Kejahatan Alexander Louise

Kejahatan Alexander Louise
8


__ADS_3

Alexander sudah dalam penerbangan menuju Amerika saat ini. Dan sekarang Mark yang menduduki posisinya sebagai pemimpin sementara di GEO GROUP.


Sandra yang telah mengetahui jika bosnya hari ini adalah Mark, sejak pagi buta sudah tampil cantik


Dia sudah sering melihat Mark, itu ketika Mark masih menjadi ajudannya pak Anton.


Mark seorang pria asing keturunan Prancis, memiliki postur tinggi, gagah, hidung mancung, kulit putih bersih, bermata tajam bagai elang dan tentu saja berwajah tampan.


Sandra memang menyukai lelaki itu, tapi selama ini Mark hanya dingin padanya, dan selalu bersikap cuek


Dan pagi ini Sandra sangat bersemangat berangkat kekantor, tentu saja karena akan berjumpa dengan Mark


Mark orangnya sangat disiplin dan menghargai waktu, oleh karena itulah sebelum jam kantor dimulai, dia sudah berada di dalam ruangannya


Sandra yang mengetahui jika Mark ada di dalam ruangannya segera membawa laporan untuk diberikannya pada Mark


"Masuk!" teriak Mark ketika pintu diketuk


Masuklah dengan anggunnya Sandra. Mark memperhatikannya dengan dingin


"Laporannya pak" ucap Sandra menyerahkan map dan duduk di depan Mark


Mark segera membuka isi map itu dan membacanya


Sandra menelan ludahnya ketika memperhatikan wajah Mark dari dekat


"Sumpah, ini bule memang cakep nya nggak ketulungan" batinnya


Selesai membaca laporan, Mark meletakkan map tersebut.


"Ada bagian yang salah" ucap Mark yang membuat Sandra berdiri dan berjalan ke sampingnya


Mark menoleh sekilas ketika rambut panjang Sandra mengenai wajahnya


"Bisa geser sedikit?" tanya Mark dingin


Sandra bergeser, tapi dia tak putus asa. Dengan sedikit menundukkan badannya, sehingga menampakkan belahan dadanya dia mendengarkan setiap kritikan dan saran dari Mark


Barulah setelah Mark selesai menjelaskan perbaikan, gadis cantik itu keluar


"Kita lihat saja nanti pak Mark, apakah anda akan terus dingin sama aku, atau anda akan luluh?"


...****************...


Sania yang sudah berangsur pulih hari ini diperbolehkan pulang oleh dokter Anita


"Tapi aku takut untuk pulang, dokter" lirih Sania


Dokter Anita menggenggam tangannya


"Kamu harus kuat Nia. Hidup kamu masih panjang. Jangan karena masalah ini kamu jadi hancur"


"Saya tahu hati kamu hancur berkeping-keping, tapi kamu harus hadapi ini. Saya yakin kamu bisa"


Air mata Sania kembali mengalir. Suster Maria telah mengumpulkan semua barang miliknya dan telah meletakkannya di sebelah Sania


"Biaya perawatan saya bagaimana dokter?"


Dokter Anita menggeleng


"Biaya kamu saya yang menanggungnya, kamu jangan pikirkan itu"


Sania menatap dokter Anita dengan mata yang sudah berkaca-kaca


"Entah dengan cara apa saya membalas kebaikan dokter"


"Dengan kamu tetap hidup dan melanjutkan tujuanmu"

__ADS_1


Sania menunduk


"Semuanya telah suram dokter, saya tidak punya tujuan hidup lagi" jawabnya sambil menunduk


"Pulanglah ke rumah, di rumah ada mamamu yang menantikan mu, kalau kamu takut menceritakan ini pada beliau, cukup kamu pendam saja masalah ini. Biar ini akan menjadi rahasia kita bertiga"


Sania mendongakkan kepalanya, menatap dokter Anita dan suster Maria bergantian


"Kami mempunyai kode etik yang kami pegang teguh. Dan selain itu, kita sama-sama perempuan" lanjut dokter Anita


Dengan menarik nafas dalam dokter Anita memeluk Sania yang sudah terisak.


"Bila pemerkosaan ini membuatmu hancur, maka jadikanlah ini sebagai motivasimu untuk terus bangkit Sania. Seberat apapun masalahmu, kita masih punya Tuhan. Jadikan Tuhan sebagai satu-satunya penolongmu"


Sania mengangguk dan menghapus air matanya.


Handphone di dalam tasnya berdering


My Beloved


Dia menoleh kearah dokter Anita, dokter Anita menganggukkan kepalanya


"Iya mas?"


"Ya Alloh San, mas pikir kamu marah"


Sania memaksakan senyum di bibirnya


"Kamu kemana saja, mas telpon nggak aktif, di WA juga cuma read doang"


"Aku sibuk mas, maaf" bohong Sania


Dia menggigit kuat bibirnya agar tidak mengeluarkan air mata. Dia tak ingin Deri mengetahui keadaan dia yang sebenarnya


"Hati-hati ya sayang kalau kerja, karena sekarang banyak orang jahat dan sering sekali terjadi pelecehan"


"Aku bisa jaga diri kok mas, doakan aku, agar aku baik-baik saja"


"Tentu sayang, oh iya nanti mas telpon lagi ya, ada pasien soalnya"


Sania mengangguk dan menarik hp dari telinganya dan memandang kosong ke depan


"Aku ingin pulang ke rumah dokter"


Dokter Anita menganggukkan kepalanya


"Dimana alamat rumahmu?"


Sania lalu menyebutkan alamat rumah mamanya, lalu dokter Anita tampak mengeluarkan hp dari dalam jas seragam dokternya


"Ke rumahan sakit sekarang, antarkan adik saya pulang kerumahnya"


Sania menoleh kearah dokter Anita yang tengah memasukkan hp kedalam sakunya kembali


"Supir pribadi saya. Saya yang akan meminta dia mengantarkan kamu pulang, saya tak yakin jika kamu pulang sendiri" jawab dokter Anita seperti faham tatapan Sania


Sania hanya diam, dia tak tahu harus berkata apa melihat kebaikan dokter Anita padanya


Dengan pelan Sania turun dari atas ranjang lalu berjalan keluar dari dalam ruang perawatan dengan dipegangi dokter Anita dan suster Maria yang berjalan di samping kanannya


Sampai di luar rumah sakit, supir pribadi dokter Anita telah menunggu dan dengan pasti dokter Anita membukakan pintu mobil untuk Sania


"Kabari saya jika kamu sudah sampai" ucap dokter Anita sambil menyerahkan kartu namanya


Sania mengangguk, dipeluknya erat dokter Anita dan suster Maria. Barulah setelah itu mobil berjalan perlahan membelah jalanan kota


...****************...

__ADS_1


Alexander yang sudah tiba di Amerika saat ini sedang istirahat di dalam kamar hotel bintang lima


Dia segera menghubungi teman lamanya ketika dia kuliah di negeri Paman Sam dulu.


"Butuh perempuan juga?" tanya temannya


"Tentu man.." jawab Alexander diikuti gelak tawanya


"Sejam lagi kami tiba di kamarmu" balas temannya


Sebelum temannya datang, Alexander merebahkan tubuhnya dan menghidupkan tivi, menonton siaran bola


Kembali diraihnya handphone yang diletakkannya di sebelahnya berbaring


"Ya bro?" tanya temannya


"Jangan lupa beli minuman dan cemilan"


"Siap, sekalian pengaman nggak?"


"Kalau itu aku sudah bawa dari rumah"


"Dasar pria mesum"


Lalu keduanya terkekeh


Kembali Alexander fokus menatap tivi. Perhatiannya terusik ketika handphonenya berdering


"Ya Tuhan kenapa lagi ni perempuan" lirihnya ketika dilihatnya bahwa yang menelpon adalah Milena


Didiamkan nya saja panggilan itu tanpa sedikitpun niat untuk mengangkatnya, hingga layar handphonenya kembali gelap


Kembali handphone itu berdering dan sama, masih Milena


Dengan kesal di sentuhnya tombol reject hingga handphone itu kembali diam.


Karena tak ingin diganggu Milena lagi, dengan cepat Alexander mengubah pengaturannya ke mode pesawat


"Telpon saja sampai kiamat kalau bisa" gumamnya kesal


Saat dia ingin kembali fokus ke layar tivi, pintu kamarnya diketuk, segera Alexander beranjak membuka pintu. Dan benar saja, Tom, temannya yang sejak tadi ditunggunya telah berdiri di depan pintu bersama dengan tiga cewek bule yang cantik dan seksi


"Waaaaaw..." lirih Alexander demi melihat ketiga gadis cantik yang berdiri di depannya


Tanpa komando ketiganya segera masuk, bahkan salah satu dari mereka mendaratkan ciuman di wajah mulusnya


Akhirnya mereka berlima pesta minuman hingga nyaris pagi. Bahkan tak hanya minum, Alexander juga bermain dengan dua perempuan sekaligus.


Sedangkan Tom sedang gila-gilaan di atas sofa.


Suara erangan dan lenguhan memenuhi ruangan itu. Alexander yang telah kehilangan kesadarannya terus saja melayang dan menikmati permainan hot dua perempuan yang sangat lihai memanjakannya


...****************...


Mobil yang membawa Sania akhirnya sampai di sebuah rumah sederhana bercat biru laut


Sania mengucapkan terima kasih dan segera turun


Di dorongnya pagar tua yang menjadi pagar rumah orang tuanya sejak dulu itu, lalu dia segera berjalan masuk ke halaman


Mendengar pagar besi yang didorong, bu Liza, mamanya Sania segera menoleh. Demi melihat Sania yang pulang, segera diletakkannya gayung yang tadi dipakainya untuk menyiram bunga


Segera dia menyongsong kedatangan Sania. Air mata Sania telah mengambang ketika dia melihat mamanya


Segera dipeluknya erat tubuh sang mama dan air matanya kian deras mengalir


"Sania kangen mama.." lirihnya

__ADS_1


__ADS_2