
Sepanjang perjalanan pulang tak ada satupun yang bersuara di dalam mobil, bahkan Deno yang mengemudikan mobil hanya bisa terdiam dengan wajah sedih
Sedangkan Sania yang memangku Junior sudah tak karuan lagi bagaimana remuk redam hatinya mendapati kenyataan jika buah hati yang sangat disayanginya ternyata buta
Mami Ajeng dan Helen yang duduk di sebelah Sania juga diam, hanya suara isak tangis saja yang terdengar dari keduanya
Hingga akhirnya mobil masuk ke halaman luas rumah bordil, dan seluruh penghuni langsung keluar begitu mobil yang dikemudikan Deno masuk
Tangisan Sania kian pecah ketika melihat gadis-gadis yang sudah seperti saudaranya itu berlari menuruni tangga teras
Langkah mereka sontak terhenti ketika Deno turun dengan wajah muram
"Den?" tanya salah satu dari mereka
Deno diam dan berjalan ngeloyor masuk dan terduduk lemas di kursi di sebelah teman-temannya
Gadis-gadis itu langsung membuka pintu tengah dan mereka kembali terpaku ketika melihat Mami Ajeng dan Helen menengadahkan wajah mereka menghindari tatapan mereka
Terlebih ketika mereka melihat bagaimana Sania menangis pilu
Dengan cepat salah satu dari mereka mengambil Junior dari pangkuan Sania lalu mereka berebut memeluk Junior sambil menangis histeris
"Ya Tuhan nak....." isak mereka
Sania kian terguncang, dan ketiganya kembali menangis dan seakan tak punya kekuatan untuk turun dari mobil
Junior di bawa masuk, dan yang lain segera membantu Helen keluar kemudian Helen langsung memeluk temannya sambil menangis
Yang lain masuk dan memeluk Sania.
Barulah Sania menangis kencang dengan memukul-mukul jok mobil
"Kenapa harus anakku kak?"
Gadis yang bernama Fina itu hanya bisa terisak sambil mendekap erat Sania
Dan yang lain membuka pintu tempat mami Ajeng lalu spontan memeluk erat mami Ajeng yang juga tampak terguncang
Perlahan semuanya turun dan membimbing Sania masuk. Sampai di dalam rumah Sania segera menjatuhkan dirinya kelantai sambil berteriak kencang
Semua gadis penghuni rumah itu menangis pilu melihat kesedihan Sania.
Junior di ambil alih Deno, dibawanya keluar sambil menggigit bibirnya kuat menahan air mata yang siap tumpah
Teman-teman Deno hanya mengusap kepala Junior dengan wajah mendung
Deno mengusap matanya lalu menengadahkan kepalanya dengan tangan terkepal kuat
Sementara Sania menangis histeris di dalam dekapan Helen. Keduanya menangis pilu.
"Sabar San...."
Sania terus menangis tanpa henti yang makin membuat rumah yang biasanya ceria berubah mencekam dalam duka
Junior seperti mengerti jika mamanya sedang menangis ikut pula menangis
__ADS_1
Seorang gadis segera berlari keluar mengambil Junior yang sedang dibujuk Deno
"Anak aunty, sini ikut aunty nak" ucap gadis itu sesenggukan
Deno memberikan Junior pada gadis itu yang segera membawanya masuk
Sania makin menangis histeris ketika mendengar suara tangisan Junior
"Mengapa Engkau hukum anakku Tuhan?"
Hanya kalimat itu yang terus keluar dari mulut Sania sambil mendekap erat anaknya
Berkali-kali para gadis-gadis itu mengusap punggung Sania seakan memberikan kekuatan
"Panggil Deno!" lirih mami Ajeng sambil mengusap kasar wajahnya
Seorang gadis kembali keluar dan telah kembali dengan membawa Deno
"Ya mi?"
"Kalian berjaga di depan, jika ada yang datang, bilang kita libur"
Deno mengangguk dan keluar memberitahu teman-temannya
Mami bangkit dari kursinya dan mengambil Junior dari dekapan Sania
Membawanya naik dengan berurai air mata
Karena Junior dibawa mami naik, gadis-gadis yang berada di bawah secara bersamaan mendekap Sania dan mereka bertangisan
......................
Kelima investor asing tersebut diajak berkeliling oleh Alexander, dan dia terus menjelaskan pada koleganya tersebut seperti yang telah dia presentasikan ketika mereka meeting bersama di Singapore bulan lalu
Setelah cukup berkeliling proyek, mereka kembali kekantor, dan berganti dengan Mark yang menjelaskan secara detail pembagian hasil dan juga menjelaskan keuntungan untuk mereka semua
Hingga diakhir pertemuan hari itu disepakati jika kelima investor tersebut setuju dengan konsep yang dibuat Alexander dan menyerahkan semuanya pada Mark dan Alexander untuk mengelolanya
Dan ditempat lain, Milena yang terus meyakinkan papinya untuk bekerja sama dengan perusahaan Gio Group sedang merancang sebuah siasat yang kemungkinan besar papinya akan menyetujuinya
"Papi kan matre, saya yakin jika tawaran 70 30 dari Alexander ini diubah menjadi 50 50 atau 60 40, mungkin papi akan setuju"
Senyum licik mengembang di bibirnya ketika diingatnya jika Alexander akan setuju dengan idenya, karena dia sangat yakin jika Alexander akan melakukan apapun untuk dirinya
Setelah mendapatkan ide tersebut, Milena berjalan keruangan papi nya. Dan langkahnya diperlambat ketika dilihatnya papi nya sedang berbicara serius di telepon
Tuan Jeremy memberi kode padanya untuk duduk. Dan Milena yang segera duduk memperhatikan dengan serius wajah papinya
Dapat dilihatnya jika wajah papinya kadang tegang kadang masam bahkan kadang tersenyum
Hingga sepuluh menit kemudian barulah papinya meletakkan hp dan menghembus nafas berat
Milena menatap ragu pada papinya kira-kira akan menyampaikan idenya atau tidak karena dilihatnya jika wajah papinya masih tampak muram
"All be okay kan Pi?"
__ADS_1
Tuan Jeremy kembali menarik nafas dalam dan menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi
Milena makin penasaran dan memandang tegang pada papinya
Tuan Jeremy menggeleng sambil kembali membuang nafas kasar
"Ada apa pi?"
"Investor yang papi ajak bekerja sama sekarang ada di kantor Gio Group"
Milena terdiam. Dia makin ragu untuk menyampaikan idenya
"Dari luar?"
"Iya, yang kemarin pernah meeting dengan papi di Singapore"
"Ngapain mereka di kantor Alex?" tanya Milena pelan
"Meninjau proyek kerja sama yang mereka sepakati ketika di Singapore"
"******, lagi-lagi papi kalah dengan anak ingusan itu" geram tuan Jeremy
Milena makin tak berani menyampaikan idenya karena dilihatnya jika papinya tampak sekali kesal
......................
Sania hanya bisa menelungkupkan tubuhnya di kasur dengan tak henti-hentinya meratapi ketidakberuntungannya
Junior yang dibawa Mami naik ke kamarnya hingga kini belum juga tampak dibawa mami turun
Sania yang menangis pilu hanya mampu menyalahkan dirinya atas apa yang menimpa Junior
"Seandainya aku dulu tidak berniat menggugurkannya mungkin Junior tidak akan sepert ini"
"Seandainya dulu ketika awal-awal mengandungnya aku cukup gizi"
Seandainya dan se andai lainnya yang diratapi nya dengan penuh penyesalan
Sementara gadis-gadis yang lain yang berkumpul di ruang tamu saling diam dengan wajah sedih dan pikiran kacau
Hanya tarikan nafas dalam dan isakan yang terdengar dari mereka
"Kasihan Sania..." lirih salah satu dari mereka
Yang lain hanya menjawab dengan tarikan nafas berat
"Sania tentu sangat terpukul, kita yang bukan ibu kandungnya saja sangat sedih apalagi Sania yang ibu kandungnya Junior" timpal yang lain
Mereka mengangguk pelan dan saling toleh dengan tatapan sedih.
Sementara di lantai atas, tepatnya di kamar Mami Ajeng. Perempuan paruh baya yang masih sangat cantik dan modis itu tampak membelai wajah Junior yang terlelap dengan berlinang air mata
"Kamu tahu nak, kamu yang membuat mami merasakan bahagia memiliki anak, seumur hidup mami, mami tidak pernah merasa sebahagia memiliki kamu, kamu seperti anak mami sendiri karena sejak kamu lahir, mami ikut merawat kamu"
"Dan ketika kamu divonis buta oleh dokter, hati mami ikut hancur"
__ADS_1
Tak terasa air mata mami Ajeng kembali mengalir deras ketika dia mengucapkan kalimat tersebut