
"Mama wangi sekali, apa Mama mau pergi?" tanya Junior malam ini ketika dia mencium aroma wangi dari tubuh mamanya
Sania yang saat itu sedang menggosokkan parfum ke pergelangan tangannya menghentikan gerakannya. Kemudian dia menoleh ke arah Junior yang berjalan ke arahnya, dan segera menangkap tubuh besar anak semata wayangnya tersebut
"Iya Sayang, malam ini mama mau kerja. Jadi Junior di rumah dulu ya? seperti biasa, di rumah ada Oma mami, ada Uncle, ada Aunty juga. Jadi Junior Mama tinggal sebentar. Nggak lama kok"
"Mama, kenapa sih Mama kalau kerjanya malam hari? Kenapa tidak siang hari saja?"
Deg!!! Jantung Sania langsung berdetak mendengar pertanyaan anaknya. Seumur hidupnya melakukan pekerjaan sebagai wanita malam, baru inilah Junior menanyakan hal tersebut
"Ya karena mama kebagian kerjanya shift malam. Kalau Shift siang itu ada orang lain juga yang kerja. Dan kebetulan mama itu dikasih tugas sama bos Mama itu shift malam. Itulah mengapa mama kerjanya malam hari, gitu Sayang" jawab Sania mencoba memberi alasan kepada anaknya
"Kalau aku minta Mama meninggalkan HP karena aku mau ngobrol sama Papa, boleh ?"
Sania menelan ludahnya kembali mendengar pertanyaan Junior. Tidak mungkin untuknya meninggalkan hp. Karena jika dia meninggalkan HP, bisa dipastikan Alexander akan tahu jika Junior sendirian di rumah.
"Tolong ya Ma, mama tinggalkan saja hp-nya. Kan Mama bilang Mama kerjanya sebentar. Aku nggak mau turun berkumpul sama oma dan yang lainnya, aku maunya di kamar saja sendiri. Aku mau ngobrol sama Papa, aku kangen sama papa terus Aku mau ngobrol sama Opa juga, karena aku kangen sama Opa"
Sania masih bergeming tidak menjawab permintaan anaknya. Jujur saja Dia sangat galau. Di satu sisi dia tidak ingin membuat Junior sedih dan kecewa, dan di satu sisi lagi dia tidak ingin Alexander dan juga tuan Anton mengetahui jika dia kembali menjadi wanita malam
"Tolonglah Ma ...." kali ini suara Junior berubah seperti memelas
Terlebih ketika Sania melihat wajah polos anaknya dengan mata yang bergerak makin membuatnya trenyuh
"Sebentar Sayang, Mama akan hubungi seseorang dulu" ucap Sania yang segera mengambil hp di atas meja dan segera mendudukkan Junior di kursi tempatnya berdandan
"Saya sudah siap, silakan Anda kirimkan seseorang untuk menjemput saya. Saya tidak membawa HP, karena HP akan saya tinggalkan di rumah"
Terdengar jawaban dari seberang sebelum akhirnya Sania memutus obrolan dan kembali duduk di sebelah Junior
"Oke hp-nya mama tinggal, tapi dengan satu syarat Junior nggak boleh bilang sama papa ataupun sama Opa jika mama kerja. Bilang saja sama mereka mama ada di ruangan ini, ya?"
Junior menganggukkan kepalanya dengan cepat mendengar ucapan Sania
Sebelum menghubungi nomor Alexander maupun Tuan Anton, Sania menarik nafas panjang terlebih dahulu. Sangat berat baginya untuk menghubungi dua orang tersebut. Tapi jika dia tidak menuruti permintaan Junior, bisa jadi Junior akan mengamuk dan itu akan makin menyulitkannya
"Oke...." ucap Sania akhirnya setelah dia menarik nafas panjang
Pilihan pertama tertuju kepada Alexander. Dengan detak jantung yang tiba-tiba berdebar, Sania menghubungi nomor Alexander
Dan Alexander yang malam itu masih tengah berada di kantornya segera meraih HP begitu mendengar benda tersebut berdering
"Sania?!" gumamnya dengan wajah cerah begitu melihat layar hp menampilkan siapa yang menelponnya
Dengan cepat Alexander langsung menerima panggilan dari Sania
__ADS_1
"Iya Sania, ada apa ?" jawab Alexander ketika dia menerima panggilan tersebut
Sania yang menjadi gugup tiba-tiba ketika mendengar suara Alexander, kembali mengusap dadanya berusaha untuk tenang
"Ini, Junior mau ngomong sama kamu" jawab Sania singkat
Sania tidak mendengar jawaban Alexander selanjutnya, karena dia langsung menyerahkan hp tersebut ke tangan Junior
"Ini Sayang, ini Papa kamu. Bicaralah sama papa kamu"
Senyum kembali terkembang di wajah Alexander, ketika dia jelas mendengar bahwa Sania menyebut dirinya sebagai Papa dari anaknya
"Papa....!!!" suara teriakan kecil dari Junior ketika Hp sudah berada di tangannya.
Beban pekerjaan selama berminggu-minggu ini menumpuk hingga detik ini masih harus diselesaikan oleh Alexander, seketika langsung lenyap dari hatinya ketika dia mendengar suara Junior, anaknya memanggil dirinya
"Iya sayang, ini Papa. Kamu apa kabar? Papa kangen banget sama kamu...."
"Sama papa, aku juga kangen banget sama papa"
Kemudian Alexander langsung mengubah panggilan ke mode video. Dan Sania yang saat ini masih duduk di sebelah Junior kembali kebingungan ketika dia melihat bahwa dari seberang Alexander ingin melakukan video call kepada anaknya
"Tolong Sania, Saya tahu kamu ada di sebelah Junior saat ini. Saya ingin melakukan video call kepada anak saya, saya sangat ingin melihat wajah anak saya karena saya sangat kangen sama anak saya"
Junior menoleh ke arah Sania
Jantung Alexander langsung berdenyut sakit mendengar ucapan anaknya. Seketika matanya langsung terasa panas, dan itu benar-benar sebuah kenyataan pahit yang harus ditelannya
"Tidak apa-apa sayang. Jika mama tidak mau melakukan video call, tidak apa-apa. Yang penting Papa sudah mendengar suara kamu, dan itu sudah cukup bagi Papa" jawab Alexander lirih
Sania langsung menarik nafas panjang ketika mendengar jawaban dari Alexander.
Dan tanpa disadarinya, tangannya langsung menekan icon warna biru ke atas sehingga saat itu juga langsung tampil wajah Alexander
Kembali jantung Sania berdetak kencang ketika dia melihat wajah Alexander. Tapi secepat kilat pula Sania langsung bergeser dari sebelah Junior, karena dia tidak ingin dia melihat wajah Alexander begitu juga sebaliknya
Sania segera berdiri dari duduknya ketika pintu kamarnya terdengar diketuk seseorang dari luar
Sementara Sania berjalan ke arah pintu, Junior sudah bercerita dengan Alexander dan dari seberang sana Alexander terus menatap lekat wajah anaknya
"Jemputan Kamu sudah sampai" ucap Helen ketika pintu dibuka oleh Sania dan Sania menganggukkan kepalanya.
Lalu Sania kembali berjalan ke arah Junior, mengusap sebentar kepala anaknya tersebut. Lalu Sania meraih tas yang diletakkannya di atas meja hiasnya, lalu berjalan meninggalkan Junior yang saat ini masih terus mengobrol dengan Alexander
Kepala Junior langsung bergerak ketika dia mendengar suara pintu kamar ditutup
__ADS_1
"Dadah Mama.... hati-hati di jalan Mama" teriak Junior
Alexander yang mendengar jika Junior mengucapkan kalimat perpisahan kepada mamanya, seketika wajahnya langsung berubah tegang
"Sayang, apa Mama tidak ada lagi di dekat kamu?" tanya Alexander dengan nada panik
Junior diam sejenak dan tampak dengan jelas oleh Alexander jika mata Junior terpejam. Dan tampak pula dengan jelas oleh Alexander bagaimana kepala Junior seperti bergerak, terutama telinganya
"Sayang, Mama tidak ada lagi di sana?" kembali Alexander mengulangi pertanyaannya
"Iya Pa, mama sudah berangkat kerja"
Seketika wajah Alexander kembali menegang ketika mendengar jawaban dari Junior. Karena dia tidak menyangka jika Sania akan terjun ke dunia hitam lagi setelah bertemu dengannya
"Mama bilang tidak dia mau ke mana?" Alexander kembali bertanya, dan nada suaranya terdengar sangat panik
Junior seperti tersadar jika dia melakukan kesalahan. Karena tadi Mamanya sudah bilang, jika dia tidak boleh mengatakan kepada Papanya bahwa Mamanya pergi kerja
"Jangan bilang sama Mama ya Pa, nanti mama marah. Tadi Mama bilang sama aku, jangan kasih tahu ke papa kalau mama pergi kerja. Aku nggak mau kalau Mama mengetahui jika aku beri tahu papa bahwa Mama pergi kerja. Nanti mama marah sama aku"
Alexander langsung menarik nafas panjang mendengar jawaban polos anaknya
"Ya Tuhan Sania..... Mengapa kamu melakukan pekerjaan ini lagi…" batin Alexander dengan sedih
"Tidak apa-apa sayang. Biarlah mama kerja, Papa nggak akan beritahu Mama. Biarlah semalaman ini papa akan menjaga kamu sampai Mama kamu pulang"
Wajah Junior langsung cerah ketika dia mendengar jawaban dari Papanya
Hingga akhirnya obrolan mereka terus berlanjut hingga cukup lama. Dan ketika Alexander melihat Junior menguap beberapa kali saat itulah Alexander meminta kepada Junior untuk tidur
"Sayang, kamu silakan tidur. Tapi kamu jangan Matikan hp-nya ya? kamu letakkan HP di sebelah kamu tidur, agar papa terus bisa melihat kamu" ucap Alexander yang dijawab Junior dengan anggukan kepala
Junior kemudian merangkak dari tempat duduknya ke arah bantal yang memang sudah disiapkan oleh Sania sebelum dia pergi tadi
Dengan sayang, Alexander mulai bernyanyi Nina Bobo secara lirih agar anaknya tersebut bisa tidur
Ketika Junior benar-benar sudah memejamkan matanya, saat itulah tangan Alexander terkepal
Rahangnya mengeras, dan Alexander mendongakkan kepalanya menahan segala amarah yang membuncah di dalam dadanya
"Ini semua salahku. Aku yang bersalah disini!!!!" geramnya
Alexander kembali menatap wajah Junior yang saat ini sudah tampak pulas
"Maafkan papa nak...." lirih Alexander dengan wajah sendu. Dan kali ini kembali air matanya mengalir.
__ADS_1
Dengan cepat Alexander bangkit dari kursinya, dan berjalan kearah tembok, dan secepat kilat tangan besarnya langsung menghantam tembok dengan kerasnya
"Aaarrrgghhh....." teriak Alexander penuh emosi