Kejahatan Alexander Louise

Kejahatan Alexander Louise
Shock


__ADS_3

Karena tak juga mendapatkan jawaban dari dalam ketika mengetuk pintu, akhirnya Sania berinisiatif mendorong sendiri pintu


Baru saja dia akan melangkah masuk, langkahnya langsung dihentikan oleh supir yang tadi menjemputnya


"Biar saya yang masuk duluan nona, nona tunggu dulu sebentar di luar"


Sania menoleh, melepaskan gagang pintu lalu mundur selangkah untuk memberi jalan agar supir tersebut bisa masuk


"Nona Sania nya sudah ada di luar tuan, bagaimana? apa langsung saya suruh masuk atau tuan sendiri yang menjemputnya?"


Alexander menghembus nafas panjang, wajahnya masih tampak sekali tegang


"Kamu boleh keluar, biar Sania masuk sendiri, bilang padanya, aku sudah menunggunya sejak lama"


Supir tersebut mengangguk lalu membalikkan badannya, berjalan meninggalkan Alexander yang wajahnya kian tegang


Supir yang berperawakan sedang dan selalu memakai penutup kepala khas daerah kota B membuka pintu yang membuat Sania yang berdiri belakang pintu segera menoleh begitu pintu terbuka


"Nona diminta segera masuk, tuan sudah sejak lama menunggu nona"


Sania menganggukkan kepalanya, tersenyum sekilas kearah lelaki itu, merapikan rambutnya lalu menarik nafas panjang


Berjalan selangkah ke depan pintu, menarik nafas panjang kembali, menurunkan dress ketat sepanjang lutut yang membalut tubuh seksinya


Kembali Sania mengetuk pintu, menoleh ke belakang kembali kearah supir yang masih berdiri di tempatnya


"Langsung masuk saja nona"


Sania mengangguk dan langsung mendorong pintu hingga terbuka lebar.


Setelah pintu terbuka, Sania masuk, menutup pintu dan berjalan masuk. Langkah heels yang Sania pakai memenuhi ruang kamar yang tampak lengang


Sania berjalan masuk dan memandang sekeliling kamar yang tidak ada orang di dalamnya


Sania terpaku dan mematung di tempatnya, tampak bingung karena kamar ini kosong


"Hallo....?" Ucap Sania ragu


Hening, tak ada jawaban


"Hallo?, any body in here?" ulangnya


Masih sepi. Dan Alexander yang bersembunyi di dalam kamar mandi makin gelisah dan nyaris memaki dirinya sendiri karena ketakutannya ini


Sania kembali berjalan, dan kembali ketukan heels yang dipakainya begitu jelas di dengar oleh Alexander


"Hallo?, Sir...?" kembali Sania memanggil


Dan Alexander kian gelisah berjalan mondar mandir dalam kamar mandi.


Sania yang tidak mendapatkan jawaban memilih duduk di atas ranjang lalu tangannya mengusap sprei ranjang yang tampak rapih

__ADS_1


"Sir?, are you in toilet?" Sania kembali bersuara sambil menatap kearah pintu kamar mandi yang tertutup rapat


Masih tak ada jawaban, dan Sania menarik nafas panjang kembali. Setelah sekian detik, diambilnya hp yang ada di dalam tas kecil yang dibawanya


"Mi, mami nggak salah orang?"


Mami Ajeng yang menerima panggilan dari Sania tampak mengerutkan keningnya


"Maksud kamu San?"


"Ini aku sudah di kamar hotel orang yang mau booking aku, tapi kamarnya kosong mi"


"Tidak mungkin kamu salah tempat San, yang jemput kamu kemana?"


"Sudah pergi mi, dan tadi dia bilang jika yang booking aku sudah nunggu lama, tapi giliran aku masuk kamarnya kosong"


"Tunggulah dulu disana, jika memang orangnya tidak ada, kamu bisa pulang"


"Oke mi, jika itu kata mami"


Selesai berkata seperti itu, Sania memasukkan kembali hpnya kedalam tas lalu kembali menoleh gelisah


Dan Alexander yang mendengar perkataan Sania, sekarang tengah menarik nafasnya dalam-dalam, mempersiapkan mentalnya untuk keluar dari persembunyiannya


"Hallo....?" kembali Sania bersuara


Alexander yang tangannya telah memegang gagang pintu spontan menghentikan gerakan tangannya karena gugup kembali menyerang hatinya


"Udahlah aku pulang saja" putus Sania sambil meraih tas nya yang tergeletak di sebelahnya, berdiri dan merapikan sebentar dress nya lalu menoleh ke kanan kiri sebelum akhirnya dia berjalan


Dan Sania yang telah memegang gagang pintu menoleh kembali kedalam begitu didengarnya ada suara pintu di buka


Dengan cepat dia membalik badannya dan degup jantungnya langsung berdetak kencang, saking kencangnya nyaris membuat Sania akan ambruk karena kaget


Bagaimana dia tidak kaget, di depannya sekarang berdiri lelaki yang selama ini sangat dibencinya, lelaki yang beberapa tahun ini mati-matian dilupakannya


Sania yang nyaris ambruk segera menepikan tubuhnya ke tembok, berpegangan pada tembok agar tubuhnya tak benar-benar jatuh ke lantai


"Sania..." lirih Alexander tercekat


Sania mengatur nafasnya yang tampak memburu, tas yang tadi dijinjingnya telah jatuh sejak pertama kali dia melihat Alexander


Tubuh Sania sedikit membungkuk karena nafasnya tampak tersengal-sengal


"Sania....." ulang Alexander dengan nada penuh khawatir dengan wajah yang kian tegang


Sania menepuk wajahnya berharap jika ini tidak nyata, berkali-kali dia memukul wajahnya yang memucat dengan bibir bergetar


"Sania ini kenyataan bukan mimpi" kembali Alexander bersuara walau dia juga merasa sangat ketakutan


"Nggak, nggak.... ini pasti mimpi" ceracau Sania sambil terus memukul wajahnya

__ADS_1


"Sania, ini aku Alexander, kamu tidak sedang bermimpi"


Sania mengangkat wajahnya, dadanya turun naik, nafasnya kian tersengal


Sedangkan Alexander yang melihat Sania tampak sangat shock, memberanikan dirinya berjalan mendekati Sania


Sania mengusap wajahnya dengan kasar dan mendongakkan kepalanya sambil memejamkan matanya dengan terus bergumam tak jelas


"San....?"


Sania terlonjak, secepat kilat dia menoleh kearah Alexander yang sekarang benar-benar berdiri di depannya


"Ya Tuhan, jadi ini kenyataan bukan mimpi?" kembali Sania bergumam dan berusaha menjauh dari Alexander yang bergeming di depannya


"Tidak San, ini kenyataan, ini aku Alexander, ayah dari anakmu"


Sania menghentikan langkahnya dan secepat kilat matanya berubah merah menyala menatap kearah Alexander yang berwajah sedih menatapnya


"Anak? anak mana yang sedang kamu bicarakan?"


Alexander diam, dia membiarkan Sania memandang tajam kearahnya dengan tatapan penuh amarah


"Maafkan aku San...."


Sania menggeleng kuat, dia masih memandang Alexander dengan tatapan penuh kebencian


"Anda siapa?, aku tidak pernah mengenal anda, jadi anda tidak usah bilang jika anda mengenal ku"


Alexander tersenyum getir


"Aku akan terus di sini San, aku akan terus meminta maaf padamu atas segala yang pernah aku lakukan sama kamu"


Kembali Sania menggeleng


"Anda salah orang, aku bukan Sania. Aku Nahla"


Kali ini Alexander yang menggeleng


"Kamu mau mengubah namamu seribu kali juga aku akan tetap mengenalimu San, tak perduli walau wajah kamu juga sudah jauh berubah dari pertama kita bertemu, aku masih tetap mengenalimu"


Sania bergeming, dia hanya bisa menelan ludahnya mendengar jawaban Alexander


"Maafkan aku San... Hanya itu yang aku butuhkan saat ini"


Dada Sania masih turun naik menatap kearah Alexander


"Beri aku hukuman apapun San, aku akan menerimanya asalkan aku bisa menebus semua kesalahan aku sama kamu"


"Sudah aku bilang jika aku Nahla, bukan Sania!!!"


Alexander menggeleng dan kembali tersenyum getir

__ADS_1


"Jika kamu memang Nahla dan bukan Sania, kenapa kamu begitu shock ketika melihatku?"


Sania diam tak menjawab ucapan Alexander, dia hanya menelan ludahnya dengan susah payah dan hanya bisa menatap kearah Alexander yang terus berjalan kearahnya


__ADS_2