Kejahatan Alexander Louise

Kejahatan Alexander Louise
Gugupnya Alexander


__ADS_3

Sania terbelalak kaget ketika diberitahu mami Ajeng bahwa ada seseorang yang membookingnya dengan bayaran fantastis


"Siapa orangnya mi?"


"Nama akunnya sih Mr. Key, sepertinya orang luar"


Sania diam, pikiran buruk mulai menghantuinya, jangan-jangan itu Alexander


Tapi tidak mungkin, bad boy seperti dia tidak akan mungkin kembali lagi kesini, kan Dhea bilang dia sudah kembali ke ibu kota?


Ah terserahlah siapapun orang itu, yang penting dia sudah bersedia membayar mahal untuk berkencan denganku, batin Sania lagi


"Kamu nanti akan dijemput, dan mami harap kamu tidak mengecewakan orang yang telah membayar mahal kamu, ingat Sania, seumur hidup mami baru kali ini ada anak mami yang dibooking dengan bayaran sefantastis kamu"


Sania menganggukkan kepalanya sambil tersenyum malu


"Mungkin ini juga rezekinya Junior" sambung Mami Ajeng


"Mungkin ya mi, tapi rezekinya kok dengan cara ini ya mi?" jawab Sania sendu


"Kita tidak tahu apa yang ada di balik ini semua San, yang penting kamu berusaha saja semampu kamu, sudah mami bilang diawal, tidak ada wanita yang ingin menjadi seperti kita, tapi karena kita tidak ada pilihan lain, makanya kita harus melakukan ini"


"Mami benar, dan aku sudah sadar dengan konsekuensi yang harus aku terima, tapi aku bersyukur ada mami yang menerima aku, jika tidak entah akan jadi apa aku dan anakku"


Mami Ajeng menggenggam tangan Sania berusaha menguatkan wanita itu yang saat ini matanya telah berkaca-kaca


"Sudah ah jangan nangis, sana istirahat dulu karena malam ini kan kamu harus kerja, Junior mana?"


Sania tersenyum dan berusaha menghapus air matanya


"Ada sama kakak-kakak di bawah mi, dia bercerita bagaimana keseruannya semalam bermain dengan sahabat lama saya"


"Oh ya?, mami ingin turun juga, mendengarkan cerita seru dari cucu bule mami"


Sania terkekeh dan bersama Mami, mereka keluar dari dalam kamar dan menuruni tangga menuju ruang tengah dimana terdengar suara riuh tertawa


"Mama pasti sama oma?" ucap Junior memutar kepalanya


Mami Ajeng tersenyum, dia sudah tahu jika indera penciuman Junior sangatlah tajam


"Sini sama oma" ucap mami Ajeng yang langsung memangku Junior


"Ayo coba cerita bagaimana semalam? katanya ketemu aunty Dhea, ya?"


Dengan ringan Junior mulai bercerita dan yang lain mendengarkan dengan antusias


"Ada Om yang ngajak Junior foto Oma"


Mami Ajeng dan yang lain langsung menatap kearah Sania


"Siapa San?"


Sania angkat bahu,


"Katanya sih pegawai di sana"


Semuanya ber O panjang mendengar jawaban Sania


"Hati-hati, karena kita tidak tahu orang tersebut orang baik apa bukan"


Sania mengangguk mendengar ucapan mami


"Kalian istirahatlah, kalau belum makan silahkan makan, biar cucu oma sama oma saja" ucap mami Ajeng sambil segera memeluk dan menciumi wajah Junior


"Kita kemana oma?" tanya Alexander yang diajak oma berdiri

__ADS_1


"Ke depan, kita beli jajanan yang lewat, mau kan?"


Wajah Junior langsung sumringah yang membuat Sania makin respect pada mami Ajeng


----------------


Jam tujuh malam, tiga gadis malam di rumah bordil ini telah berdandan cantik semua, semuanya tengah menunggu jemputan mereka, dan diantara mereka tak tampak adanya Sania karena gadis itu masih berada di dalam kamarnya


"Junior sama aunty Helen dulu ya, mama mau kerja" bujuk Sania ketika Junior mendadak tak mengizinkannya pergi


"Nggak mau, Junior mau ikut mama"


"Nggak bisa sayaanggg"


"Kalau begitu mama nggak boleh pergi"


Sania menarik nafas panjang menghadapi Junior yang tiba-tiba keras kepala


"Junior sama Om Deno aja mau?"


"Nggak!!!"


Sania kembali menarik nafas panjang dan bingung harus bagaimana, tidak mungkin dia bekerja dengan membawa Junior, apa nanti kata pelanggannya?


Dengan sedikit ragu Sania menelepon mami Ajeng


"Mi, Junior ngamuk nggak ngebolehin aku kerja"


"Kamu berangkat aja, biar Junior sama mami"


Tak lama pintu kamar Sania diketuk dan muncul mami Ajeng, terus mami Ajeng langsung mendekap Junior dan meminta Sania untuk segera keluar


"Mama mau kemana?"


Dengan menelan ludah, Sania kembali duduk di sebelah putra semata wayangnya


"Sayang, jika mama nggak kerja, nanti mama kena marah sama bos mama, Junior mau mama dipecat sama bos mama?"


Junior diam, kepalanya bergerak-gerak dan Sania dengan cepat mengusap kepalanya


"Mama kerja karena mengumpulkan uang untuk biaya operasi mata kamu nak, apa kamu nggak ingin melihat wajah mama?"


Junior masih diam, anak berumur lima tahun itu tidak mengerti permasalahan berat apa yang saat ini sedang dihadapi sang mama


"Kan Junior sudah sering bilang, K


Junior lebih baik buta mama, agar Junior tidak banyak dosa"


Sania langsung mendekap putranya dengan mata yang berkaca-kaca


"Tidak nak, mama akan membuat Junior bisa melihat itu janji mama"


Junior menggerakkan kedua tangannya di wajah Sania, lalu dia tertegun


"Mama nangis?"


Dengan cepat Sania menghapus air matanya yang mengalir


"Iya mama boleh pergi, tapi mama jangan nangis lagi"


Sania kembali mendekap Junior dan berusaha sekuat tenaganya menahan air matanya


"Mama janji akan secepatnya pulang, Junior nggak boleh nakal sama oma ya nak"


Junior mengembangkan senyum manis di wajahnya, lalu Sania mengecup kedua pipi Junior dan menganggukkan kepalanya kearah mami yang sekarang mengelus kepala Junior

__ADS_1


Saat Sania sampai di teras, dilihatnya jika tiga temannya yang lain sudah tak ada lagi di sana


"San?!" panggil sebuah suara


Sania melongokkan kepalanya kearah rombongan Deno yang sedang duduk agak jauh di depan


Deno berlari kecil kearahnya


"Tuh kamu sudah ditunggu"


Tangan Sania mengikuti telunjuk Deno kearah sebuah mobil yang terparkir di luar pagar


Sania menganggukkan kepalanya kearah Deno lalu dia segera menuruni tangga teras, berjalan di halaman lalu menuju kepintu gerbang dimana telah ada sebuah mobil menunggunya


"Nona Nahla?"


Sania menganggukkan kepalanya kearah seorang pria yang langsung membuka pintu mobil ketika dia menganggukkan kepalanya


"Bapak sudah lama menunggu?"


"Tidak nona, sekitar lima belasan menit"


Sania melihat jam di hpnya yang menunjukkan hampir pukul delapan malam


"Ya Tuhan....." gumam Sania agak panik


"Tempatnya jauh pak?"


"Tidak nona, sekitar setengah jam kita sudah sampai"


Sania mengangguk sambil tersenyum kaku lalu dia menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, termenung


Sesekali supir melihat kearahnya melalui spion. Supir tersebut tak lain adalah lelaki yang kemarin menolongnya ketika dia dicegat oleh pak Handoyo, hanya saja Sania tak ingat padanya


Tentu saja lelaki itu adalah supir sewaan Alexander yang sengaja memintanya untuk menjemput Sania agar Alexander tahu dimana tempat tinggal Sania dan anaknya


Sania masih melamun tatkala mobil telah berhenti di parkiran sebuah hotel.


"Kami sudah di parkiran bos" ucap supir tersebut di hp yang saat ini menempel di telinganya


Sania yang masih berada di dalam mobil segera membetulkan duduknya dan menatap kearah supir yang saat ini menelepon


Dan Alexander yang mendapatkan telepon dari supir sewaannya mendadak gugup dan tegang


Belum pernah dalam hidupnya dia tegang ketika akan bertemu dengan seorang perempuan seperti sekarang


"Bawa dia naik ke kamarku!"


"Baik tuan"


Lalu supir tersebut meletakkan hp kedalam sakunya dan menoleh ke belakang kearah Sania


"Nona sudah ditunggu oleh bos saya di kamarnya"


Sania mengangguk, membetulkan dress yang melekat di tubuhnya lalu merapikan rambutnya


Lalu dengan anggun dia membuka pintu mobil, berjalan demgan membawa tas tangan yang berisikan alat make up dan juga hp


"Mari...." ucap sang supir yang berjalan duluan


Sania mengekor di belakang supir dengan santai karena ini bukanlah pengalaman pertama baginya menemui klien di kamar hotel


Sedangkan Alexander yang berada di dalam kamar berjalan mondar mandir dengan gugup


Dia terus menoleh kearah pintun dengan gelisah dan makin merasa gugup ketika pintu tersebut diketuk dari luar

__ADS_1


__ADS_2