
Sania membekap mulutnya melihat bagaimana manjanya gadis cantik itu melingkarkan tangannya di pinggang Alexander yang segera membawanya masuk kekantor
Security yang tadi masuk kedalam, segera kembali lagi ke pos penjagaan. Dilihatnya Sania sedang menangis dalam diam
"Kamu nggak papa dik?"
Sania dengan cepat menghapus air matanya dan melihat kearah security yang berdiri di sebelahnya
"Bagaimana pak, apa saya bisa bertemu dengan Alexander?"
"Tidak bisa dik, beliau ada tamu special dan tidak bisa diganggu"
Sania menarik nafas dalam
"Kira-kira jika saya menunggu apakah bisa pak?"
Security itu diam kembali menatap penuh selidik kearah Sania yang matanya kembali berkaca-kaca
"Saya cuma kasih saran ya dik, sebaiknya adik pulang saja, untuk bertemu dengan Alexander harus janjian. Jika adik tidak keberatan, kembalilah besok"
Sania menggigit bibirnya, perasaan khawatir memenuhi dadanya
"Besok aku harus sudah pulang karena seperti itu yang dikatakan pak Doni, tapi jika aku pulang besok aku tidak akan mempunyai kesempatan lagi untuk menemui Alexander"
"Pokoknya bagaimanapun keadaannya aku harus menemuinya hari ini juga"
"Tolonglah pak, aku harus bertemu Alexander, ada hal penting yang harus aku sampaikan padanya"
Security yang sejak tadi curiga kembali menatap penuh selidik pada Sania
"Bos lagi ada tamu, dan tamunya itu bukan sembarangan tamu, beliau adalah calon istrinya bos. Jika calon istri bos sudah datang, bisa dipastikan seluruh tamu yang ingin bertemu beliau harus re schedule, orang penting saja harus re schedule, apalagi adik yang bukan dari kolega kantor"
Kembali Sania merasakan sakit di dalam hatinya mendengar penjelasan security yang masih berdiri di depannya
"Adik bisa masuk, temui sekretarisnya di dalam, buat janji ingin bertemu beliau, kapan kira-kira bos bisa ditemui"
Sania menganggukkan kepalanya, dengan menghapus sisa air mata yang masih mengalir di wajahnya, Sania masuk diantar security tadi
"Bu, adik ini mau buat janji ketemu sama bos"
Sandra langsung mengangkat kepalanya begitu mendengar suara seseorang berbicara padanya yang sedang fokus menatap layar laptop
"Siapa?, dari kantor mana?, silahkan duduk!"
Sania lalu duduk, security yang mengantarnya tadi segera pergi
Sandra tertegun sejenak demi dilihatnya seorang gadis cantik yang duduk di depannya memandang dengan tatapan gelisah
"Dari kantor mana?"
Sania menelan ludahnya bingung mau menjawab apa
"Saya bukan dari kantor mana-mana, tapi saya ingin bertemu dengan Alexander, ada hal penting yang harus saya bicarakan padanya"
Sandra segera meletakkan pena yang tadi dipegangnya untuk menulis di daftar tamu, memandang kearah Sania dengan tatapan penuh selidik
"Anda dari mana?"
"Dari kota B"
Sandra diam mendengar Sania menyebutkan dari mana dia berasal, sebuah kota yang cukup jauh dari ibukota.
Tapi hal itu tak membuatnya tak menuliskan dari mana Sania berasal
__ADS_1
"Nama anda?"
"Sania, Sania Permata"
"Tujuan bertemu tuan Alexander?"
Sania diam tak menjawab
Sandra kembali menatap Sania dengan pena yang masih menggantung di atas kertas
"Saya berhak tahu tujuan anda bertemu tuan Alexander mengapa, karena nanti yang akan membuatkan schedule nya itu saya"
Sania menarik nafas dalam, bingung harus memberi alasan apa
"Hmm, kamera saya terbawa Alexander ketika dia berlibur di kota B, kebetulan saat itu yang menjadi tour guide nya adalah saya"
Sandra menganggukkan kepalanya, lalu menuliskan alasan Sania ingin bertemu dengan bos nya itu
Selesai menulis, Sandra lalu menatap kearah Sania
"Anda bisa bertemu beliau empat hari dari sekarang, yaitu hari Jum'at"
Mata Sania terbelalak. Jum'at?, bagaimana mungkin bisa, aku harus bertemu Alexander sekarang, bukan Jum'at, batinnya
"Tidak bisa sekarang bu?, please..."
Sandra menggeleng
"Beliau banyak janji dengan kolega yang lain. Bahkan pertemuan sekarang saja di re schedule dua jam yang akan datang"
"Apa karena ada calon istrinya makanya semua jadwal di re schedule?"
Sandra menatap penuh selidik kearah Sania
Sania mengangguk
"Begitulah. Jadi anda memang harus bersabar jika ingin bertemu beliau"
"Tolong bu, saya butuh sekali bertemu beliau, saya menunggu sampai sore nggak papa kok"
Sandra makin curiga, tak mungkin jika tidak ada masalah serius maka gadis ini rela menunggu lama
"Apa anda "korban" bos saya?"
Sania kaget mendengar pertanyaan Sandra yang tiba-tiba itu
Sania cepat menggeleng
"Lah kalau bukan terus mengapa anda ingin sekali bertemu dengan bos saya hari ini juga"
"Karena saya cuma dapat izin dari bos saya dua hari bu, besok saya harus kembali ke kota B. Tolong saya bu..."
Walaupun Sandra sekretaris yang dikenal genit, tapi dia juga memiliki hati yang baik. Apalagi demi dilihatnya Sania sangat membutuhkan bantuannya
"Ayo ikut saya!"
Sania segera bangkit dan berjalan mengikuti Sandra. Mereka berjalan masuk kedalam lift dan keluar lagi lalu berjalan lagi kearah sebuah ruangan yang di depannya bertuliskan CEO ROOM
Sandra mengetuk pintu tapi tak ada sahutan, begitupun saat dia mendorong pintu, pintu itu terkunci
Tahulah Sandra apa yang sedang terjadi di dalam
Dia menggelengkan kepalanya kearah Sania. Sania langsung memasang wajah kecewa
__ADS_1
"Tolong bu, kita sudah di depan ruangannya"
"Bos saya sedang bersama pacarnya di dalam, dan kita sama-sama telah dewasa pasti tahukan apa yang sedang terjadi di dalam...?"
Sania membekap mulutnya, tak terasa air matanya kembali mengalir. Dan hal itu makin membuat Sandra curiga
"Kembalilah Jumat jika memang ingin bertemu dengan tuan Alexander"
Sania menarik nafas dalam dan menatap ruangan yang tertutup dengan perasaan campur aduk
...****************...
Di dalam ruangan
Seperti yang telah diduga oleh Sandra, Alexander sedang bercinta dengan Milena.
Hampir satu bulan mereka tak berhubungan karena padatnya jadwal Alexander hingga dia tak punya waktu untuk bertemu dengan kekasihnya itu
Hingga untuk menyalurkan hasratnya, Alexander akan bermain tiap hari dengan Sandra jika dia sedang di kantor, dan akan bermain dengan perempuan bayaran jika dia sedang di luar
Pesona ketampanan dan kekayaannya yang terkenal mampu membius setiap wanita rela untuk ditidurinya asalkan segala kebutuhan mereka dicukupi oleh Alexander
Sandra yang telah faham jika ada Milena di kantor, maka seluruh jadwal meeting dan sebagainya harus di re schedule, karena Alexander akan menyantap tubuh kekasihnya itu
Tentu saja Sandra cemburu, karena dia juga mempunyai perasaan pada bos nya itu. Tapi dia harus pintar, karena saingannya adalah Milena, bukan gadis sembarangan.
Biasanya untuk meredam cemburu di hatinya, Sandra akan menggoda Mark, lelaki yang telah sejak jauh ditaksirnya.
Tapi hari ini Mark tidak ada, Mark sedang mewakili Alexander keluar negeri
...----------------...
Sania kembali turun bersama dengan Sandra, sepanjang koridor dia diam membisu.
Setelah berpamitan dengan Sandra, Sania kembali ke pos penjagaan, berkata pada security jika dia akan terus di sana menunggu sampai Alexander keluar
Tak berkomentar banyak, security hanya mempersilahkan hingga akhirnya Sania duduk kembali di dalam pos
Hingga akhirnya hampir sore, dilihatnya Milena keluar dari dalam gedung, masuk kedalam mobil bersama dengan Alexander
Sania cepat berdiri dan mengejar mobil itu. Tapi gerakannya kalah cepat, karena mobil yang dikemudikan Alexander telah melaju jauh
"Alexander tunggu...." teriak Sania
Nafasnya terengah-engah mengejar mobil yang sudah tak kelihatan lagi.
Dia terduduk di trotoar sambil menangis sesenggukan, ramainya orang di jalan tak dihiraukannya, dia terus saja menangis
"Alexander, kamu harus tahu jika di rahimku sekarang ada anak kamu" lirihnya
Karena semakin banyak orang yang memperhatikannya yang terduduk di trotoar, Sania berpindah ke kursi yang ada di taman tak jauh dari trotoar tadi
Dia menutupkan kedua tangannya di wajah, kembali menangis terisak
"Jangan banyak berharap pada Alexander, dia banyak uang, perempuan bukanlah tujuannya. Baginya perempuan tak lebih dari tempatnya bersenang-senang"
Sania mengangkat kepalanya, menoleh pada Sandra yang tahu-tahu sudah duduk di sebelahnya
"Kamu pulanglah, lupakan Alexander, karena dia tak akan menganggap serius hubungan cinta satu malam kalian"
Sania makin tergugu menangis pilu mendengar ucapan Sandra
"Sudah banyak perempuan yang menemui saya, menuntut tanggung jawab Alexander tapi akhirnya berakhir kecewa"
__ADS_1