
Dua minggu sebelum akhir tahun, tuan Anton menepati janjinya dengan memberikan izin pada anak semata wayangnya untuk menghabiskan akhir tahun di kota yang enam tahun lalu pernah dikunjunginya
Alexander dan Mark memilih penerbangan awal karena mereka ingin cepat sampai di kota tujuan
Dan sesuai jadwal, satu jam sebelum penerbangan, keduanya telah berada di waiting room bersiap untuk berangkat
Alexander dan Mark memakai pakaian santai layaknya mereka hendak berlibur, berbeda sekali dengan pakaian yang biasa mereka pakai, selalu pakaian formal
Wajah blasteran Alexander kian kentara, terlebih dengan dirinya yang sengaja membiarkan brewok tipis di wajahnya tidak dirapikan, sehingga makin menambah pesona maskulinnya
Sedangkan Mark yang memang asli Prancis mau diapakan juga akan tetap tampan, hidung yang tinggi menjulang, kulit putih pucat dengan mata biru terang
Keduanya sibuk bermain hp tanpa memperdulikan sekitar mereka sampai pengumuman keberangkatan pesawat tujuan merekalah yang berhasil menyadarkan mereka dengan kenyataan sekitar
Keduanya menarik koper masing-masing, lalu bersama penumpang lain mereka mulai berjalan menaiki pesawat
Perjalanan yang ditempuh selama satu setengah jam mampu membuat keduanya terlelap dan terbangun ketika pesawat sudah landing
Dengan mengusap wajahnya, baik Alexander maupun Mark bersiap berdiri dan turun dari pesawat
Ketika kakinya telah menginjak landasan pesawat, Alexander mengedarkan pandangannya menatap sekeliling, sedangkan Mark yang berdiri di sebelahnya hanya membiarkan Alexander terpaku beberapa detik di tempatnya
"We go?" tanya Mark
Alexander mengangguk, lalu berjalan menarik kopernya keluar dari dalam bandara
Sampai di luar bandara, Alexander dan Mark segera berjalan kearah beberapa motor
"Antar kami kesini" ucap Mark pada dua orang tukang ojek yang menganggukkan kepala mereka
Alexander dan Mark memang sengaja memilih ojek untuk mengantar mereka, karena mereka ingin melihat pemandangan kota wisata sepanjang menuju kekantor nya pak Doni
Akhirnya perjalanan panjang mereka berakhir di kantor tour guide pak Doni, setelah membayar ongkos ojek, keduanya turun dari atas motor dan langsung berjalan masuk kedalam kantor
Di bagian depan, keduanya disambut ramah oleh petugas yang langsung membawa keduanya kebagian pendaftaran
Dan mata Alexander kembali mengedarkan pandangannya pada interior kantor yang tidak banyak berubah
"Saya mau Sania yang menjadi tour guide saya" ucap Alexander to the poin ketika petugas pendaftaran mencatat namanya dan nama Mark
Gadis cantik yang bertugas itu tampak mengerutkan keningnya
"Sania?, karyawan di sini tidak ada yang bernama Sania, tuan"
Alexander dan Mark saling toleh
"Dulu, sekitar enam tahun yang lalu, saya pernah kesini dan yang menjadi tour guide saya itu Sania" kembali Mark meyakinkan petugas itu
Dan kembali petugas itu menggeleng
"Maaf tuan, saya baru empat tahun bekerja di sini, jadi saya tidak mengenal yang namanya Sania, dan sepanjang saya bekerja di sini memang tidak ada tour guide yang bernama Sania"
Alexander menggerakkan kepalanya sebentar menahan kesal. Lalu dibukanya hp yang sejak tadi di genggamnya
"Ini Sania...." ucapnya sambil memperlihatkan foto Sania yang ada di hpnya
Dan kembali petugas administrasi itu menggeleng setelah melihat gambar yang ditunjukkan Alexander
"Sungguh tuan, tidak ada yang bernama Sania dan berwajah seperti wanita ini"
__ADS_1
Kembali Alexander dan Mark saling toleh
"Bisakah kami bertemu dengan pemilik tour guide disini?"
Petugas tersebut tampak terdiam dan terlihat jelas sekali bingung di wajahnya
Selagi Mark dan Alexander sibuk berbicara dengan petugas tersebut yang ngotot ingin bertemu dengan pak Doni, Dhea keluar dari dalam dengan beberapa temannya yang telah siap bekerja
Suara tinggi Alexander mengundang beberapa tour guide itu menoleh, dan degup jantung Dhea langsung berdebar kencang ketika dia melihat jika yang sedang beradu argumen itu adalah Alexander
Dia ingat dengan jelas, itu adalah Alexander, karena dulu sebelum Sania yang menjadi tour guide nya, Dhea lah yang ngotot ingin menjadi tour guide pria tampan tersebut karena dulu dia kepincut dengan tampang bulenya
"Ada apa ini?" tanya Dhea memberanikan diri mendekat
Alexander menoleh sekilas, dan itu sudah cukup buat Dhea yakin jika pria tinggi yang saat ini duduk di dekatnya benar adalah Alexander
"Ini kak, tuan ini ingin Sania yang menjadi tour guide nya, padahal sudah saya katakan jika disini tidak ada yang bernama Sania"
Dada Dhea bergemuruh mendengar jawaban petugas administrasi
"Sania, benarkah Alexander mencari Sania?" batinnya
"Apa kakak mengenal Sania?, kakak kan sudah lama bekerja di sini?"
Dhea diam tak menjawab, matanya tak berkedip menatap Alexander yang menoleh kembali dengan cepat kearahnya begitu mendengar jika Dhea adalah karyawan lama
"Anda pasti mengenal Sania" ucap Alexander cepat
Dhea menggeleng
"Benar yang dikatakan petugas ini, tidak pernah ada tour guide yang bernama Sania pernah bekerja di sini"
"Hei, tunggu!" kejar Alexander
Alexander menangkap jelas jika ada yang disembunyikan Dhea, karena dia yakin jika Dhea berbohong dengan mengatakan jika tidak pernah ada karyawan yang bernama Sania, terlebih tadi Alexander menangkap jelas kekagetan di mata Dhea saat petugas tadi menyebut nama Sania
"Saya buru-buru, turis yang memakai jasa saya telah menunggu" tolak Dhea berjalan cepat
Alexander terpaku melihat Dhea yang berjalan cepat keluar dari kantor dan langsung masuk kedalam mobil yang siap membawanya pada turis yang akan memakai jasanya
"Aku ingin bertemu pemilik tour guide ini" kembali Alexander memaksakan kehendaknya
Karena tak memiliki pilihan lain, akhirnya petugas tersebut mengangguk dan menempelkan telepon ke telinganya
"Ada turis yang memaksa ingin bertemu bapak"
"Dimana mereka sekarang?"
"Ada di depan saya pak"
"Baiklah, antar mereka kesini"
"Baik pak"
Selesai meletakkan gagang telepon, petugas tersebut kembali menatap kearah Mark dan Alexander
"Mari tuan, saya antar"
Mark dan Alexander mengangguk dan segera berdiri dari kursi mereka, berjalan mengekor di belakang petugas tadi
__ADS_1
Di depan ruangan kerja pak Doni, perempuan muda tadi mengetuk pintu, baru setelahnya dia mendorong pelan pintu
"Permisi pak...." ucapnya sopan sambil masuk dan mempersilahkan Alexander dan Mark masuk yang langsung duduk di sofa yang tersedia di ruangan pak Doni
Pak Doni yang tadi duduk di kursinya, berdiri dan berjalan kearah sofa. Sampai di dekat sofa, beliau segera mengulurkan tangannya
Dengan hangat Alexander dan Mark menjabat tangannya
"Kamu bisa kembali lagi ke depan" ucap pak Doni pada petugas tadi yang segera menganggukkan kepalanya dengan hormat
"Ada yang bisa saya bantu, tuan?" tanya pak Doni setelah beliau duduk
"Dulu saya pernah kesini, dan saat itu yang menjadi tour guide saya Sania" jawab Alexander tanpa berbasa basi
"Sania?"
"Iya, Sania. Sekitar enam tahun yang lalu"
Pak Doni tersenyum sekilas
"Maaf sekali, Sania telah lama tidak bekerja disini"
"Mengapa?, apa dia bekerja di tempat lain?"
Pak Doni kembali tersenyum
"Dia saya istirahatkan"
Alexander langsung melirik kearah Mark
"Mengapa?" kejar Alexander
"Maaf tuan, untuk alasannya saya tidak bisa menceritakan pada orang lain, karena itu rahasia perusahaan"
Alexander menggeleng
"Saya Alexander Louise, ceo Gio Group" ucap Alexander menyerahkan kartu namanya
"Alexander?!" tanya pak Doni tercekat sambil menerima kartu nama yang diberikan Alexander
"Iya, anda ingatkan. Dulu saya pernah memakai jasa Sania"
Lama pak Doni terdiam melihat kartu nama yang diberikan Alexander
"Maaf tuan, mengapa tuan menginginkan Sania yang menjadi tour guide anda?, apakah karena kamera Sania yang terbawa oleh Anda, belum anda kembalikan?"
"Kamera?" tanya Alexander dengan kening berkerut dan wajah bingung
"Iya, dulu sebelum Sania resign dari perusahaan ini, dia pernah meminta alamat anda pada saya, kata Sania dia ingin menemui anda karena kamera miliknya terbawa oleh anda"
Wajah Alexander kian menyiratkan kecurigaan dan kembali dia melirik kearah Mark yang juga menatap penuh curiga pada pak Doni
"Tapi kalau tidak salah saat itu Sania bilang kameranya sudah anda kembalikan" lanjut pak Doni pelan dengan nada bingung
"Kapan itu pak, kapan Sania meminta izin pada anda untuk menemui saya?"
"Sekitar dua bulan sejak anda pergi"
Degup jantung Alexander berdegup keras tiba-tiba
__ADS_1
"Dua bulan setelahnya?" gumamnya tercekat sambil menatap gelisah pada Mark