Kejahatan Alexander Louise

Kejahatan Alexander Louise
Dhea Akhirnya Tahu Semua


__ADS_3

Pagi ini sebelum berangkat kekantor Alexander sengaja menunggu papanya di meja makan, untuk mengajaknya sarapan bersama


"Tumben" ucap tuan Anton sambil menarik kursi dan duduk


Nyonya Emma langsung memberikan segelas susu kearah suaminya lalu meletakkan sepotong roti yang telah dioleskan nya dengan selai


Alexander hanya memasang senyum mendengar ucapan sang papa


"Begini pa, aku minta cuti seminggu untuk akhir tahun, boleh?"


Tuan Anton yang sedang mengunyah roti mengangguk cepat


"Oh, tentu. Kan memang jadwalnya kita malam tahun baru akan dinner sama keluarga teman papa"


Alexander menggeleng


"Loh, maksudnya apa ini?" tanya tuan Anton heran karena melihat Alexander menggelengkan kepalanya


"Alex belum siap pa, Alex masih mau fokus kerja"


Tuan Anton dan Nyonya Emma saling toleh


"Alasan apa lagi ini Lex, kapan kamu siap, umur kamu sudah cukup matang untuk berumah tangga, apalagi yang kamu pikirkan, karirmu semakin tokcer, seluruh kolega papa yang sekarang bekerja sama dengan kamu memuji kinerja kamu, perusahaan kita semakin maju pesat, lantas apalagi yang membuat kamu belum siap?"


Alexander diam dia juga tidak tahu apa yang membuatnya belum siap berumah tangga, mungkinkah perkataan Mark jika dia mencintai Sania benar?


"Belum ada yang pas saja pa di hati aku"


Tuan Anton tersenyum


"Karena itulah makanya papa dan mama ingin mengenalkan kamu dengan anak teman papa, semoga saja dengan perkenalan nanti akan timbul benih cinta di antara kalian"


Alexander kembali menggeleng


"Tolonglah pa, nanti jika sesudah liburan aku masih belum menemukan yang aku inginkan, aku akan menuruti semua kemauan mama dan papa"


Kembali tuan Anton dan Nyonya Emma saling toleh lalu menatap Alexander dengan senyum penuh arti


"Kami tahu selera mu seperti apa nak, itulah makanya kami berniat memperkenalkan kamu dengan anak teman papa"


"Dia sama seperti kamu, pintar dan berbakat, dan yang paling penting dia berasal dari keluarga baik-baik"


"Tolong kasih aku kesempatan sampai awal tahun depan pa, ma, jika sampai awal tahun depan aku masih juga belum dapat yang pas menurut aku, mama papa boleh menjodohkan aku dengan anak teman papa itu, tapi aku mohon tolong kali ini beri aku kesempatan, ya minimal untuk liburan lah"


"Terakhir kali aku liburan itu enam tahun yang lalu, itupun liburannya tidak full karena papa memaksaku untuk cepat pulang"


Tuan Anton tampak diam mendengar keluhan Alexander


"Benarkah terakhir kali kamu liburan enam tahun yang lalu?"


Alexander mengangguk pasti


"Ya Tuhan, kalau begitu papa telah menjadi orang tua yang zalim" jawab tuan Alexander sambil terkekeh


"Okelah jika begitu, sebutkan negara tujuanmu nak, papa akan mengizinkan"


Wajah Alexander tampak sumringah mendengar jawaban sang papa

__ADS_1


"Bukan keluar negeri pa, hanya saja aku ingin kembali ke kota dimana aku pernah liburan enam tahun yang lalu"


Kening tuan Anton berkerut dan tampak heran dengan keputusan anaknya


"Apa yang menarik di sana sehingga kamu ingin kembali kesana?" selidik tuan Anton


"Come on pa, kan tadi papa sudah mengizinkan kemana pun Alexander mau pergi papa tidak akan menghalangi kok ini malah banyak tanya?" protes nyonya Emma


Tuan Anton mengangkat kedua tangannya dengan tersenyum kecut mendengar istrinya protes


"Oke-Oke, wherever he will gone, I am agree"


Alexander dan Nyonya Emma tersenyum lebar mendengar keputusan tuan Anton


...----------------...


Sudah hampir dua minggu sejak terakhir bertemu dengan Dhea di mall itu, komunikasi antara Dhea dan Sania semakin intens


Dan Dhea selalu menanyakan kapan mereka bisa bertemu lagi, menghabiskan waktu bersama seperti dulu, walau tentu saja dengan status Sania yang tidak lagi single seperti dulu


Sania selalu tak bisa karena selain dia bekerja, juga karena dia lebih memilih menghabiskan waktunya dengan Junior


Hingga akhirnya malam ini, tanpa sengaja keduanya bertemu di sebuah klub malam


Awalnya Sania tidak menyadari jika ada Dhea di sana bersama pacarnya, tetapi ketika Dhea mendekatinya yang saat itu sedang menemani seorang om-om minum mau tak mau akhirnya Sania tersenyum ramah pada Dhea


"Lu sebelumnya nggak pernah kesini, lu paling polos diantara kita, terus ini apa San?" ucap Dhea ketika keduanya pamit ke toilet


"Dan baju yang lu pakai?, sumpah gue benar-benar nggak mengenali lu" lanjut Dhea


"Semua bisa berubah Dhe" jawab Sania santai


"Bilang apa yang terjadi sama kamu San?"


Sania tersenyum hampa


"Seperti yang kamu lihat, dan sepertinya kamu sudah bisa menebak apa pekerjaan aku, iya kan?"


Dhea menggeleng kuat, di peluknya Sania dengan menahan air mata yang telah siap tumpah


"Tolong bilang kalau ini hanya bohongan San, ini tidak nyata"


Sania kembali menggeleng dan menarik nafas panjang


"Siapa orang yang mau menerima wanita hamil tanpa suami, yang luntang lantung di jalan, jadi gembel jika bukan mucikari?"


Dhea menggeleng kuat, air matanya telah mengalir deras


"Besok kita ketemuan, aku akan cerita semuanya, sekarang aku harus keluar aku tak ingin pria yang membooking ku malam ini berpikir jika aku kabur"


Secepat kilat Sania meninggalkan Dhea yang masih menatap tak percaya padanya sambil berurai air mata


Dan ketika dia keluar, dilihatnya jika Sania telah berjalan kearah pintu keluar bar


Dan kekasih bule Dhea yang melihat perubahan wajah Dhea jadi bertanya


"Are you okay?"

__ADS_1


Dhea hanya mengangguk dan berusaha tersenyum


...----------------...


Sejak pertemuan mereka semalam, Dhea semakin penasaran dengan jalan hidup Sania selama enam tahun terakhir


Karena dia sangat ingat, dulu Sania minta jemput dengannya di halte bis hingga baru dua minggu yang lalu mereka bertemu lagi dengan Sania yang telah banyak berubah


Terlebih pertemuan tak sengaja mereka di club malam tadi malam, yang makin membuat Dhea shock


Kita ketemu sore ini di taman tempat dulu kita sering menghabiskan waktu jika kita tidak ada kerjaan


Begitulah isi pesan yang dikirim Sania pada Dhea siang ini, dan Dhea yang sedang memandu pelancong jadi makin bersemangat untuk cepat-cepat menyelesaikan kerjaannya agar dia bisa cepat berjumpa Sania


Dan benar saja, jam lima sore, Dhea berpamitan pada para turis yang memakai jasanya jika dia ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkannya dan besok dia akan menggantinya


Secepat kilat Dhea naik ojek yang siap mengantarnya ketaman kota tempat mereka janjian, dan disalah satu kursi dilihatnya Sania telah duduk dengan sebuah minuman dingin di tangannya


"San...?" teriak Dhea sambil melambaikan tangannya kearah Sania


Sania membalas dengan melambaikan tangan pula, lalu dengan sedikit berjalan cepat Dhea langsung menuju kearah Sania


"Sudah lama?"


"Nggak juga" jawab Sania sambil tersenyum


Lalu Sania memberi kode pada penjual minuman dingin dengan mengangkat jari telunjuknya, yang tak lama penjualnya datang dengan membawa satu cup minuman dingin


Sambil minum mereka bercerita kosong, sampai akhirnya Sania mulai pada cerita intinya


"Profesi ini aku jalani saat Junior berumur enam bulan"


Mulut Dhea menganga


"Aku tidak ada pilihan lain Dhe, aku harus hidup, aku harus mengumpulkan banyak uang untuk operasi mata anakku, aku harus mengumpulkan uang banyak untuk membayar keluarga yang jika suatu hari nanti ada yang bersedia mendonorkan retinanya untuk Junior"


"Dan kau tahu sendiri Dhe, biaya operasinya tidak murah, apalagi aku berencana akan membawa anakku keluar negeri, dan itu butuh biaya besar"


"Bagaimana kamu bisa terjun ke dunia kelam ini San?"


Sania tersenyum getir, lalu dia menceritakan semuanya bagaimana awalnya dia bisa kenal dengan mami Ajeng, bagaimana dia lari dari sana, bagaimana dia tinggal di rumah dokter Anita hingga akhirnya dia terusir dan akhirnya memutuskan kembali lagi ketempat mami Ajeng karena mami Ajeng adalah orang yang bersedia menerimanya dan merawatnya hingga sekarang


Bahkan seluruh penghuni rumah bordil sangat menyayangi Junior. Tentu saja sepanjang Sania bercerita, Dhea meneteskan air matanya, dia mengutuk dirinya sendiri mengapa saat itu dia tidak menjemput Dhea, dia yakin jika saat itu dia datang, tentulah Sania tidak akan menjadi wanita malam seperti sekarang


Berulang kali Dhea meminta maaf pada Sania dan menyatakan penyesalannya, dan Sania dengan senyum tulusnya sedikitpun tidak menyalahkan Dhea


"Semua sudah suratan takdirku Dhe, ikhlas tidak ikhlas aku harus menerimanya"


Dhea memeluk erat Sania dengan berlinangan air mata


"Sahabat macam apa aku ini" sesalnya


Sania menggenggam erat tangan Dhea


"Sedikitpun aku tidak menyalahkan mu atas profesiku sekarang Dhe, karena ini adalah pilihanku, yang ku mau adalah dukungan persahabatan mu, aku tak ingin karena kau mengetahui profesiku kau jadi tidak mau mengenalku lagi"


Dhea menggeleng cepat

__ADS_1


"Sampai kapanpun kamu akan tetap menjadi sahabatku San..."


Keduanya lalu berpelukan dan saling mengusap wajah mereka yang basah oleh air mata


__ADS_2