
Sandra menoleh ke arah dua lelaki yang beberapa hari ini dilihatnya seperti menguntit dirinya.
"Apa perasaan aku saja ya?, tapi rasa-rasanya dalam beberapa hari ini aku sering melihat dua lelaki ini seperti menguntit ku. Apa mereka memang sedang mengintai ku ya?" gumam Sandra dalam hati.
"Aku kok jadi lebay begini ya?. Ini kan kota besar, tentu saja banyak orang berlalu lalang. Ngapain juga aku berpikiran jika mereka menguntit ku?" gumam Sandra kembali cuek dengan masuk ke dalam mall.
Dan dua orang suruhan Milena yang disuruh untuk menyelidiki Sandra beberapa hari, ini segera melaporkan kepada Milena jika mereka sama sekali tidak pernah melihat Sandra berjalan atau bertemu dengan Alexander.
"Kalian yakin?" tanya Milena ketika menerima panggilan dari salah satu orang suruhannya.
"Kami sangat yakin Nona. Bahkan hampir dua puluh empat jam kami mengintai perempuan itu. Dan selama lebih dari satu minggu ini, sama sekali kami tidak pernah melihat perempuan itu berjalan atau bertemu dengan tuan Alexander. Perempuan itu hanya berjalan sendiri dan kerjanya setiap hari hanya belanja belanja belanja dan belanja"
"Kalian segera kirimkan di mana lokasi apartemen perempuan itu tinggal. Bila perlu sekarang kalian beritahu aku di mana saat ini perempuan itu berada. Aku ingin segera menemuinya secara langsung"
Dengan cepat lelaki yang tadi menelpon Milena langsung memberikan lokasi mereka saat ini dan menunjukkan di mana Mall tempat Sandra saat ini berada.
Dan Milena begitu melihat lokasi yang dikirimkan oleh orang yang disuruhnya segera bergegas keluar dari dalam kantornya.
Dan kembali perbuatannya ini memantik rasa penasaran di hati tuan Jeremy, karena tidak biasanya Milena bersikap aneh seperti ini.
Tapi Tuan Jeremy tidak menghentikan langkah Milena, beliau hanya melihat dan mengawasinya saja.
Milena yang sudah berada di lantai dasar, segera berjalan menuju mobilnya dan segera memundurkan mobilnya tersebut dan keluar dari area kantor.
Setengah jam berikutnya, Milena sudah berada di mall yang tadi di sebutkan oleh orang suruhannya.
Karena tidak ingin terlalu mencolok perhatian orang-orang, Milena segera berjalan menuju pusat perbelanjaan.
Wanita itu di bagian apa? ketik Milena melalui pesan singkat lalu dikirimkan ke orang suruhannya yang masih berada di dalam mall tersebut.
Dilantai dua, bagian kebutuhan pokok.
Dengan cepat Milena langsung naik eskalator. Dan langsung menuju ke bagian kebutuhan pokok yang tadi dikatakan oleh orang suruhannya .
Ketika Milena tiba di lantai dua, dia melihat dua orang suruhannya juga seperti sedang berbelanja. Dan ketika mereka saling lihat, mereka pura-pura tidak saling kenal.
Dan salah satu dari orang keseluruhannya tersebut melirik dan memberi kodr ke arah jam sembilan yang membuat Milena langsung bisa melihat dengan jelas Sandra yang sedang mendorong troli.
Milena yang saat ini juga mendorong troli, segera mencari arah agar dia bisa berpapasan dengan Sandra.
Dan mulailah Milena melancarkan aksinya dengan pura-pura memilih barang.
Karena Milena tidak biasa berbelanja kebutuhan pokok, jadi dia sedikit kebingungan kira-kira apa yang harus dibelinya.
Dan ketika Milena menjatuhkan salah satu barang ke lantai, membuat Sandra yang berada di ujung menoleh ke arahnya.
Dan secara tak sengaja pandangan mereka langsung beradu. Sandra yang masih memendam rasa sakit hati dan kesal kepada Milena, segera membuang mukanya ketika pandangan mereka beradu.
__ADS_1
Dan hal itu membuat ego Milena sedikit naik, karena dia kembali merasa diabaikan.
Dengan cepat Milena mendorong troli lalu segera bergegas berjalan menuju ke arah Sandra.
"Heh sekretaris genit!!" panggil Milena untuk memancing reaksi Sandra.
Dan Sandra, yang memang sudah tahu kebiasaan Milena tidak memperdulikan panggilan gadis tersebut. Sandra terus saja mengambil barang-barang kebutuhannya.
"Ini kan masih jam kantor, kok kamu sudah berkeliaran di luaran?" tanya Milena dengan nada sinis ketika dia sudah berdiri bersebelahan dengan Sandra.
Sandra yang semula sedikit berjongkok ketika mengambil barang, langsung menegakkan tubuhnya.
"Terserah gue dong. Orang itu kantor bukan kantor lu. Terus ngapain lu mau marah?"
Gigi Milena sedikit gemeletuk ketika dia mendengar jawaban ketus dari Sandra.
"Lu nggak inginkan, gue telepon calon suami gue. Terus bilang kalau saat ini elu sedang kelayapan?".
Secara spontan Sandra langsung tertawa terkekeh mendengar jawaban Milena. Sampai tubuhnya terbungkuk-bungkuk saking dia tertawa geli.
"Lu bilang, Alexander calon suami lu?, Lu yakin?" tanya Sandra dengan mimik wajah yang sangat membuat Milena kesal.
"Kenapa nggak yakin. Jelas gue yakin dong karena Alexander itu mencintai gue dan kita akan segera menikah" jawab Milena pasti karena dia ingin memancing kelanjutan ucapan Sandra.
"Hah, menikah? lu yakin akan dinikahi sama Alexander?, mimpi lu!!!"
"Anak? Lu bilang Alexander punya anak?" tanya Milena dengan mimik wajah seolah-olah dia kaget yang membuat Sandra refleks menutup mulutnya.
"Ya ampun....., kasihan banget sih nasib lu? bertahun-tahun mengharapkan Alexander, eh ternyata Alexander punya anak dari perempuan lain".
Milena yang tidak menyangka jika jawaban Sandra akan kembali menyudutkannya, kembali memasang wajah kesal.
"Dari mana lu tahu, jika Alexander punya anak?. Lu jangan buat fitnah ya. Lu kan tahu, Alexander itu siapa dan gue siapa" jawab Milena berusaha untuk lebih tenang.
"Ya udah kalau nggak percaya. Orang di bilangin juga" jawab Sandra dengan santai lalu segera mendorong troli berlalu dari hadapan Milena.
Tapi laju troli yang didorong oleh Sandra terpaksa berhenti, ketika trolinya ditabrak oleh orang suruhan Milena.
Lalu dengan cepat pundak Sandra langsung dicekal kuat oleh Milena.
"Lu segera ikut gue. Gue harus dengar penjelasan lebih lanjut dari omongan elu tadi"
Sandra langsung menatap dua orang suruhan Milena yang saat ini berdiri di hadapannya dengan tatapan tajam.
"Dan kalau lu nggak mau, dua orang ini akan gue suruh untuk menghabisi nyawa lu" tambah Milena dengan nada dingin yang membuat bulu kuduk Sandra langsung meremang.
Dengan menelan ludah, Sandra hanya bisa mengangguk. Dan ekspresi wajahnya yang semula sangat menjengkelkan, berubah menjadi pucat pias penuh ketakutan.
__ADS_1
"Kalian berdua, urus belanjaan perempuan ini, bawa ke kasir. Kemudian kalian susul kami" ucap Milena, yang dijawab oleh orang suruhannya dengan menganggukkan kepala.
"Ayo, lu ikut gue!" ucap Milena dengan nada yang kembali dingin ke arah Sandra yang mengekor di belakangnya.
Segera Milena mengajak Sandra ke bagian coffee shop dan memesan dua cangkir cappucino.
"Gue orangnya nggak bisa basa-basi. Lu udah tahu sendiri kan bagaimana gue. Silahkan lu ceritakan apa maksud dari omongan lu tadi".
Sandra bukanlah gadis bodoh, dia pintar dan sama liciknya seperti Milena. Dia segera mengatur siasat untuk membuat Milena menjadi ATM berjalannya.
"Gue nggak bohong. Semua yang gue katakan itu tadi benar. Alexander memang punya anak dari perempuan lain. Dan sayangnya gue mengenal siapa perempuan itu"
Wajah Milena langsung terkesiap begitu mendengar jawaban dari Sandra.
"Sumpah demi apa jika Lu jujur?".
"Come on Mil. Gue itu udah dipecat sama si Alexander. Gara-gara gue itu melakukan kesalahan dengan tidak memberitahunya jika perempuan, Ibu dari anaknya itu datang ke kantor. Alexander itu habis-habisan marahin gue dan akhirnya gue dipecatnya"
Segera Milena mengambil cangkir cappucino yang ada di hadapannya, kemudian menyeruputnya. Lalu memandang dalam ke arah wajah Sandra.
"Sejak kapan lu tahu jika Alexander mempunyai wanita lain, selain gue?".
Kembali Sandra tertawa sinis mendengar pertanyaan Milena.
"Lu yakin, jika selama ini Alexander itu setia sama lu dan tidak berpaling sama perempuan lain?" Sandra balik bertanya ke arah Milena.
Milena terpaksa menarik nafas panjang. Lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi dan kembali menatap dalam ke arah Sandra.
"Gue sadar jika Alexander itu seorang Don Juan. Tapi yang nggak gue sadari itu adalah dia punya anak dari perempuan lain"
Setelah mengatakan kalimat tersebut Milena tampak tersenyum getir.
"Jujur gue kaget mengetahui jika Alexander punya anak dari perempuan lain. Dan yang lebih kaget lagi adalah lu tahu perempuan itu siapa. Artinya selama ini lu berpihak kepada Alexander. Tapi sayangnya, sejauh pengorbanan lu sama dia, lu malah dipecat sama Alexander"
Sandra segera melengos mendengar jawaban sinis dan setengah mencemooh dari Milena.
"Sudahlah, jika elu ngajak gue nongkrong di sini cuman Elu mau mengasihani nasib gue, Lu salah. Karena sebenarnya yang patut dikasihani di sini adalah diri lu sendiri. Bukan gue" jawab Sandra telak, tak kalah sinis nya.
"Lu nggak boleh pergi dari sini, sebelum elu mengatakan perempuan itu siapa" cegah Milena ketika melihat Sandra sudah berdiri dari kursinya.
"Suka-suka gue dong mau pergi. Kan selama ini kita bermusuhan. Nggak bestie".
"Lu nggak lihat dua orang lelaki yang duduk di sana?. Sedikit saja lu macam-macam sama gue, dengan hanya menjentikkan ujung jari saja, nyawa lu bisa melayang".
Rahang Sandra mengeras, dan dia memejamkan sebentar matanya, lalu menggerakkan pelan kepalanya. Dengan kesal lalu dia menoleh ke arah Milena.
"Lu mau apa?".
__ADS_1
Wajah Milena seketika langsung tersenyum menyeringai mendengar pertanyaan Sandra.