Kejahatan Alexander Louise

Kejahatan Alexander Louise
Datang Karena Rindu


__ADS_3

Satu minggu kemudian Alexander telah membuat keputusan jika dia harus pergi ke kota pariwisata untuk menemui Sania. Karena sejak kejadian malam itu, pikirannya selalu terbayang-bayang dengan Junior hingga semakin menguatkan tekadnya untuk segera menemui anaknya


Dan hari ini setelah jam istirahat kantor, Alexander yang telah me reservasi tiket sebelumnya segera keluar dari ruangannya dan dicegat oleh Mark


"Anda mau ke mana? Anda terlihat sangat terburu-buru, apa ada hal penting sehingga membuat anda begitu tergesa-gesa pergi dari kantor ini?" tanya Mark sambil melihat jam di pergelangan tangannya


"Saya mau pergi ke Kota Pariwisata menemui anak saya"


Mark tampak terkejut mendengar jawaban Alexander. Ketika dia akan bertanya lagi Alexander telah berjalan meninggalkannya.


"Hey wait me !!"


Alexander tidak memperdulikan teriakan Mark. Dia terus saja berjalan masuk ke dalam lift dan segera menekan tombol lantai dasar dan meninggalkan Mark yang berlari tergesa menyusulnya


"Pasti ada hal penting" gumam Mark sambil masuk ke lift lainnya


Dan kembali saat Alexander telah berjalan di luar kantor Mark yang juga keluar dari dalam lift segera berlari menyusulnya


"Alexander, wait me !!!"


Alexander yang sudah menuruni beberapa anak tangga segera menoleh sambil membenarkan kancing jas nya


"Maaf jika kali ini saya tidak memberitahu kamu mengapa saya pergi menemui Sania. Tapi Papi tahu, jadi kamu nggak usah khawatir"


"Dan satu lagi, saya pergi sendiri tanpa pengawalan. Saya tahu kamu khawatir dengan keselamatan saya, tapi kali ini saya datang ke sana bukan dengan tujuan kekerasan. Saya ingin memberitahu Sania untuk dia berhenti dari pekerjaannya dan fokus mengurusi anak saya"


"Jika tidak, Junior akan saya bawa pulang, itu saja"


Mark tampak mengernyitkan keningnya ketika mendengar jawaban dari Alexander


"Apa kamu yakin datang sendirian ke sana setelah kejadian kemarin?"


"Saya yakin karena penghuni rumah bordil itu juga sudah mengenal Papi. Kemarin juga Sania dan Junior sempat menginap di rumah, jadi saya yakin penghuni rumah bordil itu tidak akan berlaku arogan lagi terhadap saya".


"Bukankah Kamu sendiri yang menyaksikan bagaimana pengawal di rumah bordil itu bergelimpangan ketika dihajar oleh Bodyguard sewaan Papi?" tapi ucap Alexander sambil setengah tertawa


Mark mengangguk anggukkan kepalanya sambil ikut tersenyum ketika mendengar jawaban Alexander. Dia teringat bagaimana rumah bordil itu hampir setengah hancur ketika sepuluh bodyguard merangsek masuk ke dalam sana


"Take care, segera hubungi saya ketika kamu sampai di sana biar saya tidak khawatir. Update terus keadaan kamu, jika ada apa-apa segera hubungi kami secepat mungkin"


Alexander menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecut mendengar jawaban Mark kemudian Dia menepuk sebentar lengan Mark


"Thank you bro kamu memang teman terbaik saya. Terima kasih untuk perhatian kamu. Kamu memang sahabat dan partner yang tepat, sehingga membuat saya semakin yakin kenapa Papi memilih kamu menjadi partner kerja saya"


Sekarang giliran Mark yang tersenyum mendengar jawaban Alexander


"Ya sudah, jika kamu mau berangkat. Hati-hati di jalan dan semoga selamat sampai tujuan. Sampaikan salam saya untuk Sania dan juga Junior"

__ADS_1


Alexander menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Mark. Kemudian dia memutar tubuhnya, langsung menuruni anak tangga dan langsung masuk ke dalam mobil yang sejak tadi sudah menunggunya


Sekitar satu jam perjalanan karena macet, barulah mobil yang dikendarai oleh sopir pribadi Alexander masuk ke area bandara. Dan Alexander langsung menuju waiting room dengan tiket yang sudah ada di tangannya. lalu setengah jam kemudian Alexander sudah duduk di dalam pesawat yang akan membawanya ke kota tujuan


...----------------...


Alexander berjalan sambil menarik koper kecil dengan gaya cool nya. Seluruh mata kaum hawa yang berada di dalam bandara melirik takjub ketika mereka melihat Alexander berjalan.


Wajah tampan dengan postur tinggi besar, dan wajah yang sedikit ditumbuhi oleh bulu-bulu halus semakin membuat ketampanan Alexander begitu memancar. Terlebih karena mata tajam dan hidung mancungnya, ciri khas orang indo.


Alexander menghentikan langkahnya dan langsung merogoh HP di saku jasnya dan langsung menghubungi supir yang beberapa bulan lalu pernah disewanya untuk mencari Sania


"Kamu di mana?, Saya sudah sampai di luar bandara ini"


Terdengar jawaban dari seberang yang membuat Alexander segera memutus obrolan dan memasukkan kembali HP ke dalam saku jasnya


Alexander kembali melanjutkan langkah kakinya, berjalan keluar menuju luar bandara. Menuju sebuah mobil pribadi yang sudah menunggunya sejak tadi


"Kemana ini tuan?, langsung ke tempat mami Ajeng atau ke hotel tempat anda menginap dulu ?"


"Langsung menuju ke tempat mami Ajeng, saya sudah tidak sabar ingin bertemu dengan anak saya"


Supir tersebut menganggukkan kepalanya kemudian segera tancap gas langsung menuju ke tempat tujuan Alexander


Di tengah perjalanan Alexander meminta sopir untuk berhenti dan mengantarkannya ke sebuah toko mainan dan juga oleh-oleh, karena dia ingin membawa buah tangan untuk anaknya


"Can I help you Sir ?" sapa seorang pelayan yang membuat Alexander tampak terkejut lalu tersenyum simpul


"Tolong rangkai kan saya bunga untuk..... Hmmm untuk...." Alexander tampak ragu untuk melanjutkan kalimatnya


"Pacar tuan atau istri tuan ?" tanya pelayan tersebut masih dengan nada ramah


"Ibu dari anak saya" ucap Alexander dengan senyum penuh makna


Seorang gadis muda, pelayan toko bunga tersebut tersenyum dan menganggukkan kepalanya ketika mendengar jawaban Alexander


"Silakan tunggu sebentar tuan, saya akan segera merangkaikan bunga untuk istri tuan. Tuan mau bunga apa?" kembali pelayan tersebut bertanya sambil tangannya sudah siap mengambil berbagai aneka macam bunga


Alexander tampak tertegun ketika mendapatkan pertanyaan tersebut. Karena selama ini dia tidak pernah sekalipun memberikan Sania bunga. Dan dia juga tidak tahu bunga apa yang disenangi oleh Sania.


"Kamu rangkai kan saja bunga yang ada di toko ini. Kamu pilihkan bunga yang cantik-cantik. Pokoknya rangkai kan bunga itu sebagus mungkin"


Pelayan tersebut menganggukkan kepalanya setelah mendengar penjelasan dari Alexander. Kemudian dengan cekatan dia langsung memilih dan langsung merangkai bunga tersebut menjadi buket yang sangat cantik.


Lalu setelah selesai, dia langsung menyerahkannya ke tangan Alexander yang menerimanya dengan tersenyum puas ketika melihat buket bunga yang ada di tangannya saat ini


Alexander langsung merogoh dompetnya dan langsung memberikan uang kepada pelayan tersebut setelah pelayanan tersebut menyebutkan nominal harga yang harus dibayarnya

__ADS_1


"Sisanya ambil untuk kamu, sebagai ucapan terima kasih saya karena kamu telah merangkaikan bunga yang sangat bagus"


Setelah mendapatkan anggukan kepala dan ucapan terima kasih dari pelayan toko bunga tersebut, Alexander langsung berlalu dari toko bunga tersebut dan kembali masuk ke dalam mobil


Sopir yang berada di belakang kemudi ikut tersenyum ketika melihat Alexander masih tampak tersenyum-senyum ketika melihat buket bunga yang ada di tangannya


Dan tidak menunggu perintah dari Alexander lagi, sopir tersebut langsung segera kembali menjalankan mobilnya menembus jalanan Indah kota pariwisata langsung menuju ke kediaman Mami Ajeng


Dan tiba-tiba jantung Alexander berdegup tak karuan ketika mobil semakin mendekati kediaman Mami Ajeng


"Ya Tuhan kenapa jantungku berdebar demikian kencangnya?" batin Alexander sambil menggeleng-gelengkan kepalanya


Dan penjaga rumah Mami Ajeng segera membukakan gerbang ketika dia mendengar suara klakson dari luar


Dan betapa terkejutnya dia ketika melihat siapa yang keluar dari dalam mobil tersebut. Alexander masih dengan gaya dinginnya berjalan dengan santai menaiki beberapa anak tangga dengan kantong berisi mainan untuk Junior dan juga sebuah buket bunga di tangan kanannya untuk Sania, sehingga dia telah berdiri di depan pintu rumah Mami Ajeng sekarang ini


Dan penjaga tadi yang melihat Alexander berjalan menuju teras, segera berlari kecil menyusul Alexander


"Saya ingin bertemu dengan anak saya" ucap Alexander masih dengan nada dingin yang membuat penjaga tersebut mengangguk takzim


"Sebentar, Tuan silakan menunggu di sini. Saya akan masuk menemui mami Ajeng dan memberitahu beliau jika ada Tuan di luar" jawab penjaga tersebut sambil menunjuk sebuah kursi yang memang ada di teras tersebut dengan ibu jarinya


Alexander segera melirik ke arah kursi yang tadi ditunjuk oleh petugas tersebut, lalu segera berjalan ke arah kursi tersebut kemudian duduk


Alexander segera berdiri dari duduknya ketika dia mendengar suara langkah kaki dalam rumah


"Junior!!!" ucap Alexander tertahan ketika dia melihat Mami Ajeng berjalan sambil menggandeng tangan Junior


Junior langsung menggerakkan kepalanya kemudian langsung mendongak


"Papa? ini benar papa?!" jawab Junior dengan suara yang sangat antusias terlebih ketika dia merasakan tubuhnya diangkat oleh Alexander


Alexander yang sudah sangat bahagia melihat Junior, tidak menjawab pertanyaan anaknya melainkan segera mengangkat dan mendekap tubuh besar anaknya tersebut


"Kangennya papa sama kamu sayang...." ucap Alexander sambil berkali-kali menciumi wajah Junior


Junior juga membalas dekapan Alexander dengan melingkarkan kedua tangannya dengan erat ke leher Alexander


"Mau apa kamu kesini ?!" ucap suara dengan nada dingin yang membuat Alexander yang tadi begitu bahagia mendekap Junior, langsung melirik ke sumber suara


Di mana Dia melihat Sania berdiri sambil melipat kedua tangannya di dada, dan terlihat membuang wajahnya ketika Alexander menoleh padanya


Alexander berusaha untuk tersenyum ke arah Mami Ajeng dan juga Sania. Dia tidak ingin kedatangannya makin memperkeruh suasana hubungannya dengan Sania yang dalam beberapa hari ini terlihat agak memanas


Dengan masih ada Junior di dalam gendongannya, Alexander sedikit membungkuk ke kursi yang tadi didudukinya. Mengambil buket bunga yang tadi diletakkannya karena dia terburu menyongsong kedatangan Junior


"Untuk kamu" ucap Alexander sambil memberikan buket bunga tersebut ke arah Sania

__ADS_1


__ADS_2