
Begitu mami Ajeng selesai mengedit sedemikian rupa beberapa gambar Sania sebelum di upload nya, permintaan booking untuk gadis itu mulai berdatangan
Salah satunya adalah dari tuan Handoyo, klien yang pernah Sania tinggalkan dengan cara kabur saat pertama kali dia membooking Sania sekitar setahun yang lalu
Apakah ini gadis yang pernah kabur dariku dulu mi?
Mami Ajeng tersenyum ketika membaca pesan dari Tuan Handoyo
"Jeli juga mata lelaki tua ini" gumam mami Ajeng tersenyum geli
Iya benar
Jika begitu aku kembali akan membooking dia mi
Boleh, tapi tidak murah loh bapak Handoyo yang terhormat
Come on mi, dulu aku pernah membayar mahal tapi gadis ini malah kabur
Kali ini bisa saya pastikan jika Nahla tidak akan meninggalkan bapak dan akan melayani bapak sampai bapak puas
Berapa tarif yang mami tawarkan?
Mami Ajeng langsung tersenyum menyeringai membaca pesan terakhir yang dikirim tuan Handoyo padanya
Mami lalu melihat chat masuk lain, membaca tawaran harga yang mereka tawarkan pada mami
"Hemmm mahal juga tawaran para pria ini untuk Sania" gumam Mami Ajeng
Lima puluh juta untuk sekali kencan
Tulis mami Ajeng membalas semua chat yang masuk
Tak disangka tawaran mami Ajeng yang jauh di atas tawaran pria belang tadi masih mendapat respon yang banyak
"Gilaaa....." kembali mami Ajeng bergumam
Mami buka tarif 50 juta, karena ini adalah second time buat Nahla, jadi siapa yang menawar paling tinggi maka itu yang akan berkencan dengannya
Kembali aplikasi tersebut ramai dengan pesan masuk
Dan akhirnya pak Handoyo lah pemenangnya, karena dia berani membayar paling tinggi
Waktunya nanti akan saya kirim langsung ke bapak
Setelah menulis balasan pada tuan Handoyo, mami Ajeng tersenyum senang sambil sesekali menggelengkan kepalanya
Dan Sania yang dibawa keluar oleh Helen segera dibawanya masuk kedalam kamarnya
Tanpa Sania duga, di kamar tersebut Helen segera menyalakan dvd dan memutar sebuah video
Awalnya Sania bersikap biasa saja ketika tampil gambar para wanita dan lelaki bule
Tapi akhirnya dia mulai gelisah dan menatap nanar pada Helen
"Kak, ini video blue?"
Helen menghentikan video yang sedang berputar, lalu menoleh kearah Sania dan mengangguk
"Kamu belum pernah lihat video ginian?"
Sania menggeleng kuat dan Helen terkekeh
"Nah jadi cara kakak menunjukkan video ini sama kamu tepat"
Lalu Helen kembali menekan tombol merah pada remote dan video yang tadi terjeda sekarang berputar kembali
__ADS_1
"Ini education untuk kamu, biar nanti ketika kamu di booking orang, kamu sudah mahir dan tidak amatiran lagi"
Sania menggidikkan bahunya dengan takut yang kembali membuat Helen tertawa
"Lah terus gimana dong?, nggak mungkinkan kakak ngajak kamu langsung, terus kamu lihat secara live?"
Sania melemparkan bantal pada Helen dengan kesal sedangkan Helen terkekeh
"Kakak juga dulunya kaya kamu San, merasa kagok, aneh dan jijik. Tapi mau gimana lagi, inilah resiko pekerjaan kita sebagai wanita malam"
Sania menarik nafas panjang lalu dengan takut-takut di tontonnya juga video tersebut
Berkali-kali dia hendak muntah dan bergidik ngeri yang kembali membuat Helen tergelak
"Apa aku harus kaya gitu kak?" tanya Sania ketika video yang berdurasi nyaris satu jam itu berhenti
"Nggak juga sih, itu kan hanya sebagai referensi saja"
"Hiiii" kembali Sania bergidik dan berlari terbirit meninggalkan Helen yang terpingkal-pingkal
Sania yang berlari keluar dari kamar Helen segera menuruni tangga dengan cepat
Kedatangan Sania yang terburu dengan wajah tegang menarik perhatian para gadis yang duduk bermain dengan Junior
"Kenapa San?"
Sania menggeleng cepat dan segera mengambil Junior dari pangkuan salah satu gadis yang segera membawanya masuk kedalam kamarnya
Sampai di kamar, Sania segera membaringkan Junior, lalu melepas dress yang melekat di tubuhnya dan berganti dengan baju santai
"Hiiii...." kembali dia bergidik ngeri dan segera berbaring di sebelah Junior dan mendekap erat buah hatinya yang merengek
Sania menepuk-nepuk pantat Junior yang sedang minum asi padanya sambil kembali mengingat adegan yang dilihatnya tadi
...----------------...
Sania yang telah diberitahu mami Ajeng jika tuan Handoyo, lelaki yang pernah ditinggalnya kabur dulu adalah orang yang akan membooking nya dengan bayaran fantastis
Sania terus berjalan mondar mandir di dalam kamarnya sambil menggigit kukunya
"Ya Tuhan bagaimana ini?" keluhnya
Segera dia duduk di kasur, menarik nafas panjang lalu kembali berdiri lagi dan kembali berjalan mondar mandir
"Alexander....." geramnya frustasi sambil meremas rambut panjangnya
"Awas kamu, suatu hari nanti aku akan membunuhmu!"
Kembali Sania terduduk di atas ranjang, menunduk dalam dan air matanya langsung mengalir
"Mengapa kau lakukan ini padaku Alexander....?" isaknya
Junior merengek dan Sania buru-buru mengusap kasar wajahnya
"Ya sayang?"
Junior terus merengek dengan menggerakkan tangan dan kakinya, Sania segera meraih tubuh gembul Junior dan mendekap ke dadanya
"Kita hadapi sama-sama ya nak?" lirihnya sambil kembali terisak
Junior terus menggumam dan Sania menunduk menatap wajah polos Junior
Hatinya berdenyut hebat ketika dilihatnya kedua bola mata anaknya bergerak ke kanan ke kiri dengan cepat
"Ya Tuhan....." ucapnya tercekat dengan air mata yang kembali membanjiri wajahnya
__ADS_1
"Tak ada pilihan lain, aku harus menerima pekerjaan ini, aku harus siap kencan dengan tuan Handoyo" lirihnya pilu dengan mengusap kasar wajahnya
Sania membawa Junior berjalan-jalan keluar, ke halaman dimana seluruh penghuni rumah bordir ini biasanya bersantai
Deno segera mendekat begitu dilihatnya Sania berjalan kearah mereka
Dan tangannya langsung terulur kearah Junior, dan Sania dengan sukarela memberikan Junior padanya
"Lihat mami nggak kak?"
Beberapa gadis yang fokus menatap hp mereka masing-masing mengangkat kepala ketika mendengar pertanyaan Sania
"Di ruangannya mungkin San, kamu telpon aja"
Sania mengangguk lalu mengambil hp dalam saku pakaiannya
"Dimana mi?" tanyanya ketika panggilannya tersambung pada mami Ajeng
"Di ruang kerja, kenapa?, mau bicara masalah yang kemarin mami kasih tahu?"
"Iya mi"
"Langsung naik saja, mami tunggu"
"Baik mi"
Sania memutus obrolan lalu kembali menoleh kearah gadis-gadis yang kembali fokus menatap hp masing-masing
"Kak, aku masuk lagi ya?"
Kembali mereka mengangkat kepala mereka dan mengangguk kearah Sania
Sania segera berjalan masuk setelah sebelumnya menoleh kearah Deno yang sedang memangku Junior
Sania segera naik ketangga dan berjalan kearah ruang kerja mami, ketika sampai di depan ruang kerja mami, ditariknya nafas panjang sebelum mengetuk pintu
"Masuk!"
Sania segera mendorong pintu setelah mendengar jawaban mami Ajeng dari dalam
Dan langsung duduk di depan mami Ajeng yang masih fokus menatap tablet di tangannya
Sania menatap kearah mami Ajeng yang tampaknya masih sibuk dan mami Ajeng segera mengalihkan perhatiannya dari tablet lalu melirik kearah Sania
"Iya, ada apa San?"
"Aku siap mi bekerja, terserah mami maunya kapan"
Mami Ajeng tersenyum
"Baiklah, mami akan hubungi pak Handoyo, beliau bisanya kapan"
Sania mengangguk dan hanya bisa menatap khawatir kearah mami Ajeng yang tampaknya menelepon seseorang
"Ini pak Handoyo, saya cuma mau ngasih kabar jika Nahla bersedia menerima ajakan kencan bapak"
Dan tampak mami Ajeng manggut-manggut dan degup jantung Sania kian berdebar kencang
"Oke, baiklah jika begitu pak"
Lalu mami meletakkan hpnya dan menatap kearah Sania
"Tuan Handoyo inginnya malam ini, dan dia akan mengirim supir untuk menjemputmu"
Sania menelan ludahnya dengan susah payah dan mengangguk pelan
__ADS_1