
Di dalam mobil, diperjalanan menuju rumah mami, Sania terus mendekap tubuh Junior
"Mama nangis?"
Sania kaget dan terburu menghapus air matanya
"Tidak nak, mama cuma lagi pengen peluk kamu saja"
Junior menempelkan kepalanya ke dada Sania, dan Sania terus mengelus kepalanya
"Junior ngantuk...."
Sania kembali mengusap kepala Junior agar anaknya tersebut cepat terlelap
Dan benar saja, tak lama berselang akhirnya Junior telah nyenyak, hanya nafas teraturnya saja yang didengar jelas oleh Sania
Dan taksi yang membawa mereka kian mendekati rumah mami
"Masuk ya pak, soalnya anak saya tidur"
Supir taksi tersebut mengangguk dan ketika sampai di depan pagar, beliau memberi klakson yang tak lama kemudian pagar di dorong dari dalam, dan taksi langsung masuk ke halaman
Si Supir turun membukakan pintu ketika dilihatnya Sania berusaha menggendong Junior
Gadis-gadis yang akan bekerja dan menunggu jemputan mereka melihat Sania keberatan menggendong Junior sebagian dari mereka menuruni tangga dan berlari kearah Sania
"Biar aku aja" ucap Deno cepat
Segera diambilnya Junior dari gendongan Sania, langsung dibawanya menuju kamar Sania
"Terima kasih ya Den..." ucap Sania ketika dilihatnya Deno telah keluar dari dalam rumah
Deno mengangguk sambil menepuk bahu Sania
"Belum dijemput kak?" tanya Sania pada lima gadis yang malam ini bekerja
"Belum, biarlah, kan mereka sendiri yang rugi" jawab mereka sambil tertawa
Sania ikut tertawa juga
"Aku masuk dulu ya kak, mau lihatin posisi Junior, takutnya terlalu di pinggir, jatuh nanti"
Kelima gadis itu mengangguk, lalu Sania masuk dan langsung menuju kamarnya
Sampai di dalam kamar dilihatnya Junior berada di tengah-tengah, sepatu yang tadi melekat di kakinya pun sudah berada di lantai, dan sebagian tubuhnya pun sudah ditutupi selimut
Sania tersenyum melihatnya dan menggelengkan kepalanya melihat bagaimana perhatiannya Deno pada Junior
Hp Sania berdering, nomor baru. Sania yakin jika itu adalah nomor Dhea, karena tadi Dhea yang mencatat nomornya, sedangkan dia tidak, dan tadi Dhea juga berkata jika secepatnya dia akan menghubungi Sania
"Iya halo?"
"San, ini gue"
"He em, tahu...."
Lalu keduanya tertawa
"Sebenarnya masih banyak yang ingin aku tanyakan dengan kamu San"
"Mau nanya apa, apa kamu ganti profesi jadi wartawan sekarang?"
Kembali terdengar suara tawa dari Dhea
"San, kapan kita bisa ketemuan lagi?, serius aku San. Aku ingin tahu semua tentang kamu. Kemana kamu selama ini, Pacar kamu yang bernama Deri itu sampe beberapa kali loh nyariin kamu ke kantor"
__ADS_1
Sania menarik nafas panjang
"Aku sudah ketemu dengan Deri, Dhe"
"Serius?, kapan?"
"Waktu aku sedang hamil besar"
Sania menarik nafas panjang, wajahnya berubah mendung
"Dia shock banget lihat aku hamil, dia nuduh aku khianati dia..."
Tak terasa air mata Sania mengalir mengingat bagaimana dulu dia sangat mencintai Deri
Dhea yang berada diseberang pun ikut menarik nafas panjang mendengar Sania terisak
"Terus kamu tahu gimana kabar dia sekarang?"
Sania menggeleng
"Nggak tahu aku Dhe, semua komunikasi aku putuskan, bahkan sama mama"
Dhea kembali menarik nafas dalam
"Nanti, ketika ketemu aku akan ceritakan semuanya sama kamu, oke?" suara Sania berubah ceria kembali, dia tak ingin Dhea ikut merasakan sedih
"Janji ya San, kangen aku tuh belum hilang beneran tahu sama kamu"
Kembali keduanya tertawa
"Gimana?, kamu masih kerja dengan pak Doni?"
"Iya masih San, mungkin ini adalah bagian kerjaan aku, habisnya mau cari kerja lain jaman sekarang kamu tahu sendiri, susah. Lagian kamu kan tahu, aku senangnya sama bule"
"Gimana bule gebetan kamu itu?, sukses nggak pdkt nya?"
"Sempat pacaran sih, tapi berhubung LDR, ya putus lah..."
"Yaa sayang banget, padahal kamu dulu bucin banget sama dia"
Lagi-lagi keduanya tertawa
"Terus sekarang?"
"Sama bule juga sih, tapi yang ini dia menetap disini San, instruktur surfing"
"Wee... sering diajak kelaut dong kamu kalau gitu Dhe?"
Kembali Dhea cekikikan
"Sekarang aku sudah jago surfing San, nanti kalo kita ada waktu sama-sama, aku akan ajak kamu surfing bareng"
Sania mengiyakan ajakan sahabat lamanya itu. Lalu kembali obrolan mereka berlanjut
Tak lupa Sania menanyakan bagaimana keadaan pak Doni dan juga teman-temannya satu mess dulu
"Sherly di pecat sama pak Doni"
"Loh, kenapa?"
"Lah, apa kamu nggak lihat berita di tivi?"
"Aku nyaris nggak pernah nonton tivi Dhe, anakku jauh lebih membutuhkan aku"
"Oh iya, maaf..." jawab Dhea kembali sambil cekikikan
__ADS_1
"Dia digerebek Sat Pol PP sama polisi di hotel, sedang mesum sama laki orang"
Sania menelan ludahnya mendengar ucapan Dhea
"Ya Tuhan, yang makai aku selama ini juga banyak suami orang" batinnya
"Kok bisa masuk tivi?"
"Ya karena yang bawa Sherly itu pejabat tinggi makanya buat heboh"
"Ohhh...." jawab Sania sambil manggut-manggut
Dia pun kembali menelan ludahnya karena pria hidung belang yang banyak memakainya selain pengusaha, juga ada beberapa orang penting negeri ini
"Oh iya San, kamu tinggal dimana sekarang? biar kapan-kapan aku bisa mampir"
Sania tergagap. Tak mungkin dia berkata jujur jika dia tinggal di rumah mami, bisa-bisa Dhea tahu apa pekerjaannya
"Kontrakan aku jauh dari jalan raya Dhe, nantilah kapan-kapan kamu aku ajak mampir, ya?"
"Iya deh, rasanya aku belum puas ketemu sama anak ganteng kamu"
Sania tersenyum
"Anak kamu kaya bule San, putih bersih, hidungnya mancung, sumpah ganteng banget"
"Dia mirip papanya, persis sekali Alexander, jadi kalau kamu mau tahu wajah Alexander, ya itu wajahnya mirip Junior"
"Tapi anakku ada kekurangan Dhe, yang sampai saat ini masih aku usahakan mencari pendonor retina" suara Sania kembali sedih
"Sudah ke bank mata?"
"Sudah, tapi kebanyakan retina orang dewasa, sedangkan retina anak-anak tidak ada"
"Beberapa kali aku dan teman-temanku mencari ke rumah sakit, mencari anak yang sakit yang kira-kira tidak akan bertahan lama lagi, tapi ya itu Dhe, mana ada orang tua yang mau"
"Merasa di posisi kita lah Dhe, mana mau kita mendonorkan anggota tubuh kita walau kita mati, iya kan?"
"Dan sekarang aku sedang mengumpulkan uang, aku akan bawa anak aku berobat ke luar negeri, aku juga sudah berusaha mencari informasinya, dan kamu tahu sendiri Dhe, biayanya tidak sedikit"
Terdengar tarikan nafas berat Dhea
"Kamu yang sabar ya San, yakinlah kalau Tuhan ngasih cobaan ini ke kamu, artinya Tuhan yakin kamu bisa melewatinya"
"Tapi ini berat Dhe...."
Lalu meledak lah tangis Sania, dan Dhea yang mendengarnya ikut terisak juga
"Junior tidak mempunyai salah apa-apa Dhe, akulah yang salah, tapi mengapa Tuhan malah menghukum dia?"
Tangis Sania makin terasa memilukan hati Dhea, hingga dia juga makin tersedu-sedu
"Pengen banget aku sekarang ada di dekat kamu San, meluk kamu...." jawab Dhea terputus-putus
"Sedih banget Dhe rasanya...."
"Aku tahu San, aku tahu. Aku tahu bagaimana kamu dulu mempertahankan janin mu, aku tahu bagaimana perjuanganmu"
"Entahlah Dhe, terkadang aku berada di titik pasrah ketika tidak menemukan solusi bagaimana menyembuhkan anakku, tapi terkadang aku kembali semangat ketika anakku yang memberikan semangat untukku"
"Kamu dengar sendiri kan Dhe tadi dia bilang apa bahwa dia senang dia buta, dengan begitu dia tidak mempunyai dosa karena tidak melihat apapun di sekitarnya" lalu kembali suara isakan Sania terdengar jelas di telinga Dhea, bahkan dengan tarikan nafas panjang seakan Sania ingin melegakan hatinya
"Kamu yang kuat San, aku akan bantu kamu juga, aku akan mencarikan pendonor juga buat Junior, sekarang ada aku juga sebagai orang yang akan bantu kamu"
Sania mengusap kasar wajahnya, berusaha tersenyum tegar, lalu mengusap kepala Junior yang masih tampak pulas
__ADS_1