasan dari Alexander, Dhea mengulangi panggilannya dan lagi-lagi, panggilannya tak dijawab
Sementara Sania yang berada di dalam taksi masih terus terisak. Hingga tak lama berselang mobil masuk ke kawasan rumah bordil, dan Sania segera turun, membuka tasnya, mengambil beberapa lembar uang merah
"Tidak usah nona, ini sudah tugas saya mengantarkan nona"
__ADS_1
Sania kembali mengusap kasar wajahnya, berusaha tersenyum, menganggukkan kepalanya lalu berlari cepat masuk kedalam
Beberapa penjaga yang sedang bermain kartu menoleh kearah Sania yang berlari cepat kearah rumah, mereka hanya saling toleh karena mereka lihat jika Sania tampak mengusap wajahnya
"Sania nangis tuh kayanya" celetuk salah satu dari mereka
Yang lain mengangguk
"Kita tunggu perintah dari mami saja, tidak usah kita tanyai Sania" ucap yang lain
Kembali yang lain mengangguk dan melanjutkan permainan mereka
"Aku harus menemui mami...." ucap Sania yang langsung berlari menaiki tangga, berlari kearah kamar mami
Sampai di depan pintu kamar, Sania segera mengetuk pintu, karena dia yakin mami belum tidur karena hari masih sore, belum sampai jam sepuluh malam
"Siapa?" teriak mami dari dalam
"Sania, mi"
Mami kembali mengerutkan keningnya mendengar jawaban Sania
"Masuk!"
Sania segera mendorong pintu dan berjalan cepat kearah mami dengan berlinang air mata
Mami Ajeng segera berdiri merentangkan tangannya menangkap tubuh Sania yang menghambur ke pelukannya
Sania menumpahkan semua air mata kesedihan dan ketakutannya di dekapan mami Ajeng dan mami Ajeng hanya bisa mengusap lengan Sania tanpa bisa mengatakan apapun, beliau membiarkan Sania menumpahkan segala kesedihannya, karena beliau yakin, saat telah tenang Sania akan memberitahu semua padanya
Sania terisak-isak dan makin erat mendekap mami Ajeng, tangisnya kian tertahan seperti menahan kesakitan yang terpendam
Mami Ajeng membawa Sania duduk di sofa yang ada di kamarnya, dan kembali Sania menenggelamkan wajahnya dalam dekapan mami Ajeng
"Menangislah, tumpahkan semua yang ada di dalam hati kamu, buang semua jangan sampai ada yang tersisa" lirih mami Ajeng sambil mengusap punggung Sania dengan sayang
Sania tidak menjawab, hanya isak tangisnya yang terdengar jelas memenuhi ruangan kamar
__ADS_1