Kejahatan Alexander Louise

Kejahatan Alexander Louise
7


__ADS_3

Alexander yang sedang duduk santai sambil memainkan handphonenya tiba-tiba mendongak ketika ada ketukan pintu, dan sekitar satu detik berikutnya pintu terbuka


Muncul gadis cantik yang tadi mengaku sebagai sekretarisnya. Gadis itu kembali menampilkan senyum manisnya pada Alexander yang tak berkedip menatapnya


Gadis cantik, tubuh tinggi, putih, memakai pakaian kerja di atas lutut, sehingga paha putihnya terekspos jelas yang membuat jakun Alexander naik turun


"Tadi bapak menyuruh saya datang, ada yang bisa saya kerjakan?" buka sekretaris cantik itu


Alexander berdiri dari kursinya, berjalan mendekati gadis itu, melihatnya dari atas hingga bawah.


"Siapa nama kamu?" ucap Alexander lirih tepat di telinga gadis itu yang membuat bulu romanya meremang


Alexander menghirup dalam aroma wangi dari tubuh gadis cantik di depannya. Dapat dia rasakan jika ada yang bergerak di dalam tubuhnya


"Sandra" jawab gadis itu pelan


Alexander segera memutar tubuh gadis itu menghadapnya. Sandra menatap tajam wajah Alexander yang mulai berubah licik


"Sudah berapa lama kamu jadi sekretaris di sini?"


"Tiga tahun" jawab Sandra yang tubuhnya menyentuh pinggir meja


Tangan Alexander mulai menyentuh paha mulus gadis itu. Dapat Alexander lihat jika gadis itu diam saja tanpa menolak


"Apa kau sering bermain dengan papaku?"


Sandra yang semula memejamkan matanya menikmati belaian tangan Alexander segera membuka matanya.


Dengan cepat dia menggeleng


"Tidak pak, pak Anton tidak pernah melakukan apapun sama saya"


Alexander memiringkan bibir dan mengangkat alisnya mendengar jawaban Sandra


"Tapi saya perhatikan, kamu sudah biasa. Buktinya, saya sentuh paha kamu saja, kamu langsung menikmatinya"


Wajah Sandra langsung bersemu merah. Lalu Alexander kembali ke kursinya.


"Silahkan duduk!" ucapnya mempersilahkan Sandra untuk duduk di kursi yang ada di hadapannya


Dengan segera Sandra duduk dan membetulkan posisi roknya yang makin terangkat


"Besok saya ke Amerika, ada urusan bisnis, jadi selama saya di Amerika pekerjaan saya akan saya serahkan pada Mark untuk menghandle nya, saya harap kamu bisa bekerja sama dengan baik sama Mark"


Sandra menganggukkan kepalanya


"Oh iya, satu lagi, saya suka wangi tubuh kamu"


Wajah Sandra langsung berubah cerah


"Saat saya kembali dari Amerika, kita bisa kencan, itupun jika kamu tidak menolak"


Sandra dengan cepat menggeleng


"Bisa pak, bisa. Kapanpun bapak ngajak kencan, saya bisa"


Alexander tertawa dalam hati mendengar jawaban Sandra


"Sayaaanggg...."


Alexander dan Sandra segera menoleh kearah pintu masuk. Milena. Wajah gadis itu langsung berubah sadis ketika melihat Sandra

__ADS_1


Dengan cepat dia masuk dan memeluk Alexander dari samping


"Baru pulang, tapi nggak nemuin aku, ehh malah langsung kerja"


Alexander membiarkan Milena memeluknya. Wajah Sandra berubah datar.


"Ini siapa sayang?" tanya Milena menatap remeh pada Sandra


"Oh, dia sekretaris saya"


Milena menatap wajah Sandra, lalu melirik kearah Alexander


Tanpa diduga, dia segera mendaratkan kecupan di bibir Alexander, dan menyesapnya dalam


Sandra yang melihat itu terlihat kaget dan segera menundukkan wajahnya ketika Alexander juga membalas pagutan Milena.


Karena semakin merasa gerah dan kikuk, akhirnya Sandra keluar dari ruangan itu. Sesampainya di luar pintu, dia langsung menggeleng-gelengkan kepalanya


"Nggak mikir kalau ada orang, main ciuman aja, dikiranya saya patung apa" rutuknya


...****************...


"Kapan saya bisa pulang, dokter?" tanya Sania ketika dokter memeriksanya


"Mungkin dua atau tiga hari lagi"


Sania diam, dia bingung bagaimana memberitahu mamanya mengenai keadaannya


"Dokter, apa saudara saya kesini hari ini?"


Dokter Anita menggeleng


"Kenapa?"


"Mama...." lirihnya


Lalu air mata langsung mengalir di wajahnya


"Tapi kemarin saudaramu itu menitipkan bungkusan pada saya, katanya itu milik kamu"


Sania segera menoleh dan menghapus air matanya


"Bisa saya melihatnya dokter"


Dokter Anita mengangguk


"Sus, tolong ambilkan kantong warna hitam di atas filing kabinet saya, bawa kesini"


Suster yang sejak Sania dirawat yang selalu mendampingi dokter Anita mengangguk dan keluar dari dalam ruangan


Tak lama suster itu telah kembali membawa kantong plastik hitam yang tadi diminta dokter Anita dan menyerahkan kantong tersebut pada dokter Anita


Dokter Anita lalu menyerahkan kantong tersebut pada Sania


Sania dengan cepat membuka kantong hitam tersebut.


"Barang-barang Ku" lirihnya


Segera dibukanya tas selempang miliknya, lalu mengambil handphone yang sejak beberapa hari ini tidak di sentuhnya


Sania segera memasukkan kode untuk membuka handphone tersebut, dan begitu terbuka segera dinyalakannya data selular.

__ADS_1


Handphone langsung berbunyi tiada henti, tanda pesan masuk. Dengan cepat Sania membuka pesan dari mama


Matanya sedikit tertegun ketika membaca pesan terakhir yang dia kirim ke mamanya.


Dua hari yang lalu, desisnya.


Itu artinya handphoneku ini sudah di buka oleh Alexander? batinnya


Lalu dia segera mengambil dompet, membukanya. Benar, ktpnya tidak berada di tempatnya semula, tapi telah bergeser.


Lalu fokus kembali Sania ke handphone miliknya


Dibacanya pesan dari mama tersayang


"Sayang, kata pak Doni kamu jadi tour guide pelancong dari ibu kota ya?"


"Mama senang dengarnya, karena kamu yang dipilih pak Doni, kata beliau karena bahasa asing kamu bagus dan kamu juga cantik" diikuti emoticon tertawa


Sania yang membaca pesan mamanya menitikkan air mata kembali


"Mama tidak tahu, justru karena aku jadi tour guide orang asing itulah hidupku hancur" batinnya sambil berurai air mata


"Cepatlah pulang, mama kangen"


Sania menghapus air matanya setelah selesai membaca pesan dari sang mama


Lalu dia menggeser kebawah, pesan dari pacarnya Deri.


Deri adalah pacarnya sejak dia kuliah, itu artinya dia sudah empat tahun lebih menjalin hubungan dengan lelaki spesial itu, Deri adalah kakak tingkatnya tapi beda fakultas.


Mereka tak sengaja bertemu ketika motor Sania mogok dan Deri yang menolongnya. Dari sanalah hubungan mereka kian akrab dan akhirnya menjalin kasih hingga sekarang.


"Sayang, pesanku satupun tak kau balas, kamu marah?"


Sania tersenyum segaris membaca pesan pembuka dari lelaki yang dicintainya itu


"Sayang, tempat dinasku ini benar-benar tempat yang indah, suatu hari aku akan ajak kamu kesini. Aku yakin kamu pasti bakal betah"


Mata Sania kembali menerawang, Dua minggu yang lalu, Deri dinyatakan lulus dari tes untuk penempatan dokter baru di daerah terpencil


Saat berpisah kemarin, Sania tak dapat membendung air matanya. Saat itu mereka berjanji akan selalu setia hingga nanti bertemu di pelaminan


Sania membaca seluruh pesan dari Deri dengan berurai air mata


"Apa yang harus saya lakukan dokter?" isaknya tergugu


Suster Maria segera memeluknya berusaha menenangkannya dengan mengusap-usap pundaknya


"Semua memang berat, tapi dengan beriringnya waktu, saya yakin kamu bisa melewati ini"


Sania tidak menjawab perkataan suster Maria, dia masih saja terus terisak


"Jika mama saya tahu apa yang telah terjadi pada saya, beliau pasti hancur" lanjut Sania pilu


Dokter Anita menarik nafas dalam dan menatap iba pada Sania yang terus terisak


"Saya ingin pulang dokter, tapi saya takut mama saya akan shock jika mengetahui apa yang menimpa saya"


Suster Maria terus mengusap pundak Sania.


Sementara mamanya di rumah, yang sedang membuka handphone tersenyum sumringah ketika dilihatnya pesan yang dikirimkannya dengan Sania sudah centang dua dan berwarna biru

__ADS_1


"Akhirnya kamu aktif lagi nak" lirihnya


__ADS_2