
Sore ini Helen membawa Sania ke klinik seperti yang tadi dijanjikannya. Sesampainya di klinik keduanya harus antri, dan Sania mengedarkan pandangan pada semua yang sedang duduk antri menunggu giliran pemeriksaan
Semua perempuan hamil disini ditemani oleh suami mereka, bahkan ada yang perutnya dielus-elus oleh suami mereka dengan sayang
Sania hanya memandang iri pada wanita-wanita hamil tersebut. Sebanyak yang duduk di kursi antrian, cuma dia seorang yang datang ditemani seorang wanita, yang lainnya ditemani suami mereka semua
"Jangan jadi beban" bisik Helen ketika dilihatnya Sania memandang mereka
Sania memasang senyum terpaksa dan Helen mengusap lengannya seakan memberi kekuatan
Satu persatu ibu hamil mulai diperiksa dan satu setengah jam berikutnya barulah giliran Sania
Sania masuk ditemani Helen, dan begitu dia duduk di depan dokter kandungan, dokter kandungan tersebut langsung memasang wajah manis padanya
"Ada keluhan apa?"
Sania menggeleng
"Kartu periksanya ada?"
Kembali Sania menggeleng
"Dia adik saya dokter, baru datang dari kampung, jadi belum pernah periksa" jawab Helen cepat
Kembali dokter itu tersenyum
"Sus, ambilkan kartu untuk mbak ini ya, tolong catat dulu identitasnya"
Seorang suster langsung mengambil kartu anggota pemeriksaan dan Helen langsung membawa Sania duduk di depan perawat yang telah menyiapkan buku dan kartu untuk Sania
"Namanya mbak?" tanya perawat itu
Sania menyebutkan namanya, dan perawat tersebut langsung mengentri nama Sania ke komputer yang ada di depannya
"Nama suaminya?"
Wajah Sania seketika menegang dan menoleh gelisah kearah Helen
Perawat yang telah siap mengetik mengangkat kepalanya menatap Sania
"Nama suaminya mbak?" ulangnya
Helen menganggukkan kepalanya memberi keyakinan pada Sania untuk berani menyebutkan nama pelaku pemerkosanya
"Alexander Louise..." ucap Sania pelan
Helen menarik nafas lega dan menggenggam erat tangan Sania
Perawat tersebut langsung mengetikkan nama Alexander dan menanyakan alamat pada Sania
Kali ini Helen yang menjawab, Helen sengaja memberi alamat fiktif agar perawat dan dokter tidak berfikir buruk tentang mereka berdua. Jika dokter maupun perawat mengetahui alamat mereka berdua, identitas mereka berdua bisa diketahui, jika mereka berasal dari rumah bordil
Selesai mengentrikan identitas Sania secara lengkap, perawat tadi juga menulis di buku pemeriksaan lalu memberikan buku tersebut pada Sania
Lalu setelahnya mereka berdua kembali berjalan ke depan dokter
"Ayo kita usg" ucap dokter
Sania langsung berbaring ditempat yang telah disediakan, dan dokter segera menuangkan cream khusus ke atas perut Sania
Helen dan Sania menolehkan pandangan mereka pada layar monitor yang terletak agak tinggi di tembok
Terdengar suara seperti gradak gruduk ketika alat khusus dijalankan di atas perut Sania
"Itu suara detak jantungnya" ucap dokter seperti tahu tatapan takjub mata Sania
"Air ketubannya bagus, dan posisi bayi masih sungsang karena masih 25 minggu, nanti jika sudah masuk ke minggu 30 belajar senam anti sungsang ya, biar nanti posisinya bagus"
__ADS_1
Sania hanya mengangguk
"Nah, ini jenis kelaminnya..." ucap dokter masih terus menggerakkan alat di atas perut Sania
Sania menegang ketika dokter menyebut jenis kelamin anaknya
"Cowok cewek dokter?" tanya Helen
"Kalau menurut pemeriksaan jenis kelaminnya cowok"
Sania dan Helen saling berpandangan dan keduanya sama-sama menarik nafas lega
"Tapi semua ini baru pemeriksaan, ketentuan penting itu dari Tuhan"
Kembali Sania dan Helen mengangguk
Selesai pemeriksaan, dokter mengelap perut Sania dengan tissue dan membantunya duduk
Lalu Helen membantu Sania turun dari ranjang pemeriksaan dan membawanya duduk kembali di depan dokter
"Bulan depan periksa lagi ya?, selama hamil minimal periksa sebanyak empat kali"
"Baik dokter" jawab Sania
Setelah memberikan obat dan membayar biaya pemeriksaan, Helen mengajak Sania keluar dari klinik
Keduanya berjalan santai melewati trotoar dan Helen mengajak Sania membeli cemilan
Sore ini Sania dimanjakan Helen dengan mentraktirnya segala makanan yang diinginkannya
Dan ketika perut keduanya kenyang, barulah Helen mengajaknya pulang
Langkah kaki Sania yang berjalan masuk ke gerbang tempat mami Ajeng sontak terhenti ketika dilihatnya dibarisan anak buah mami ada seseorang yang dikenalinya
"Deno?" tanyanya kaget
"Kenapa kamu bisa ada disini San?"
Sania memasang senyum kaku
"Maaf Mbak Helen, jika boleh aku mau ngobrol berdua dengan Sania"
Helen memandang sebentar pada Sania
"Deno ini adiknya dokter Anita tempat aku menumpang beberapa bulan lalu"
Helen mengangguk-anggukkan kepalanya begitupun dengan yang lain
"Kita kesana!" ajak Deno menunjuk kebawah pohon
Sania mengangguk, keduanya berjalan kebawah pohon dan duduk di bangku kayu yang ada di sana
"Kamu belum menjawab pertanyaan aku, kenapa kamu bisa ada disini?"
Sania menarik nafas panjang. Dan Deno makin menatap curiga kearah perut Sania yang membuncit
"Kamu hamil?"
Sania mengangguk pelan. Deno mengusap kasar rambutnya
"Kok bisa?"
"Pertanyaan kamu banyak banget Den, yang mana yang harus aku jawab terlebih dahulu?"
Deno tergelak dan kembali menatap serius wajah Sania
"Kenapa aku bisa hamil, kamu nggak perlu tahu, dan kenapa aku bisa ada disini adalah karena sebelum aku tinggal di rumah dokter Anita aku pernah sehari disini, lalu kemudian malamnya aku kabur, dan sebulan berikutnya aku diusir mamaku akhirnya aku kembali lagi ke kota ini, dan akhirnya aku ditemukan oleh anak buah mami, itu mereka ada di sana, ada diantara kamu tadi" ucap Sania mengarahkan matanya kearah beberapa lelaki yang tadi duduk bersama Deno
__ADS_1
"Kamu bisa tanya dengan mereka"
Deno mengangguk
"Dan kenapa aku bisa kesini lagi itu karena aku diusir oleh dokter Anita, beliau salah sangka dengan aku dan tuan Danendra"
Lalu Sania menceritakan bagaimana awal mula dia sakit dan akhirnya di tolong tuan Danendra yang menyebabkan salah faham dari dokter Anita
Hingga akhirnya dia bisa sampai kembali kesini.
Deno menarik nafas panjang dan menatap iba pada Sania
"Sumpah Den, aku tidak ada hubungan apa-apa dengan pak Danendra"
Deno mengangguk
"Aku percaya kok San. Yang aku tidak percaya itu adalah kamu disini dan sekarang kamu hamil"
Sania menunduk
"Aku juga tidak menyangka Den jika jalan hidupku akan seperti ini" jawab Sania sedih
Deno kembali menarik nafas panjang
"Kamu masih terlalu muda San untuk jadi wanita malam, juga kasihan sama nasib anakmu kelak"
Air mata Sania langsung mengalir
"Andai saja aku ada cara lain Den, tapi aku tak punya pilihan lain. Mamaku mengusirku, begitupun dokter Anita. Satu-satunya orang yang menolongku saat ini hanya mami Ajeng, dia yang bersedia membiayai persalinanku kelak, dan hanya mami Ajeng yang nantinya akan memberikan penghidupan untukku"
Sania menghapus kasar wajahnya lalu menatap kearah Deno
"Lah kamu, kenapa juga bisa ada disini?"
Deno tertawa basi
"Ya, sama seperti kamu. Aku juga terpaksa"
Keduanya lalu sama-sama tertawa basi, menertawakan nasib yang mempermainkan masa depan mereka
...----------------...
Alexander dengan penuh percaya diri mempresentasikan proyek kerja yang sedang dikerjakannya dengan beberapa investor asing
Kepala investor Singapore yang mengundangnya memandang takjub pada kepiawaian Alexander dalam mempresentasikan langkah kerja, juga dia memuji keberhasilan Alexander yang bisa bekerja sama dengan lima investor asing dalam waktu bersamaan
"Good job" pujinya sambil memberi applause ketika Alexander selesai memberikan presentasinya
Tuan Jeremy yang juga hadir dalam acara tersebut ikut bertepuk tangan dengan canggung
Ketika semua kolega dan investor memberi ucapan selamat dan menyalami Alexander, Tuan Jeremy dengan sungkan ikut memberikan ucapan selamat dan juga ikut menyalami Alexander
"Congratulation Alexander..." ucapnya datar
Alexander hanya memasang senyum segaris. Puas sekali di dalam hatinya melihat bagaimana reaksi kaget dan kesal tuan Jeremy saat semua investor mengakui kehebatan Alexander
Selesai dengan meeting tersebut, kembali secara mengejutkan beberapa investor langsung menyepakati bekerja sama dengan Alexander yang makin membuat panas hati tuan Jeremy
"Bagaimana tuan Jeremy, sekarang anda tahukan bagaimana potensi saya?" tanya Alexander dingin
Tuan Jeremy membalas dengan memandang dingin pula
"Gio Group jauh lebih berkembang ketika dipegang oleh saya. Dan anda siap-siap saja ketika nanti semua saham perusahaan anda akan berpindah semua ke perusahaan kami"
Wajah Tuan Jeremy makin dingin dengan rahang yang mengeras menahan marah
Sedangkan Alexander melenggang santai keluar dari ruang meeting mengikuti investor lain yang telah lebih dulu berjalan keluar
__ADS_1
"*****!!" geram tuan Jeremy