
Setelah mengetahui dan melihat dengan mata kepala sendiri jika Sania benar-benar hamil, dengan perasaan sedih bercampur kecewa, Deri akhirnya kembali lagi ke desa tempatnya bertugas
Tapi sehari sebelum keberangkatannya, dia menyempatkan diri menemui ibu Liza, mamanya Sania
Air mata ibu Liza tak dapat dibendung ketika mendengar sendiri dari Deri yang mengatakan jika Sania sedang hamil besar
Lalu tanpa diminta Deri menceritakan semua perjuangannya mencari Sania dan akhirnya menemukan Sania dan melihat sendiri seperti apa keadaanya saat ini
"Besok saya akan kembali ke desa tempat saya berdinas bu, saya harap silaturahmi kita tidak terputus"
Bu Liza hanya bisa mengangguk dan terisak saat Deri mengatakan hal tersebut
Dengan berat hati akhirnya beliau melepas kepergian Deri dan berharap semua yang terbaik buat Deri
Sementara di rumah bordil Sania mengerang kesakitan ketika dirasakannya perutnya melilit sakit
Dengan susah payah diambilnya hp dan menghubungi Helen yang berada di lantai atas
Helen yang saat itu baru saja bangun tidur segera meraih hpnya yang berdering
"Kenapa San?"
"Tolong kak, ahhh..."
Helen cepat tanggap dan segera berlari keluar dari kamarnya. Dengan cepat dia menuruni tangga dan langsung mendorong pintu kamar Sania
"San, buka San?" teriaknya karena pintu terkunci dari dalam
"Aaarghh..." Sania kembali mengerang
Helen yang berdiri di depan pintu kian panik dam berteriak-teriak
Kegaduhan yang ditimbulkan oleh Helen memancing penghuni lain berlarian kearahnya, termasuk mami Ajeng yang segera turun dari kamarnya
"Tolong dobrak, Sania di dalam" ucapnya panik
Beberapa wanita segera berlari keluar memanggil anak buah mami
"Cepat mas, bantu dobrak"
Beberapa lelaki yang sedang berjaga segera berlari masuk, termasuk Deno
"Kenapa Sania?" tanya Deno ikut panik kearah Helen
"Cepat kayanya dia mau melahirkan!"
Deno segera menggedor pintu kamar
"San?, Sania?, buka San?"
"Aaaggrrhhh... tolong Den..." rintih Sania
"Cepat dobrak!" pekik Helen kian panik
Deno dan satu orang lelaki segera mundur memberi ancang-ancang dan segera menubruk kan bahu mereka ke pintu
Berkali-kali tapi pintu masih belum juga terbuka, sementara suara mengerang kesakitan Sania kian terdengar jelas
"Ya Tuhan, bagaimana ini???" mami Ajeng bergumam panik
"Ayo cepat, diapakan kek pintunya biar kebuka" ucapnya lagi dengan nada kian panik
Deno kembali mundur dan kembali memasang ancang-ancang
"Kita terjang saja pintu ini"
Dua lelaki yang masuk bersamanya tadi mengangguk
__ADS_1
Bertiga mereka mundur dan berlari dengan langsung menerjangkan kaki mereka kearah pintu
Pintu terbuka tapi karena terjangan kuat, engsel pintu sampai terlepas
Helen dan mami Ajeng segera masuk dan keduanya makin panik ketika melihat Sania yang sudah pucat tengah mengerang kesakitan
"Cepat siapkan mobil!!" teriak mami Ajeng
Helen dan beberapa wanita menggenggam tangan Sania, bahkan ada yang mengusap kening Sania yang bersimbahkan peluh sebesar biji jagung
"Sabar sayang ya..." elus Mami Ajeng ke perut Sania
Deno yang keluar karena memanaskan mobil segera masuk kembali dan langsung melihat Sania dengan shock
"Cepat angkat!!!" teriak mami Ajeng demi dilihatnya jika Deno berdiri terpaku
Refleks Deno membungkuk dan langsung mengangkat tubuh Sania
Deno dibantu dengan beberapa wanita yang ikut memegang kepala dan kaki Sania, khawatir jika Deno tak kuat membawa Sania
Anak buah mami yang lain segera membuka pintu mobil saat Deno sudah dekat.
Dengan kesulitan Deno berhasil memasukkan Sania kedalam mobil. Helen langsung memangku kepala Sania dan terus mengusap-usap keningnya
"Yang kuat ya dek, ini kita sudah diperjalanan" lirihnya ketika mobil telah berjalan
"Cepat Den!" teriaknya panik ketika melihat Sania kembali mengerang kesakitan dengan mencengkeram kuat bajunya
Sania bergerak gelisah, sakit yang dirasakannya kian bertambah yang membuatnya terus mengerang kesakitan dan meremas apa saja yang ada di dekatnya
Helen meringis kesakitan ketika Sania mencengkram kuat tangannya. Tapi Helen tak bisa berbuat apa-apa, dia hanya membiarkan Sania mencengkeram kuat tangannya
Sementara di belakang mobil yang dikemudikan Deno, mengiring mami Ajeng bersama dengan anak buahnya yang lain
"Ya Tuhan cepat Den!!!"
"Ini kita bawa ke rumah sakit mana?" tanya Deno tak kalah panik
"Yang terdekat pokoknya, cepat!"
Deno tak menjawab melainkan terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi
Hingga akhirnya mobilnya berbelok ke rumah sakit dan dengan segera kembali dia mengangkat tubuh Sania
Karena Deno sedang berusaha menggendong Sania, Helen berlari masuk menuju dalam rumah sakit
"Cepat, adik saya mau melahirkan" teriaknya panik pada beberapa perawat yang sedang bertugas
Dengan sigap beberapa perawat berlari keluar dan ada juga yang berlari masuk mengambil brankar, dan tak lama telah mendorong brankar keluar gedung rumah sakit
Deno segera meletakkan tubuh Sania ketika brankar berhenti di dekatnya
Dia menarik nafas lega dan sedikit membungkukkan badannya dengan nafas tersengal
Disaat bersamaan muncul mobil mami dan mami langsung turun begitu mobil berhenti
"Mana Sania?" tanya Mami Ajeng panik
"Dibawa masuk mi"
Mami Ajeng langsung berlari masuk dan kian cepat berlari ketika dilihatnya Helen
"Bagaimana?"
Helen yang berjalan mondar mandir segera menggenggam erat tangan mami
Mami Ajeng langsung memeluk Helen dan mengusap-usap bahunya
__ADS_1
"Sttttt... jangan nangis"
Helen terus saja terisak
"Kita berdoa semoga Sania baik-baik saja"
Helen mengangguk. Dan mereka berdua langsung menoleh ketika ruang tempat Sania terbuka
"Apa suaminya ada?"
Mami Ajeng dan Helen langsung saling toleh
"Hmm, suster itu anak saya, suaminya masih di luar kota, dan sedang diperjalanan menuju kemari"
Perawat itu mengangguk
"Jadi siapa ini yang akan menungguinya di dalam?"
"Saya suster" jawab Helen cepat yang segera berjalan kearah perawat yang langsung membawanya masuk
Jadi tinggallah mami Ajeng sendirian di luar, tapi tak lama setelah itu muncul Deno dan dua anak buah mami yang lain
"Bagaimana mi?"
Mami Ajeng yang duduk menoleh kearah Deno
"Sudah ada Helen yang masuk"
Ketiganya lalu duduk di dekat mami. Wajah panik dan tegang kentara sekali dari wajah mereka
Bahkan mami berkali-kali mengintip melalui jendela yang tertutup gorden ketika mendengar suara Sania yang ngeden
"Semangat San, kakak disini, kamu pasti bisa..."
Hanya suara Helen yang didengar jelas oleh mereka yang ada diluar
Sementara suara Sania yang berjuang antara hidup dan mati terdengar lamat-lamat
"Terus dek... kepalanya sudah kelihatan, ayo dek semangat!"
Mami Ajeng kian gelisah dan menggigit kukunya karena panik. Deno yang melihat betapa paniknya mami Ajeng, berdiri dan mengusap punggung perempuan yang sudah berumur itu tetapi masih kelihatan sangat cantik
"Tenang mi, kita berdoa saja untuk keselamatan Sania"
Mami Ajeng hanya mengangguk dan kembali mengintip melalui kaca yang tertutup
"Ya Tuhan selamatkan lah Sania..." lirih mami Ajeng makin panik ketika mendengar suara Helen yang seperti berteriak panik
"Ayo dek, kamu bisa. Ayo jangan menyerah, terus dek"
Sementara di dalam Sania sudah kehabisan tenaga dan kesulitan untuk ngeden, padahal kepala bayi telah keluar
"Ayo dek" Helen sudah terisak
Dan Deno jelas sekali mendengar isakan Helen. Refleks dia langsung masuk dan langsung mengangkat pundak Sania
Sania yang lemah hanya menoleh sekilas pada Deno yang saat ini mengangkat bahunya
"Kamu bisa San, kamu bisa. Ingat bagaimana kamu mempertahankan janin ini, ingat bagaimana perjuanganmu selama ini demi anak ini lahir San, ayo San berjuang!!!"
Air mata Sania langsung mengalir mendengar ucapan Deno dan seperti mendapatkan kekuatan baru, tenaganya yang habis tadi kini pulih kembali
Sementara dokter yang membantu persalinannya telah sejak tadi memberinya semangat dan menjadi senang ketika akhirnya Sania kembali bisa ngeden
Deno dan Helen yang berada di samping Sania terus memberinya semangat dan Deno terus tak melepaskan bahu Sania, dia membantu mengangkat pundak wanita itu ketika Sania merasakan ingin ngeden lagi
Sedangkan Helen terus mengusap kepala dan menggenggam tangan Sania dengan erat
__ADS_1