
Milena pulang ke rumah orang tuanya setelah lewat tengah hari. Dan kedatangannya langsung disambut oleh maminya dengan memberondong banyak pertanyaan.
"Kamu pergi semalam dan pulang sudah menjelang sore. Kamu ke mana saja Milena?, kamu tahu tidak, seharian ini Mami sangat mengkhawatirkan kamu, karena kamu tidak pulang semalaman".
Milena yang masuk ke dalam rumah langsung menghentikan langkahnya, dan menoleh ke arah Maminya.
"Mil semalam itu kumpul dengan teman-teman, terus kita nginap di apartemennya. Maaf ya Mi, jika membuat Mami khawatir".
Nyonya Inne yang tidak yakin dengan jawaban anaknya, segera mensejajari langkah putrinya.
"Kamu bilang sama Mami kamu ngedate. Kok sekarang kamu bilang, kamu kumpul sama teman kamu. mana ini benar?".
"Sudahlah Mi, Mil capek. Mil ngantuk, dan Mil mau istirahat"
Nyonya Inne hanya menarik nafas panjang melihat kelakuan anaknya.
Setelah itu Milena langsung naik menuju ke kamarnya dan langsung merebahkan kembali tubuhnya.
"Aku harus tahu siapa perempuan yang semalam dikatakan oleh Alexander. Aku harus menemui perempuan itu, aku harus lihat secantik apa dia sehingga Alexander bisa berpaling dariku".
"Tapi siapa perempuan itu. Karena aku sendiri tidak tahu siapa namanya. Semalam Alexander tidak menyebutkan juga siapa nama perempuan itu. Dari mana aku bisa mengetahui siapa perempuan itu?".
Milena yang berbaring tampak berpikir keras ingin mengetahui siapa sebenarnya wanita yang dimaksud oleh Alexander semalam.
"Apa aku harus menghubungi karyawan Alexander lagi ya?, Siapa tahu dia tahu wanita yang dimaksud oleh Alexander".
Milena kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu dia duduk kemudian langsung meraih tas yang diletakkannya di atas meja. Kemudian ngambil HP lalu segera menghubungi karyawan Alexander yang sudah dua kali ini bekerjasama dengannya.
Tak butuh waktu lama untuk Milena bisa tersambung dengan lelaki yang telah dua kali membantunya tersebut. Karena, begitu tersambung Milena langsung mendengar suara pria tersebut.
"Aku butuh bantuanmu, Apa kamu bisa membantu?".
"Dengan senang hati Nona. Apapun yang Nona perintahkan, akan saya laksanakan dengan segera" jawab pria tersebut.
"Kita ketemu setelah jam kantor bubar. Untuk tempatnya nanti saya akan mengirimkan lagi pesan sama kamu" ucap Milena yang dijawab oleh pria itu dengan setuju.
Setelah itu Milena mulai menyusun sebuah siasat untuk membuat rencana selanjutnya.
Bahkan Milena sampai membuat draft untuk rencananya. Apa saja yang akan dilakukannya, semuanya dia tuliskan secara rinci. Setelah itu dia membaca ulang draft yang tadi dibuatnya kemudian menyimpannya dalam hp nya.
__ADS_1
Selesai dengan membuat draft seluruh rencana yang akan dilakukannya, Milena turun ke bawah menemui maminya yang sekarang duduk di ruang keluarga.
Nyonya Inne menoleh sekilas ke arahnya, kemudian dia kembali fokus menatap layar hp-nya.
Dan Milena yang mengetahui jika maminya hanya cuek, cuma bisa menarik nafas panjang.
Karena masih juga tak ada respon dari maminya, Milena kembali berdiri, lalu beranjak dari tempat duduknya lalu keluar ke arah samping.
Dan ketika dia duduk di teras samping, kembali draft yang tadi dibuatnya dibacanya ulang.
"Apa mungkin wanita yang dimaksud oleh Alexander semalam adalah Sandra?, karena selama ini Sandra juga dekat dengan Alexander dan selalu menjadi rival terbesarku. Bisa jadi ini hanya akal-akalan Alexander saja memecatnya"
"Aku harus menyuruh seseorang juga untuk menyelidiki Alexander dan Sandra" ucap Milena sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
Kemudian tanpa pikir ulang, Milena langsung menghubungi seseorang yang disuruhnya untuk menemuinya saat ini juga.
Selesai dengan mendapatkan jawaban dari seseorang yang akan disuruhnya untuk menyelidiki Alexander dan Sandra, Milena kembali bangkit dari kursinya. Naik ke atas, ke kamarnya menyambar tas kemudian turun kembali.
"Mau ke mana lagi kamu Milena?" teriak nyonya Inne ketika dilihatnya Milena kembali melewatinya.
Milena hanya mengangkat tangannya sambil melambai.
Kemudian dia segera berjalan ke arah mobilnya dan keluar dari istana orang tuanya.
"Bagus. Silahkan tunggu di sana, sebentar lagi saya sampai" selesai berkata demikian, Milena langsung melepaskan headset bluetooth dari telinganya.
Sepuluh menit kemudian, Milena sudah berjalan ke arah tempat di mana orang suruhannya telah menunggu.
Ketika Milena sampai, dua orang lelaki bertubuh besar tersebut mengangguk kan kepala mereka ke arah Milena.
Dan tanpa basa-basi, Milena langsung menjelaskan semua apa yang diperintahkan nya kepada dua lelaki tersebut. Lalu Milena menunjukkan gambar Alexander dan juga Sandra kepada mereka.
"Pria ini pacar saya, dan yang wanita ini sekretaris pacar saya. Kalian selidiki mereka berdua. Mereka memiliki hubungan spesial atau tidak".
Dua lelaki tersebut menganggukkan kepala mereka sambil menatap HP mereka masing-masing. Karena Milena memang sudah mengirimkan foto Alexander dan juga Sandra ke HP mereka.
"Baik Nona kami akan melaksanakan semua perintah nona"
Milena menarik senyum segaris ke arah mereka berdua. Kemudian Milena mengeluarkan amplop berwarna coklat lalu memberikan ke salah satu dari mereka berdua.
__ADS_1
"Ini DP untuk kalian. Dan akan segera saya lunasi ketika tugas kalian selesai"
Kembali dua orang lelaki besar tersebut menganggukkan kepala mereka.
"Kalian boleh pergi, dan langsung kerjakan tugas kalian"
Sekali lagi dua orang lelaki berbadan besar tersebut menganggukkan kepala Mereka. kemudian berlalu dari hadapan Milena.
Setelah orang suruhan dirinya tersebut pergi, Milena kembali menempelkan HP ke telinganya. Karena dilihatnya jam kantor sudah bubar sepuluh menit yang lalu.
"Kamu di mana?, Apa sudah pulang?"tanya Milena begitu panggilannya tersambung
"Sekarang saya sudah berada di luar kantor Nona"
"Baiklah jika begitu, kamu bisa temui saya sekarang. Lokasi akan saya kirimkan saat ini juga" selesai berkata begitu Milena langsung mematikan HP. Dan langsung men share lokasi dirinya saat ini.
Hingga lima belas menit kemudian, karyawan Alexander yang tadi diminta oleh Milena untuk menemuinya sudah sampai.
Pria tersebut langsung menarik kursi lalu duduk di depan Milena. Dan Milena seperti biasanya tidak berbasa-basi, langsung ke pokok persoalan.
"Kamu tahu mengapa Sandra dipecat oleh Alexander?"
Pria tersebut diam dan tampak seperti berpikir. Kemudian pria tersebut menggelengkan kepalanya. Melihat pria tersebut menggelengkan kepalanya, membuat Milena menarik nafas panjang lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.
"Apa tidak ada isu di kantor yang menyebut hubungan mereka atau hal-hal lain begitu?"
Kembali pria tersebut menggelengkan kepalanya.
"Seluruh karyawan di kantor itu takut dengan tuan Anton dan juga tuan Alexander, Nona. Jadi kami tidak mau gegabah dengan berspekulasi sendiri"
"Ini saja karena saya nekat berkhianat kepada mereka. Jika saya ketahuan, bisa dipastikan karir saya akan tamat" jawab pria tersebut.
Milena menarik nafas panjang dan berusaha untuk tenang
"Oke jika memang kamu tidak mengetahui mengapa Sandra dipecat oleh Alexander. Tapi, jika kamu mengetahuinya segera hubungi saya"
"Pasti Nona, pasti saya akan segera menghubungi Nona jika saya mengetahuinya".
Milena kemudian menganggukkan kepalanya, lalu seperti tadi, dia mengeluarkan amplop berwarna coklat. Dan menyerahkannya pada pria tersebut yang diterima pria tersebut dengan senyum sumringah.
__ADS_1
"Segera beritahu saya informasi apapun di kantor Alexander walaupun hanya hal kecil, termasuk tentang seluruh yang Alexander lakukan di kantor" .
Kembali pria tersebut menganggukkan kepalanya lalu menyimpan amplop yang tadi diberikan oleh Milena kepadanya ke dalam tas.