Kejahatan Alexander Louise

Kejahatan Alexander Louise
Ajak Aku Menemui Anak Opa


__ADS_3

"Mama, siapa Alexander? Kenapa namanya sama seperti namaku?". ulang Junior


Sania hanya diam mendengar pertanyaan Junior.


"Opa, Alexander itu siapa?".


Junior beralih bertanya kepada Tuan Anton. Dan Tuan Anton kembali menatap ke arah Sania meminta pertimbangan pada perempuan itu, apakah dia harus menjawab pertanyaan Junior atau tidak.


Karena tidak mendapat jawaban dari mamanya maupun Tuan Anton akhirnya Junior menarik tangan Tuan Anton.


"Opa, you hear me?" Tuan Anton tersenyum mendengar pertanyaan Junior lagi.


"Alexander itu adalah anaknya Opa". jawab Tuan Anton sambil melirik ke arah Sania yang menarik nafas panjang.


"Nama lengkapnya Alexander apa?" kembali Junior bertanya.


"Alexander Louise"


"Ohhh, namanya bagus ya Opa".


"Apakah mama terinspirasi dari nama anaknya Opa, sehingga mama memberi namaku dengan nama Junior Alexander?".


Sania langsung tergagap mendengar pertanyaan Junior, dan dia semakin terlihat gelisah. Sedangkan Tuan Anton menatap penuh selidik pada Sania


Karena Sania masih juga tidak menjawab pertanyaannya, akhirnya Junior mengajak Tuan Anton keluar dari dalam kamarnya


"Kita keluar saja Opa, dan kita bermain di teras, mama sejak tadi memang tidak menuruti keinginanku"


"Memang Junior ingin apa?" tanya tuan Anton sambil mengusap kepala Junior


"Ingin Opa datang"


Tuan Anton kembali mendekap tubuh Junior dan tampak sekali ada guratan kesedihan di wajahnya mendengar ucapan Junior


"Ayo opa kita keluar"


Sedikitpun tuan Anton tidak membantah perkataan Junior.


Langsung digandengnya tangan Junior dan keduanya langsung berjalan ke arah teras. Mami Ajeng dan dua bodyguard yang melihatnya hanya melongo.


Begitu sampai di teras luar, Tuan Anton langsung memangku Junior untuk duduk di atas pahanya.


Berkali-kali diusapnya dengan sayang kepala Junior bahkan hingga tengkuk Junior juga diciumnya yang membuat Junior kegelian dan tertawa terkekeh.


"Ya Tuhan, rambutnya, matanya, kulitnya. Semuanya mirip Alexander" batin Tuan Anton nelangsa


"Opa....., kenapa kemarin tidak datang ke sini?" tanya Junior.


Tuan Anton berusaha tenang menghadapi pertanyaan cucunya.


"Maafkan Opa ya sayang, Opa terpaksa tidak menemui kamu karena Opa kembali ke rumah Opa karena anak Opa sakit".


"Anak Opa yang bernama Alexander?".


"Iya" jawab Tuan Anton pelan


Sebenarnya di dalam hatinya ingin sekali dia mengatakan pada Junior jika Alexander itu adalah ayahnya Junior.

__ADS_1


Tapi Tuan Anton sadar jika waktunya belum tepat dan dia yakin suatu hari nanti dia akan mengatakan yang sebenarnya pada Junior jika Alexander itu adalah ayahnya Junior.


"Junior...., jika Opa mengajak Junior Ke rumah opa, Apakah Junior mau?".


Junior yang sejak tadi menggerak-gerakkan kepalanya di dada Tuan Anton langsung menghentikan aksinya.


"Apa Opa akan pulang?" tanya Junior dan raut wajahnya berubah mendung.


Tuan Anton menarik nafas panjang lalu menoleh ke arah Sania yang berdiri tak jauh dari dekatnya.


"Iya, Opa harus pulang dan Opa kembali harus meminta maaf sama kamu karena Opa terpaksa meninggalkan Junior lagi. Tapi Opa janji, kapanpun Junior membutuhkan opa, opa akan datang"


Junior langsung turun dari pangkuan tuan Anton dan segera membalikan badannya menghadap ke arah Tuan Anton.


"Justru saat ini, itu adalah waktu yang Junior butuhkan untuk sama Opa"


"Tapi ternyata Opa mau pulang dan itu membuat Junior sedih"


Tuan Anton menarik nafas panjang mendengar jawaban Junior terlebih ketika dilihatnya bagaimana mendungnya wajah cucunya tersebut.


"Tapi Opa janji Junior, Opa akan sering datang ke sini. Opa tidak bisa lama-lama disini nak, karena anak Opa itu sedang di rumah sakit. Dan dia sangat membutuhkan Opa. Jadi Opa mohon Junior mengerti ya sayang?"


Junior segera menepis tangan Tuan Anton yang memegang pundaknya kemudian Junior berlari masuk ke dalam kamar rumah sambil berteriak marah.


Melihat Junior berlari masuk dalam keadaan marah membuat Tuan Anton seketika langsung mengejarnya.


BRAKKK!!!!.


Tuan Anton langsung mundur ketika pintu kamar Junior tertutup dengan keras. Dan langsung terdengar suara jika pintu dikunci dari dalam.


"Aku benci Opa, Aku benci Opa!!!"


"Aku benci Opa. Opa nggak usah datang ke sini lagi!!!, pergi Opa!! Jangan pernah temuin aku lagi!!!"


Prangggg!!!.


Sania yang mendengar kembali ada suara benda yang pecah kembali berteriak panik dengan memanggil nama Junior.


"Junior...., buka pintunya nak. Tolong dengerin mama, buka nak.... Jangan buat mama khawatir"


"Tolong nak jangan kamu pecahkan barang apapun yang ada di dalam nanti kamu luka nak....." teriak Sania panik.


Tuan Anton langsung memerintahkan kepada dua orang bodyguard-nya untuk mendobrak pintu.


Hanya dengan sekali terjangan, pintu kamar Junior langsung terbuka lebar.


Tuan Anton langsung melompat ketika dilihatnya bagaimana kaki Junior berdarah.


"Cepat carikan obat!!" kembali Tuan Anton membentak panik kepada dua Bodyguard yang segera berlari keluar sedangkan Sania Langsung menangis melihat kaki Junior yang terluka.


Sania segera mengambil tisu yang ada di atas meja kemudian mengelap kaki Junior. Dan Tuan Anton pun melakukan hal yang sama, sambil kembali memangku Junior duduk di pangkuannya Tuan Anton mengelap kaki Junior dengan tisu yang diberikan oleh Sania.


Orang dua orang bodyguard tadi kembali masuk dengan membawa kapas dan juga alkohol yang diberikan oleh Mami Ajeng.


"Siapkan mobil, saya akan membawa cucu saya ke rumah sakit" kembali Tuan Anton berkata dingin kepada bodyguardnya yang kembali keluar dari kamar.


"Aku nggak mau ke rumah sakit. Aku maunya Opa tetap di sini!!" kembali Junior berteriak histeris yang membuat Tuan Anton segera mengangguk cepat

__ADS_1


"Iya, Opa akan tetap terus di sini, tapi Junior janji Junior tidak akan melukai diri Junior lagi".


Junior segera mengalungkan kedua tangannya di leher Tuan Anton begitu mendengar jawaban lelaki dewasa tersebut


"Jika Opa pergi, Opa harus bawa aku"


Mendengar ucapan anaknya, Sania yang tadi berdiri seketika langsung limbung.


Dengan cepat tubuh Sania langsung ditangkap oleh Mami Ajeng, sehingga Sania bisa berdiri kembali


Lalu Tuan Anton segera menatap lekat wajah Sania yang tampak tegang.


Sania berkali-kali menggeleng ke arah Tuan Anton berharap jika Tuan Anton tidak akan menuruti permintaan Junior.


"Sekarang Junior mau apa sama Opa?, Mintalah apapun. Semua permintaan Junior akan opa turuti asalkan Junior bisa kembali tenang" ucap Tuan Anton ketika dilihatnya Junior sudah tenang seperti sedia kala.


"Seperti yang tadi Junior bilang, Junior hanya ingin opa tetap di sini tidak pergi lagi meninggalkan Junior, titik. Itu saja tidak ada yang lain".


"Kamu betul-betul mewarisi sifat keras kepala Alexander" batin Tuan Anton menatap sedih wajah Junior.


Junior langsung menggerakkan kedua tangannya di wajah Tuan Anton ketika tuan Anton tidak menjawab ucapannya.


"Apakah begitu sulit untuk opa mengabulkan permintaanku?" tanya Junior kembali.


Tuan Anton menggeleng lalu diambilnya kedua tangan Junior, digenggamnya dengan erat dan diciumnya dengan hangat


"Tidak nak permintaanmu tidaklah berat. Bahkan jika kamu meminta isi dunia sekaligus pun akan Opa berikan" .


Tanpa disadarinya, air mata Sania langsung mengalir mendengar ucapan Tuan Anton.


"Jika demikian, Junior hanya ingin Opa tidak pulang, dan Opa tetap tinggal di sini bersama kami"


Tuan Anton menarik nafas panjang kemudian menoleh ke arah Mami Ajeng dan juga Sania.


"Baiklah jika itu memang keinginan Junior, Opa akan tinggal di sini"


Mendengar jawaban Tuan Anton, Sania menarik nafas panjang kemudian dia menoleh kearah Mami Ajeng.


"Aku akan tidur ruang tamu" ucap tuan Anton yang sepertinya sadar dengan kegelisahan Sania.


Junior menggeleng


"Tidak boleh, opa harus tidur dengan aku disini. Mama biar tidur sama aunty Helen, dan Opa harus setiap malam tidur sama aku".


Tuan Anton melongo mendengar permintaan Junior. Begitu juga dengan Sania dan Mami Ajeng.


'Bagaimana ini?" tanya Tuan Anton melalui kode mulutnya pada Sania dan Mami Ajeng yang menatap ke arahnya dengan bingung.


Sania dan mami Ajeng menggeleng cepat, lalu keduanya sama-sama menarik nafas panjang.


"Jika Opa tidak mau menuruti perintah aku, aku akan ngamuk lagi!??" ancam Junior yang membuat Tuan Anton langsung segera menyetujui.


"Ya Tuhan, belum pernah seumur hidupku setuju dengan sebuah permintaan yang barusan diucapkan, bahkan permintaan sekian bulan dari kolega saja terkadang masih aku pertimbangkan" batin Tuan Anton sambil tersenyum dalam hati


Setelah mendapatkan jawaban persetujuan dari tuan Anton, Junior segera meminta pada mamanya untuk menyiapkan makan malam karena dia merasa lapar.


Dan kembali setelah makan malam Tuan Anton berusaha menjelaskan pada Junior jika memang dia tidak bisa lama di sini karena kondisi anaknya yang saat ini sedang koma.

__ADS_1


"Jika begitu, mengapa tidak Opa mengajak aku menemui anak Opa?"


Mata Sania langsung terbelalak mendengar ucapan Junior.


__ADS_2