Kejahatan Alexander Louise

Kejahatan Alexander Louise
KENYATAAN PAHIT


__ADS_3

Teriakan lantang menggema ketika dua tubuh wanita melayang dari atas balkon. Polisi dan kerumunan orang yang ada di bawah turut berteriak ketika melihat kejadian tersebut.


BRAAAKKKKKKK!!!!!


“Saniaaaaaa…….!!!!” Jeritan lantang menggema dari atas


Sekuat tenaga tuan Anton menahan tubuh Alexander yang berteriak histeris ketika melihat tubuh Sania melayang jatuh ke bawah. Para bodyguard tak mau ketinggalan, mereka ikut membantu tuan Anton menahan tubuh Alexander


Junior yang tidak tahu apa-apa hanya bisa menangis ketakutan dengan tubuh bergetar mendengar papanya meneriakkan nama mamanya, terlebih tadi dia mendengar suara letusan senjata. Sedangkan di bawah teriakan kerumunan orang kian histeris ketika dua tubuh yang semula melayang kini menghantam kuat aspal. Darah langsung menganak sungai dari bawah tubuh keduanya


Nyonya Emma berteriak histeris dan langsung menghambur kearah dua tubuh yang saat ini tidak bergerak lagi tersebut. Polisi segera membuat pagar betis dengan tubuh mereka menghalangi orang-orang yang hendak melihat insiden berdarah ini


Sementara di atas, Alexander masih berteriak histeris dengan menangis kencang. Berusaha melepaskan pegangan kuat para bodyguard pada tubuhnya


“Lepaskan. Lepaskan aku!!!!” teriaknya


Tuan Anton mengusap wajahnya ketika dia melihat dari atas bagaimana aliran darah menganak sungai dari bawah tubuh Sania dan Milena. Kemudian dia segera mendekap tubuh Junior yang masih tampak bergetar


Junior yang bisa merasakan jika sekarang yang memeluknya adalah opa nya segera membalas dekapan tuan Anton dan kembali tangisnya pecah


Tak terasa air mata tuan Anton mengalir melihat Junior menangis di dalam dekapannya. Dan hatinya juga ikut tersayat melihat bagaimana Alexander sulit sekali dikendalikan dengan anak buahnya. Alexander yang menangis histeris masih berupaya ingin melepaskan tubuhnya dari cengkeraman kuat para anak buah papinya


Dari mulutnya terus meneriakkan nama Sania. Hingga akhirnya tubuh Alexander lunglai jatuh di lantai balkon. Para bodyguard mengendurkan cengkeraman mereka pada tubuh Alexander, namun tetap bersiaga.


Alexander kembali berteriak histeris, menangis kencang sampai kepalanya menyentuh lantai balkon. Hatinya benar-benar hancur dan sakit menyaksikan bagaimana akhirnya Sania mengorbankan nyawanya sendiri untuk menyelamatkan anaknya


Sementara di bawah, dua buah ambulance segera tiba begitu mendapat telepon dari polisi untuk segera datang ke lokasi kejadian


***


Tiga bulan kemudian…….


Alexander meremas tanah merah yang ada di depannya dengan hati hancur. Wajahnya telah basah sejak kakinya menginjak lokasi pemakaman sore ini. Angin sepoi-sepoi yang menggoyangkan bunga kamboja tidak cukup menenangkan hati dan jiwanya yang semakin merasa bersalah


“Ini makam siapa pa?”


Alexander mengusap kasar wajahnya, kemudian tangannya terulur kearah Junior yang berdiri di dekatnya


“Ini makam mama mu nak….” Jawab Alexander dengan suara tercekat


“Mama?. Mama aku?”


Alexander dengan terpaksa menganggukkan kepalanya dengan pelan. Mulut Junior ternganga. Otaknya masih belum bisa mencerna kemana arah omongan papanya, tapi sudut hatinya tiba-tiba merasa sakit teramat sangat ketika mendengar jawaban papanya

__ADS_1


“Mama Sania? Jadi mama aku sudah meninggal pa?”


Alexander tidak menjawab, melainkan dia segera memutar tubuhnya kearah Junior. Segera didekapnya tubuh Junior, dan sontak Junior langsung berteriak kencang dan meronta dalam dekapan papanya


“Lepas pa. Lepaskan aku. Mama aku nggak mungkin meninggal. Mamaaaa…….”


Air mata Alexander kian deras mengalir. Begitu juga dengan mami Ajeng dan Mama Liza. Dua wanita paruh baya yang menemani Alexander dan Junior sore ini juga menangis pilu. Terutama mama Liza, wanita tersebut menangis tiada henti sejak mengetahui jika Sania meninggal akibat jatuh dari atas balkon apartemen demi menyelamatkan anaknya


“Papa bohong. Papa bilang mama menunggu di rumah. Papa bilang begitu kita pulang dari luar negeri maka yang akan menyambut kita adalah mama. Tapi apa ini pa?. mama aku nggak mungkin meninggal. Mamaaaa……”


Mami Ajeng menjatuhkan tubuhnya di tanah. Di peluknya gundukan tanah yang masih tampak merah tersebut, menangis sesenggukan.


“Mami sangat menyayangimu San…. Maafkan mami karena tidak bisa menjaga mu…..” ucap mami Ajeng disela-sela isak tangisnya


Junior yang terus meronta akhirnya dilepaskan oleh Alexander. Junior sama seperti mami Ajeng, segera menjatuhkan tubuhnya di gundukan tanah merah, memeluk batu nisan sambil menangis kencang. Hati Alexander kian hancur berkeping-keping ketika melihat Junior mendekap batu nisan sambil menangis histeris


“Mama….. jangan tinggalkan aku. kita sudah berjanji jika kita tidak akan berpisah……”teriak Junior


Bahu Alexander sampai berguncang, dia sudah tidak tahu harus melakukan apa-apa untuk menenangkan Junior. Hingga akhirnya mami Ajeng yang bangun dan berpindah mendekati tubuh Junior


“Mama tidak pergi nak, mama akan selalu ada di hati kita…..”


Junior menggeleng, dia terus saja mendekap nisan Sania sambil terus memanggil mamanya


Alexander menggeleng. Dengan cepat dia membungkuk, menarik tubuh anaknya dan mendekapnya dengan erat


“Maafkan papa. Ini semua salah papa. Maafkan papa…..”


Tangan Junior terkepal kuat, giginya gemeletuk menahan rasa sedih yang menguasai hatinya. Suara tangisnya yang semula kencang, sudah berubah menjadi tangis kencang tanpa suara. Dan itu semakin menyakitkan buat batinnya


Angin sore yang berhembus semakin menambah suasana sore di area pemakaman ini kian pilu. Suara tangis masih terdengar dari orang-orang yang ada di sana. Junior yang tak berhenti menangis terus saja memeluk gundukan tanah merah makam mamanya


Bujukan mama Liza dan mami Ajeng tidak didengarnya sedikitpun. Dia terus saja menangis dan memeluk makam mamanya. Mulutnya terus mengucapkan kata mama dengan lirih. Alexander yang melihat hanya bisa tertunduk dalam dengan mata yang juga tak hentinya mengalirkan air mata


Senja yang turun mulai membuat temaram area pemakaman. Dengan hati berat dan sakit akhirnya Junior menurut ketika papanya mengangkat bahunya untuk berdiri dan meninggalkan area pemakaman.


Sebelum pergi, dengan hati hancur Junior berjongkok dan mencium nisan yang bertuliskan nama mamanya.


“Aku pulang ma. Tapi besok aku akan datang kesini lagi” lirih Junior dengan mencium dalam nisan mamanya


Kembali air mata jatuh dari mata mama Liza ketika mendengar cucunya mengucapkan kalimat tersebut. Setelah itu beliau secara bergantian dengan mami Ajeng juga mencium nisan Sania dengan air mata yang masih mengalir deras


“Mama pulang nak. Mama sayang sama kamu. Maafkan mama karena sudah berlaku tak adil sama kamu…..” sesalnya mendalam

__ADS_1


“Mami pulang San. Sampai detik ini, mami tetap menyayangi kamu……” lirih mami Ajeng


Alexander yang telah menggandeng tangan Junior menoleh kearah makam Sania, menarik nafas panjang kemudian menengadahkan kepalanya


“Aku akan melaksanakan permintaan mu San…..” batinnya dengan tatapan sedih


**


Semua penghuni rumah bordil duduk di ruang keluarga dengan wajah tegang. Dengan pasti Deno mulai menekan remote control yang ada di tangannya. Setelah itu dia ikut bergabung dengan yang lainnya yang juga sudah siap menantikan gambar apa yang akan tampil di layar televisi yang saat ini menyala


“Hai Sayang……..”


Semua wajah tegang langsung berubah mendung ketika tiba-tiba tampil wajah Sania melambaikan tangannya


“Junior anak mama tersayang…. Mama tidak tahu apa yang harus mama katakan sama kamu nak. Tapi yang pastinya, Kamu adalah hadiah terindah yang Tuhan kirim sama mama……”


Diam, semuanya menarik nafas panjang ketika mendengar kalimat yang Sania ucapkan


“Kamu memang tidak sempurna nak, tapi kamu menyempurnakan hidup mama yang jauh lebih tidak sempurna. Kamu adalah kekuatan terbesar bagi mama dalam menghadapi kerasnya hidup. Kamu adalah harapan terbesar mama untuk menghadapi pahitnya hidup yang harus mama jalani”


Mulai satu persatu terdengar isak tangis. Dan tangis yang pertama kali terdengar adalah dari Junior. Anak lelaki tampan bermata coklat dengan rambut pirang tersebut sudah terisak sejak awal melihat wajah mamanya


“Perjuangan berat mama dalam mengandung kamu tanpa ayah, tanpa orang tua dan tanpa saudara terbayar lunas ketika mama mendengar tangisan kamu untuk pertama kalinya. Mama memang sedih nak tahu hamil kamu, tapi mama bertekad akan membesarkan kamu apapun yang akan terjadi kedepannya, mama tidak peduli. Bagi mama kamu sangat berharga”


“Celotehan dan langkah pertama dari kamu adalah hadiah terbesar bagi mama. Tidak ada kebahagiaan melebihi bahagianya mama melihat kamu berjalan dan mendengar kamu menyebut kata mama untuk pertama kali”


“Terima kasih sayang karena telah memberikan kesempatan pada mama untuk menjadi seorang ibu. Terima kasih karena telah mau lahir dari rahim mama. Terima kasih karena telah mau menerima kekurangan mama. Maafkan mama karena sampai detik ini belum bisa menjadi ibu yang terbaik untuk kamu. Maafkan mama karena masih belum bisa sabar menghadapi kepandaian dan kekritisan kamu”


“Mama ingin kamu menjadi anak yang hebat seperti papa kamu…..”


Semua mata langsung tertuju kearah Alexander yang menangis dalam diam ketika mendengar kalimat Sania.


“Papa kamu orang hebat, dia pintar dan juga tampan. Mirip sama kamu”


Semuanya tersenyum getir ketika mendengar tawa Sania setelah dia mengucapkan kalimat tersebut.


“Jika nanti mama pergi dan tidak bisa sama kamu lagi, kamu jangan nangis ya nak……”


Kembali semuanya mengusap kasar wajah mereka, terlebih ketika mereka lihat jika Sania kelihatan menahan air matanya ketika mengucapkan kalimat tersebut


“Dimanapun kamu berada mama akan selalu ada di dekat kamu. Baik dalam keadaan hidup maupun dalam keadaan mati”


Junior menoleh, dan langsung masuk kedalam dekapan mami Ajeng yang duduk di sebelahnya

__ADS_1


__ADS_2