
Sania pulang ke rumah bordil setelah sehari dirawat di rumah sakit. Saat itu sore hari, ketika mobil yang dibawa Deno berhenti dan Helen yang turun memapah Sania, sedangkan Mami menggendong bayi mungil dengan wajah yang cerah
Seisi rumah bordil tersebut langsung berhamburan keluar ketika mengetahui jika yang datang adalah Sania
Seluruh wanita malam yang berpakaian minim tersebut langsung memeluk erat dan menciumi Sania dengan sayang
Dan berebut hendak menggendong bayi mungil yang ada di dalam gendongan mami Ajeng
"Hadeee, bisa kena sawan nanti..." teriak mami menghindari tangan anak semangnya yang semuanya terulur hendak merebut bayi mungil tersebut
Mata Sania berkaca-kaca ketika melihat bagaimana antusiasnya mereka menyambut anaknya
"Saya beruntung, walaupun saya tinggal ditempat seperti ini, tapi mereka sangat menyayangi dan menerima aku dan anakku" batin Sania
Helen memegang erat pundak Sania ketika dilihatnya wanita muda itu menitikkan air mata
Helen mengangguk dan kembali membimbing Sania berjalan masuk, sedangkan yang lain berjalan mengelilingi mami Ajeng
Begitupun ketika mami duduk, mereka kembali mengelilingi kursi mami
"Astaga apa kalian tidak ada kerjaan lain?" bentak mami Ajeng kesal
"Numpang cium sekaliii aja mi..." ucap mereka dengan wajah memelas
Dengan wajah kesal akhirnya mami Ajeng mengalah dan memajukan sedikit bayi mungil yang ada di gendongannya kearah anak semangnya
Kembali mereka berebutan menciumi pipi merah bayi tersebut
"Ya ampun San, anak kamu putih banget, apa bapaknya bule ya San?"
Sania bergeming dan hanya bisa menelan ludah
"Bagaimana aku bisa melupakan wajah lelaki itu" geramnya dalam hati
"Sudah jangan bahas bapaknya, anak ini sekarang anak kita semua" jawab Helen menengahi
Gadis-gadis itu mengangguk dan kembali menatap sayang pada bayi mungil yang masih anteng memejamkan matanya
"Sudah dikasih nama belum San?"
Sania menggeleng. Kembali gadis-gadis itu ribut memberikan masukan nama kekinian untuk nama anak Sania
Mami Ajeng yang melihat kegaduhan mereka hanya menggelengkan kepalanya saja
"Mungkin kamu punya sudah mempersiapkan namanya San?" toleh mereka
Sania diam dan tampak menarik nafas panjang
"Dia akan ku namai Junior Alexander"
Helen langsung menatap nanar wajah Sania yang terlihat marah, gadis itu lalu menggenggam erat tangan Sania
"Biar mengingatkanku pada orang yang telah menghancurkan hidupku kak" jawab Sania menoleh pada Helen sambil berurai air mata
Helen langsung memeluk Sania dan mengusap-usap kepalanya
Sementara gadis-gadis lain saling toleh dan menatap Sania dengan wajah sedih
"Kamu nggak sendiri San, ada kita" ucap mereka
...----------------...
Sementara di ibukota, Milena yang kesal karena diabaikan oleh Alexander kemarin, hari nekad menghadap papinya
"Apa sih pi yang membuat papi menolak bekerja sama dengan perusahaan Gio Group?"
Tuan Jerry memundurkan kursinya dan menatap serius wajah anak perempuannya
"Kenapa tiba-tiba kamu membahas hal ini?"
__ADS_1
Milena melengos sebentar lalu kembali menatap serius wajah papinya
"Come on pi, kan papi sendiri yang bilang jika di Singapore semua memuji Alex, dan semuanya bekerja sama sama Alex, kok papi malah menolak, apa masalahnya?"
Wajah tuan Jeremy berubah datar dan menatap dingin wajah anaknya
"Mengapa tiba-tiba kamu bicara tentang kerja sama, sama perusahaan rival kita itu?"
Milena diam dan menoleh sekilas menghindari tatapan papinya
"Apa ini ada hubungannya dengan kamu yang mencintai anaknya Anton itu?"
Milena masih tak menjawab dan tuan Jeremy semakin yakin jika ini karena masalah pribadi.
"Apa pemuda itu menolak cinta kamu?"
Wajah Milena membeku, kembali dia teringat bagaimana Alexander semakin dingin padanya
"Kamu ini wanita berkelas, wanita pintar, jangan karena hati kamu jadi terlihat bodoh dan rendahan"
Milena menelan ludah mendengar ucapan papinya
"Sampai kapanpun papi tak akan menerima tawaran kerja sama pada perusahaan Anton, tak akan"
"Tapi kenapa pi?, please kasih tahu Mil apa alasannya?"
"Dunia bisnis itu kejam Mil, kamu tidak akan memahaminya"
Milena pasrah mendengar ucapan papinya
"Tidakkah papi ingin menurunkan ego papi?, kesampingkan permusuhan papi sama oom Anton, ini untuk kepentingan perusahaan kita juga pi, jika kita bekerja sama sama perusahaan Alex, bukan tidak mungkin jika kolega yang lain akan melirik perusahaan kita"
"Itu artinya sama saja dengan kita mengembangkan perusahaan kita"
Tuan Jeremy diam dan tampak memikirkan ucapan putrinya
"Papi yakin sama Mil, Mil yang akan mengurus bisnis ini, Mil janji Mil akan profesional dan mengesampingkan urusan pribadi"
"Percayakan semuanya pada Mil, pa"
Tuan Jeremy tersenyum segaris dan kembali menarik laptopnya
"Nanti papi pikirkan lagi, sekarang kamu bisa kembali bekerja lagi"
Milena mengangguk dan segera berdiri dari kursinya, dan kembali kemejanya yang satu ruangan dengan tuan Jeremy
Senyum optimis mengembang di bibir Milena, dia yakin jika papinya termakan dengan ucapannya tadi
Lagian apa yang dikatakannya tadi tak salah, jika perusahaan papinya bekerja sama dengan perusahaan Gio Group, kesempatan untuk perusahaan itu berkembang hingga tingkat internasional makin terbuka lebar
Milena yang kembali ke meja kerjanya segera kembali fokus. Kini semangat kerjanya menjadi bertambah karena melihat reaksi positif dari sang papi
Sementara di perusahaan Gio Group, Alexander yang sedang menangani proyek besar dengan perusahaan asing berusaha untuk profesional dan mengabaikan perasaan gelisah nya
"Mungkin hanya perasaan ku saja" lirihnya sambil mengusap kasar wajahnya
Mark yang selalu mendampinginya sekalipun tak lepas memperhatikan gerak-gerik anak tuan besarnya itu
"Jika anda tak baik-baik saja beri tahu saya, biar saya dan yang lain handle pekerjaan ini"
Alexander menggeleng pasti
"All be okay Mark, don't worry"
Mark memiringkan kepalanya dengan menaikkan alisnya tanda setuju
"I trust you"
Alexander tersenyum sumringah. Hingga kembali dia fokus menatap pekerjaannya
__ADS_1
Berkali-kali handphonenya berdering panggilan masuk dari koleganya yang menyatakan sejauh mana proyek itu telah berjalan
Dengan cekatan Alexander menjelaskan semuanya pada para koleganya, hingga akhirnya disepakati minggu depan para kolega tersebut akan datang ke Indonesia meninjau langsung berjalan proyek kerja sama mereka
Wajah Alexander menegang tapi juga bahagia, itu artinya kinerjanya memang telah diakui para investor asing
"Mark, siapkan hotel untuk kolega kita dari luar negeri, minggu depan mereka akan datang meninjau proyek kerja sama kita"
"Anda serius?"
Alexander mengangguk
"Siap, akan saya reservasi hotel hari ini juga, untuk berapa orang ?"
"Lima orang, kolega dari Singapore dan London yang akan datang, yang lain belum memberikan kapan kesiapan mereka datang karena mereka juga sama sibuknya dengan kita"
"Congrats tuan muda, akhirnya anda benar-benar bisa membanggakan" puji Mark tulus
Alexander tersenyum sambil menggelengkan kepalanya dengan malu
"Come on Mark, aku memang bad boys, tapi kalau untuk perusahaan papaku, aku akan serius, aku nggak mau papa kecewa"
"Cukuplah beliau kecewa dengan kenakalanku tapi bukan dengan karirku"
Mark menatap serius wajah Alexander
"Apa yang menyebabkan anda berubah seperti ini?"
"Come on Mark, cuaca saja bisa berubah begitu juga dengan hati manusia, iya kan?"
"Bukan, saya heran saja mengapa begitu cepat mood anda berubah"
Alexander merebahkan kepalanya ke sandaran kursi dan menarik nafas panjang
"Aku tak tahu Mark, aku merasa ada sesuatu yang membawaku untuk berubah"
"Apa karena gadis di cottage itu?"
Alexander langsung menatap tajam kearah Mark
"Maksud kamu?"
"Hampir satu tahun kita meninggalkan gadis itu, pernah anda menghubunginya setelah kita kembali kesini?"
Alexander menggeleng, dan Mark tersenyum kaku
"Bagus deh, aku harap perubahan kamu bukan dari perempuan, tapi murni dari hati kamu yang ingin maju"
......................
Ketika Sania masuk ke kamarnya, suasana kamar itu benar-benar berubah
Ruangannya jadi lebih rapih, ada tambahan box bayi dan juga ada berbagai macam mainan yang tergantung di sekitar box
Kembali mata Sania berkaca-kaca menoleh kearah gadis-gadis seksi yang tersenyum manis kearahnya
"Terim kasih kak..." lirihnya
Gadis-gadis cantik itu mengangguk dan kembali berebutan mencium wajah anak Sania
"Siapa San tadi namanya?" tanya salah satu gadis
"Junior Alexander"
Gadis-gadis itu tersenyum dan kembali mengelus sayang pipi Junior yang terus terpejam
"Junior sekarang jadi milik kita semua, kita semua berjanji jika kita akan menjadi mama untuk Junior"
Semua gadis yang ada di dalam menoleh pada Helen yang berdiri di ambang pintu
__ADS_1
Air mata Sania kembali mengalir deras ketika mendengar ucapan tulus dari Helen