Kejahatan Alexander Louise

Kejahatan Alexander Louise
Ketahuan


__ADS_3

Taksi berhenti tepat di depan mess, semua penghuni mess yang belum tidur langsung menatap Sania dan Dhea begitu keduanya masuk


"Dari mana kalian?"


Sania diam, membetulkan anak rambut kesamping telinganya.


"Kepo" jawab Dhea sambil menarik tangan Sania


Keduanya menaiki tangga diiringi tatapan nanar penghuni mess yang lain


Mereka kembali kasak kusuk, dan berkata lirih bahkan ada yang sampai mengangguk-anggukkan kepalanya


Sampai di kamar, Dhea segera mendudukkan Sania di kasur, lalu dia kembali turun


Melihat Dhea turun teman semess nya yang tadi ngerumpi langsung menutup mulut mereka


"Kok diam?" tanya Dhea


Sherly salah satu dari mereka menjawab


"Abisnya kami kaget lihat kamu tergesa-gesa gitu, emang kenapa sih?"


"Nggak, cuma mau ambil air hangat aja buat Sania"


Mereka mengangguk sambil saling toleh, dan Dhea segera meninggalkan tempat itu, masuk ke dapur dan tak lama naik lagi


"Kamu minum dulu"


Sania mengambil gelas yang diberikan Dhea dengan tangan gemetar.


Dhea kembali turun mengambil air sebaskom kecil dan juga handuk


Dan lagi-lagi teman-temannya saling toleh dan makin curiga


Dengan telaten di usapnya kening Sania dengan handuk, bahkan tangan serta kaki Sania tak luput dari gerakan tangan lincahnya


"Gantilah baju, setidaknya tubuhmu tidak terlalu kotor lagi"


Sania yang masih ketakutan berdiri membuka lemari dan mengganti bajunya.


"Aku ambilkan makan, ya?"


Sania menggeleng


"San, setidaknya kamu pikirkan bayi yang ada di perutmu"


Sania menyentuh perutnya. Kembali air mata mengambang di pelupuk matanya


Dhea kembali duduk di sebelah Sania.


"Apa yang tadi aku lakukan Dhe?, aku mau membunuh anakku?"


Sania mengusap rambutnya dengan kalut.


"Sekarang kamu sadarkan, bahwa janin yang ada diperut kamu ini tidak bersalah, dia berhak hidup"


"Saya ada bersama kamu San, saya akan terus mendukung kamu walau nanti seluruh dunia akan menolak kamu"


Sania menatap Dhea sambil beruraian air mata


"Isi perut kamu ya?, kasihan anak kamu"


Sania kembali menggeleng


"Atau kalau tidak minum susu saja?"


Sania mengangguk.


Kembali dengan cepat Dhea membuatkan Sania susu dengan sisa air hangat yang tadi diambilnya. Dengan segera Sania menenggak susu hingga tandas


Dan lagi, Dhea mengusap pundak sahabatnya dengan penuh perhatian


"Jangan stress dan banyak pikiran, sekarang kamu istirahat, untuk nanti biarlah besok kita pikirkan lagi, oke?"


Sania mengangguk, dan membenarkan posisinya naik ke kasur, berbaring dan menarik selimut


Dhea kembali mengelus kepala sahabatnya sebelum akhirnya dia juga naik keatas tempat tidurnya


...****************...


Pagi menjelang, warna langit yang gelap mulai berganti dengan semburat jingga

__ADS_1


Sania duduk dari posisinya yang semula berbaring, meregangkan otot dan menoleh keranjang yang ada di sebelahnya, dimana Dhea masih nyenyak


Senyum mengembang di bibirnya, kembali dirasakannya mulutnya berasa aneh


"Ahh... morning sickness lagi" keluhnya


Diusapnya perutnya yang masih rata, tapi dia yakin janin diperutnya sudah membesar


"Sayang, maafin mama ya yang sempat ingin buang kamu. Mama janji, apapun akan mama lakukan untuk menebus kesalahan mama"


Perutnya bergejolak, sekuat tenaga Sania menahan agar tak muntah, tapi sepertinya sia-sia.


Segera Sania menyibakkan selimut, menuruni tangga dan berlari ke kamar mandi.


Cukup lama dia di kamar mandi, ketika dia membuka pintu, Sherly berdiri tepat di depan pintu yang membuatnya kaget


Sania yang kaget memaksakan sebuah senyuman. Tapi Sherly memasang wajah datar dengan tatapan curiga


"Lu muntah?"


Sania diam, dan makin membuat Sherly menatapnya curiga


"Gue perhatiin akhir-akhir ini lu sering banget muntah-muntah, lu nggak sedang hamil kan?"


Wajah Sania menegang mendengar pertanyaan Sherly


"Ya nggak lah, gue masuk angin kali" elak Sania


Sherly memiringkan bibirnya, dengan cepat Sania keluar dari kamar mandi lalu naik


Sementara Sherly semakin memandang curiga kearah Sania yang naik tangga


"Pasti ada apa-apa, gue yakin" gumamnya


Sania segera duduk kembali di atas kasur, menggigit bibirnya mengingat ucapan Sherly tadi


"Lambat laun semuanya akan tahu jika aku hamil, terus aku harus apa?" gumamnya


Dhea yang membuka matanya segera menguap lebar lalu menoleh pada Sania yang tampak tegang


"Kenapa San?"


"Ehm..?" jawab Sania kaget


"Sherly sepertinya curiga, tadi pas aku keluar dari kamar mandi dia sudah berdiri di depan pintu kamar mandi dan berkata jika aku kaya lagi bunting gitu"


Dhea mendecak


"Sherly memang kepo urusan orang, nggak nyadar kalau aib dia juga numpuk"


Sania diam


"Ya udahlah, nggak usah dipikirkan, sekarang kita mandi, bersiap untuk kerja. Kamu sehatkan?"


Sania mengangguk, lalu Dhea turun dari atas ranjang, menyambar handuk di belakang pintu, sekitar sepuluh menit berikutnya dia telah kembali dengan wajah segar


"Mandilah, mumpung masih sepi, nanti jika yang lain sudah pada bangun, antri"


Sania menurut, dia segera turun menuju kamar mandi. Dan sama seperti Dhea, dia juga kembali dengan wajah fresh


Keduanya turun kebawah dimana penghuni lain sedang antri menunggu giliran mandi, dan ada juga yang sedang bermain handphone


Kembali Sherly mencuri-curi pandang pada Sania.


Dhea yang telah diberitahu jika tadi Sherly curiga, segera mengalihkan perhatian Sherly dengan menarik sebuah kursi dan menyuruh Sania duduk


"Aku buatkan cappuccino, kamu tunggu disini"


Sania mengangguk


Sherly menarik sebuah kursi lalu duduk di depan Sania. Dengan sengaja dia menyemprotkan parfum ke tubuhnya dalam jumlah yang banyak


Refleks Sania menutup hidungnya. Indra penciuman wanita hamil memang sangat peka, dan dia akan sensitif dengan bau-bau tajam


Dhea yang kembali dengan dua cangkir cappuccino melirik tak suka pada Sherly


"Parfum lu nyengat banget sih?, parfum apaan?"


Sherly beralih menatap Dhea


"Parfum mahal lah, nggak nyengat kok, hidung lu aja yang bermasalah"

__ADS_1


Kembali Sania merasakan perutnya bergejolak. Dengan sekuat tenaga ditahannya agar dia tak muntah. Dhea yang menyadari jika Sania menahan muntah kembali mengajaknya menjauhi tempat itu


Sherly dan beberapa penghuni mess yang lain melihat Sania yang seperti menahan muntah makin yakin jika sesuatu telah terjadi pada gadis cantik itu


...----------------...


Kembali Sania menjalankan profesinya sebagai tour guide dengan profesional. Kali ini, kembali turis asal luar negeri memakai jasanya


Cuaca yang cukup terik tak menyurutkan semangatnya dalam bekerja, terlebih sekarang ada janin yang harus diberinya nutrisi lebih, untuk itulah dia semakin bertekad, bahwa dia akan memberikan nutrisi terbaik untuk tumbuh kembang janinnya


Sania dengan lihai menjelaskan semua produk hasil kerajinan tangan pada pelancong ketika mereka menyambangi desa pengrajin.


Begitu juga ketika Sania mengajak para turis untuk menikmati keindahan pantai, lagi-lagi Sania menjelaskan dengan detail apa saja kelebihan pantai yang saat ini mereka kunjungi


Hingga sunset mereka tetap berada di pantai. Para turis sibuk mengabadikan moment indah tersebut, tak terkecuali Sania.


Hingga akhirnya, Sania mengantarkan para turis ke hotel mereka kembali dan berjanji jika besok dia akan datang lagi dan akan mengajak mereka ke tempat eksotis lainnya.


Dengan senyum mengembang Sania berjalan keluar dari hotel, berdiri di tepi jalan menunggu ojol langganannya datang


"Makasih ya sayang, karena hari ini kamu nggak rewel" bisik Sania sambil mengusap perutnya


Sania tak menyadari, jika semua pergerakannya diawasi oleh sepasang mata dan juga kamera handphone canggih


Tampak senyum menyeringai dari bibir orang yang sejak tadi mengawasi Sania. Dan dengan segera dia mengirimkan video tersebut kepada teman-temannya bahkan juga kepada bos nya.


Sebuah klakson ojol mengagetkan Sania yang sejak tadi mengelus-elus perutnya


"Kita mampir ke apotek dulu Mas" ucap Sania saat duduk di boncengan


Supir ojol mengangguk sambil memberikan helm pada Sania yang segera memakainya


Di apotek, Sania membeli susu khusus ibu hamil dan juga beberapa vitamin tambahan. Dengan senyum yang terus mengembang di bibir, dia kembali naik ke boncengan ojol, dan ojol segera melaju menuju mess tempatnya


Langkah Sania yang masuk kedalam mess mengundang seluruh penghuni mess menatap tajam kearahnya.


Tatapan tajam mereka seakan menyiratkan kebencian dan juga cemoohan. Sania yang merasa menjadi pusat perhatian seluruh temannya hanya bisa diam


"Sudah "kerja"nya?" tanya Sherly sinis sambil memberi kode tanda petik dengan jari telunjuk dan tengah kedua tangannya


Sania terus melangkah masuk tanpa ingin termakan dengan omongan Sherly


"Nggak nyangka ya, gadis lugu kaya kamu rupanya mau juga main?"


Sania menghentikan langkahnya, menoleh kearah Sherly yang masih menatap dingin kearahnya


"Maksud kamu apa?"


Seluruh teman Sania tertawa sinis mencemooh


"Udahlah San, kita ini nggak bego kaya kamu, kita tahu kok kalo lu itu saat ini sedang hamil"


DUUUAAARRRR...


Bagai petir menyambar, Sania sangat kaget mendengar ucapan Sherly, bahkan temannya yang lain kian memandang tajam kearahnya


"Kamu nggak bisa mengelakkan?, ya jelas nggak bisa lah, orang kita ada buktinya" sambung Sherly sambil menoleh kearah teman-temannya yang kembali tersenyum sinis penuh kemenangan


Sania kian terpojok saat Sherly memamerkan handphonenya yang berisi Sania sedang mengelus perutnya, dan itu adalah kejadian tadi ketika dia sedang menunggu ojol


Terlebih ketika Sherly kembali memamerkan video percakapannya dengan Dhea, percakapan malam kemarin saat mereka baru pulang dari klinik aborsi


Lemas rasanya kaki Sania ketika seluruh rahasianya diketahui seluruh temannya


"Lu nggak bisa jawab kan San?, Dasar munafik, wajah sok polos, rupanya kamu kerja di tour guide agency hanya untuk menutupi belang kamu, iya kan?"


Sania menunduk, air mata yang sejak tadi ditahannya berhamburan keluar


"Nutupin apa?, apa yang ditutupin?" teriak Dhea yang baru masuk.


Dia segera masuk tanpa melepas flat shoes yang terpasang dikakinya. Segera dia menghampiri Sania yang terisak


"Nah, ini. Ini nih orang yang selalu belain Sania, muncul dia" ledek Sherly


Dengan mata berkilat Dhea menatap tajam kearah Sherly


"Udahlah Dhe, kamu nggak bisa nutupin semua kebusukan Sania. Bangkai yang disimpan suatu hari bakal tercium juga"


Dhea kembali menoleh kearah Sania yang masih terisak


"Kami semua sudah tahu jika Sania hamil, dan malam kemarin kalian dari klinik aborsi kan?" timpal Raya

__ADS_1


Dhea menggigit bibirnya, nafasnya memburu menahan emosi. Ditatapnya seluruh temannya yang duduk melingkar di kursi dengan tajam. Sementara Sherly dan yang lain hanya tersenyum sinis yang makin membuat emosi Dhea memuncak


__ADS_2