
Sania dengan cepat menarik tangan Junior lalu membawanya berdiri dan menjauhi tubuh Alexander yang diam tak bergerak
"Mama dia berdarah!"
Sania tak memperdulikan bagaimana khawatirnya suara Junior, segera dia menyingkirkan kaki Alexander dengan kakinya lalu Sania membawa Junior pergi dari dalam kamar tersebut
"Mama nggak mau, Junior mau menolong orang yang luka itu"
Sania masih tak menggubris permohonan Junior, tangannya masih kencang memegang tangan Junior dan setengah menyeret dibawanya Junior dengan paksa kembali ke kamarnya
"Junior tetap disini dan jangan keluar!"
Junior sontak terdiam mendengar Mamanya membentak dan hanya bisa menggerakkan matanya dengan gelisah
Melihat anaknya terdiam, Sania segera menarik Junior kedalam dekapannya
"Maafkan mama sayang, mama hanya tak ingin kamu disakiti"
Junior diam karena memang dia tidak faham arah omongan mamanya
"Junior disini dulu nak ya, mama mau lihat Om tadi"
Junior menganggukkan kepalanya
"Kasihan ma sama Om tadi, wajahnya berdarah"
Sania tersenyum getir mendengar ucapan polos Junior
"Kamu tidak tahu nak apa yang telah lelaki bejat itu lakukan pada kita" batinnya lagi sambil mengusap kepala Junior sebentar lalu meninggalkan anak tersebut sendirian di kamarnya
Sania melihat bagaimana empat lelaki yang mengeroyok Alexander tadi sekarang tengah menggotong tubuh Alexander dan membawanya kearah pintu mobil berwarna silver yang terbuka
Terlihat juga mami Ajeng dan gadis-gadis penghuni rumah bordil yang bergerak panik
"Deno kamu bawa dua orang ini ke rumah sakit, dan kamu iringi mobil mereka!" ucap mami panik kearah salah satu empat pengeroyok tadi
Bergegas lelaki besar itu menangkap kunci mobil yang dilemparkan Deno sesaat sebelum Deno masuk kedalam mobil sewaan Alexander
"San, kamu hubungi keluarga nya!" ucap Deno sambil menurunkan kaca mobil
Sania hanya mengangguk bingung dan wajahnya tampak menyiratkan kekhawatiran melihat kondisi Alexander yang terluka parah
Setelah melihat jawaban Sania, Deno langsung melajukan mobil keluar dari area rumah bordil dan melesat menembus keramaian jalan raya
Butuh setidaknya setengah jam untuk Deno sampai di rumah sakit. Setiba di rumah sakit, Alexander dan supir pribadinya yang masih sadar walau babak belur langsung diambil tindakan
Berbeda halnya dengan supir yang di bawa ke igd, Alexander langsung dilarikan keruang icu karena dia terluka parah dan membutuhkan penanganan yang serius
Deno segera memberitahu mami Ajeng jika Alexander dan temannya telah diambil tindakan dan dia akan pulang meninggalkan mereka berdua
"Apa kamu sudah memberitahu keluarganya San?" tanya Deno saat dia menelepon wanita itu
Sania yang gugup hanya bisa menjawab jika dia tidak memiliki satupun akses yang bisa digunakannya untuk menghubungi keluarga Alexander
"Alexander tahu kamu disini dari siapa?" tanya Deno lagi
"Tidak ada yang tahu kecuali supir yang tadi bersamanya karena lelaki itu yang menjemput ku malam kemarin"
"Pasti ada yang tahu San, tidak mungkin tidak" ucap Deno sedikit kesal
Sania diam dan tampak memejamkan matanya sejenak
__ADS_1
"Dhea" gumamnya
"Aku akan menghubungi sahabat lamaku, karena dia yang beberapa hari ini bersama Alexander"
Selesai berkata seperti itu, Sania langsung memutus panggilan dan segera menghubungi Dhea
Dhea yang sedang mengantarkan turis segera menarik hp yang dikalungkan nya ketika benda itu berdering
"Sorry...." ucap Dhea pada para turis yang dibawanya, lalu Dhea berjalan agak menjauh
"Ya San?" bukanya ketika mengangkat panggilan Sania
"Kamu dimana Dhe?"
Dhea mengerutkan keningnya demi didengarnya nada suara panik dari Sania
"Lagi kerja, kenapa?"
"Kamu punya nomor keluarga Alexander?"
Kening Dhea makin berkerut dan semakin yakin jika terjadi hal buruk
"Tidak ada, kenapa?"
Sania langsung menceritakan semua apa yang terjadi pada Alexander
Tentu saja cerita dari Sania membuat Dhea kaget bukan kepalang
"Aku cuma ada nomor rekan kerjanya"
"Cepat kamu hubungi, suruh dia melihat keadaan Alexander"
"Sepertinya dia sudah kembali ke ibukota San, karena begitu yang dia bilang sama aku beberapa hari kemarin, makanya aku kaget ketika kamu bilang Alexander nemuin kamu"
Dhea cepat mengangguk dan segera memutus obrolannya dengan Sania
Segera dicarinya kontak Mark begitu didapat, segera di dialnya dan langsung diangkat Mark
"Sorry tuan Mark, saya hanya ingin ngasih kabar kalau Alexander sekarang dirawat di rumah sakit karena ada kecelakaan kecil di rumah Sania, dan saya harap, tuan atau apa saja segera datang kesini"
Tanpa pikir panjang Mark langsung keluar dari ruangannya dan langsung menempelkan hp ke telinganya
"Maaf tuan Anton, saya harus kembali terbang ke kota Wisata ada hal yang harus saya selesaikan"
Tuan Anton yang sejak kepulangan Mark sendiri tanpa Alexander tentu saja memberondongnya dengan banyak pertanyaan
"Tidak ada hal penting tuan, saya hanya ada keperluan sedikit"
Tapi tuan Anton tak lantas percaya dengan alasan Mark, beliau terus mencerca banyak pertanyaan yang akhirnya membuat Mark tidak bisa lagi berbohong
"Alexander mengalami kecelakaan dan sekarang sedang ada di rumah sakit"
Nyonya Emma yang melihat perubahan wajah suaminya langsung berdiri dan merebut hp dari telinga suaminya
"Apa yang terjadi?" sentak nya yang membuat Mark yang saat ini sudah berada di dalam mobil melajukan mobilnya dengan pelan
"Mark?!!!"
Mark menelan ludahnya demi mendengar nyonya besarnya membentak
"Alexander nyonya....." hanya itu jawaban Mark
__ADS_1
Nyonya Emma langsung menoleh kearah suaminya
"Pi?!!"
Tuan Anton mengusap wajahnya, dan langsung mengambil hp dari tangan istrinya
"Saya akan menyusul, kamu tunggu saja di helipad"
Selesai berkata begitu tuan Anton langsung tampak mencari kontak seseorang
"Siapkan helicopter, saya akan terbang ke kota Wisata setengah jam lagi"
"Aku ikut pi!"
Tuan Anton menggeleng
"Alexander anak aku pi, kedatangan aku pasti sangat dibutuhkannya"
Tuan Anton menarik nafas panjang, lalu detik berikutnya dia hanya mengangguk pelan
Tuan Anton segera meneriakkan nama supir pribadi di rumah ini yang langsung berlari tergopoh
"Siapkan mobil, antar saya ke landasan helipad!"
"Baik tuan"
Supir pribadi tersebut segera bergegas keluar dan langsung memanaskan mesin mobil
Sedangkan maminya Alexander telah masuk kedalam kamarnya untuk berganti baju dan mengambil tas
Selesai itu dia langsung turun bersama suaminya yang juga berpakaian necis
Segera dua orang konglomerat itu masuk kedalam mobil, dan sang supir langsung melesat menuju perusahaan tuan Anton yang lain, dimana diatas gedungnya dijadikan sebagai helipad
Karyawan yang melihat bos besar mereka datang kekantor tanpa memberitahu terlebih dahulu tampak kaget sekaligus panik
"Ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya direktur perusahaan ketika diberitahu sekretarisnya jika di bawah ada tuan Anton
"Saya hanya ingin ke helipad, saya akan terbang ke kota wisata, tolong sampaikan pada seluruh karyawan untuk mendoakan keselamatan anak saya"
Direktur itu hanya bisa mengangguk sambil membungkukkan sedikit badannya, setelah itu dia ikut masuk lift bersama Mark dan nyonya Emma
Sampai di roof top, baling-baling helicopter telah berputar dan tampak sang pilot memberi hormat pada tuan Anton yang berjalan tergesa kearah helicopter pribadinya
Kembali direktur perusahaan kedua milik tuan Anton membungkukkan badannya ketika tuan Anton dan nyonya Emma naik kedalam helicopter
Saat baling-baling helicopter semakin berputar kencang, direktur tersebut mundur, hingga akhirnya helicopter yang membawa tuan Anton benar-benar mengudara
"Apa yang terjadi pada Alexander?" tanya nyonya Emma pada Mark yang duduk di belakang
Mark bingung mau menjawab, tentu saja jika dia bercerita sebenarnya seperti yang tadi dikatakan Dhea, tentulah nyonya Emma akan shock
"Saya juga tidak tahu nyonya, tapi yang jelas sekarang Alexander di icu"
Tuan Anton tampak gelisah mendengar jawaban Mark begitu juga dengan nyonya Emma
Disela isak tangisnya dia memarahi Mark mengapa meninggalkan Alexander sendiri di sana
"Jika terjadi hal buruk pada anak saya, kamu yang harus bertanggung jawab Mark!!!"
Mark hanya bisa menelan ludahnya dan menoleh keluar jendela mendengar nyonya besarnya memarahinya
__ADS_1
Sedangkan tuan Anton terus berusaha menenangkan istrinya yang tak berhenti menangis