Kejahatan Alexander Louise

Kejahatan Alexander Louise
Kisah Kelam Suster Maria


__ADS_3

"Sayang, ini apa?"


Alexander tak menjawab pertanyaan Milena karena dia sedang fokus bekerja


Dengan menahan kesal Milena berjalan kearah Alexander dengan langsung meletakkan bungkus pengaman tersebut di depannya


Alexander melihat bungkusan tersebut sekilas lalu kembali melanjutkan pekerjaannya tanpa sedikitpun terganggu


Milena makin merasa diabaikan, dengan cepat dia menarik pundak Alexander dan menuntut jawaban


"Aku yakin ini milik kamu, wanita mana yang kamu tiduri di sini?" teriak Milena


Alexander segera melepaskan tangan Milena dari pundaknya lalu kembali memutar kursinya menghadap laptop


"Alexander, jawab pertanyaan aku, wanita mana yang kamu tiduri disini?"


"Maaf Pak, saya mengantar berkas" suara Sandra yang muncul di depan pintu, membuat Alexander berpikir jika dia terselamatkan dari amukan Milena


Tapi justru itu makin membuat Milena kalap ketika melihat Sandra yang melangkah dengan gemulai menuju meja Alexander


"Wanita ini?, iya, wanita ini?"


Sandra sambil meletakkan map menoleh kearah Milena yang menunjuk-nunjuk kearahnya


"Saya permisi pak" ucap Sandra begitu selesai meletakkan map


Langkah Sandra terhenti seketika ketika dengan kasarnya Milena menarik lengannya


"Kamu apaan sih, dari tadi mancing keributan melulu sama saya" ucap Sandra sambil melepaskan tangan Milena yang mencengkeram kuat lengannya


"Bos, urusin perempuan temperamen ini, jangan sampai karena ulahnya bos banyak masalah"


Setelah berkata seperti itu Sandra kembali melenggang meninggalkan Milena yang menatap penuh kebencian padanya


Milena lalu memutar tubuhnya kembali menghadap Alexander yang tanpa ekspresi menatapnya


"Perempuan itu yang kamu tiduri disini, iya?"


"Sudahlah Mil, jangan membesar-besarkan masalah"


"Ini patut aku besarkan Lex, karena kamu itu milikku, hanya aku yang bisa memiliki kamu"


Alexander berdiri dari kursinya, berjalan mendekati Milena, dan membelai anak rambut yang menjuntai di sela-sela wajahnya


"Jika aku memang hanya milik kamu dan kamu ingin aku menjadi milik kamu seutuhnya, maka bujuk lah papamu untuk mau bekerja sama denganku" bisiknya


Milena menoleh, jarak mereka hanya beberapa inci, dengan tatapan serius di mata Alexander membuat Milena mengangguk


"Baik, jika itu mau kamu, aku akan bujuk papa"


Alexander langsung tersenyum menyeringai dan segera melahap bibir gadis yang sejak tadi menatapnya dengan mata sayu


"Dasar perempuan maniak, aku bersikap manis sedikit saja, luluh dia" batin Alexander tanpa melepaskan hisapannya


...----------------...


Suster Maria masuk kembali kedalam ruangan dokter Anita dengan menenteng kantong yang berisi beberapa kotak susu khusus ibu hamil dan segelas susu di tangan kanannya


"Ini diminum, aku dulu juga minumnya susu ini, rasanya enak, dan ini saya juga bawakan banyak rasa, biar kamu nggak bosan"


Dengan senyum mengembang, Sania menerima gelas susu yang diberikan suster Maria dan segera menenggaknya


"San, jika bosan kamu bisa baca-baca majalah di sana" tunjuk dokter Anita kearah setumpuk majalah di dalam lemari


"Atau jika kamu mau, kamu bisa ikut aku lihat-lihat pasien" tambah suster Maria


"Dengan senang hati suster, biar saya bisa berjalan-jalan"


"Iya benar, kan bagus untuk kesehatan kamu"

__ADS_1


Keduanya tersenyum. Dokter Anita yang memperhatikan ikut tersenyum pula


"Setelah jam makan siang, kembali lagi kesini ya, San. Kita makan siang sama-sama"


Sania mengangguk sebelum akhirnya mengikuti suster Maria keluar dari dalam ruangan


Keduanya berjalan di koridor rumah sakit, sesekali suster Maria tersenyum kearah keluarga pasien yang berpapasan dengan mereka


"Selama ini kamu kemana?" tanya suster Maria sambil mereka terus berjalan


"Ceritanya panjang sus, bahkan berkat pertolongan Tuhanlah saya bisa bertemu kembali dengan dokter Anita"


Suster Maria menepuk pundak Sania


"Sabar, semua ada masanya"


Sania mengangguk sambil tersenyum kaku.


Suster Maria lalu masuk ke salah satu ruangan, dan Sania menunggu di luar.


Bau obat dan bau rumah sakit kembali membuat perutnya bergejolak, dan hendak muntah


Sania segera duduk di kursi yang ada di depan ruangan rawat inap, menarik nafas berkali-kali dengan harapan perutnya akan membaik


Suster Maria memeriksa selang infus dan melihat-lihat keadaan kondisi pasien, setelah itu keluar dan mengajak Sania berjalan lagi


Cukup banyak ruangan yang dimasuki suster Maria. Dan tiap kali suster Maria masuk kedalam ruangan, Sania akan menunggu diluar


Sehingga menjelang siang, pekerjaan suster Maria selesai, diajaknya lah Sania duduk di kursi, di taman di sekitar rumah sakit


Dibawah sebuah pohon yang cukup rindang, dan ada banyak tamanan bunga, Suster Maria mengajak Sania duduk


Dengan cemilan yang tadi dibelinya di kantin rumah sakit, kedua mengobrol


"Aku dulu juga sama seperti kamu San" buka suster Maria


Ditatapnya suster Maria yang tampak menerawang


"Maksudnya suster juga korban pemerkosaan seperti saya?"


Suster Maria menggeleng


"Saya ditinggalkan pacar saya ketika dia tahu saya hamil anaknya, dia pergi karena dia tidak mau tanggung jawab"


Sania menggenggam jari Suster Maria dan memandangnya dengan iba


"Dokter Anita teman saya ketika SMA, saat itu saya datang padanya ingin menggugurkan anak saya, tapi saya malah dimarahinya dan dinasehatinya habis-habisan"


"Berkat bantuan nya lah, akhirnya saya bisa melewati ini semua"


"Terus, anak suster dimana sekarang?"


Suster Maria tersenyum


"Setelah anak saya berumur dua tahun, ada seorang pria baik hati yang ternyata tulus mencintai saya, dan akhirnya kami menikah"


"Dan anak saya sekarang telah memiliki tiga anak, hidup berbahagia dengan suami dan anak-anak saya"


Sania refleks memeluk bahu suster Maria


"Makanya kamu harus optimis menghadapi hidup, tak selamanya derita akan selalu bersama kita. ingat, dibalik semua derita yang Tuhan beri pada kita, ada kebahagiaan yang telah menanti kita"


Sania mengangguk mendengar ucapan suster Maria


"Saya yakin, suatu hari nanti kamu akan menemukan kebahagiaan kamu San"


Wajah Sania kembali berubah mendung


"Tapi suster tidak mengalami penderitaan seperti yang saya alami"

__ADS_1


Suster Maria memiringkan posisi duduknya menghadap kearah Sania yang berwajah sedih


"Siapa bilang, perempuan hamil tanpa suami itu sangat sulit diterima di masyarakat, begitu banyak penolakan yang saya terima sampai saya pernah berniat mengakhiri hidup saya"


"Tapi saya ingat Tuhan San, saya tidak mau mati saya justru makin membuat saya tersiksa di neraka, saya seorang pendosa, saya ingin bertobat atas dosa-dosa saya yang menumpuk, oleh karena itulah saya terus bertahan, hingga selama dua tahun sebelum saya bersuami saya ditampung dokter Anita di rumahnya diajaknya bekerja di sini, karena memang background saya seorang perawat"


"Selama tinggal dengan beliau, anak saya sudah dianggapnya seperti anak sendiri, sehingga sampai sekarang, anak tertua saya, Arsenio, memanggil dokter Anita dengan sebutan Mama"


"Saya yakin kamu kuat San, ada kami yang akan terus mendukungmu, kamu tidak sendiri"


Sania memeluk suster Maria dengan haru, dan suster Maria terus mengelus pundak Sania dengan sayang


"Sudah, yuk kita balik lagi keruangan dokter Anita, nanti beliau mencari kita"


Sania mengangguk dan segera berdiri berjalan menuju ruangan dokter Anita


Sampai di ruangan ternyata telah ada banyak makanan tersedia di meja


"Ayo buruan kita makan, karena pasien saya banyak hari ini" ajak dokter Anita yang segera memberikan kotak makanan pada Sania


"Setelah saya selesai meriksa seluruh pasien, kita USG"


Sania hanya mengangguk dan terus melahap makanan dengan rakusnya


...----------------...


Wajah Sania berbinar ketika melihat janinnya pada layar komputer.


"Sudah masuk minggu ke enam belas, biasanya pada minggu-mingu ini janin akan mulai menendang-nendang" ucap dokter kandungan yang memeriksa Sania


"Jaga terus kesehatan, makan yang banyak gizi dan nutrisi, istirahat yang cukup dan yang paling penting jangan stress"


"Ada pertanyaan?" tanya dokter dengan ramah ketika dia membersihkan perut Sania dari krim khusus untuk usg menggunakan tissue


"Saya masih sering morning sickness dokter"


Dokter membantu Sania untuk duduk dan dokter Anita membantunya turun


"Biasanya morning sickness akan hilang di trimester kedua, tapi bisa juga sampai melahirkan, tergantung dengan situasi dan kondisi"


"Nah dokter Anita, ini resep yang bisa menahan mual untuk adiknya, silahkan tebus di apotik"


Dokter Anita mengambil resep yang diberikan dokter kandungan lalu setelah mengucapkan terima kasih dia mengajak Sania keluar dari ruangannya


"Sekarang kita pulang, karena dokter yang berdinas malam sudah sampai"


Sania menurut dan berjalan turun dari lantai dua menuju parkiran


"Kamu pingin makan apa San?, kita bisa beli sambil jalan pulang"


"Nggak ada dokter"


Dokter Anita memandang dalam mata Sania


"Bagaimana kalau kita beli yang asem-asem atau mungkin yang berkuah?" pancing dokter Anita


Mata Sania langsung membesar, dan dokter Anita tersenyum melihatnya


"Kamu jangan sungkan, kan sudah saya bilang, kamu itu menjadi tanggung jawab saya sekarang"


Sania memandang tak enak pada dokter Anita


"Sudah ah, malah bengong" tepuk dokter Anita sambil segera membuka pintu mobil


Tak butuh waktu lama, dua porsi rujak dan bakso telah ada di dalam mobil, tak lupa dokter Anita juga membeli banyak macam aneka buah


Sampai di rumah, ternyata pintu rumah telah terbuka, dokter Anita pikir suaminya telah pulang, tapi ternyata yang keluar adalah Deno, adiknya.


Dokter Anita mulai diliputi perasaan was-was ketika melihat adiknya menyambut mereka dan apalagi ketika Deno melihat penuh arti pada Sania

__ADS_1


__ADS_2