Kejahatan Alexander Louise

Kejahatan Alexander Louise
Putus Asa


__ADS_3

Sudah sekian bulan Deri tak kembali lagi ke kota, ke rumah keluarganya. Terakhir kali dia pulang ketika mencari keberadaan Sania


Dan kali ini dia kembali lagi ke kota dan kembali mencari keberadaan Sania.


Deri kembali menemui Dhea yang menanyakan apakah ada gadis itu bertemu dengan Sania


Dhea hanya menggeleng dan mengatakan jika dia sama sekali tidak pernah bertemu lagi dengan Sania


Deri tak putus asa, semua tempat didatanginya untuk mencari keberadaan Sania


Seperti siang ini, dengan memakai sepeda motor, kendaraan pribadinya ketika kuliah dulu, kembali Deri mencari keberadaan Sania, bahkan jauh keluar kota


Ketika menjelang malam barulah dia kembali lagi ke kota, dan berhenti di lampu merah ketika traffic light itu menyala


Ketika lampu akan berubah hijau secara tak sengaja Deri seperti menangkap sosok Sania yang sedang berada di dalam mobil


Dengan cepat Deri mengejar mobil yang melaju pelan dan dia semakin mendekati mobil tersebut


Berkali-kali Deri mengklakson yang membuat supir melihat keluar dan menurunkan kaca


Sania yang sadar jika itu adalah Deri menjadi gugup


"Jangan berhenti Den, terus saja"


Deno langsung menutup kaca jendela dan melihat kearah Sania melalui kaca spion


"Lu kenal San?"


Sania diam dan terus melihat keluar kaca jendela dengan gelisah


Helen yang duduk disebelahnya ikut melihat keluar


"San, tuh cowok manggil kamu deh"


Sania makin gelisah


"Gimana San, kita berhenti apa lanjut?"


"Terus saja Den, ngebut bila perlu"


Deno menurut dan segera tancap gas meninggalkan Deri yang juga mengejar di belakang mereka


Sania menoleh kebelakang kearah Deri yang jauh tertinggal di belakang. Tanpa terasa air matanya mengalir dan dia menunduk menahan tangisnya


Helen yang melihat Sania menangis hanya mengelus bahu gadis muda tersebut


"Berhenti Den!"


Deno kembali menoleh melalui kaca spion kearah Sania yang kian terisak


"Kamu yakin?"


Sania mengangguk dengan tangis yang kian pecah


Deno memperlambat laju mobilnya dan menghidupkan lampu sen

__ADS_1


Deri yang melihat mobil yang membawa Sania menepi semakin mempercepat laju motornya dan langsung turun dari motor, dan langsung mengetuk kaca


Deno dengan ragu menurunkan kaca dan melongok kan kepalanya


"Maaf mas, saya seperti melihat teman dekat saya di dalam mobil ini" terdengar sekali rasa putus asa dan panik dari suara Deri


Deno melirik sebentar kebelakang, kearah Sania yang tersedu


"Mas mungkin salah lihat"


Deri menggeleng cepat, dia yakin jika penglihatannya benar


Dengan cepat dia kearah tengah dan langsung mengintip dengan menutupkan kedua tangannya ke sebelah wajahnya agar bisa melihat jelas kedalam


Degup jantung Deri kian berdebar kencang ketika dilihatnya jika memang benar itu Sania


Refleks Deri menarik paksa pintu mobil


"San?, Sania...?"


Sania kian terisak hingga bahunya berguncang, Helen yang melihat makin iba


"San, aku tahu itu kamu, buka San"


Sania masih bergeming, sedangkan Deno masih tampak kebingungan


"Buka San!" Deri kian berteriak panik dan frustasi


"San?" ucap Deno


Sania makin terguncang dan makin menangis kencang


"Kasihan dia San. Aku juga lelaki, aku tahu bagaimana rasanya diabaikan"


Sania mengangkat wajahnya dan menoleh kearah luar dimana Deri terus berteriak dan memukul-mukul kaca jendela


"Temui dia San, jelaskan semuanya, dia berhak tahu tentang anaknya" tambah Deno


Sania tak menjawab ucapan Deri, Sania telah berniat tidak akan mengatakan siapa ayah biologis anak yang dikandungnya saat ini pada Deno


Sementara Deri terus berusaha memaksa Sania untuk keluar bahkan dia melongokkan kepalanya di dekat stir


"San...?" lirihnya frustasi karena Sania masih tak berniat membuka pintu


Deri terduduk di trotoar dengan mengusap kasar wajahnya yang tampak kacau dan basah oleh air mata


Sania yang terus terisak akhirnya membuka pintu mobil dan turun dengan pelan


Melihat Sania turun, dengan segera Deri berdiri, tapi begitu melihat perut Sania yang membuncit langkahnya yang tadi telah siap berlari langsung seperti kelu


Air matanya kembali mengalir ketika didapatinya jika Sania memang tengah hamil besar


Deri menggelengkan kepalanya tak percaya dan kembali terduduk lemas


Sania masih berdiri ditempatnya dengan terus terisak, sementara Deri mengepalkan tangannya dengan erat menahan kecewa dan marah yang bercampur aduk

__ADS_1


"Tolong jangan cari aku lagi Der, carilah perempuan yang benar-benar mencintaimu dengan tulus"


"Anggap kisah kita telah usai dan tak pernah ada, aku bukanlah yang terbaik untukmu"


"Lupakanlah semuanya tentang kita. Anggap tak pernah terjadi apa-apa diantara kita dan kita tak saling kenal"


Sambil mengatakan itu suara Sania bergetar menahan sakit di hatinya. Dia sangat mencintai Deri dan dia harus bisa melupakan dan meyakinkan dirinya dan juga meyakinkan Deri jika memang antara mereka berdua tak akan bisa bersatu selamanya


Deri menutup wajahnya yang basah dan kembali menatap tak percaya pada Sania


Sementara Deno dan Helen yang melihat keduanya dari dalam mobil hanya bengong dan menarik nafas panjang


"Jadi lelaki itu bukan orang yang menghamili Sania, jadi siapa orang yang telah menghamili gadis ini?" batin Deno


"Mengapa kau mengkhianati ku San?" suara Deri tampak bergetar ketika dia mengucapkan kalimat itu


Sania menggeleng. Tak ada untung baginya menjelaskan pada Deri, tentulah dia akan sama seperti yang lain, sulit mempercayai semua perkataan Sania


"Maafkan aku Der" lirih Sania sambil membuka pintu mobil dan segera meminta Deno menjalankan mobil meninggalkan Deri yang seperti orang hilang akal


Deri masih di tempatnya ketika mobil yang dikemudikan Deno kian menjauh


Di dalam mobil kembali Sania menangis terisak di pelukan Helen


Helen terus mengusap lengan Sania yang tampaknya sangat terguncang tersebut


Dan Deno hanya diam tak berkomentar dia hanya melihat melalui kaca spion


Deri terus menatap nanar kearah jalan raya yang masih tampak ramai, pikirannya sangat kusut dan kacau


Bayangan perut Sania yang membuncit besar melintas kembali di kepalanya


Dengan frustasi diusapnya wajahnya dan mengepalkan tangannya dengan erat, giginya gemeletuk menahan marah dan matanya menatap nanar


...----------------...


Mobil yang dikemudikan Deno perlahan masuk kedalam halaman rumah Mami Ajeng


Sebelum turun Sania mengusap wajahnya dan menarik nafas dalam. Dia tak ingin jika mami Ajeng menangkap matanya yang sembab


Dengan pelan dia berjalan masuk bersama Helen, ketika melewati ruang tengah, Sania kian mempercepat langkahnya karena saat itu mami Ajeng tampak mengobrol dengan seorang lelaki


Sania tak ingin lelaki itu melihat jika dirinya sedang hamil


Dan wajah mami Ajeng tampak menegang ketika dilihatnya Sania dan Helen muncul, tapi langsung menarik nafas lega ketika Sania berhasil menyelinap masuk tanpa membuat tamunya curiga


Helen yang menangkap ketegangan di wajah mami Ajeng segera menghampiri ruang tamu dan duduk di sebelah mami Ajeng


Helen langsung memasang senyum manis pada tamu mami Ajeng yang menatapnya dengan lekat


Spontan lelaki separuh baya tersebut mengulurkan tangan dan memperkenalkan dirinya pada Helen


Dan mami Ajeng tersenyum senang karena Helen memang bisa diandalkan


Sementara Sania yang masuk kedalam kamarnya kembali menangis kencang didalam bekapan bantal

__ADS_1


Wajah shock dan frustasi Deri membuat tangisnya makin pecah


"Semua gara-gara kamu Alexander...." geram Sania sambil meremas kuat bantal


__ADS_2