
"Hati-hati Opa....., besok kesini lagi ya.....". teriak Junior sambil melompat-lompat kecil ke arah Tuan Anton yang sudah masuk ke dalam mobil.
Tuan Anton tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah mami Ajeng, Sania dan Junior. dan ditatapnya wajah Junior yang terus melompat-lompat kegirangan
"Kalian awasi terus rumah bordil ini jangan sampai sesuatu hal buruk terjadi pada cucuku" kata Tuan Anton pada para bodyguardnya.
4 Bodyguard yang berada satu mobil dengan Tuan Anton menganggukkan kepala mereka dan menjawab cepat
"Siap bos!".
Lalu Tuan Anton meraih hpnya yang berada di dalam saku jas mahalnya karena benda tersebut berdering.
Segera diterimanya panggilan yang masuk, karena di layar HP tersebut tertera nama istrinya.
"Papi ada di mana?, cepat datang ke rumah sakit sekarang karena hal buruk terjadi pada Alexander" .
Wajah Tuan Anton seketika langsung menegang dan dengan segera di suruhnya bodyguard yang mengemudikan mobil melajukan mobilnya dengan ngebut.
"Apa tidak bisa lebih cepat lagi??!" teriak Tuan Anton kesal.
Bodyguard yang mengemudi kan mobil kembali tancap gas dan menyalip semua kendaraan yang ada di depannya, bahkan terdengar beberapa pejalan kaki memaki akibat ulahnya.
Tak berselang berapa lama mobil sudah masuk ke area parkir rumah sakit, dan dengan segera tuan Anton turun dari dalam mobil diikuti oleh empat orang bodyguard yang mengawalnya dari belakang.
Secepat kilat Tuan Anton langsung masuk ke dalam lift dan langsung menekan tombol lantai ruang ICU tempat di mana Alexander dirawat.
Sampai di depan lorong menuju ruang ICU, dilihatnya istrinya tengah terduduk sambil menangis terisak
Tuan Anton berjalan cepat kearah nyonya Emma, dan nyonya Emma begitu mendengar langkah derap kaki cepat langsung menoleh dan begitu tahu jika yang datang adalah suaminya, segera beliau berlari dan memeluk suaminya dengan wajah basah.
"Apa yang terjadi pada Alexander?" tanya Tuan Anton dengan nada panik.
Nyonya Emma tidak bisa menjawab, karena saat itu dia masih menangis sedih.
Segara tuan Anton melepaskan dekapannya pada istrinya dan langsung berjalan cepat ke arah ruang ICU, melihat melalui balik jendela bagaimana beberapa orang dokter sedang berusaha menyelamatkan Alexander yang tampak bergerak tak teratur.
__ADS_1
"Siapkan helikopter sekarang juga!" ucap tuan Anton berbicara pada HP.
Selesai berbicara seperti itu Tuan Anton langsung mendorong keras pintu ruang ICU yang menyebabkan beberapa orang dokter yang tengah menangani Alexander menoleh cepat ke arah beliau.
"Kalian semua ikut saya ke Jakarta, anak saya akan saya bawa kesana."
Beberapa dokter itu saling toleh dan langsung menganggukkan kepala mereka lalu dengan cepat mereka semua mempersiapkan peralatan medis dan juga mempersiapkan kondisi Alexander
10 menit selanjutnya brankar yang berisi Alexander sudah dibawa keluar dari ruang ICU, dan sekarang sedang didorong ke atas oleh beberapa orang bodyguard
Ketika sampai di helipad rumah sakit, helikopter sudah siap dan segera dua orang dokter masuk sambil membawa tubuh Alexander.
Tuan Anton memberi kode kepada pilot yang berada di dalam helikopter untuk segera terbang.
Pilot tersebut menganggukkan kepalanya dan mengangkat jempol tangannya, dan tak lama kemudian, baling helikopter langsung bergerak cepat dan langsung terangkat ke udara.
Setelah helikopter pergi Tuan Anton bersama dua orang bodyguard langsung turun kembali ke bawah dan langsung melesat menuju bandara karena mereka semua akan kembali ke Jakarta menggunakan penerbangan saat itu juga.
"Kalian berlima tetap tinggal di sini. Jaga Mark dan juga pria yang bersama Alexander pada malam itu. Dan juga ingat apa yang saya katakan di perjalanan tadi!" kata Anton kepada Bodyguard yang tadi di bawanya ke rumah Mami Ajeng.
5 orang bodyguard menganggukkan kepala mereka lalu mereka menganggukkan kepala mereka juga ke arah nyonya Emma sebelum akhirnya mereka pergi meninggalkan bandara dan kembali ke mobil mereka.
"Anak saya sedang dalam perjalanan menuju Rumah Sakit, kalian siapkan ruangan khusus untuk anak saya dan segera kalian tangani. Jika kalian menemui kendala segera beritahu saya!".
Selesai berkata demikian, tuan Anton memasukkan kembali hp-nya ke dalam saku jasnya kemudian menoleh pada istrinya dan mengusap kepala istrinya sambil berusaha untuk tersenyum
"Sabar mi, Alexander pasti baik-baik saja"
Nyonya Emma tidak menjawab melainkan hanya mengangguk sementara air matanya tidak berhenti mengalir.
1 jam berikutnya barulah penerbangan yang mereka tunggu take off, Nyonya Emma dan Tuan Anton langsung berjalan cepat kearah pesawat dikawal oleh 5 orang bodyguard di belakang mereka.
2 jam berikutnya Tuan Anton dan nyonya Emma sudah berada di rumah sakit tempat di mana saat ini Alexander sedang ditangani oleh dokter profesional.
Berkali-kali Tuan Anton dan nyonya Emma berjalan mondar mandir dengan gelisah di depan ruang operasi di mana saat ini beberapa orang dokter tengah melakukan operasi pada Alexander
__ADS_1
Tapi hingga menjelang malam dokter belum juga keluar dan itu semakin membuat keduanya khawatir.
Jam 09.00 malam barulah seorang dokter keluar dan tuan Anton beserta Nyonya Emma langsung memberondong dokter tersebut dengan pertanyaan dan wajah yang tegang.
"Syukurlah, operasi panjang yang kami lakukan hari ini berjalan lancar" jawab dokter tersebut yang membuat nyonya Emma dan Tuan Anton menarik nafas lega dan langsung berpelukan dengan haru.
Dengan segera Tuan Anton langsung menjabat erat tangan dokter tersebut sambil berkali-kali mengucapkan terima kasih.
Begitu juga dengan nyonya Emma, perempuan cantik blasteran tersebut juga mengucapkan terima kasih tak terhingga kepada dokter yang telah menyelamatkan nyawa anak semata wayangnya.
"Untuk sementara pasien belum bisa dijenguk" ucap dokter sambil tersenyum ramah kearah Nyonya Emma dan Tuan Anton yang masih tampak terharu.
Nyonya Ema dan tuan Anton hanya menganggukkan kepala mereka menjawab perkataan dokter tersebut.
Setelahnya dokter tersebut berjalan pergi meninggalkan dua orang suami istri itu yang masih bergenggaman tangan dengan erat.
Tak lama ruang operasi terbuka dan beberapa orang dokter yang masih berpakaian baju khusus operasi tampak mendorong brankar yang berisi Alexander.
Nyonya Ema langsung berlari mengikuti brankar yang berjalan lurus menuju ruang ICU sambil memegang tangan Alexander
"Kamu yang kuat ya sayang, mami sama papi selalu berada di samping kamu" lirih nyonya Emma sambil menghapus air matanya.
Genggaman tangan Nyonya Emma pada tangan Alexander harus terlepas ketika brankar yang membawa Alexander masuk kedalam ruang ICU.
Dan kembali Nyonya Ema hanya bisa melihat Alexander melalui balik kaca jendela ruang ICU.
Kembali air matanya terus mengalir. Dan Tuan Anton yang tiba di depan ruang ICU kembali menepuk dan mengusap-usap punggung istrinya berusaha menghilangkan kekhawatiran dalam hati wanita yang sangat dicintainya itu.
"Bagaimana dengan orang yang telah memukuli Alexander, Apakah Papi sudah menghukum orangnya?".
Tuan Anton hanya menganggukkan kepalanya saja menjawab pertanyaan nyonya Emma, tidak mungkin untuk dia mengatakan apa sebenarnya yang terjadi.
Dan mata Nyonya Emma berkilat marah ketika mendengar jawaban dari suaminya.
"Orang itu harus mendapatkan balasan setimpal karena dia telah berani menyakiti anakku" geram nyonya Emma.
__ADS_1
Tuan Anton hanya mengangguk pelan dan kembali mengusap pelan punggung istrinya.
"Papi yakin Mi, mami tidak akan membalas dendam ketika mami tahu apa sebenarnya yang terjadi" batin Tuan Anton.