
Wajah Tuan Anton seketika langsung terlihat panik ketika dia melihat bagaimana kondisi di depan kamar Junior.
Terlebih ketika dilihatnya Sania yang menangis dan juga ketika beliau mendengar teriakan kencang Junior.
"Nyonya, arahkan hp-nya ke pintu dan kalau bisa di loudspeaker sekencang mungkin agar cucuku bisa mendengar suaraku!" ucapkan Anton dengan nada panik yang membuat nyonya Emma yang duduk langsung menoleh cepat ke arahnya.
Mami Ajeng menuruti perintah Tuan Anton, dengan segera dia langsung mengangkat hp-nya tinggi-tinggi dan mengarahkannya ke arah kamar Junior .
"Junior, Junior... ini Opa sayang, Junior tenang sayang ya..., Opa akan ke sana sekarang juga. Tapi Junior tenang" ucap Tuan Anton dengan suara kencang.
Sania menelan ludahnya mendengar teriakan tuan Anton.
Sementara Nyonya Emma yang sudah berdiri di sebelah suaminya langsung mengambil cepat HP yang ada di genggaman Tuan Anton.
"Siapa yang ada di dalam panggilan video suami saya ini?" tanya nyonya Emma dingin.
Dengan cepat mami Ajeng langsung mengubah layar kamera ke arah wajahnya sehingga dengan jelas Nyonya Emma bisa melihat wajah mami Ajeng. Seketika wajah nyonya Emma murka dan langsung melirik tajam ke arah suaminya.
"Kamu siapa?!" tanya nyonya Emma dengan membentak.
Mami Ajeng segera menarik nafas panjang dan memijit keningnya.
Melihat Mami Ajeng yang tampak kebingungan Sania segera mengambil hp dari tangan Mami Ajeng dan segera dia langsung berhadapan wajah dengan Nyonya Emma.
Kembali wajah Nyonya Emma terlihat kaget ketika sekarang dia melihat wajah wanita muda.
"Tolong nyonya jangan salah sangka dulu. Saya adalah temannya anak Anda dan saat ini saya ingin berbicara sama suami Anda, Tuan Anton" ucap Sania.
Kembali Nyonya Emma melirik tajam ke arah Tuan Anton. Dan tuan Anton menganggukkan kepalanya
"Tolong Mi, sebentar saja. Bila Mami tidak percaya mami bisa berdiri di samping papi untuk mendengarkan apa yang kami bicarakan" .
Dengan wajah yang ditekuk, nyonya Emma mengembalikan HP yang ada di genggaman tangannya kepada suaminya.
"Tolong Tuan Anton kali ini saya memohon bantuan pada anda. Tolong anda tenangkan Junior. Saya tahu Anda sekarang sedang tidak berada di sini, anda sudah kembali ke ibukota"
"Tapi saya mohon, hari ini Junior sangat ingin bertemu dengan anda karena dia yakin dan percaya pada perkataan Anda kemarin, jika anda akan menemuinya lagi. Tapi ternyata beberapa hari ini Anda tidak datang sehingga hari ini Junior memaksa saya untuk membawanya ke rumah sakit untuk menemui Anda"
__ADS_1
"Tapi ketika kami sampai ke rumah sakit ternyata anda tidak ada, sehingga Junior mengamuk sampai detik ini" ucap Sania tersendat.
Tuan Anton mengangguk cepat ke arah Sania dan segera meminta Sania untuk kembali mengarahkan hp ke arah pintu kamar Junior.
"Junior Sayang, Ini opa. Buka pintunya nak!" ucap Tuan Anton yang akhirnya membuat Sania kembali menggedor pintu kamar Junior sambil berkata
"Sayang ini opa-mu mau bicara, buka pintunya nak, ini opa sudah menelpon Oma. Sekarang Opa mau bicara sama kamu, tolong nak kamu keluar".
Junior menghentikan tangisannya begitu mendengar ucapan mamanya jika Opanya menelpon. Secepat kilat dia langsung membuka kunci pintu, sehingga membuat semua yang ada di depan kamar menarik nafas lega ketika wajahnya muncul.
"Mana opa?" tanya Junior.
Sania langsung memberikan HP ke tangan Junior dan menggerakkannya agak menjauh agar Tuan Anton bisa melihat dan menatap wajah Junior.
Kembali jantung Tuan Anton bergetar hebat ketika dia menatap wajah basah cucunya.
"Junior ini opa nak, maafkan Opa ya karena tidak datang menemui kamu" lirih Tuan Anton menahan sedih yang tiba-tiba mendera hatinya.
Nyonya Emma kembali mendekatkan wajahnya ke arah HP begitu mendengar perkataan suaminya, dan ikut menatap layar HP.
Wajah Nyonya Ema langsung terkesiap begitu menatap wajah anak kecil yang saat ini sedang berbicara pada suaminya.
"Opa Kenapa tidak datang?, Junior menunggu kedatangan Opa" lirih Junior sedih.
"Opa janji opa akan datang secepatnya ke sana nak, tapi untuk sekarang opa belum bisa. Tapi Opa janji secepatnya Opa akan menemui kamu dan mengajakmu menemui papamu, ya?" janji Tuan Anton
"Nggak mau!!, Junior maunya sekarang!!"
Seketika Tuan Anton tersenyum dengan wajah sedih mendengar bagaimana keras kepalanya Junior.
"Kamu memang anaknya Alexander" lirih Tuan Anton sambil langsung meneteskan air matanya.
Mulut Nyonya Emma langsung ternganga mendengar ucapan suaminya dan kembali dengan cepat dia menarik HP suaminya lalu menatap wajah Junior dengan lekat.
"Kamu siapa?" tanya Nyonya Emma bingung dengan suara bergetar
Junior menggerakkan kepalanya. Kemudian dia memejamkan sebentar matanya dan tak lama kemudian matanya terbuka kembali dan dia bertanya
__ADS_1
"Opa saya mana?".
Nyonya Emma kembali menoleh ke arah suaminya yang saat ini tengah mengusap kasar wajahnya. Kembali Nyonya Emma menatap layar hp dan bertanya
"Anak kecil, kamu siapa?".
"Saya Junior Alexander anaknya Mama Sania, dan cucunya Opa".
Nyonya Emma langsung membekap mulutnya, seketika tubuhnya terasa limbung. Dan dengan cepat Tuan Anton langsung menangkap tubuh istrinya yang hampir saja ambruk ke lantai.
"Junior nanti Opa hubungi kamu lagi ya Sayang. Sekarang Opa lagi sibuk tapi Opa janji secepatnya Opa akan menemui kamu" ucap tuan Anton panik karena dilihatnya nafas istrinya sudah memburu tak teratur.
"Tidak mau!!, aku maunya opa ke sini sekarang. Pokoknya aku tidak mau!!!" kembali Junior berteriak histeris.
Sementara tubuh Nyonya Emma yang saat ini mulai lemas di lantai sudah terkulai tak sadarkan diri yang membuat tuan Anton langsung berteriak panik.
Mendengar ada suara panik di seberang secepat kilat Sania langsung merebut HP yang ada di tangan Junior dan dapat dilihatnya jika saat ini tidak terlihat lagi wajah Tuan Anton maupun istrinya yang terlihat adalah langit-langit rumah sakit dan terdengar suara kepanikan Tuan Anton berteriak memanggil dokter.
"Sayang besok opa pasti ke sini, ya" bujuk Sania yang wajahnya terlihat tegang lalu dia menoleh ke arah Mami Ajeng yang juga tampak terlihat tegang karena tadi mami Ajeng juga melihat wajah nyonya Emma yang tampak shock.
Suara teriakan panik Tuan Anton yang memanggil dokter membuat beberapa perawat langsung berlari dan segera membawa Nyonya Emma ke ruang unit gawat darurat untuk segera dilakukan penanganan.
Berkali-kali Tuan Anton mengusap wajahnya yang semakin terlihat panik dan kebingungan
Di satu sisi dia panik dengan keadaan istri dan anaknya di lain pihak dia juga memikirkan bagaimana keadaan Junior yang tadi tampak sangat ingin bertemu dengan dirinya.
Disela kegalauan pikirannya.Tuan Anton segera menghubungi para Bodyguard yang saat ini masih berada di kota pariwisata untuk dimintanya segera menemui dan menjaga Junior tapi berkali-kali beliau menghubungi nomor para bodyguard tersebut, tidak ada satupun yang aktif.
Tuan Anton tidak mengetahui jika saat itu Mark beserta 5 orang bodyguard sedang berada di dalam pesawat yang saat ini sudah menuju ke ibukota.
Di dalam ruang gawat darurat beberapa perawat dan dokter segera menangani dan memeriksa tekanan darah Nyonya Emma yang tiba-tiba drop.
Dan di lain ruangan tepatnya di ruang ICU, Alexander masih juga belum sadarkan diri.
Tak lama Nyonya Emma membuka matanya. Dan tampak mencari sosok suaminya dan seorang perawat yang melihat Nyonya Emma sudah siuman, segera memanggil Tuan Anton
Dengan cepat Tuan Anton langsung masuk dan langsung menggenggam erat tangan istrinya.
__ADS_1
"Siapa anak kecil tadi?, Mengapa Dia memanggil Papi dengan sebutan Opa?, dan mengapa wajahnya seperti wajah Alexander??!" tanya nyonya Emma lemah sambil berlinangan air mata.