Kejahatan Alexander Louise

Kejahatan Alexander Louise
Saling Menguatkan


__ADS_3

Helicopter yang membawa Alexander dan tuan Anton akhirnya mendarat di helipad, di atas mall tempat Sania berada saat ini. Dengan cepat Alexander menelepon owner mall, mengatakan jika dia dan papinya sudah sampai di helipad saat ini, dan meminta pihak mall untuk membuka akses untuk dirinya masuk


“Buka akses helipad!” ucap owner mall di hp pada pihak keamanan mall miliknya yang segera berlari keatas dan membukakan pintu. Dengan cepat tuan Anton dan Alexander turun dari atas helipad ketika pintu sudah terbuka. Dengan terburu keduanya langsung berjalan mengikuti pihak keamanan yang menunjukkan jalan dimana bos mereka saat ini berada


“Sania….!!!”panggil Alexander ketika dia masuk ke dalam ruang pemantau cctv


Dengan segera Sania berdiri, dan berlari kearah Alexander yang berjalan cepat kearahnya


“Anak kita Lex, anak kita….” Hanya itu kalimat yang keluar dari mulut Sania ketika dia menubruk tubuh Alexander


Air matanya kembali mengalir deras ketika didalam dekapan Alexander, dan Alexander yang sejak tadi juga menahan air matanya, tak dapat memendung kesedihannya ketika mengusap-usap punggung Sania. Tampak ada air mata mengalir dari sudut matanya, tapi dengan cepat dihapusnya air mata tersebut, dia tak ingin Sania dan orang yang ada di ruangan ini melihat air matanya


Sementara tuan Anton yang masuk kedalam ruangan cctv, segera disambut oleh pemilik owner dengan mengulurkan tangannya dan mengucap ribuan permintaan maaf. Tuan Anton tidak menggubris ucapan owner tersebut, wajahnya yang kaku dan tak ramah hanya menyingkirkan tangan sang owner yang terus memohon maaf padanya


“Tunjukkan pada saya seluruh rekaman hari ini!!” ucap tuan Anton pada pegawai yang juga turut berdiri ketika dia sampai tadi


Pegawai di ruang cctv tersebut langsung menampilkan seluruh isi rekaman pada hari ini. Rahang tuan Anton dan Alexander mengeras ketika pria muda tersebut mengaku jika rekaman cctv di setengah jam sebelum Junior hilang itu mati seluruhnya. Tidak ada satupun cctv yang hidup


“Kurang ajar!!!!” teriak Alexander dengan langsung berdiri dan meraih kerah baju owner mall


“Kenapa bisa mati, hah?. Dan kalian yang mengurusi cctv ini, kalian dimana saat itu, kenapa satupun dari kalian tidak ada yang tahu jika cctv nya mati?. Tidak mungkin kalian tidak tahu, saya yakin kalian bersekongkol dengan penculik anak saya!!!” teriak Alexander lagi


“AAAhhh……!!!” Alexander kembali berteriak marah dengan menendang kursi yang tadi didudukinya


Sania yang terus terisak hanya mampu melihat kemarahan Alexander, tanpa berani mencegah pria tampan itu untuk menghentikan kemarahannya


“Kemana para bodyguard?” tanyanya pada Sania yang mengangkat wajahnya


Sania menggeleng


“Mereka berpencar semua tuan Alexander” jawab owner mall takut-takut

__ADS_1


Alexander yang wajahnya dipenuhi amarah segera menempelkan hp ke telinganya


“Masuk kalian ke ruang cctv sekarang juga!!!!” geramnya dengan suara penuh penekanan


Sepuluh menit berikutnya, telah ada lima orang bodyguard yang sejak beberapa bulan lalu diperintahannya untuk menjaga anaknya masuk kedalam ruang tersebut


PLAAAK PLAAAK PLAAAK PLAAAK PLAAAAKK…..!!!!


Perih tangan Alexander ketika dia selesai menampar lima lelaki besar yang saat ini hanya bisa menundukkan wajah mereka itu


“Apa tugas kalian, hah???!!!!. Kenapa hanya menjaga anakku saja kalian tidak bisa??!!!” teriaknya marah


Kelima bodyguard tersebut tidak ada satupun yang menjawab, kelimanya hanya bisa diam dengan terus menundukkan wajah mereka


“Siapa saat anakku hilang yang bertugas mengawal anakku dan Sania pergi ke mall ini??!” tanya Alexander lagi dengan suara yang masih dipenuhi emosi


Dua orang bodyguard yang saat itu bertugas mengawal Sania dan Junior maju selangkah dan mengangkat kelima jari mereka


“Kami bos” ucap mereka pelan dan dengan nada takut-takut


Kembali keduanya menerima tamparan untuk kedua kalinya dari tangan Alexander. Tak cukup sampai disana, kerah baju keduanya bahkan dicekal kuat oleh Alexander


“Jika terjadi hal buruk pada anakku, satu helai saja rambutnya lepas, kalian berdua akan aku bunuh!!!” geram Alexander


Tuan Anton yang sejak tadi terus berbicara dengan pengawas cctv dan hanya membiarkan Alexander meluapkan amarahnya, segera berdiri ketika Alexander selesai mengeksekusi kelima bodyguadrnya


“Kalian cepat introgasi seluruh pengunjung mall ini yang sekarang telah dikumpulkan di tiap ruang besar tiap lantai, jika ada yang mencurigakan dari mereka. Cepat kalian bawa ke markas, biar saya yang menyelesaikannya!” ucap tuan Anton


Kelima bodyguard tersebut menganggukkan kepalanya, lalu mereka segera pergi dari ruang pengawasan tersebut, tanpa berani sedikitpun menoleh kearah Alexander yang masih memandang tajam kearah kelimanya


“Kamu jangan terus menangis Sania. Yakinlah, jika anak kita akan baik-baik saja” bujuk Alexander dengan kembali merengkuh Sania kedalam dekapannya

__ADS_1


“Aku yang salah Lex, jika saja aku tidak terlalu sibuk dengan hp, Junior tidak mungkin akan hilang. Jika saja aku lebih fokus melihat Junior, aku yakin hal ini tidak akan menimpa Junior. Aku yang salah Lex,aku yang salah…..” isak Sania


Alexander hanya bisa menarik nafas panjang demi melihat air mata Sania yang tak henti mengalir sejak tadi. Darahnya yang sejak tadi mendidih kian terasa panas, ketika melihat air mata Sania


“Sania…..” lirih tuan Anton setelah sejak tadi dia hanya duduk di dekat pengawas cctv, tanpa sedikitpun berbicara pada wanita muda yang saat ini matanya telah sangat sembab itu


Sani segera mengusap kasar wajahnya dan memandang kearah tuan Anton dengan wajah yang tak bisa menyembunyikan kesedihan


“Junior tuan…..” ucap Sania dengan suara tercekat dan air mata yang kembali deras mengalir


Tuan Anton menganggukkan kepalanya, dan menggenggam tangan Sania dengan erat


“Seluruh kota sudah di blokir, seluruh polisi juga sudah turun. Pasukan bodyguard saya di ibukota dan juga bodyguard sewaan saya di kota ini saat ini juga telah bergerak seluruhnya. Kamu jangan khwatir ya, Junior pasti baik-baik saja. Percaya sama saya”


Sania hanya mampu menganggukkan kepalanya mendengar ucapan tuan Anton. Kemudian tuan Anton mengusap kepala Sania, air mata Sania kian mengalir deras saat dia menatap mata tuan Anton


“Tidak akan terjadi apa-apa sama cucu saya, saya yakinkan itu sama kamu. Pokoknya kalian berdua tenang saja. Apapun akan papi lakukan untuk Junior, tidak perduli jika nyawa papi taruhannya”


Mata Alexander memerah mendengar ucapan papinya, dia mengangguk mendengar ucapan papinya. Lalu ketiga saling berpegangan tangan, seolah saling menguatkan


Sementara di tempat lain, di tiap ruangan besar mall ini, pihak keamanan mall dan juga pihak kepolisian mengintrogasi setiap pengunjung, terutama yang berada di tempat yang sama ketika Junior di play ground tadi


Seluruh orang tua dan juga anak yang berada di arena play ground tidak ada satupun yang melihat jika Junior pergi karena mereka sibuk dengan permainan mereka. Bahkan ketika seluruh bola sudah dibersihkan seluruhnya, dan meninggalkan ruangan besar yang kosong, Junior masih juga tak tampak batang hidungnya


Awalnya para bodyguard dan pihak kepolisian menduga jika Junior tenggelam di tumpukan ribuan bola, akan tetapi ketika ruangan itu kosong tidak menyisakan satupun bola, Junior masih juga tidak diketemukan


“Aku mau cucuku segera di temukan. Apapun caranya saya tidak mau tahu” ucap tuan Anton di handphone ketika benda itu berdering


“Baiklah tuan, kami akan melakukan semampu kami. Cctv seluruh kota sedang kami periksa. Kami yakin pasti kami akan mendapatkan petunjuk”


Sementara di lain tempat, berita hilangnya seorang anak di mall dengan cepat menyebar. Bahkan beritanya hampir ribuan kali dibagikan oleh pengguna media social. Entah mereka dapat informasi dari mana tentang hilangnya Junior, hingga banyak sekali berita tidak jelas bersliweran di dunia maya

__ADS_1


Mami Ajeng dan para wanita malam yang saat ini terjebak di luar mall hanya bisa berdoa dan berharap yang terbaik untuk Junior dan Sania. Mami Ajeng yang sejak tadi menghubungi Sania merasa agak lega ketika Sania memberitahunya jika saat ini dia sudah bersama Tuan Anton dan juga Alexander


“Apa yang harus aku lakukan pi, aku bisa mati berdiri jika terus berada di tenpat ini?” keluh Alexander setelah cukup lama dia berada di ruangan ini tanpa melakukan apapun selain duduk dengan pikiran kacau dan ketakutan yang menyelimutinya tentang keselamatan anaknya


__ADS_2