Kejahatan Alexander Louise

Kejahatan Alexander Louise
Negosiasi


__ADS_3

Tuan Anton berjongkok, mengambil tangan Sania yang memeluk kakinya. Dan membawanya berdiri


“Saya sudah berjanji bahwa saya akan membawa Junior kepadamu dalam keadaan sehat. Tidak kurang suatu apapun”


Sania menggeleng


“Tuan tidak melihat bagaimana tadi anak buah wanita itu menyiksa Junior. Aku melihat dan mendengar bagaimana anakku berteriak tuan. Aku mendengar bagaimana ketakutan nya Junior. Tolong aku tuan, hanya tuan yang bisa menolong ku” ucap Sania dengan wajah basah sambil melipat kedua tangannya di depan dada, mengiba kepada tuan Anton. Berharap jika tuan Anton akan bergerak secepatnya saat ini


Tuan Anton memejamkan matanya melihat Sania mengiba padanya. Seumur hidupnya baru kali ini ada orang mengiba begitu menyakitkan hatinya


“Bawa turun anak saya ini. Saya akan suruh dokter memeriksa keadaannya!”ucap tuan Anton menoleh kearah bodyguard yang berdiri di belakangnya


Dua bodyguard tersebut maju, menggenggam lengan Sania dan berusaha membawanya pergi dari hadapan Tuan Anton. Sania menggeleng kuat ketika dua bodyguard mencengkeram tangannya


“Tidak,aku tidak akan pergi sebelum tuan berjanji jika tuan bisa membawa anak ku padaku hari ini”


Tuan Anton mengangguk.


“Hari ini juga aku akan membawa Junior padamu Sania. Beri aku waktu sampai malam ini”


Sania kembali terisak, tanpa perlawanan dia menurut ketika dua bodyguard yang memegangi tangannya membawanya turun beriringan dengan Dhea yang mengekor di belakang mereka


“Kalian pergi ke hotel tempat perempuan biadab itu menyekap cucu saya. Di Sana ada anak buah wanita itu juga. Saya yakin kali ini jumlah mereka banyak. Bagaimanapun caranya saya ingin kalian membawa cucuku dalam keadaan sehat. Tak peduli jika ada pertumpahan darah”


Bodyguard yang tersisa dari perseteruan di mercusuar hari ini menganggukkan kepala mereka. Dengan segera mereka langsung bergerak menuruni rooftop, masuk kedalam mobil dan segera melesat ke hotel sesuai yang disebutkan oleh ahli IT tadi


Sementara Milena yang masuk kedalam ruang operasi hanya bisa mondar mandir ketika beberapa orang dokter sedang berusaha menyelamatkan nyawa Alvin. Berkali-kali dia terlihat berbicara di handphone, dengan wajah yang sangat tegang dan berubah-ubah ekspresi


“Jika kalian terdesak, anak itu adalah senjata pamungkasnya. Tuan Anton tidak akan berkutik jika nyawa cucunya terancam”


Dokter yang tengah mengoperasi Alvin saling lirik dan melalui kode mata dan gerakan mulut, mereka tahu apa yang harus mereka lakukan.


“Awas jika kalian tidak bisa menyelamatkan nyawanya” ucap Milena mendekati dua orang dokter yang telah berhasil mengeluarkan satu buah peluru dari dada Alvin


Satu jam berikutnya, tiga buah peluru yang bersarang di tubuh Alvin berhasil mereka keluarkan. Dan sesuai dengan rencana mereka, mereka sengaja memberi obat bius dosis tinggi pada tubuh Alvin yang mengakibatkan pria tersebut akan lama sekali untuk sadar


“Bagaimana, kalian berhasil?” tanya Milena ketika dokter dan perawat menarik nafas lega


“Kami telah mengeluarkan seluruh peluru yang bersarang di tubuhnya nona. Karena pengaruh bius pasien akan tidak sadarkan diri. Tapi kemungkinan besar besok pagi dia akan sadar seperti semula”


Milena menarik nafas panjang kemudian dia menoleh kearah Alvin yang matanya terpejam rapat. Kemudian Milena segera mengambil hp yang ada di dalam kantong celananya ketika benda tersebut berdering


“Tunggu saya di sana. Saya akan kesana sekarang juga”


Setelah berkata begitu, tanpa permisi Milena segera keluar dari ruang operasi, dan langsung mendekati pilot yang tangannya di borgolnya di kursi. Dengan cepat pula Milena melepaskan borgol di tangan sang pilot yang membuat pilot tersebut langsung menggerakkan tangannya karena terasa kaku


“Cepat bawa saya ke hotel tadi!”


Kembali pilot tersebut berjalan dibawah ancaman Milena. Tuan Anton yang masih duduk di depan ruang operasi, begitu melihat Milena, beliau segera berdiri dan berlari mengejar

__ADS_1


“Jangan halangi langkah saya. Sebaiknya anda bekerja sama dengan baik jika menginginkan cucu anda selamat” ucap Milena dingin ketika tuan Anton dan bodyguard menghalangi langkahnya


“Jika cucu saya terluka sedikit saja. Nyawa kamu akan melayang di tangan saya” geram tuan Anton yang dijawab Milena dengan tawa mengejek


“Sebaiknya anda suruh anak buah anda mundur dari tempat cucu anda jika tidak ingin kepala cucu anda hancur”


Gigi tuan Anton langsung gemeletuk begitu melihat layar hp yang dipamerkan Milena.


“Sekali saja saya bilang tembak, anak buah saya akan dengan senang hati menembak cucu anda” kembali Milena tersenyum sinis ketika bicara seperti itu


“Kamu…..” geram tuan Anton


“Sebaiknya anda minggir, anda menghalangi langkah saya” ucap Milena sambil mendorong dada tuan Anton yang menyebabkan pria paruh baya tersebut minggir dari tempatnya berdiri


“Ingat tuan Anton, sedikit saja anda salah langkah nyawa cucu anda taruhannya”


“Apa yang kamu inginkan?” tanya Sania yang tiba-tiba muncul


Milena mendecak kesal begitu melihat wajah Sania


“Yang saya inginkan adalah Alexander. Jika kamu bisa membawa Alexander pada saya, maka saya akan mengembalikan anak kamu dengan selamat”


Sania mengangguk cepat


“Saya berjanji jika saya akan membawa Alexander sama kamu. Tapi kamu harus berjanji jika kamu tidak akan menyakiti Junior lagi” mohon Sania


Milena tersenyum menyeringai


Sania menggeleng kuat


“Saya akan membawa Alexander sama kamu. Kamu tunggu saja”


Milena langsung melengos dan kembali mendorong pistol di tangannya ke belakang tubuh pilot yang akan membawanya kembali ke hotel dimana saat ini para anak buah tuan Anton telah mengepung hotel tersebut


“Dengar apa yang saya katakan tadi kan tuan Anton? Suruh anak buah anda mundur jika ingin nyawa cucu anda selamat”


Sania langsung menoleh kearah tuan Anton yang bergeming


“Tolong tuan, kali ini saya mohon dengan sangat pada tuan. Suruh anak buah tuan mundur”


Tuan Anton menarik nafas panjang, kemudian karena tidak ada cara lain akhirnya beliau menempelkan h ke telinganya


“Kalian mundur. Biarkan mereka di sana. Kalian jangan bertindak tanpa perintah dari saya”


Sania membalikkan badannya, lalu menyandarkan tubuhnya ke tembok dan merosot kan tubuhnya sampai lantai. Lalu setelah itu dia menutup wajahnya dan kembali menangis


**


Menunggu Alexander sadar dari pasca operasi, sangat menguras emosi Sania. Berkali-kali dia menatap wajah Alexander yang masih terpejam dengan dada dan bahu diperban bekas operasi. Sedangkan tuan Anton yang juga berada di dalam ruang perawatan tak kalah paniknya. Terlebih ketika ahli IT kembali mengirimkan video bagaimana saat ini Junior masih terikat kaki tangannya

__ADS_1


Dan Alvin yang begitu selesai operasi langsung dibawa oleh anak buah Milena pergi dari rumah sakit ini. Semua ini tak lepas dari pengaruh tuan Jeremy. Jika tidak memikirkan nasib cucunya, sudah sejak tadi tuan Anton ingin menghabisi nyawa Alvin dan juga anak buah kiriman tuan Jeremy


Tapi kata-kata dari Milena yang memintanya untuk bekerja sama jika ingin nyawa cucunya selamat membuatnya harus mengalahkan amarah dan emosinya


Hampir dini hari Alexander sadar dari pasca operasinya. Kata pertama yang keluar dari mulutnya adalah Junior. Sania yang tidur di dalam ruang perawatan begitu mendengar suara Alexander segera membuka matanya dan menegakkan tubuhnya yang tertidur di sofa


“Junior mana? bagaimana keadaan anak ku?”


Sania menoleh kearah tuan Anton yang juga terjaga


“Junior baik-baik saja. Besok dia akan ke rumah sakit ini. Saat ini dia papa suruh istirahat di hotel. Kasihan jika dia harus ikut begadang menunggui kamu disini” bohong tuan Anton sambil mengerling kearah Sania


Alexander menatap tak yakin pada ucapan papinya, terlebih ketika dia melihat jika papinya mengerling kearah Sania yang menarik nafas panjang


“Kamu istirahatlah lagi. Jika kamu sudah benar-benar pulih baru kita temui Junior” jawab Sania pelan


Karena masih ada pengaruh obat, akhirnya mata Alexander kembali terpejam. Sania menarik nafas panjang ketika melihat Alexander telah terpejam kembali. Begitu juga dengan tuan Anton. Keduanya kembali ke sofa dan hanya bisa menatap kearah ranjang dimana Alexander telah kembali nyenyak


Esoknya, kembali tuan Anton mendapatkan kiriman video Junior yang masih terikat. Jantung tuan Anton sudah tak karuan rasanya ketika melihat bagaimana keadaan cucunya sekarang


“Apa itu pi?” tanya Alexander yang mulai duduk


Tuan Anton berusaha tersenyum dan meletakkan hp nya


“Sini pi. Aku mau lihat apa yang papi lihat”


Tuan Anton segera menggeleng dan kembali berusaha tersenyum serta menjelaskan jika itu adalah pesan dari maminya.


“Hp aku mana pi?”


Kembali wajah tuan Anton menegang ketika Alexander menanyakan hp nya.


“Pi? Aku tahu papi membohongi aku” ucap Alexander yang sambil berkata seperti itu menarik selang infus dari nadi tangannya


Tubuhnya setengah limbung ketika dia turun dari ranjang, kemudian dengan cepat diambilnya hp papinya dan tangannya langsung terkepal ketika melihat video yang belum sempat di tutup oleh tuan Anton


“Aku pergi pi. Aku harus menyelamatkan anak aku!” ucap Alexander yang langsung berjalan cepat kearah pintu dan langsung memerintahkan para bodyguard yang berjaga di depan pintu ruangannya untuk pergi bersamanya


“Kalian pasti tahu dimana tempat anak saya disekap”


Bodyguard tersebut mengangguk. Kemudian langsung berjalan cepat menyusul Alexander yang telah berjalan duluan


Di depan pintu kamar tempat Junior disekap, Alexander menarik nafas panjang sebelum akhirnya dia mengetuk pintu


Anak buah Milena yang berdiri di belakang pintu segera mengintip dari lubang pintu ketika pintu di ketuk


“Tuan Alexander” ucapnya pada Milena yang tersenyum menyeringai


Milena memberi kode pada anak buahnya untuk membukakan pintu, dan begitu pintu terbuka, tampak olehnya Alexander berdiri di sana

__ADS_1


“Mana anak saya??!!” teriak Alexander begitu dia masuk


__ADS_2