
Sebuah mobil hitam terparkir di luar, dan seorang lelaki yang masih muda turun dan segera masuk kedalam
Mami Ajeng tersenyum kearah pria muda tersebut dan mempersilahkannya duduk
"Saya disuruh tuan Handoyo menjemput Nahla"
Kembali mami Ajeng tersenyum dan menganggukkan kepalanya
Mata pria muda itu segera berputar kearah tangga ketika didengarnya suara langkah heels di atas tangga
Didapatinya seorang gadis yang masih sangat muda, bertubuh langsing dengan postur tubuh sedang dan rambut bergelombang terurai, berjalan menuruni tangga
Sania tersenyum kearah pemuda itu lalu tersenyum pula kearah mami Ajeng
"Ini Nahla, gadis yang kamu tunggu"
Jakun pria itu turun naik demi melihat kecantikan Sania yang saat itu memakai dress warna nude dengan belahan dada rendah
Sania mengulurkan tangannya lalu menyebutkan namanya
"Ayo..." ajak Sania karena pria itu masih berdiri di tempatnya dengan terus memandang kearah Sania
Mami Ajeng dan Sania saling toleh karena pria itu masih bergeming sampai akhirnya mami Ajeng mencolek tangannya, barulah pria itu tergagap dan serba salah
Mami Ajang dan Sania hanya tersenyum melihat tingkah serba salah pria itu
Akhirnya dengan menggaruk kepala karena malu, pria itu mempersilahkan Sania untuk berjalan duluan dan dia mengiring di belakang
Ketika sampai di depan mobil, pria itu segera membuka pintu mobil dan mempersilahkan Sania untuk masuk
Degup jantung Sania berpacu cepat ketika mobil mulai meninggalkan rumah bordil dan sekarang telah tiba di jalan raya
Berkali-kali pemuda yang berada di belakang stir melirik kearah Sania yang duduk dengan gelisah
"Anda baik-baik saja nona?"
Sania tergagap dan mengangguk
cepat
Kembali, pria itu menatap Sania dan semakin membuatnya penasaran
"Maaf nona, sejak tadi saya lihat anda gelisah, apa ini pengalaman pertama untuk anda?"
Kembali Sania mengangguk, dan pria itu menarik nafas panjang
"Anda itu cantik nona, mengapa anda malah terjun ke dunia hitam ini?"
Gantian Sania yang menarik nafas panjang
"Tidak ada wanita di dunia ini yang betul-betul ingin menjadi kupu-kupu malam, aku terpaksa melakukan ini"
Dapat pria itu lihat bahwa ada kesedihan di mata Sania. Selanjutnya keduanya sama-sama diam hingga akhirnya mobil masuk kesebuah bangunan megah yang dulu pernah Sania datangi
"Ya Tuhan....." desis Sania gugup ketika mobil berhenti
__ADS_1
Pemuda yang tadi menyetir mobil sekarang menoleh kearah Sania yang berwajah tegang
"Kita sudah sampai nona"
Sania diam tak menjawab melainkan terus duduk di dalam mobil penuh ketakutan
"Nona?"
Sania mengangkat kepalanya dan menarik nafas panjang
"Aku takut...."
Pria itu memandang iba pada Sania
"Maaf saya hanya supir pribadi tuan Handoyo, saya tidak bisa membantu"
Ingin sekali rasanya Sania menangis saat itu saking takut dan gugup dirinya, tapi semua telah terjadi, tidak mungkin dia akan kabur lagi, dan jika itu dia lakukan kembali, dia yakin kali ini baik mami Ajeng atau tuan Handoyo tidak akan melepaskannya.
Dan yang menjadi beban terberatnya saat ini adalah Junior, hingga walau berat hati mau tak mau dia bersiap juga
Segera dirapikan nya rambutnya sebelum turun. Dan pemuda yang menjemputnya tadi telah sejak tadi membukakan pintu untuknya
Dengan langkah ragu dan degup jantung yang berdebar kencang, Sania turun dari dalam mobil dan berdiri di sebelah pintu
Ditariknya nafas panjang dan menoleh pada pemuda yang juga memandang kearahnya
"Jangan takut nona, tuan Handoyo itu orang baik"
Sania mengangguk seraya tersenyum getir, kembali ditariknya nafas panjang lalu berjalan menaiki tangga menuju ke teras
"Welcome my sweetheart....." sapa tuan Handoyo berjalan pelan kearah Sania sambil merentangkan kedua tangannya
Sania tersenyum kaku dan sedikit meringis ketika tuan Handoyo merengkuh bahunya dan mendekapnya
"Sudah lama sekali saya menunggumu....."
Sania langsung bergidik ketika tuan Handoyo mengucapkan kalimat tersebut sambil mencium rambutnya yang terurai
"Ayo sayang, kita masuk, di luar udaranya dingin" lanjut tuan Handoyo sambil melingkarkan tangannya di pinggang Sania
Walau berat hati dan dipenuhi ketakutan, Sania menurut saja ketika dibawa masuk oleh tuan Handoyo
Dan Sania masih mengenali ruangan ini, ruangan dimana dulu dia dan tuan Handoyo pertama kali bertemu
"Ini....." tuan Handoyo memberikan segelas air berwarna hitam kemerahan kearah Sania yang menerimanya dengan ragu
"Ahhh, maafkan lah, saya lupa jika kamu tidak minum alkohol" ucap tuan Handoyo sambil mengambil kembali gelas yang hanya dipegang oleh Sania
Dengan senyum kaku Sania memberikan gelas tersebut pada tuan Handoyo dan mengedarkan pandangannya pada sekeliling balkon luas ini
"Tempatnya masih sama, tidak berubah...." kembali tuan Handoyo mendekat kearah Sania dan memeluk gadis itu dari belakang
Dada Sania rasanya sudah akan pecah saking kuatnya degupan jantungnya
Dan Tuan Handoyo yang mendekap Sania dari belakang dapat merasakan jika tangan gadis itu sangat dingin
__ADS_1
"Are you nervous?"
Sania tak menjawab melainkan menelan ludahnya dengan susah payah
Tuan Handoyo yang meletakkan dagunya di pundak Sania sekarang telah menggerakkan kepalanya menuju leher Sania
Sania sedikit menggeliat geli ketika tuan Handoyo mulai menciumi lehernya
Tuan Handoyo tersenyum menyeringai ketika dia semakin yakin jika perkataan mami Ajeng yang mengatakan bahwa Sania belum pernah "bermain" benar adanya
"Maafkanlah saya yang tidak sabar..." bisik Tuan Handoyo yang semakin membuat bulu kuduk Sania meremang
Tuan Handoyo memutar tubuh Sania menghadapnya dan menatapnya dengan dalam
"Jangan lari lagi, karena kali ini aku tidak akan melepaskan mu walau sedetikpun"
Sania tersenyum kaku sambil mengangguk pelan
Dan tuan Handoyo kian tersenyum lebar
"Duduklah, kita makan malam dulu, baru setelah itu kita terbang"
Sania menelan ludahnya dengan kembali tersenyum kaku dan menurut ketika tuan Handoyo menarik kan kursi untuknya
Dengan manis tuan Handoyo membukakan menu makanan yang masih tertutup dan menghadapkannya pada Sania
"Spesial untuk kamu yang cantik"
Sania mengangguk cepat dengan kembali memasang senyum kaku
Diiris nya sedikit daging panggang barbeque besar yang terhidang di depannya lalu meletakkan di piring lalu mulai memotongnya kecil-kecil dan menyuapkan kedalam mulutnya
Tuan Handoyo terus memandang Sania tanpa berkedip, dan jakunnya kian naik turun ketika dilihatnya bibir indah Sania yang sedikit belepotan
Dengan sayang disentuhnya bibir Sania dengan tissue, di lapnya dengan lembut
Dan Sania yang kaget dengan perhatian tuan Handoyo terburu mengambil tissue tersebut dan membersihkan sendiri mulutnya
Tuan Handoyo terus saja memandangi Sania sambil terus tersenyum yang membuat Sania makin risih dan tak nyaman
"Demi kamu ini nak..." batinnya pilu
Sania sedikit menarik tangannya ketika kembali Tuan Handoyo meraih tangannya. Demi melihat Sania seperti menghindar, Tuan Handoyo hanya tersenyum dan memberikan jus pada Sania
Sania yang memang telah menghabiskan makannya segera meraih jus tersebut dan meminumnya
Selang beberapa menit, Sania mulai memejamkan matanya dan berkali-kali dia memaksa membuka matanya bahkan menggeleng-gelengkan kepalanya agar matanya kembali membuka dan pusing di kepalanya hilang
Tuan Handoyo yang melihat Sania mulai tak sadarkan diri dan segera berdiri di samping gadis itu dan memegang bahunya
"Kamu tidak apa-apakan Nahla?"
Kembali Sania memaksa membuka matanya dan berusaha melepaskan tangan tuan Handoyo yang menggelayut di pundaknya
"Kepala saya......." hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Sania karena setelahnya dia telah ambruk tepat disaat tuan Handoyo menangkapnya
__ADS_1
Melihat Sania yang sudah tidak sadarkan diri, dengan segera tuan Handoyo mengangkat tubuh gadis tersebut dan membawanya masuk kedalam kamar