
"Iya, saat itu karena Sania tak bisa jauh dari kameranya, karena itu adalah salah satu sarananya bekerja makanya saya memberikan izin cuti dua hari padanya"
Alexander menarik nafas panjang, jelas sekali gugup di wajahnya
"Apa kata Sania pak?"
Gantian pak Doni yang bingung mendengar jawaban Alexander
"Sania bilang dia sudah bertemu anda dan kameranya juga sudah kembali"
Alexander mengangguk-anggukkan kepalanya dengan pelan
"Dua bulan setelah aku pergi...." gumamnya
Pak Doni mengangguk dan menatap bingung pada dua turis yang duduk di depannya
"Sebenarnya ada apa tuan berdua mencari Sania?"
Kembali Alexander menarik nafas panjang
"Saat itu terjadi kecelakaan saat dia menjadi tour guide saya, dan dirawat di rumah sakit, tapi saya tidak menungguinya sampai dia keluar dari rumah sakit karena saya harus kembali ke ibukota karena tuntutan pekerjaan"
"Ah iya, anda benar, memang ada cukup lama Sania tidak kembali kerja, saya sudah sangat khawatir saat itu, tapi setelah saya telepon rupanya Sania pulang ke rumah orang tuanya karena dia sakit"
"Lalu pak?" tanya Mark karena dilihatnya Alexander kian gelisah
"Ya Sania bekerja kembali seperti biasa, sampai akhirnya dia terpaksa saya istirahatkan karena hal yang tidak bisa saya toleransi"
"Apa itu pak?" kembali Alexander memaksa
"Maaf sekali tuan, saya tidak bisa mengatakan apapun tentang Sania. Karena sejak hari dia resign, sampai detik ini saya tidak pernah bertemu ataupun mendapatkan kabarnya lagi"
Alexander mengusap wajahnya dan tampak tercenung. Dia yakin sesuatu yang buruk telah menimpa Sania
"Bapak tahu alamat rumahnya?"
Pak Doni menggeleng
"Tolonglah pak...." mohon Alexander dengan suara lemah
"Mungkin teman-teman satu mess nya dulu tahu dimana alamat Sania, sebentar saya telepon mereka dulu"
Alexander dan Mark mengangguk
"Dhe, kamu tahu alamat Sania?"
Dhea yang tahu jika ini pasti permintaan Alexander menjawab dengan cepat
"Tidak pak"
"Oh begitu ya?, baiklah jika kamu tidak tahu, yang lain ada yang tahu?"
"Tidak pak, kan Sania cuma bekerja sebentar, jadi kita belum pernah ada yang main ke rumah satu sama yang lainnya"
Pak Doni mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar jawaban Dhea
Setelah mengakhiri obrolan dengan Dhea pak Doni menggelengkan kepalanya kearah Alexander dan Mark
__ADS_1
"Sania dulu hanya beberapa bulan bekerja di tempat kami, juga teman-temannya tidak tahu dimana alamatnya, hanya dulu Sania pernah berkata jika rumahnya di daerah S, empat jam dari sini"
"Kita kesana Mark....!"
"Nanti dulu, kita cari alamatnya yang tepat, jangan kita sudah jauh-jauh kesana tapi kita malah salah alamat, saya yakin kota S itu luas, dan kita tidak tahu rumah Sania di daerah apa"
Pak Doni makin penasaran mendengar percakapan dua tamunya, terlebih ketika dilihatnya jika Alexander sangat gelisah
"Apa anda ayah dari anak yang dikandung Sania?" tanya pak Doni tajam yang membuat jantung Alexander serasa berhenti berdetak
"Apa pak?" tanya Mark
Pak Doni menganggukkan kepalanya
"Sania saya pecat karena dia ketahuan hamil dan berniat aborsi"
Wajah Alexander kian tegang, berkali-kali dia menarik nafas panjang dan mengusap wajahnya
"Tolong ceritakan yang sebenarnya pak" pinta Mark
"Sania hamil dan itu saya dapati dari video yang dikirim teman satu mess nya, kemudian dalam video itu juga terlihat jika Sania berniat aborsi, dan Dhea yang mengantarnya, karena itulah makanya dia saya pecat, saya tak ingin nama perusahaan saya buruk"
"Sania....." desis Alexander
Mark dengan cepat memegang pundak Alexander ketika dilihatnya keadaan Alexander kian kacau
"Ayo Mark, kita harus cari Sania, aku sangat yakin jika itu anakku" ucap Alexander yang segera berdiri dan keluar dari kantor pak Doni
Sepeninggal dua tamunya, pak Doni bengong dan mengusap wajahnya berkali-kali dan menarik nafas panjang
"Dhea cepat kembali ke kantor sekarang juga, tugas kamu akan digantikan dengan yang lain" ucap pak Doni di hp ketika beliau menghubungi Dhea
Selesai menelepon Dhea pak Doni berjalan cepat keluar dari kantornya, mengejar Alexander dan Mark
"Tuan tunggu!" teriak pak Doni ketika dilihatnya Mark dan Alexander telah keluar dari kantornya
Mark dan Alexander menghentikan langkah mereka
"Kita tunggu Dhea, saya yakin Dhea tahu semuanya, karena dulu hanya Dhea teman dekat Sania"
Mark dan Alexander saling toleh lalu menganggukkan kepala mereka
Dan Dhea yang naik ojek online agar cepat sampai di kantor segera turun ketika ojek berhenti di halaman kantor
"Pak Doni dimana?" tanyanya pada petugas yang ada di depan
"Di ruangannya kak"
Tanpa mengucapkan terima kasih Dhea segera berjalan kearah ruangan pak Doni
Sampai di depan ruangan tersebut dia mengetuk pintu sebelum akhirnya terdengar jawaban pak Doni
Dhea melirik sekilas kearah Alexander yang menatap tak berkedip padanya
"Silahkan duduk" ucap pak Doni yang dijawab Dhea dengan anggukan kepala
Dhea duduk berseberangan dengan Alexander, dan Dhea berusaha bersikap biasa saja, walau sebenarnya jantungnya berdebar-debar
__ADS_1
"Bapak sudah cerita mengapa Sania bapak pecat" buka Pak Doni
Dhea bergeming menunggu kelanjutan cerita pak Doni.
"Dan tuan Alexander ini tadi bilang jika beliau yakin anak yang dulu dikandung Sania adalah anaknya"
Dhea langsung menatap Alexander tanpa berkedip
"Dan tuan Alexander ini meminta pada kita untuk memberitahu dimana alamat Sania, mungkin saja kamu tahu, karena seingat bapak, dulu kamu adalah satu-satunya teman dekat Sania"
Dhea mengangguk mendengar perkataan pak Doni
"Tapi aku sungguh tidak tahu dimana Sania sekarang pak, dulu dia pernah bilang jika dia mau pulang ke rumah mamanya, tapi baru sebentar di sana, dia diusir mamanya karena mamanya malu Sania hamil tanpa suami"
Kembali jantung Alexander berdegup kencang mendengar jawaban Dhea
"Terus?" desak Mark
Dhea menggeleng
"Setelah itu aku tidak tahu dimana Sania, karena setelah itu kami lost contact sampai sekarang"
Alexander menutup wajahnya
"Apa yang harus kita lakukan sekarang Mark?, ternyata filling ku selama ini benar" lirihnya dengan raut wajah sedih
"Mark, kita harus mencari dimanapun Sania berada, bila perlu kita kembali ke rumah orang tuanya, kita tanyakan pada orang tuanya dimana Sania, aku yakin Sania pasti kembali kesana"
Dhea menggeleng
"Di sana kalian tidak akan menemukan Sania, karena Sania telah diusir mamanya dan tidak dianggap anak lagi karena membuat aib keluarga"
Alexander menarik nafas panjang
"Apa selama enam tahun ini kamu tidak pernah bertemu dengannya barang sekalipun?"
Dhea menggeleng
"Jikapun aku menemukan Sania, tentulah aku akan membawanya tinggal bersamaku, aku tentu tak akan pernah meninggalkannya sendiri dengan janin yang saat itu dipertahankannya"
Tiga lelaki yang ada di ruangan ini terdiam mendengar ucapan Dhea
"Jadi Sania tidak jadi menggugurkan janinnya?" tanya Mark
Dhea menggeleng
"Saat itu Sania telah siap untuk aborsi, tapi rasa sayangnya pada janinnya menyadarkannya bahwa anak tersebut berhak hidup walau tanpa ayah"
"Mark..." lirih Alexander dengan suara bergetar
"Saya rasa hanya itu yang saya ketahui pak, selebihnya saya tidak tahu lagi, mungkin jika memang Sania terus mempertahankan janin tersebut saya yakin, sekarang anak itu telah besar"
Kembali Alexander harus menarik nafas panjang dan diam tercenung
"Saya permisi pak, pekerjaan saya belum selesai, saya tak ingin perusahaan bapak di nilai tidak baik oleh turis karena ada tour guide nya tidak bekerja profesional" ucap Dhea yang membuat pak Doni menjadi galau dan menyetujui Dhea untuk kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda
Dhea langsung bangkit dari sofa, melirik sekilas kearah Alexander yang tertunduk dalam lalu mengangguk hormat kearah pak Doni, kemudian dia langsung keluar dari ruangan tersebut
__ADS_1
Setelah berada di atas ojek yang akan membawanya kembali ke para turis yang memakai jasanya, Dhea mengetik pesan pada Sania
Ada Alexander dan dia mencari lu San