Kejahatan Alexander Louise

Kejahatan Alexander Louise
Juniorku....


__ADS_3

Kehadiran Junior di rumah bordil itu menjadi hiburan tersendiri untuk seluruh penghuni di sana


Semuanya saling bantu dalam merawat Junior, jika Junior menangis dan Sania tertidur maka mereka tak segan untuk mengambil dan menggendongnya


Junior benar-benar jadi hiburan untuk mereka disela rutinitas mereka yang menguras tenaga ekstra


Dan sekarang umur Junior sudah lebih satu bulan, dan Sania sudah menyiapkan dirinya untuk bekerja sesuai dengan perjanjiannya sama mami Ajeng


"Kamu yakin San?" tanya Deno siang ini


Sania menarik nafas panjang


"Aku tidak punya pilihan lain Den"


Deno ikut menarik nafas dalam


"Terus anak kamu?"


"Entah lah Den"


"Bagaimana jika kamu bicara sama mami untuk memperpanjang tenggat waktu kamu, biarkan Junior besar dulu, baru setelah itu kamu kerja, kamu tahu sendiri kan bagaimana gadis-gadis yang bekerja disini, mereka bisa berhari-hari nggak pulang"


Sania diam dan tampak berpikir, memang diakuinya jika wanita malam ini disini sering berhari-hari baru pulang, atau paling cepat mereka pulang ketika dini hari


"Tapi apa mami bakal nerima alasan aku Den?"


"Ya kamu bicara dulu sama mami, minta dispensasinya kembali"


Sania menganggukkan kepalanya, dan segera bangkit dari kursi ketika didengarnya suara tangisan Junior


Deno yang melihat Sania berdiri menjauh hanya bisa menatap dengan sedih


"Dulu ketika tinggal di rumah kak Anita aku sempat ingin berbuat jahat pada gadis itu, tapi sekarang, giliran dia ingin menjadi wanita malam, aku malah kasihan melihatnya" gumam Deno


Sania yang masuk kedalam kamarnya segera mengambil Junior yang menangis


Membawanya kedalam gendongannya dan membawanya keluar dari dalam kamar, berjalan menuju tempat tadi, dimana masih ada Deno di sana


"Hei, jagoan oom sudah bangun ya?" ucap Deno sambil menoel pipi Junior


"Maaf San jika aku lancang, apa kamu tidak akan memberitahu ayahnya Junior jika kamu sudah melahirkan anaknya?"


Wajah Sania mengeras dan dia menggeleng kuat


"Bahkan sampai aku mati, aku tidak akan mempertemukan Junior pada bajingan itu"


Deno hanya bisa menatap kemarahan pada sorot mata Sania.


"Aku tidak akan pernah melupakan bagaimana gara-gara bajingan itu hidupku hancur berkeping-keping" sambil berkata seperti itu air mata Sania mengalir


"Okelah San jika itu keputusan kamu, aku minta maaf"


Sania hanya bisa diam dan menatap dalam pada Junior yang matanya nanar


Malamnya ketika semua penghuni rumah bordil ini berdinas, Sania menghadap takut-takut kearah mami


"Ada apa?"


Jantung Sania makin berdegup kencang ketika mami bertanya


"Ini mami, anu soal jadwal bertugas saya yang pernah kita sepakati"


"Iya, terus?"

__ADS_1


Sania makin ragu ketika mami menatap penuh selidik padanya


"Begini mami, Junior kan masih terlalu kecil untuk aku tinggal-tinggal, bisa tidak kalau aku kerjanya setelah Junior agak besar, minimal sudah tidak asi eksklusif lagi"


Terdengar mami Ajeng menarik nafas dalam dan menatap dalam pada Sania


"Begini San, kamu tahu sendiri kan mami itu orangnya tegas, mami tidak plin plan, tapi mami masih punya hati"


Sania mengangkat wajahnya dengan takut-takut dan menatap wajah Mami Ajeng


"Mami juga berfikiran seperti itu, mami juga mikir bagaimana jika Junior kamu tinggal lama, siapa yang akan mengasuhnya"


"Jadi mi?"


Mami Ajeng mengangguk


"Mami akan kasih kamu waktu sampai kamu siap"


Mata Sania berbinar bahagia sekaligus langsung berkaca-kaca


"Tapi sebagai gantinya, kamu menjadi asisten rumah tangga di rumah ini, seluruh tugas rumah kamu yang mengerjakan, semuanya"


"Siap mi, siap"


Sania segera bangkit dari duduknya dan memeluk erat mami Ajeng sambil meneteskan air mata


"Entah dengan cara apa aku bisa membalas jasa mami"


Mami Ajeng mengusap punggung Sania


Sejak saat itu, Sania bisa bernafas lega. Karena kembali mami Ajeng memberinya waktu.


Akhirnya seluruh tugas rumah Sania yang handle, membersihkan rumah, masak hingga mencucikan baju para penghuni rumah ini adalah tugasnya


Sania sedang bermain di dalam kamar bersama Junior setelah seharian bekerja membersihkan rumah


Karena saat ini Junior telah berumur lebih dari Empat bulan dan sudah bisa tengkurap jadi makin menjadi kesayangan seisi rumah


Di tangan Sania telah ada mainan kerincingan hadiah dari Helen, mainan tersebut bisa merangsang pendengaran dan juga motorik lainnya


Selama bermain, mata Junior hanya menatap keatas dan jarang sekali berkedip


Sania yang tak faham tak mempermasalahkan hal tersebut sampai akhirnya masuklah seorang gadis yang segera memainkan kerincingan berwarna merah tersebut di atas wajah Junior


Dan kembali Junior tak ada reaksi


"Kok Junior nggak ada reaksi ya San?"


"Maksudnya kak?"


"Ya misalnya matanya melirik gitu atau berbinar ketika mainan dimainkan di atasnya?"


Sania tertegun dan memperhatikan dengan seksama


"Iya ya kak"


Degup jantung Sania telah berdebar keras, segala pikiran buruk mulai berkecamuk di dadanya


"Coba kita bunyikan di samping telinganya San"


Sania mengangguk dan membunyikan mainan tersebut di samping telinga Junior dan Junior memiringkan kepalanya


Lalu kembali Sania mengulangi di atas wajah Junior, tapi kembali Junior tidak bereaksi

__ADS_1


"Jangan-jangan Junior.....?" ucap gadis itu takut


Sania menggeleng kuat dan air matanya telah berhamburan keluar


"Nggak kak, kakak jangan asal ngomong"


"Iya San kakak minta maaf, kita sama-sama berdoa ya San semoga tidak terjadi apa-apa dengan Junior"


Dan sejak hari itu Sania selalu merangsang penglihatan anaknya, mulai dari melambaikan tangan di atas wajahnya bahkan Sania sampai seakan-akan ingin mencolok mata Junior, tapi memang mata itu tidak merespon


Berita itu sampai pulalah kesemua telinga penghuni rumah bordil ini hingga mereka membuktikannya sendiri


Dan kekhawatiran mereka semua semakin menjadi ketika memang Junior tidak merespon apa-apa


"Kita bawa ke rumah sakit" putus Mami siang ini ketika semuanya berembuk


Dengan perasaan dan takut akhirnya Sania membawa anaknya ke rumah sakit untuk diperiksa di poli mata


Sania yang saat itu ditemani mami Ajeng dan Helen menceritakan semuanya pada dokter spesialis mata


Dan dokter mulai memeriksa kondisi Junior. Didapatinya jika pupil mata Junior tidak hitam melainkan agak berwarna putih, dan ketika dokter menyinari mata Junior, mata itu sama sekali tidak berkedip


Bahkan ketika dokter mengajaknya tertawa Junior sama sekali tidak tersenyum


Sania yang panik kian ketakutan ketika melihat perubahan wajah dokter yang memeriksa anaknya


"Bagaimana dokter?" tanyanya cepat


Dokter khusus mata itu menarik nafas dalam dan memandang bingung pada wajah ketiga perempuan yang duduk di depannya


"Anak saya normal apa tidak dok?" suara Sania bergetar saat dia mengucapkan kalimat tersebut


Helen menggenggam erat tangan Sania, sedangkan mami Ajeng menatap gelisah pada dokter yang diam


"Katakan dokter, saya berhak tahu"


Air mata Sania telah tumpah karena firasat buruk telah memenuhi dadanya karena dokter hanya diam


Sementara Junior yang ada dalam pangkuannya terus bergumam tak jelas dan menggerak-gerakkan tangan dan kakinya


"Dengan sangat terpaksa saya menyimpulkan jika anak ibu memang buta"


Serasa petir menyambar tepat di wajahnya, Sania langsung menangis pilu sambil memeluk erat Junior


Mami Ajeng dan Helen yang duduk di sebelahnya langsung memeluk Sania yang menangis pilu


Bahu Sania berguncang hebat, sampai dia menunduk sehingga Junior yang ada di pangkuannya ikut tertunduk


"Kenapa Tuhan, kenapa harus anak saya?" ratapnya pilu


Helen tak melepaskan dekapannya pada Sania, begitupun dengan mami Ajeng


Ketiganya larut dalam tangisan sedih mereka. Dan dokter yang melihat segera mengambil Junior dari pangkuan Sania dan menggendongnya dengan sedih


Bahu Sania berguncang hebat dalam dekapan mami Ajeng dan Helen


Dia tak bisa berkata apa-apa karena kesedihan yang sangat hebat mendera dadanya


"Mengapa harus Junior, Tuhan....?" isaknya dengan tubuh menggigil hebat


Sania meremas kuat bajunya dan mengigit kuat baju itu karena menahan betapa sakit hatinya


"Hukum saja aku Tuhan, jangan anak ku...."

__ADS_1


__ADS_2