
Dhea pulang ke mess dengan terburu-buru, begitu masuk mess dia langsung menuju ruangan dimana biasanya teman-temannya berkumpul
"Ada yang nyimpen nomor Sania nggak?"
"Ya kita semua nyimpen lah Dhe, emang ada apa?"
"Kalo gitu gue pinjem hp lu bentar Ray" ucap Dhea sambil merebut Hp Raya
Raya yang hpnya direbut hanya menatap bengong
"Aduh San, angkat dong" ucap Dhea sambil menggigit kukunya dengan panik
"Lu napa sih Dhe?"
Dhea tak menjawab pertanyaan teman-temannya dia terus saja berjalan mondar mandir
Setelah beberapa kali dicoba dan tak juga tersambung, dengan wajah kecewa Dhea mengembalikan hp Raya
Dhea ikut duduk bersama temannya yang lain dan beberapa kali menarik nafas panjang
"Dhe?"
Dhea menoleh kearah temannya yang memandang curiga
"Tadi pagi Sania nelpon gue, dia bilang dia diusir sama mamanya"
"Astaga..." ucap teman-teman Dhea kaget
"Terus Sania nelpon gue, bertanya kira-kira dia harus kemana karena dia nggak punya keluarga lagi"
"Nah, gue saranin lah buat dia balik lagi ke kota, gue udah janjian kalau gue bakal jemput dia di terminal"
"Lah kenapa lu nggak jemput?, kan terminal nggak jauh dari sini"
"Gue udah kesana malam ini, tapi Sania udah nggak ada"
"Lah, lu nggak hubungin Sania apa?"
"Hp gue jatuh entah dimana, hilang"
Setelah berkata begitu kembali Dhea menarik nafas dalam
"Sekarang gue nggak tahu Sania dimana"
Temannya yang lain ikut merasa khawatir mengenai nasib Sania
"Lah dia diusir emaknya kenapa?"
Dhea menatap tajam kearah Sherly
"Semua gara-gara elu Sher, sampai hidup Sania kacau"
Sherly membuang mukanya tak senang dengan perkataan Dhea
"Bukan salah aku kali, ya salah Sania lah kenapa juga sampai bunting"
Dhea menggeram menahan marah kearah Sherly yang bersikap cuek seakan semua yang terjadi murni kesalahan Sania
"Lah, kok ya bisa hp kamu jatuh?"
"Ya mana gue tahu Sa, tahu-tahu udah ilang aja. Mana semua yang penting di sana"
Semuanya diam dan hanya memandang kearah Dhea yang masih tampak panik
__ADS_1
...----------------...
Pagi ini Milena telah berdandan cantik dan memukau. Dengan menggunakan mini dress korean style berwarna coklat krem, sebuah tas kecil branded dan juga heels warna senada
Segera Milena turun dan berpapasan dengan sang papa, tuan Jeremy yang melihatnya dari atas hingga bawah
"Mau kemana kamu pagi begini?"
Milena memutar matanya dengan malas mendengar pertanyaan sang papa, dia meninggalkan sang papa dengan terus menuruni anak tangga
"Kamu mau menemui lelaki manja incaran mu itu?" kejar tuan Jeremy mensejajarkan langkahnya dengan langkah terburu Sania
"Dia Alexander, Pa. Bukan anak manja"
Tuan Jeremy tersenyum mencibir, dan Milena melanjutkan langkahnya menuju meja makan
Sang mama, memandang heran pada wajah Milena yang ditekuk, lalu berganti melirik kearah wajah sang suami
Nyonya Inne menarik nafas panjang demi melihat dua orang dihadapannya yang berwajah masam, selalu tak pernah akur
"Papa sampai kapanpun tak akan merestui hubungan mu dengan anak Anton itu"
Milena tak menggubris omongan tuan Jeremy, dengan cepat dia menghabiskan isi piringnya dan mencium pipi nyonya Inne, lalu melesat keluar menuju mobil mewahnya yang telah siap di depan
Segera Milena masuk kedalam mobil dan segera pergi dari istana megah keluarganya
Sedangkan di rumah keluarga Tuan Anton, Alexander yang masih merebahkan tubuhnya bermalas-malasan tersenyum-senyum sendiri menatap foto Sania
"Entah bagaimana kabarmu sekarang Sania, tapi suatu hari nanti aku akan kembali menemui mu" desisnya
Lamunannya tentang Sania buyar ketika telepon dari Milena masuk
"Sayang kamu dimana?, aku sudah sampai kantor kamu?"
Alexander mendecak kesal ketika melihat jam di hpnya
Milena langsung memasang wajah wajah cemberut
"Di rumah nggak nyaman, ehh ketika nelpon kamu makin tak nyaman aku"
"Kamu bisa temui sekretarisku, ngobrol dulu sama dia"
Dengan menghentakkan kakinya, Milena masuk dan segera menuju keruangan Sandra
Tanpa mengetuk pintu, Milena langsung menyerobot masuk. Sandra yang sedang menyiapkan berkas dan file terlonjak kaget ketika pintu ruangannya didorong kasar
"Jam berapa biasanya calon suami saya datang?" tanya Milena ketus sambil segera duduk dan melemparkan tasnya keatas meja
"Satu jam lagi biasanya"
Milena mendecak kesal dan merebahkan kepalanya ke sandaran sofa, Sandra sesekali memperhatikan Milena dari balik layar laptopnya
Merasa jika sejak tadi Sandra mencuri pandang padanya, Milena segera membetulkan posisinya
"Kenapa?, ada yang aneh pada diri saya?"
Sandra menelan ludahnya dengan kaget mendengar suara Milena yang tak bersahabat
"Saya tahu Alexander bad boy, tapi kamu jangan pernah sekali-kali berfikir untuk menggodanya"
Sandra tersenyum dalam hati mendengar ucapan Milena
Milena lalu berdiri dan berjalan menuju meja Sandra.
__ADS_1
Sandra yang diperhatikan Milena menjadi sedikit jengah
"Mulai besok, kamu jangan lagi berpakaian pendek seperti ini" ucap Milena tak suka demi dilihatnya jika pakaian Sandra sangat pendek dengan belahan blazer yang sangat rendah
"Saya berpakaian sesuai dengan standar yang diperintah oleh pak Alexander"
Wajah Milena langsung berubah murka dan dia kian menjadi dengan menekan pundak Sandra
"Maksud kamu apa, hah?"
Sandra menggerakkan pundaknya menepis tangan Sania
"Awas jika kamu kegatelan menggoda calon suami saya" sambung Milena dengan mata yang penuh ancaman
Sandra tersenyum samar yang makin membuat panas dada Milena
"Kamu..." geramnya disaat pintu ruangan Sandra terbuka dan muncul wajah Alexander
"Kamu apa-apaan Mil?" sergah Alexander cepat ketika dilihatnya tangan Milena sudah di udara
Dengan wajah kesal Milena menurunkan tangannya. Sedangkan Sandra hanya bersikap biasa saja
"Sayang dia yang mulai duluan"
Alexander tak menggubris, dia segera menarik tangan Milena, membawanya keluar dari dalam ruangan dan sebelum dia menutup pintu, dia mengedipkan sebelah matanya pada Sandra yang dibalas Sandra dengan senyum penuh arti
...----------------...
Milena yang ditarik oleh Alexander terus memasang wajah masam. Ketika sampai di ruangan, Alexander segera mendorong tubuhnya dan segera menutup pintu
Wajah Milena yang masih cemberut segera ditangkap Alexander dengan kedua tangannya.
Dan dengan lembut dikecupnya bibir ranum tersebut, Milena yang mendapat ciuman dari Alexander tak menyia-nyiakan kesempatan, dia langsung melingkarkan tangannya di leher Alexander
Alexander yang tahu gelagat Milena segera melepas ciumannya. Mengelap bibirnya, dan duduk di kursinya
Milena yang menyusul dibelakang segera duduk di tangan kursi kerja Alexander, lalu memainkan rambut Alexander
"Kenapa sikap kamu dingin denganku sekarang, sayang?"
Alexander segera menangkap tangan Milena, menatapnya dalam
"Karena tuan Jeremy menolak tawaran kerja sama yang aku ajukan padanya"
Milena menarik nafas panjang
"Aku kesini saja karena ribut sama papa" keluhnya
Alexander segera melepas genggaman tangannya lalu menarik kursinya mendekat kemeja, sehingga Milena mau tak mau harus turun dari tempatnya
"Saya banyak kerjaan Mil, kalau kamu tetap mau disini, silahkan, tapi saya akan langsung menyelesaikan tugas saya"
Wajah Milena kembali ditekuk, dan berjalan gontai ke sofa
Alexander yang kesal karena Milena tak bisa merayu papanya tak memperdulikannya lagi. Dia segera membuka laptop dan langsung tampak serius
Milena yang tak bisa berbuat apa-apa, hanya mampu menatap kearah Alexander yang mencuekinya dan kadang-kadang matanya menatap berkeliling ruangan bahkan ke langit-langit kantor
Ketika dia melihat ke lantai, tak sengaja dia melihat sebuah benda seperti plastik
Sambil berjongkok Milena menyelipkan tangannya ke sela-sela sofa, dan mengambil benda yang dilihatnya tadi
Alangkah terkejutnya Milena ketika dilihatnya benda tersebut adalah bekas plastik pengaman
__ADS_1
Milena memandang bergantian antara bekas bungkusan yang ada di di tangannya dan kearah Alexander yang sejak tadi tidak memperdulikannya
"Aku yakin ini milik Alexander" desisnya menahan marah