
Tuan Anton menarik dengan pelan tangan Junior yang terletak di atas perutnya. Lalu diletakkannya di atas ranjang. Setelah itu Tuan Anton dengan mengendap-endap berjalan keluar dari kamar Junior.
"Bagaimana Tuan, apa Junior sudah tidur?" tanya Sania
Tuan Anton mengangguk
"Iya, dia sudah tidur. Dan maafkan saya Sania, karena saya tidur di kamar kamu"
Sania terpaksa tersenyum mendengar ucapan tuan Anton
"Bagaimana, apakah semua sudah siap?" tanya Tuan Anton kepada dua bodyguard-nya.
"Sudah tuan. Semuanya sudah siap. Dan saya sudah siap mengantarkan Anda ke helipad. Dan setelah itu saya juga siap balik lagi ke sini sesuai dengan perintah tuan"
Tuan Anton mengangguk mendengar ucapan bodyguardnya tersebut.
Lalu Tuan Anton menoleh kembali kepada Sania dan mami Ajeng
"Nyonya, saya menitipkan cucu saya lagi pada Nyonya. Dan sama kamu tentunya Sania. Karena kamu sebagai mamanya. Jaga dan lindungi cucu saya"
"Jangan sampai buat dia mengamuk lagi. Dan apabila dia mengamuk lagi mencari saya, kalian cepat hubungi saya. Saya juga meninggalkan dua bodyguard saya di sini untuk berjaga-jaga. Dan yang paling penting mereka saya tugaskan untuk menjaga cucu saya"
Mami Ajeng dan Sania hanya bisa menganggukkan kepala mereka mendengar ucapan Tuan Anton.
Setelah itu Tuan Anton langsung menjabat tangan Mami Ajeng dan Sania. Kemudian beliau keluar dari dalam rumah Mami Ajeng.
Baru saja Tuan Anton melangkahkan kakinya sampai di teras, terdengar sebuah teriakan yang terpaksa menghentikan langkah kakinya.
Sania yang begitu mendengar teriakan Junior langsung berlari masuk ke dalam kamar.
Dilihatnya anak semata wayangnya itu telah duduk dengan terus menggerakkan kepalanya sambil memejamkan matanya
Sania segera memeluk Junior dan menenangkannya.
Dan Tuan Anton yang kembali berlari ke arah kamar Junior, hanya terpaku di depan pintu.
"Kenapa Mama ada di sini?, aku maunya disini itu Opa" kemudian Junior kembali menggerak-gerakkan kepala dan hidungnya.
"Opa?, kenapa opa hanya berdiri di sana?, apa Opa mau pergi?"
Mulut tuan Anton langsung ternganga begitu mendengar ucapan Junior barusan. Sedangkan Sania hanya bisa menarik nafas panjang.
"Believe or Not, indera pendengaran dan indera penciuman Junior itu sangat kuat tuan Anton. Jadi Junior bisa merasakan jika Tuan masih ada di sini".
Tuan Anton akhirnya tidak bisa berbuat apa-apa selain kembali masuk dan duduk di sebelah Junior.
"Opa mau pergi ?" tanya Junior mengintimidasi yang kembali membuat tuan Anton tidak bisa berkata-kata. Selain menarik nafas panjang.
"Jangan Opa kira, jika aku bisa dibohongi".
Kembali mulut Tuan Anton ternganga dan dia menggeleng tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya. Seorang Junior, anak kecil yang baru berusia enam tahun bisa mengatakan kalimat seperti orang dewasa.
"Mama, karena Opa mau pergi, dan aku ingin ikut dengannya, jadi mama tolong siapkan pakaian aku sekarang"
__ADS_1
Giliran mulut Sania yang ternganga mendengar ucapan anaknya.
"Sayang, maafkan Opa ya, anak Opa saat ini masih koma, dan dia belum juga sadar. Jadi dengan terpaksa Opa harus kembali lagi ke rumah sakit. Kan Opa sudah bilang, jika Opa akan sering-sering kesini"
Mendengar alasan Tuan Anton yang hanya-hanya itu saja, membuat Junior langsung menepis tangan tuan Anton lalu berlari keluar dari dalam kamarnya
"Junior!!!!" teriak tuan Anton ketika melihat Junior terjatuh karena menabrak bodyguard yang berdiri di depan pintu
Tak berhenti sampai di sana, Junior kembali bangkit dan seperti orang biasanya, dia berlari cepat di dalam rumah mami Ajeng
Dia langsung berlari menaiki tangga. Dan Sania pun ikut mengejar Junior yang saat ini sudah berdiri di ujung tangga sambil merentangkan kedua tangannya
"Jika Opa atau pun mama menghalangi saya pergi ikut Opa, maka saya akan melompat!"
"Tidak!!!!" teriak Sania kencang
"Jangan!!!!" tuan Anton juga berteriak berbarengan dengan Sania.
Segera dia berlari menaiki tangga, baru separuh tangga Junior kembali berteriak yang kembali membuat seisi rumah bordil khawatir
"Opa stop di sana!!!"
Tuan Anton sontak menghentikan langkahnya, tangannya terulur ke atas sambil terus memohon agar Junior tidak gegabah
Deno yang juga masuk langsung berlari menaiki tangga
"Tidak ada yang boleh naik!!!"
"Alexander!!!" geramnya
"Seluruh gen yang ada pada dirimu begitu melekat pada anakmu, sampai dengan tingkah nakal mu pun juga melekat padanya"
Deno yang berdiri di sebelah tuan Anton mendengar jelas apa yang tadi dikatakan oleh tuan Anton. Deno menoleh ke bawah, dimana semua penghuni rumah bordil tengah mendongakkan kepala mereka melihat ke atas tangga
"Junior jangan ya...." bujuk Mami Ajeng.
"Oma nggak boleh naik, kalau Oma naik, aku melompat!"
Kembali terdengar suara teriakan panik dari seluruh penghuni rumah bordil ketika Junior perkata demikian.
"Oke mama menyerah, Junior boleh ikut Opa, tapi Junior turun dulu!!" teriak Sania.
Junior langsung menurunkan kedua tangannya dan terlihat tersenyum.
Kemudian dia melangkah menuruni tangga, tapi dengan cepat Tuan Anton berlari ke arahnya dan langsung mendekapnya.
"Tolong jangan pernah lakukan ini lagi. Jika terjadi sesuatu apapun pada kamu, Opa adalah orang yang akan paling menyesal di dunia ini" lirih Tuan Anton dengan hati trenyuh.
Lalu Tuan Anton segera membawa Junior menuruni tangga sambil menggendongnya. Ketika sampai di depan Sania, tuan Anton menoleh dan berkata
"Sania, kamu segera siapkan barang Junior dan juga pakaian kamu. Kita terbang ibukota sekarang juga!"
Sania tidak punya pilihan lain selain menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Baru juga Sania hendak melangkah kan kakinya kembali Tuan Anton menghentikannya.
"Kamu tidak usah bawa apa-apa, nanti ketika tiba di ibukota, kita beli!"
Sania kembali hanya mengangguk.
Mami Ajeng dan seluruh penghuni rumah bordil ini segera mendekap Sania ketika dia berpamitan. Dan Ketika tuan Anton meminta Junior untuk berpamitan pada mereka, mereka semua langsung menangis sambil bergantian mencium pipi Junior.
"Tolong jangan bawa lama-lama Junior di sana ya Tuan. Setelah selesai semua urusan tuan, segera antarkan kembali Junior ke sini" lirih mami Ajeng sambil berlinang air mata
Tuan Anton mengangguk ke arah mami Ajeng dan dia begitu terharu melihat betapa seluruh penghuni rumah bordil ini sangat menyayangi cucunya.
Setelah itu secara bersama mereka berlima keluar dari rumah bordil ini dengan diantarkan penghuni yang lain sampai teras.
"Junior biar sama saya saja Tuan. Biar saya yang menggendongnya" ucap salah satu bodyguard karena dilihatnya jika tuan Anton tampak keberatan membawa tubuh besar Junior
"Tidak, biar cucu saya sama saya saja. Apa kamu tidak lihat tadi jika dia cuma maunya sama saya?"
Bodyguard tersebut hanya menelan ludahnya mendengar jawaban dingin Tuan Anton.
Segera salah satu dari mereka membuka pintu mobil untuk Tuan Anton dan Sania masuk
Dan kembali ketika di dalam mobil Sania berinisiatif untuk membawa Junior duduk di pangkuannya. Tapi kembali niat baiknya ditolak oleh Junior
"Tidak, aku hanya ingin duduk di pangkuan Opa, aku tidak mau nanti Opa pergi lagi dari sini".
Sania menarik nafas panjang mendengar jawaban anaknya. Tapi berbeda dengan tuan Anton, dia tersenyum lebar mendengar jawaban cucunya yang sangat membuat senang hatinya itu.
Segera mobil mundur keluar dari halaman rumah bordil mami Ajeng. Dan gadis-gadis penghuni rumah lainnya hanya menatap iri ke arah Sania yang saat ini melambaikan tangannya. Bahkan beberapa diantaranya bergumam
"Kalau nasib akan semujur ini, Aku juga mau diperkosa"
Tentu saja jawaban mereka itu mengundang reaksi yang lainnya dengan memukul kepalanya bahkan mami Ajeng sampai mencubit pipinya dan melotot kan matanya.
Dan mobil yang dikendarai oleh bodyguard sekarang sedang menuju helipad.
Begitu sampai di helipad, tuan Anton langsung menoleh ke arah Sania
"Kita naik helikopter, kamu berani kan?".
Sania tidak menjawab tapi wajahnya langsung tegang.
Kemudian seorang Bodyguard mengambil alih Junior dari gendongan tuan Anton dan yang satunya membantu tuan Anton naik ke helikopter. Begitu tuan Anton sudah duduk, Tuan Anton langsung mengulurkan tangannya untuk mengambil Junior kembali
Setelah Junior bersama tuan Anton, Bodyguard tersebut membantu Sania untuk naik. Barulah setelah itu keduanya naik dan helikopter langsung mengudara.
"Apakah kamu senang?" tanya Tuan Anton. Junior mengangguk sambil tersenyum. Kemudian Tuan Anton mengusap kepala Junior dengan sayang
"Hebat cucu opa, apakah Junior tidak takut dengan ketinggian?" kembali tuan Anton bertanya
"Tidak opa, karena bagi saya tinggi dan rendah itu sama saja. Karena kan saya tidak bisa melihat".
Tuan Anton langsung membuang mukanya dan terlihat memejamkan matanya karena disaat itu tiba-tiba dia merasakan sedih yang teramat dalam mendengar jawaban polos Junior
__ADS_1