Kejahatan Alexander Louise

Kejahatan Alexander Louise
Pulang


__ADS_3

Rangga terus melajukan motor bebeknya dengan ngebut. Sania yang duduk di boncengan berpegang erat pada jaket Rangga


Akhirnya motor berbelok kesebuah rumah sederhana, dan berhenti. Sania segera turun dan sibuk membetulkan dress ketatnya


Rangga segera mengetuk pintu, dan tak lama lampu di ruangan menyala, selanjutnya terdengar suara seperti membuka kunci


Pintu terbuka, muncul wajah wanita paruh baya yang langsung matanya tertuju pada Sania


Wajah Sania menegang, dia menganggukkan kepalanya dan memaksa sebuah senyuman kaku


"Siapa dia Ngga?"


Rangga mengulurkan tangannya mencium punggung tangan wanita paruh baya yang diketahui sebagai ibunya


"Dia Sania buk, langganan Rangga"


Ibu Rangga menatap penuh selidik pada Sania dari ujung kepala hingga kaki. Dan matanya kian tertegun ketika melihat pakaian yang dikenakan Sania


"Langganan?"


Rangga faham apa maksud ibunya


"Biarkan Sania masuk dulu buk, kasihan dia. Besok Rangga bakal ceritakan semuanya"


"Bagaimana bisa ibu mengizinkan kamu membawa dia masuk?"


"Buk, Sania ini langganan ojek aku, dan dia ini aku selamatkan dari mucikari yang akan menjualnya"


Ibunya Rangga sekali lagi menatap pada Sania.


"Tolonglah bu percaya sama Rangga"


Ibu Rangga mengalah, dan membuka pintu lebar-lebar. Dan Rangga mengajak Sania Masuk.


"Yuk mbak masuk, mbak harus cepat sembunyi, saya khawatir lelaki hidung belang tadi telah menelpon mucikari yang menjual mbak, bisa jadi sekarang anak buah mucikari sedang menyebar mencari keberadaan mbak"


Wajah Sania kembali menegang, dengan cepat dia masuk, dan Rangga langsung mengunci pintu


Sania duduk di kursi dengan susah payah merapihkan bajunya


"Pakai baju saya mbak, dan berganti lah di kamar saya"


Sania mendongakkan kepalanya lalu beralih menatap baju yang ada di tangan Rangga


"Pakai baju Rika saja, toh mereka sama-sama perempuan" sambung ibu Rangga yang telah keluar dari dalam dengan membawa baju


Sania kembali memasang senyum kaku pada ibunya Rangga dan dia segera mengambil baju yang beliau ulurkan


"Itu kamar Rika, gantilah baju di sana dan tidurlah juga di sana"


Sania tertegun


"Rika nya tidak di sini, dia sudah menikah dan ikut suaminya di Sulawesi" ucap ibunya Rangga seperti tahu, jika Sania ragu


Sania ber O panjang dan langsung berdiri, masuk ke kamar Rika dan berganti baju


Sepeninggal Sania, Rangga ditarik paksa oleh ibunya ke dapur


"Perempuan nggak jelas dari mana yang kamu bawa, hah?"


"Stststst... jangan keras-keras buk, didengar Sania nggak enak"


Ibu Rangga membuang mukanya dengan raut wajah kesal


"Kan tadi Rangga sudah bilang, dia itu langganan ojeknya Rangga dan dia mau dijual mucikari, aku menyelamatkannya bu..." jawab Rangga dengan suara pelan


"Awas kalau kamu bohongi ibu!!!"


Rangga kembali meyakinkan ibunya jika dia tidak berbohong, dan masih dengan wajah kesal ibunya Rangga keluar dari dapur kembali keruang tengah dimana telah ada Sania duduk memakai baju Rika


Wajahnya langsung berubah ramah, tapi Sania tadi sudah mendengar semua perkataannya


"Kenapa nggak tidur Mbak?, tidurlah ini sudah sangat larut


"Rangga benar, kamu tidurlah!"


Sania memandang ragu pada dua orang yang berdiri di depannya


"Besok kamu ceritakan semuanya apa yang terjadi, jika sekarang sudah larut, ibu juga mau tidur"

__ADS_1


Sania mengangguk, dia menuruti perkataan ibunya Rangga. Segera dia berdiri dari kursi, kembali berjalan masuk ke kamar Rika merebahkan tubuhnya di atas dipan kayu


Karena Sania telah masuk ke kamar, ibunya Rangga segera mematikan lampu dan diapun masuk ke kamarnya


Kembali pikiran Sania menerawang teringat kejadian buruk yang barusan menimpanya


"Mengapa nasibku jadi begini hancurnya Tuhan?" batinnya sambil berurai air mata


Kembali dia terisak hingga tak sadar matanya mulai terpejam


...----------------...


Pak Handoyo segera mengambil handphonenya lalu segera menghubungi Mami Ajeng


"Ya pak Handoyo, kok langsung nelpon saya sih, bagaimana anak saya?, memuaskan?" suaranya terdengar begitu mendayu


"Memuaskan apanya. Dia kabur!!!"


Mami Ajeng langsung terlonjak kaget dan berdiri dari kursinya


"Bagaimana bisa pak?"


"Harusnya saya yang bertanya, anda sudah menipu saya!!!"


"Oh tidak pak, tidak. Saya tidak menipu anda, mungkin ini hanya kesalahpahaman saja"


"Pokoknya saya nggak mau tahu, uang yang sudah saya transferkan pada anda, anda kembalikan lagi pada saya, jika tidak akan saya suruh anak buah saya untuk mengobrak abrik tempat anda!!"


Wajah Mami Ajeng langsung berubah panik dan dia terduduk dengan lemas


"Kurang ajar, bagaimana bisa Sania pergi sebelum dia bekerja, anak itu..." geramnya


Lalu dia membuka hpnya berniat menelpon Sania, tapi lagi-lagi dia harus mengumpat kesal karena dia tidak memiliki kontak gadis tersebut


"Aahh, sial!!!" geramnya memukul meja


Dengan cepat dia naik ke kamar Sania, membuka lemari melihat siapa tahu Sania meninggalkan kartu identitasnya


Tapi yang didapati mami Ajeng hanyalah baju, alat make up dan toples berisi susu bubuk


"Apa ini?" bantingnya dengan kesal


Karena tak menemukan apapun yang berarti akhirnya mami Ajeng keluar dengan wajah marah dan kesal


"Aku harus suruh anak buahku mencari keberadaan Sania, anak itu nggak bisa lari dariku, dia adalah aset terbaruku, dan aku bisa mendapatkan banyak uang dari dia" ucapnya dengan bibir bergetar sambil menempelkan handphone ke telinganya


...----------------...


Pagi buta ibunya Rangga telah bangun dan terdengar kesibukannya di dapur. Sania yang juga sudah terjaga segera duduk, mengucek matanya


Lalu dia mengelus-elus perutnya


"Semoga kamu baik-baik saja nak di dalam perut mama, maaf jika semalam kamu harus kesakitan karena bunda ajak berlari"


Lalu bagai tersadar, Sania segera keluar dari kamar setelah mendengar ibunya Rangga bersin-bersin


"Bu..."


Ibunya Rangga langsung menoleh kearah Sania dan kembali bersin


Sania dengan cepat mengambil piring yang ada di tangan beliau, meletakkan di bak cuci piring lalu menuntun beliau duduk di kursi meja makan


"Ibu duduk saja, biar saya yang nerusin cuci piringnya"


Ibunya Rangga hanya diam dan hanya memperhatikan gerakan lincah Sania yang telah terbiasa berurusan dengan dapur


"Ibu kalau mau istirahat lagi nggak papa, biar ini saya yang bereskan"


Ibu Rangga kembali bersin


"Ibu alergi dingin?"


"Iya San, jadi tiap pagi dan cuaca dingin selalu bersin" jawabnya dan lagi-lagi kembali bersin


Rangga yang juga sudah bangun segera menghidupkan kompor, membuatkan teh hangat untuk ibunya


"Mbak Sania mau teh juga?"


Sania menggeleng sambil tangannya terus menyusun piring yang sudah bersih ke dalam rak

__ADS_1


"Ibu disini sebentar ya, aku mau beli sarapan dulu"


Ibunya Rangga hanya mengangguk dan menyeruput teh hangat buatan anaknya dengan dalam


"Kita duduk ke depan saja San, sekalian nunggu Rangga".


Sania menurut dan membawakan gelas teh ke depan. Berdua mereka duduk di ruang tamu yang tak lama setelahnya Rangga muncul dengan membawa tiga bungkus nasi uduk dan gorengan


Sania segera berdiri kebelakang mengambil empat buah piring dan tiga buah sendok. Lalu tanpa canggung, dia memberikan nasi uduk kepada ibunya Rangga


Lalu mereka sarapan bersama. Di sela sarapan itulah ibunya Rangga bertanya kepada Sania tentang kejadian sebenarnya yang menimpanya


"Aku juga nggak tahu bu jika aku akan dijual kepada pria hidung belang, aku pikir kerjanya bukan seperti itu"


Rangga dan ibunya saling toleh


"Dan Rangga bisa nolong kamu gimana ceritanya?"


Sania menggeleng, dia juga penasaran bagaimana Rangga bisa datang disaat yang tepat


"Selesai mengantarkan mbak Sania ke terminal aku tidak langsung pergi, aku terus mengawasi dari jauh, dan aku makin terkejut saat melihat mbak Sania didekati seorang perempuan lalu mbak Sania mengikutinya, naik kesebuah mobil"


"Dari sana aku curiga, aku terus membuntuti dari jauh, dan aku makin kaget ketika ternyata mbak Sania dibawa ke rumah bordil, dari sana aku makin khawatir, aku yakin mbak Sania tidak menyadari bahaya yang mengintainya"


"Itulah karenanya aku terus mengawasi bahkan aku juga membuntuti saat mbak Sania pergi dengan lelaki tua semalam"


"Apalagi saat melihat mbak Sania dibawa kesebuah villa, aku makin khawatir saja. Makanya begitu melihat mbak Sania berlari kabur aku cepat mengejar"


Ibunya Rangga yang mendengarkan cerita Rangga turut ikut deg-degan.


"Terima kasih ya Mas, untung ada mas, kalau tidak ada mas, entah sudah jadi apa saya sekarang"


Rangga tersenyum mendengar jawaban Sania


"Terus mengapa mbak tidak kerja lagi di tour guide?"


Sania menarik nafas dalam


"Saya dipecat mas, itulah sebabnya makanya saya pergi dari mess dan bingung mau kemana"


Ibunya Rangga menarik nafas dalam


"Terus sekarang kamu akan kemana?"


Sania menarik nafas panjang, menatap keluar pintu


"Aku akan pulang ke rumah mama, di sanalah tempat teraman ku bu"


Ibu Rangga tersenyum


"Kalau begitu biar saya yang mengantar"


"Nggak usah mas, saya akan naik bis saja, mas cukup antar saya ke terminal dan saya mohon jangan pergi dulu sebelum saya berangkat"


Rangga mengangguk. Lalu mereka kembali melanjutkan sarapan mereka.


Jam sepuluh pagi Sania berpamitan pada ibunya Rangga.


"Terima kasih bu atas tumpangannya, saya janji suatu hari nanti saya akan datang lagi kesini, mengembalikan baju Mbak Rika yang saya pinjam"


Ibu Rangga mengelus pundak Sania dan mereka berpelukan. Dengan diiringi lambaian tangan dari ibunya Rangga, Sania dan Rangga meninggalkan rumah sederhana tersebut


Di jalan Rangga berhenti dan membelikan satu buah masker untuk Sania.


"Pakai ini, biar tidak ada orang yang curiga"


Sania menurut dan segera memasangkan masker di wajahnya.


Tak butuh waktu lama akhirnya motor yang dikendarai Rangga sampai di terminal, dan dengan segera Rangga membelikan Sania tiket tujuan daerah asalnya.


Setelah tiket berada di tangan Sania, kembali Rangga menunggui gadis tersebut hingga akhirnya bis tujuan daerah Sania sampai dan berangkat


"Terima kasih banyak mas, jasa mas Rangga tidak akan pernah saya lupakan"


Rangga membalas jabatan tangan Sania dengan hangat


"Semoga selamat sampai tujuan ya mbak, dan jangan sungkan hubungi saya jika membutuhkan apa-apa"


Sania mengangguk sambil tersenyum, lalu dia masuk kedalam bis, duduk di kursi dan menyandarkan tubuhnya ke sandaran

__ADS_1


"Selamat tinggal kota tercinta, terima kasih karena telah mengajariku banyak pengalaman"


__ADS_2