Kejahatan Alexander Louise

Kejahatan Alexander Louise
Taktik


__ADS_3

"Gue mau tahu siapa perempuan yang lu maksud tadi. Lu bilang, lu mengetahuinya. Jadi gue yakin lu pasti kenal sama perempuan itu"


"Emang untungnya apa buat gue ngasih tau lu, hem?!"


Milena langsung mendengus kesal mendengar jawaban Sandra


"Kan gue udah bilang, itu dua orang bayaran gue nggak akan melepaskan elu sebelum elu ngasih tahu apa yang gue mau"


Wajah Sandra tersenyum menyeringai mendengar jawaban marah dari Milena


"Hello..., lu pikir gue bego? wajah dua orang itu sudah gue foto dan sudah gue kirim ke sosial media gue. Dan asal lu tahu, followers gue itu ribuan. Jadi, jika ada sesuatu hal terjadi sama gue, pihak kepolisian akan mudah sekali melacak dua orang itu, termasuk elu"


"Wajah lu juga sudah gue foto dan langsung gue share di sosial media gue. Jadi maaf ya Milena sayang, jika lu ngancam mau menghancurkan hidup gue, gue juga bisa menghancurkan hidup lu"


Sekarang giliran rahang Milena yang mengeras mendengar jawaban santai dari Sandra


"Kurang ajar kamu!!" geram Milena


Dan kembali Sandra memasang senyum manis di bibirnya, karena dia berhasil buat Milena marah dan tersudut


"Kita main cantik saja lah. Toh baik kamu ataupun aku juga korbannya Alexander"


"Maksud kamu apa ? mau ngajak kerja sama, gitu?"


"Bukan ngajak kerja sama sih. Yaaa, istilahnya take and give lah. Lu tau lah, gue sekarang nggak kerja lagi. Jadi, gue tawarkan informasi yang elu mau tentang Siapa perempuan yang dicintai oleh Alexander. Tapi lu harus membayar setiap informasi yang gue kasih"


Milena mengepalkan tangannya dengan kesal mendengar jawaban dari Sandra. Karena, lagi-lagi Sandra bisa menguasai situasi dan membuat Milena kian tersudut


"Ya itu sih kalau lu mau, kalau lu nggak mau ya sudah, gue nggak maksa. Sama satu lagi, Gue ingin keamanan dari lu. Gue nggak mau elu terus ngancem-ngancem gue. Karena seperti yang tadi gue bilang, kalau elu ngancem gue, wajah elu dan dua orang suruhan lu itu, akan langsung gue sebar dan gue akan kirim ke kantor polisi"


"Dan gue juga akan buat laporan, bahwa elu ngancam gue. Gue akan minta perlindungan dari polisi. Lu tahu lah, hal apa yang akan terjadi sama lu nanti. Bisa dipastikan wajah lu akan terpampang di linimasa, dan mungkin juga di televisi. Dan sayangnya, karir lu sebagai business woman akan hancur. Dan Papi elu yang setengah konglomerat itu akan spot jantung dan kolaps"


"Kamu ???!!" geram Milena dengan mengangkat tangannya siap penampar wajah Sandra


"Santai girl..... disini ada cctv-nya loh. Dan perbuatan kasar lu itu bisa mengirim lu langsung ke penjara. Emang lu mau lu penjara?. Udah nggak dianggap Alexander, di penjara pula?? kan ngenes" masih Sandra menjawab dengan santainya yang membuat Milena makin bertambah kesal


Milena akhirnya duduk kembali dengan wajah kesal. Dan segera meraih cappucino yang ada di depannya, meminum Cappucino tersebut sambil menatap tajam ke arah Sandra

__ADS_1


"Gimana?. Elu mau ikut permainan gue atau elu tetap dengan ego elu?"


Dengan sedikit menarik nafas panjang dan membuangnya dengan kasar, akhirnya Milena menyetujui bekerja sama dengan Sandra


"Oke, deal ya? jadi gue pulang sekarang. Dan terima kasih karena elu sudah bayar belanjaan gue" jawab Sandra santai dengan segera berdiri dari kursinya


"Lu mau ke mana, lu nggak bisa pergi karena elu belum ngasih informasi apapun sama gue!" ucap Milena sambil menarik kembali tangan Sandra


"Loh apa lu lupa tadi kan gue udah bilang kalau gue tahu perempuan yang disukai sama Alexander"


"Iya gue tahu, kalau lu sudah bilang itu. Tapi lu nggak bilang siapa nama perempuan itu dan di mana dia tinggal"


"Lain kali saja Mil, karena satu informasi dari gue itu harganya mahal. Dan Elu harus menyiapkan budget yang banyak untuk setiap informasi yang akan gue share ke lu"


"Dasar perempuan matre !! geram Milena


Sandra hanya tersenyum menyeringai mendengar makian Milena. Kemudian dengan kasar di tepisnya tangan Milena, dan dia segera meraih tasnya yang terletak di atas meja, kemudian melenggang keluar dari Cafe shop tersebut


Dan ketika melewati dua orang yang beberapa hari ini menguntitnya, Sandra melirik sebentar. Kemudian menoleh ke arah Milena yang terus saja menatap tajam ke arahnya, kemudian Sandra melambaikan tangannya ke arah Milena, baru setelah itu dia benar-benar keluar dari cafe shop tersebut


Dan Milena segera meletakkan dengan kasar cangkir cappucino yang sejak tadi dipegangnya, kemudian dia membeli kode kepada dua orang suruhannya yang segera datang mendekatinya


Dua orang lelaki besar tersebut menganggukkan kepala mereka begitu mendengar Milena berbicara


Lalu Milena segera berdiri dari kursinya, kemudian pergi meninggalkan dua orang tersebut yang juga tak lama setelah Milena keluar, mereka juga keluar dari cafe shop tersebut


...****************...


Sedangkan di tempat lain, Sania sedang mengajak Junior bermain ke tempat kerja pacarnya Dhea


"Kamu harus belajar surfing, seru banget tahu....."


Sania hanya tersenyum ketika melihat Dhea begitu antusias bercerita tentang kegiatan surfing nya


"Kamu tahu sendiri lah, aku nggak mungkin surfing, Junior siapa yang nungguin nya? Lagian kamu tahu, aku itu kerja jadi wanita malam, kalau kulit aku terbakar, bisa nggak laku lagi aku"


Dhea tertawa terkekeh mendengar jawaban Sania

__ADS_1


"Common deh San, kamu apaan sih?. Kegiatan surfing itu seru tahu, bisa memacu adrenalin. Dan juga aku yakin kok, bule-bule itu seneng sama perempuan Indonesia karena kulit kita eksotis, kayak aku nih. Makanya dari dulu pacar aku itu bule semua, karena Bule kan suka sama kulit yang coklat-coklat kayak aku"


Dan kembali Sania harus tertawa mendengar jawaban dari Dhea


Sementara Junior saat ini sedang bersama pacar Dhea. Bule tersebut sudah diberitahu Dhea, jika Junior itu buta. Jadi pacarnya Dhea mengajak Junior berbicara layaknya Dia berbicara dengan anak kecil kebanyakan agar Junior merasa nyaman


"Kamu belum cerita sama aku gimana kamu di ibukota kemarin?"


Sania menarik nafas dalam mendengar pertanyaan Dhea kemudian dia menoleh sambil tersenyum getir


"Sejauh yang aku lihat dan yang aku rasakan, orang tua Alexander begitu welcome sama aku, berlebih kepada Junior"


"Orang tua Alexander sangat menyayangi Junior. Bahkan selama satu minggu Kami di ibukota, sekalipun Junior itu tidak pernah tidur dengan aku. Junior selalu tidur dengan Tuan Anton bahkan Junior sesekali tidur dengan Alexander"


"Serius San??! kamu nggak bohong kan??"


Sania langsung mendecak kesal dan memasang wajah cemberut mendengar respon dari Dhea


"Ya enggak lah, aku nggak bohong. Aku jujur, orang tua Alexander memang betul-betul baik sama kami"


"Terus kalau mereka baik kok lu pulang? Harusnya lu itu stay aja di sana, karena benar apa yang dikatakan oleh mami Ajeng dan teman-temanmu di rumah Mami Ajeng itu, bahwa Junior itu butuh sosok ayah San kamu nggak boleh egois"


"Aku bukannya egois Dhe, tapi aku harus menjaga jarak antara Junior dan Alexander. Karena kamu tahu sendiri perjuangan Aku selama ini, dalam merawat dan membesarkan Junior. Apa pernah Alexander tahu bagaimana susah dan sakitnya aku mengurusi anaknya? tidak pernah


Dhe!"


"Ya kan Alexander nggak tahu San Kalau kamu hamil. Kalau dia tahu kamu mau hamil anaknya, dia pasti bertanggung jawab"


Dan sekali lagi Sania mendecak kesal mendengar jawaban Dhea yang seolah-olah lebih membela Alexander ketimbang dirinya


"Udahlah Dhe, nggak usah bahas itu. Aku ke sini itu karena aku kangen sama kamu. Aku ingin ketemu sama kamu. Juga Karena aku ingin membawa Junior jalan-jalan, bukan dengan kita adu argumen kayak gini"


Dhea terdiam mendengar jawaban dari Sania. Terlebih ketika dilihatnya bahwa wajah sahabatnya itu berubah menjadi kesal dan cemberut


"Iya aku minta maaf. Aku janji aku nggak bakal pernah bahas-bahas ini lagi. Apapun keputusan kamu, aku dukung. Selagi itu baik untuk kamu dan juga Junior"


Sania segera menoleh ke arah Dhea yang menatap serius ke wajahnya. Kemudian Sania tersenyum, lalu keduanya berpelukan

__ADS_1


"Aku harap, suatu hari nanti kamu memang menyadari Sania, bahwa Alexander itu peduli terhadap kamu dan juga Junior" batin Dhea sambil mengusap-usap punggung Sania


__ADS_2