
Morning sickness terpaksa membuat Sania harus terbangun dan berlari ke kamar mandi
Kembali Sania memuntahkan seluruh isi perutnya
Dokter Anita dan sang suami yang kembali dari olahraga pagi tidak menyadari jika Sania di dalam kamar mandi
Ketika keduanya duduk di teras lamat-lamat telinga dokter Anita seperti mendengar suara orang muntah
Dia dan suaminya langsung saling toleh, dan dokter Anita langsung masuk kedalam rumah, berjalan kearah kamar mandi
"San?"
Sania menyiramkan air kedalam kloset
Dokter Anita mengetuk pintu kamar mandi
"Sania?, apa kamu baik-baik saja?"
"Iya dokter" jawab Sania tertahan karena perutnya kembali bergejolak dan kembali dia muntah
Dokter Anita segera membuka kotak p3k yang ada di belakang, mengambil minyak kayu putih dan meletakkannya di atas meja.
Sania keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah basah dan tampak pucat
"Sini, saya bantu" ucap dokter Anita yang langsung membimbing langkah Sania dan mendudukkannya di kursi
Lalu dengan telaten dokter Anita menggosokkan minyak kayu putih ke punggung dan tangan Sania
Lalu dia juga membuatkan teh hangat
"Diminum, nanti siang saya akan belikan susu untuk kamu"
Sania kaget dan wajahnya langsung menegang
"Saya tahu kamu hamil"
Sania langsung menundukkan kepalanya
"Ceritakan semuanya pada saya"
"Aku sendiri tidak menyangka dokter jika karena kejadian kelam itu saya hamil" ucapnya sambil mulai terisak
Dokter menatap Sania dengan iba
"Saya dipecat dari pekerjaan saya karena temannya saya merekam percakapan saya dengan sahabat saya yang menceritakan kehamilan dan rencana saya untuk aborsi"
"Setelah dipecat saya berniat pulang tapi di tengah jalan saya ditawari kerja yang ternyata pekerjaannya menjadi pelacur, dua orang lelaki malam tadi adalah anak buah mucikari yang mau menangkap saya"
"Kamu kabur dari mucikari tersebut?"
Sania mengangguk.
"Terus saya pulang ke kampung, dan kembali kebohongan saya terbongkar, yang akhirnya mama mengusir saya"
Dokter Anita makin memandang iba pada Sania yang terus terisak
"Saya harus bagaimana dokter?, makin hari perut saya akan kian membesar, sedangkan saya tidak bersuami"
"Dan sekarang saya malah merepotkan dokter"
Dokter Anita tersenyum sambil menggenggam tangan Sania
"Tinggallah disini, di rumah ini. Saya hanya berdua dengan suami saya. Kami belum dikaruniai buah hati, padahal pernikahan kami sudah hampir lima belas tahun"
Sania memandang kaget kearah dokter Anita yang masih tetap menampilkan senyum manisnya
__ADS_1
"Mulai sekarang jangan pikirkan bagaimana kehidupanmu dan bagaimana nanti kamu melahirkan karena mulai saat ini, itu sudah menjadi tanggung jawab saya"
Air mata Sania kembali mengalir
"Sekarang kamu mandi, dan nanti ikut saya ke rumah sakit, kita periksa"
Sania mengangguk, sekali lagi dia mengucapkan terima kasih atas kebaikan dokter Anita
Karena Sania masuk ke kamarnya, dokter Anita kembali menemui suaminya yang sedang menyiram bunga dengan selang air
"Dia kenapa ma?"
Dokter Anita tersenyum sambil duduk di kursi memperhatikan suaminya yang terus menyiram tanaman
"Ihh ditanyain malah senyum-senyum" sambung suami dokter Anita sambil segera mematikan kran air dan berjalan kearah istrinya
"Pa, aku ada kabar baik" wajah dokter Anita sumringah
Suaminya mengangkat alis
"Sania hamil!!"
Raut kaget langsung terpancar dari wajah suami dokter Anita. Dan dokter Anita seperti tersadar langsung menceritakan awal mula dia bisa kenal Sania
"Jadi gadis itu korban pemerkosaan?"
Dokter Anita mengangguk.
"Mengapa mama baru memberitahu papa sekarang, coba dari dulu waktu baru kejadian, kan papa bisa memburu pelakunya"
"Tidak semudah itu pa, saat itu Sania sangat shock dan depresi, sehingga lama dirawat di rumah sakit, sampai sekarang dia belum menceritakan siapa ayah dari jabang bayi di dalam perutnya"
"Mama yakin mengajaknya tinggal di rumah ini?"
Wajah dokter Anita berubah cemberut
"Pa, hidup dia sudah terlalu kacau, jika tidak tinggal disini, terus dia mau tinggal dimana? dia dipecat dari pekerjaannya, ditawari jadi pelacur, diusir mamanya, dan dua lelaki malam tadi adalah anak buah mucikari yang mengejarnya"
"Boleh ya pa, Sania tinggal disini?"
Suami dokter Anita tak menanggapi dia masih tampak berfikir
"Pa?"
"Iya, iya boleh"
Dokter Anita langsung merangkul suaminya dari samping
"Terima kasih ya pa..."
Suami dokter Anita tersenyum seraya mengelus tangan istrinya
...----------------...
Sania duduk di ruang tamu dengan kikuk saat berhadapan dengan dokter Anita dan suaminya
"Sania, kenalkan ini suami saya, namanya Danendra, kamu bisa panggil pak Andra"
Sania mengulurkan tangannya dan mencium takzim punggung tangan lelaki yang masih muda tersebut, umurnya sekitar 40 tahunan
"Maaf Sania, saya sudah cerita semua sama suami saya, biar dia tidak kaget"
Sania langsung menundukkan kepalanya
"Kamu kenal lelaki yang memperkosa mu?"
__ADS_1
Sania menggeleng
"San, bicaralah yang jujur, jangan takut. Kamu sudah aman sekarang" bujuk dokter Anita
Sania tetap diam dan menggeleng
"Saya kenal namanya saja dokter, dan saya juga sempat mencarinya, tapi hasilnya diluar prediksi saya"
Dokter Anita pindah duduk di sebelah Sania, menggenggam pundaknya dan menatapnya penuh selidik
"Apa dia menolak ketika kamu menemuinya?"
Sania menggeleng
"Dia sudah punya calon istri dokter, dan saya melihat dengan mata kepala saya sendiri bagaimana buruknya kelakuannya. Gonta ganti perempuan, jadi bisa dipastikan jika dia memperkosa saya kemarin karena tidak ada wanita yang bisa menyalurkan hasratnya yang tiap hari bercinta dengan banyak perempuan"
Dokter Anita menarik nafas panjang sedangkan pak Danendra terus bertanya pada Sania bagaimana kronologi kejadian kelam itu
Kembali otak Sania harus diingatkan dengan kejadian memilukan malam itu.
"Jadi dia pelancong yang memakai jasamu sebagai tour guide?"
Sania mengangguk mendapati pertanyaan pak Danendra. Dia tidak tahu jika saat itu pak Danendra sedang mengorek informasi darinya
"Ya sudah, sekarang kamu baik-baik tinggal di sini, jangan keluar rumah jika tidak bersama kami"
Sania mengangguk
"Hari ini mama mau ngajak nya ke rumah sakit pa, mau periksa"
Pak Danendra mengangguk.
"Sudah siapkan semuanya?" tanyanya
Dokter Anita mengangguk, dengan segera pak Danendra mengeluarkan mobilnya dari dalam garasi
Bersama dokter Anita, Sania masuk kedalam mobil dan sepanjang jalan dokter Anita selalu tersenyum bahagia karena suaminya telah berbaik hati mempersilahkan Sania tinggal bersama mereka
Ketika sampai di rumah sakit, Sania langsung disambut pelukan hangat dari suster Maria yang dulu pernah merawatnya
"Bagaimana keadaan kamu San?"
Sania menggeleng sambil menarik nafas berat
"Sabar, saya sudah lebih dulu ada diposisi kamu, tapi kamu lihat bagaimana saya sekarang?, saya bisa melewatinya" hibur suster Maria yang membuat mulut Sania ternganga
"Jika banyak waktu, kita bisa berbagi cerita" sambungnya sambil menggandeng Sania masuk menuju ruangan dokter Anita
"Dokter kandungannya sudah datang belum sus?" tanya dokter Anita ketika dilihatnya suster Maria masuk bersama Sania
"Sepertinya belum dok, karena biasanya beliau datang tengah hari"
Dokter Anita manggut-manggut
"Kalau kamu nggak keberatan, bisa tolong saya ambilkan susu khusus ibu hamil di bagian apotek?"
Suster Maria mengangguk sambil segera berdiri
"Langsung diseduh dok?"
Dokter Anita mengangguk sambil tersenyum
Setelah mendapat jawaban dari dokter Anita, suster Maria langsung keluar
"Sebentar ya San, saya buatkan susu dulu untuk kamu"
__ADS_1
Sania mengangguk, dan suster Maria langsung keluar, Sania lalu menatap dokter Anita dengan mata berkaca-kaca
"Jangan melow..., kita disini semuanya keluarga" ucap dokter Anita yang makin membuat Sania terharu