
"Jika kamu tidak mau menikahi ku, maka aku akan menikah dengan orang lain!!!!"
Alexander mengalihkan pandangannya dari laptop yang ada di hadapannya, melihat kearah Milena yang mencak-mencak di ruang kerjanya
"Mau kamu apa sih Mil?"
"Kamu masih nanya mau aku apa?, cukup ya Lex selama ini kamu gantungin aku, aku ingin kejelasan hubungan kita!"
Alexander menarik nafas panjang mendengar Milena yang sejak tadi berteriak marah
"Sudah berapa kali aku bilang, aku belum kepikiran untuk menikah, jadi kalau kamu mau nikah, silahkan. Itu hak kamu, aku sedikitpun tidak akan menghalanginya"
"Kurang ajar kamu Alexander!!!" geram Milena sambil menyiramkan segelas air yang ada di hadapannya ke wajah Alexander
"Bajingan kamu, setelah semuanya aku serahkan sama kamu, ini balasan kamu sama aku, iya?"
Alexander hanya mengelap wajah dan baju serta jasnya yang basah tanpa menghiraukan Milena yang terus mengamuk
"Apa kurangnya aku Lex, hingga sampai sekarang aku masih saja belum kamu nikahi"
Alexander masih memandang Milena dengan bergeming
"Apa kurangnya aku Alexander, belum cukup apa pengorbanan aku selama ini?"
Alexander menggeleng
"Kamu terlalu sempurna untuk aku Mil, dan aku merasa jika aku tidak pantas menjadi suami kamu"
Milena mendengus mendengar alasan Alexander
"Sekarang kamu beralasan jika kamu tidak pantas, padahal dulu kamu selalu bilang jika aku adalah yang terbaik untuk mu"
Alexander menarik nafas panjang
"Waktu bisa berubah Mil, begitu juga dengan hati manusia, dulu kamu terbaik untukku, sekarangpun masih, tapi sayangnya aku yang merasa jika aku bukanlah terbaik untukmu"
Kembali Milena mendengus
"Awas kamu Alexander, akan ku buat kau menyesali keputusanmu ini"
Selesai berkata begitu Milena segera menarik kasar daun pintu ruangan Alexander dan membantingnya dengan kuat
Setelah itu dia berjalan dengan tergesa keluar dari kantor GIO GROUP
Ketika berpapasan dengan Sandra, wajah Milena makin masam, sedangkan Sandra yang melihatnya hanya mengerling tak perduli
"Pasti terjadi perang dunia ketiga" cibir Sandra sambil berjalan ke ruangannya
Sedangkan Milena yang masuk kedalam mobilnya segera memukul keras stir
"Awas kamu Alexander, akan ku buat kau menyesali ucapanmu" geramnya
Sementara Alexander begitu Milena keluar kembali mencoba mengeringkan bajunya
"What's up?" tanya Mark yang masuk
Alexander tidak menjawab melainkan segera melepas jasnya kemudian meletakkannya di sandaran kursi
Mark melihat ke sekeliling ruangan Alexander yang sedikit berantakan bahkan ada tumpahan air di atas meja
__ADS_1
"Apa perlu saya panggilkan cleaning service?" kembali Mark bersuara sambil duduk di sofa
"Tidak perlu, saya bisa membereskannya nanti"
Mark hanya memiringkan bibirnya mendengar jawaban Alexander
"Well, apa planning anda akhir tahun ini?"
"Saya ingin cuti dulu selama seminggu, saya ingin liburan"
"Sudah bilang sama tuan Anton?"
Alexander menarik nafas panjang
"Why?" selidik Mark lagi karena dilihatnya jika anak bos nya itu tampak kusut
"Papi ingin membawaku bertemu temannya akhir tahun nanti"
"Well?"
"Aku tahu mereka ingin menjodohkan aku dengan anak teman mereka, dan kau tahu sendiri Mark, aku belum ingin menikah, aku masih ingin bebas, tidak mau terikat"
Mark tersenyum
"Oh, jadi karena itulah ruangan anda berantakan?"
Alexander mendengus kesal mendengar Mark menyindirnya
"Anak tuan Jeremy tadi saya lihat wajahnya sangat masam ketika keluar dari ruangan ini" tambah Mark
"Come on Mark, jangan membuatku makin bad mood"
"Perempuan itu lagi-lagi memaksaku untuk menikahinya, padahal dia tahu sendiri aku belum ingin menikah"
Mark langsung serius menatap wajah Alexander
"Bukankah hubungan kalian telah serius dan telah sangat jauh?"
Alexander yang sekarang duduk di depan Mark langsung melemparkan kotak tissue kearah Mark yang langsung ditangkis dengan pria bule itu
"Come on Mark, aku tidak salah, Milena yang menyerahkan dirinya secara suka rela padaku, jadi jangan salahkan aku jika aku memakainya"
Mark yang tersenyum simpul menggelengkan kepalanya
"Anda sudah cukup dewasa untuk menikah, mengapa anda tidak menikah saja dengan anaknya tuan Jeremy, toh gadis itu sangat tergila-gila pada anda"
"Tidak Mark, tipeku bukan gadis seperti Milena. Gadis glamor dan bar-bar, tipe ku gadis biasa dan pekerja keras, yang tidak mengandalkan kekayaaan orang tuanya untuk prestige"
Mark tertegun, pikirannya tiba-tiba teringat dengan Sania, gadis biasa yang lebih dari enam tahun lalu di buat rusak oleh Alexander
"Sania?!" tebak Mark langsung
Wajah Alexander mendadak menegang dan dia menatap tak percaya pada Mark
"Maksud kamu apa menyebut nama Sania?"
Mark menarik nafas panjang, lalu menatap lekat wajah Alexander
"Karena wajah gadis itu yang ada di layar kunci hpmu"
__ADS_1
Alexander membuang wajahnya
"Maaf jika saya lancang, saya pernah melihat wajah gadis itu di layar hpmu, bahkan di galeri hpmu"
"Mark......" geram Alexander
"Come on bro, kita bicara sebagai sesama pria lajang, bukan sebagai rekan kerja, saya tahu kok jika kamu menyukai gadis itu"
Kembali Alexander membuang wajahnya
"Kurang ajar kamu Mark, tidak sopan tahu buka hp orang" ucap Alexander lagi dengan tersipu
"Tidak sengaja, hanya iseng saja. Saya awalnya tak menyangka jika hp anda bersih"
"Maksud kamu isi hp ku akan ada video dan gambar-gambar aneh, begitu?"
Mark mengangguk pasti yang kembali membuat Alexander geram
"Entah bagaimana kabar gadis itu sekarang....." lirih Alexander
Keduanya lalu diam
"Bagaimana jika kita kembali ke kota itu, kita cari Sania" usul Mark
"Dulu ketika aku ingin kesana, kau menyuruhku untuk fokus kerja, lantas kenapa kau malah memberi ide itu?"
"Karena saat itu anda masih sangat bad boys, dan juga karena saya harus membimbing penuh karir anda"
"Dan sekarang ketika anda telah banyak berubah dan saya lihat anda semakin hari semakin menjadi pria baik, tidak ada salahnya saya mengajak anda mencari Sania"
"Anda mencintainya kan?"
Alexander diam
"Air matanya tidak bisa aku lupakan Mark....." jawab Alexander sambil menggelengkan kepalanya
"Jika begitu, akhir tahun ini kita kembali lagi ke kota itu, kita datangi tempat kerjanya, kita minta dia lagi yang menjadi tour guide kita"
"Jika dia sudah menikah?"
Mark tertegun mendengar jawaban Alexander
"Sewaktu Sania di rumah sakit, aku membuka hpnya, dan aku baca semua chatting dia sama pacarnya"
Mark diam tak menjawab, dia juga tidak kepikiran sampai kesana
"Mereka saling mencintai, aku lihat jelas dari foto-foto mesra mereka"
"Come on Alexander Louise, kemana aura bad boys mu?, kamu begitu mudahnya mendapatkan puluhan wanita dalam sedetik, mengapa menghadapi hal yang belum tentu kebenarannya kau menyerah?"
"Kita temui dulu Sania, kita cari tahu keadaannya, setelah tahu apakah anda ingin memperjuangkan cinta anda atau anda menyerah itu urusan nanti, yang penting sekarang anda berjuang dulu"
Alexander memandang dalam pada Mark, memahami setiap ucapannya
"Anda kenapa?" tanya Mark karena Alexander hanya menatapnya
"No, aku hanya heran saja dari mana kamu bisa sebijak ini, sedangkan aku lihat sekalipun kamu tidak pernah terlihat membawa perempuan"
"Perempuan yang benar-benar kita cintai akan kita jaga sepenuh hati kita, bukan dengan merusaknya"
__ADS_1
Alexander langsung menelan ludahnya mendengar jawaban menohok Mark, pria bule kesayangan papinya yang selama ini dikenalnya dingin terhadap perempuan