
Sore menjelang barulah helicopter pribadi milik tuan Anton landing di atas gedung rumah sakit tempat Alexander di rawat
Sebelumnya Mark telah berkoordinasi dengan pihak rumah sakit untuk meminta helicopter pribadi tuan Anton agar bisa landing di helipad rumah sakit tersebut
Begitu helicopter berhenti, secepatnya nyonya Emma turun yang membuat Mark setengah berlari mengejarnya
"Kamu tahu dimana ruang icu nya?" tanya nyonya Emma tanpa menoleh kearah suaminya yang tertinggal di belakang.
Mark tak menjawab melainkan melihat pada tanda panah penunjuk yang ada di rumah sakit ini
"Permisi, bisa saya tahu dimana ruang icu di rumah sakit ini?" tanya Mark pada seorang perawat yang berjalan
"Ada di lantai empat tuan"
Mark mengucapkan terima kasih pada pria muda tersebut lalu segera mengarahkan nyonya Emma dan tuan Anton untuk masuk kedalam sebuah lift
Segera dia menekan angka empat yang tak lama setelahnya lift berhenti dan kembali Mark mengikuti tanda penunjuk arah dan langsung berjalan cepat kearah selatan, di depan ruang icu dilihatnya Dhea tampak duduk termangu sendiri
"Nona Dhea?"
Dhea segera mengangkat kepalanya dan memasang senyum kaku kearah Mark lalu berpindah pada nyonya Emma yang walaupun saat itu matanya tampak sembab tapi penampilan anggun dan elegannya tak bisa ditutupi
"Ya Tuhan cantiknya perempuan ini..." batin Dhea ketika melihat nyonya Emma yang berdiri menatapnya
Nyonya Emma memakai long blazer yang dipadukan dengan blouse kitty warna krem bercorak hijau sambil menenteng tas mahal berharga milyaran
Dhea yang langsung berdiri begitu mendengar Mark memanggilnya hanya bisa menganggukkan sedikit kepalanya kearah nyonya Emma dan tuan Anton
"Kamu siapa?"
Dhea langsung menoleh kearah Mark yang dengan cepat menjawab pertanyaan nyonya Emma
"Dia Dhea, tour guide yang membantu kami selama kami di kota ini"
Nyonya Emma mengangguk sekilas lalu segera berjalan kearah ruangan icu, mengintip Alexander yang terpejam di atas brankar dengan banyak sekali selang diatas tubuhnya
Kembali air matanya mengalir dan tuan Anton segera memeluk bahu istrinya
"Pi aku ingin masuk"
Tuan Anton mengangguk lalu menoleh kearah Mark yang segera berjalan keluar dari lorong tersebut
Dhea yang tadi berdiri sekarang duduk dan memandang kearah nyonya Emma dengan wajah sedih
Berkali-kali dilihatnya wanita berambut coklat kemerahan itu mengusap wajahnya
Tak lama terdengar langkah kaki mendekat yang ternyata Mark berjalan bersama dua orang dokter
"Saya ingin masuk dokter" ucap nyonya Emma cepat begitu dilihatnya kedua dokter berjalan kearahnya
__ADS_1
"Saya maminya Alexander" sambung nyonya Emma lagi karena kedua dokter itu belum menyahut
"Tolonglah dokter...." kali ini tuan Anton yang berbicara
Kedua dokter tersebut mengangguk, dengan cepat nyonya Emma mengambil baju khusus untuk masuk keruang icu dan segera memakainya
Nyonya Emma langsung mendekap mulutnya ketika dilihatnya bagaimana keadaan Alexander, air matanya lolos dengan deras dan dia segera mendekap tubuh Alexander yang tak bergerak
Setelah cukup puas mendekap tubuh Alexander, nyonya Emma berpindah mengecup kening putra tunggalnya dengan sayang
"Mama akan membuat perhitungan dengan orang yang telah membuatmu begini sayang...." desisnya dengan mata tajam sambil membelai kepala Alexander
"Waktunya habis nyonya...." lirih seorang dokter yang memaksa nyonya Emma mengalihkan perhatiannya dari Alexander
Nyonya Emma menarik nafas dalam, lalu berdiri dari kursinya dan kembali sedikit membungkuk mengecup kening Alexander, lalu perempuan cantik itu keluar dan berganti dengan tuan Anton yang masuk
Bergemuruh dada tuan Anton ketika melihat keadaan Alexander, darahnya rasanya mendidih dan tangannya mengepal kuat
"Akan ku hancurkan orang-orang yang telah menganiaya anakku" geramnya
Tuan Anton tak lama berada di dalam ruangan tersebut, dia segera membungkuk dan mencium kening Alexander dengan dalam lalu keluar dari dalam ruang icu
Ditatapnya Mark dan Dhea dengan tajam, dan Dhea yang ditatap tajam oleh lelaki indo yang bertubuh tinggi besar itu hanya bisa menundukkan kepalanya
"Siapa nama anda tadi?" ulangnya kearah Dhea yang segera mengangkat kepalanya
"Dimana anda menemukan anak saya?"
Dhea menelan ludahnya dan kembali gugup mendengar pertanyaan dingin tuan Anton
"Anda jangan takut, saya hanya ingin mengetahui kronologis yang sebenarnya tentang kejadian yang menimpa anak saya"
Kembali Dhea menoleh gugup kearah Mark
"Jawab saja Dhe, karena kamu yang tahu sebenarnya"
Dhea masih gugup dan tampak sekali ketakutan di wajahnya
Nyonya Emma mendekat lalu memegang tangan Dhea, memandang lekat mata Dhea
"Tolong bantu saya, saya mau bertanya pada mereka mengapa mereka menganiaya anak saya, apa kesalahan anak saya sampai mereka membuatnya tak sadarkan diri"
Dhea gamang, bingung harus menjawab apa, jika dia jujur sudah bisa dipastikan nyonya Emma akan mendatangi Sania, tapi jika tidak ketika Alexander sadar, Dhea yakin jika Alexander nanti akan memberitahu pada kedua orang tuanya
Dhea menggeleng pelan
"Maaf nyonya saya tidak tahu apa-apa"
Nyonya Emma menarik nafas panjang lalu menoleh kearah suaminya
__ADS_1
"Apa anda tahu ada siapa saja bersama anak saya waktu kejadian?"
Kembali Dhea menoleh kearah Mark
"Alexander tentu diantar oleh supir yang kami sewa, kemana supir itu?" kali ini Mark yang bertanya dan nada suaranya sangat jelas menggambarkan jika dia menahan marah
"Saya disini tuan....."
Semua yang berdiri di depan ruang icu menoleh kearah sumber suara, dimana supir sewaan Alexander duduk di kursi roda dengan didorong oleh perawat yang juga tampak memegang besi infus
"Arya.... kamu beritahu saya apa yang terjadi pada Alexander" ucap Mark yang berjalan cepat kearah supir sewaan mereka
Tuan Anton dan Nyonya Emma tak mau kalah, mereka berdua berjalan cepat kearah Arya yang meringis ketika Mark memegang tangannya
"Kami dipukuli oleh bodyguard yang ada di rumah Sania...."
Mark menelan ludahnya dan langsung menoleh kebelakang, dimana Dhea masih terpaku di tempatnya
"Terima kasih Arya, suster tolong antarkan lagi pasien ke kamarnya, dan kamu Arya, kamu istirahatlah agar kamu cepat sembuh, untuk urusan ini serahkan sama saya saya yang akan menyelesaikannya" ucap Mark menepuk bahu Arya yang kembali membuatnya meringis karena seluruh tubuhnya biru lebam akibat dikeroyok empat bodyguard mami Ajeng
"Tuan Mark tolong jangan lakukan apapun pada Sania....." ucap Dhea segera mendekat ketika dilihatnya Mark menempelkan hp ke telinganya
"Maaf nona Dhea, tapi ini menyangkut dengan nyawa anak tuan saya, tidak seharusnya mami Ajeng itu menyuruh anak buahnya memukuli Alexander, karena kamu tahu sendiri niat baik Alexander"
Tuan Anton dan nyonya Emma hanya mampu melihat kearah Mark dan Dhea secara bergantian tanpa tahu arah omongan kedua orang yang ada di hadapan mereka
"Ada bisa jelaskan pada kami?" suara berat tuan Anton menyadarkan Mark sehingga dia kembali berusaha tenang dan menahan amarahnya
"Mark...?!" bentak tuan Anton
Mark masih diam dan berusaha menghindari tatapan tuan Anton
"Siapa Sania?, dan siapa mami Ajeng?" wajah nyonya Emma tampak sekali seperti kebingungan
"Maaf tuan Anton, kali ini saya belum bisa memberitahu kalian berdua sampai saya sendiri yang mengetahui kronologi yang sebenarnya" ucap Mark meyakinkan dua bos besarnya yang terus mendesaknya dengan banyak pertanyaan
"Akan saya hancurkan dunia ini jika terjadi hal buruk pada anak saya!!!!!" akhirnya tuan Anton membentak dengan suara lantang yang membuat Dhea menelan ludahnya dengan susah payah
Wajah Mark menegang dan dia hanya bisa menarik nafas panjang ketika tuan Anton akhirnya menunjukkan sifat aslinya
"Cepat kalian terbang kesini, bawa semua senjata kalian!!!"
Mark makin gelisah ketika didengarnya tuan Anton berkata dengan nada marah di hp
Nyonya Emma yang kembali terisak hanya bisa memeluk suaminya
"Tenang mi, papi sudah menyuruh bodyguard bayaran untuk terbang kesini dan mencari orang yang telah menganiaya anak kita"
Mata Dhea makin terbelalak, dan dia makin menggigil ketakutan
__ADS_1